Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7-Hari Pertama di Asrama
Suara bel sekolah berbunyi nyaring dan panjang, memecah keheningan yang biasanya menyelimuti lorong-lorong panjang Hantage School Academy. Bunyi itu bergema dari ujung gedung hingga ke sudut-sudut ruangan, menjadi tanda bahwa jam pelajaran hari ini telah usai.
Satu per satu pintu kelas terbuka. Murid-murid dari berbagai jenjang dan kelas mulai berhamburan keluar, membawa tas punggung mereka yang berisi buku-buku tebal. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki berpadu menjadi keramaian yang memenuhi koridor luas sekolah itu. Berbeda dengan sekolah biasa, di sini semua murid wajib tinggal di asrama yang letaknya terpisah namun masih berada di dalam kompleks sekolah yang luas dan tertutup oleh hutan pinus yang rimbun.
Di tengah arus murid yang berjalan beriringan, tampak Keisha dan Elara berjalan berdampingan. Keisha dengan langkah tegap dan penuh semangat, sementara Elara dia tidak sabar ingin ke asrama Hantage School Academy.
Keisha menoleh ke arah sahabat barunya itu sambil tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan.
"El, aku senang banget lho, nggak nyangka banget kita bisa satu kamar di asrama," ucap Keisha memecah keheningan di antara mereka, suaranya terdengar antusias.
Elara tersenyum manis, wajahnya yang sedikit pucat tampak lebih cerah mendengar ucapan Keisha. Ia merapatkan tasnya ke tubuh, lalu menjawab dengan nada lembut namun tulus.
"Aku juga senang banget, Keisha. Serius deh, aku senang banget bisa sekamar sama kamu," jawab Elara pelan. "Mungkin kamu nggak terlalu ngerasain, tapi aku kan anak baru di sini. Belum kenal siapa-siapa, belum tahu kebiasaan orang-orangnya, Jadi, punya teman sekamar dan sahabat kayak kamu yang udah lama di sini, rasanya aku jadi merasa aman banget. Aku butuh banget dampingan kamu di sini, lho."
Keisha tertawa kecil, lalu menepuk-nepuk bahu Elara dengan akrab dan meyakinkan.
"Ya ampun, El... Tenang aja dong! Mulai sekarang anggap aja aku ini pemandu pribadi kamu sekaligus pelindung kamu di sekolah ini," ucap Keisha percaya diri sambil mengangkat dadanya sedikit.
Mendengar itu, wajah Elara terlihat sangat terharu. Matanya berkaca-kaca menatap Keisha.
"Makasih banyak ya, Keisha... Kamu sahabat terbaik banget sih," kata Elara tulus. "Pokoknya kita saling bantu ya? Nanti kalau ada apa-apa, aku juga bakal bantuin kamu sebisa aku, walaupun aku nggak seberani kamu. Kita temenan seumur hidup ya, di sini."
"Iya dong! Itu pasti!" jawab Keisha mantap sambil mengangguk berkali-kali. "Kita itu tim, El. Nggak ada kata pisah, nggak ada kata menyerah. Kita hadapi semuanya bareng-bareng, entah itu pelajaran susah, tugas menumpuk, atau... hal-hal aneh yang mungkin bakal kita temuin nanti."
Elara menelan ludah sedikit saat mendengar kalimat terakhir Keisha, namun ia segera tersenyum kembali berusaha menepis rasa takutnya.
"Nah, itu baru temenku!" seru Keisha ceria saat melihat Elara kembali tersenyum. Ia lalu menunjuk ke arah ujung koridor yang berbelok ke arah jalan setapak yang dikelilingi pepohonan tinggi. "Yuk, nggak usah ngobrol panjang lebar di sini, nanti keburu petugas kebersihan marah atau ada guru yang lewat. Kita langsung aja jalan ke asrama, biar kamu lihat tempat tinggal kita selama di sini, sekalian kamu tahu posisi kamar kita ada di mana, letak kamar mandi, ruang santai, dan aturan-aturan di sana. Biar kamu nggak bingung nanti malam."
"Oke! Ayo kita jalan!" jawab Elara dengan semangat yang makin tumbuh, ia mengeratkan genggaman tangan Keisha.
Mereka pun segera melanjutkan perjalanan, melangkah beriringan meninggalkan gedung utama sekolah, menuju jalan setapak berbatu yang akan membawa mereka ke kompleks asrama.
Setelah berjalan cukup jauh melewati jalan setapak yang diapit pepohonan rimbun, akhirnya mereka tiba di kompleks asrama Hantage School Academy. Bangunan asrama ini berdiri kokoh dan megah, berarsitektur klasik yang sangat indah namun tetap memancarkan kesan mewah dan modern.
Elara berhenti melangkah sejenak, matanya terbelalak kagum menatap bangunan tinggi menjulang di hadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa asrama sekolah ini akan semewah ini. Selama ini ia hanya membayangkan asrama sekolah seperti tempat tidur biasa yang sederhana, tapi kenyataannya jauh melampaui bayangannya.
"Wah... Keisha... ini asrama kita? Serius kamu?" tanya Elara takjub, matanya berputar melihat keindahan setiap sudut bangunan itu. "Mewah banget ya! Aku kira asrama itu biasa aja, ternyata lebih bagus kayak gini."
"Hahaha, iya dong! Ini kan sekolah elit warisan keluarga terpandang, segala sesuatunya emang didesain semewah dan senyaman mungkin buat murid-muridnya. Tenang aja El, ini baru bagian depan. Nanti pas masuk dalem, kamu bakal makin kaget lagi deh. Yuk, masuk aja!" ajak Keisha sambil menggamit lengan Elara masuk ke lobi utama.
Di dalam lobi, suasana terasa sejuk dan sangat bersih. Ada sofa-sofa empuk, meja hiasan bunga, dan resepsionis yang duduk rapi di meja layanan. Mereka berdua langsung menuju ke sisi kanan lobi tempat deretan pintu lift besar berada.
Mereka pun masuk ke dalam salah satu lift yang pintunya terbuat dari kaca tebal yang bening. Keisha menekan tombol angka 3. Pintu lift perlahan tertutup, dan perlahan-lahan kotak besi itu mulai bergerak naik dengan halus tanpa getaran sedikitpun.
"Kamar kita ada di lantai 3," jelas Keisha sambil bersandar santai di dinding lift. "Lantai ini khusus buat murid kelas dua dan tiga. Suasananya tenang, nggak terlalu berisik kayak lantai satu dan dua yang isinya murid baru. Posisi kamarnya juga paling enak, ngadep ke taman belakang, jadi udaranya seger banget pas pagi atau sore."
"Wah, enak banget dong... Aku makin nggak sabar deh," sahut Elara antusias sambil menatap pantulan dirinya di cermin dinding lift.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi lonceng halus menandakan mereka sudah sampai. Ting! Pintu lift bergeser terbuka perlahan.
Mereka berdua melangkah keluar ke lorong lantai 3. Lorongnya luas, berlantai karpet tebal berwarna merah marun yang membuat langkah kaki mereka tak bersuara sama sekali. Mereka berjalan lurus beberapa langkah hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu besar berwarna cokelat tua yang terlihat kokoh dan elegan. Di sebelah kanan pintu, terpasang alat pemindai kartu elektronik berkilauan.
Keisha menoleh ke arah Elara sambil tersenyum.
"Nah, El... Ini dia rumah baru kita selama bersekolah di sini," tunjuk Keisha ke pintu di hadapan mereka. "Coba deh kamu pakai kartu akses yang dikasih sama Pak Kepala Sekolah tadi pagi. Itu kartu khusus, cuma pemilik kamar aja yang bisa buka pintunya. Taruh aja kartu itu di mesin yang nempel di dinding sebelah pintu itu ya."
Elara mengangguk semangat. "Oke, siap!"
Ia segera merogoh saku bagian dalam tasnya, mengeluarkan kartu plastik berwarna biru muda bertuliskan namanya dan nomor kamar. Dengan hati-hati, Elara menempelkan kartu itu ke permukaan alat pemindai yang terpasang di dinding.
Alat itu langsung berkedip-kedip cahaya biru, seolah sedang memverifikasi data yang ada di dalam kartu. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi suara elektronik yang jelas: "Verifikasi berhasil. Selamat datang, Elara Nirmala." Diikuti bunyi mekanisme kunci pintu yang terbuka.
"Wah, canggih banget ya sistemnya," gumam Elara kagum.
"Kan udah aku bilang, semua di sini serba lengkap dan canggih. Yuk, masuk!" ajak Keisha sambil mendorong pintu kayu itu perlahan hingga terbuka lebar.
Mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam kamar. Ruangan itu cukup luas, berpenghawaan ruangan yang sejuk, dan dihiasi perabotan yang serasi warnanya. Di sudut kiri ruangan, terlihat tempat tidur-tempat tidur yang sudah tersusun rapi. Ada satu set tempat tidur bertingkat, dan di sebelahnya lagi ada satu tempat tidur ukuran besar model biasa yang berdiri sendiri. Total ada tiga tempat tidur yang tersedia.
Keisha berjalan masuk lebih dalam lalu menunjuk ke arah tempat tidur itu sambil menjelaskan dengan rinci.
"Nah, El... begini pembagiannya ya. Ada tiga kasur di sini berarti kita bertiga yang sekamar. Kamu tidurnya di kasur bagian atas ya? Itu yang ada di tempat tidur bertingkat itu," tunjuk Keisha. "Kalau aku udah ambil posisi di kasur bawahnya, biar kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu malem-malem, tinggal panggil atau turun dikit aja udah ketemu aku. Terus yang satu lagi itu kasur biasa yang di sebelah sana, itu tempat tidurnya Dinda."
Elara mengangguk paham sambil melihat-lihat sekeliling ruangan dengan rasa nyaman.
"Oke, nggak apa-apa kok Keisha. Aku sih tidur di mana aja enak, yang penting sekamar sama kamu dan suasana kamarnya seindah ini. Lagian aku emang suka tidur di atas, rasanya punya ruang sendiri gitu lho," jawab Elara santai dan senang hati.
Matanya kemudian tertuju pada lemari pakaian besar yang berjejer rapi di sisi lain ruangan. Di setiap pintu lemari, terpasang papan nama kecil bertuliskan nama penghuninya. Elara melihat tulisan Elara Nirmala terpampang jelas di salah satu lemari berwarna putih mengkilap.
Keisha duduk sebentar di pinggir kasur bawah sambil memperhatikan gerak-gerik sahabatnya.
"Iya dong, semuanya udah disiapin sama pengurus asrama jauh-jauh hari sebelum kita masuk. Kamu mulai aja rapihin barang-barang kamu ya, taruh semua baju dan perlengkapan di lemari itu. Biar nanti malem udah beres, kita bisa santai-santai bareng di sini. Ada meja belajar sama televisi juga lho di pojok sana. Nanti abis beres-beres kita ngobrol panjang lebar ya, aku masih banyak mau cerita soal kebiasaan-kebiasaan di sekolah ini yang harus kamu tahu."
Elara tersenyum lebar sambil membuka lebar tas jinjingnya, lalu mulai mengeluarkan satu per satu baju, selimut cadangan, dan barang-barang pribadinya untuk disusun rapi ke dalam lemari besar itu.
"Siap Kapten! Aku beresin dulu ya,"kata Elara.
Berikut adalah lanjutan ceritanya dengan narasi yang mendetail, suasana yang mulai mencekam, dan percakapan yang lengkap serta rinci sesuai permintaanmu:
Elara masih sibuk mengeluarkan satu per satu baju-baju dan barang pribadinya dari dalam tas jinjing. Ia melipatnya dengan rapi lalu menyusunnya ke dalam lemari besar yang sudah bertuliskan namanya. Namun, saat tangannya meraih tumpukan baju terakhir di dalam tas, matanya tak sengaja tertuju ke arah jendela besar yang berada di sisi sebelah kanan kamar itu.
Jendela itu tidak tertutup tirai sepenuhnya, sehingga pemandangan di luar sana terlihat sangat jelas. Langit sore mulai berubah menjadi keunguan, dan cahaya matahari yang mulai redup jatuh menyinari halaman belakang asrama yang dipenuhi pepohonan rimbun dan sebuah kolam kecil di tengahnya.
Namun, pandangan Elara tiba-tiba terkunci pada satu titik.
Di dekat pohon beringin besar yang daunnya rimbun menaungi sebagian kolam itu, berdiri tegak sesosok tubuh tua. Pakaian yang dikenakannya berwarna putih bersih, panjang hingga menyentuh tanah, dan rambutnya juga putih seluruhnya, seputih kapas. Sosok itu berdiri diam, tidak bergerak sedikitpun, seolah menyatu dengan bayangan pohon besar itu.
Yang membuat jantung Elara berdegup kencang bukan hanya kehadiran orang asing itu, tapi saat sosok tua itu perlahan menoleh ke arah jendela kamar mereka. Wajahnya yang penuh kerutan terlihat jelas dari kejauhan, dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang sangat manis, namun entah kenapa terasa begitu dalam dan menusuk hati. Senyum itu ditujukan tepat ke arah Elara.
Tangan Elara yang sedang memegang baju terhenti di udara. Matanya membelalak, tubuhnya menegang tak bergerak.
"Siapa dia?..." gumam Elara pelan, suaranya hampir tak terdengar, matanya tak berkedip menatap sosok berjubah putih itu.
Merasa sahabatnya diam saja dan mematung lama sekali, Keisha yang tadinya duduk santai di pinggir kasur bawah sambil memainkan ponsel, akhirnya bangkit berdiri. Ia berjalan santai mendekati Elara yang masih terpaku di depan lemari, lalu ikut menoleh ke arah pandangan Elara yang tertuju ke luar jendela.
"Ada apa sih, El? Kok melamun terus? Ada yang menarik banget di luar sana ya?" tanya Keisha dengan nada penasaran sambil menyikut pelan bahu Elara.
Elara tersentak kaget, lalu menoleh cepat ke arah Keisha, wajahnya terlihat bingung dan sedikit gelisah. Ia langsung bertanya dengan nada cepat dan serius.
"Keish... coba aku tanya sesuatu deh. Selain kita para murid, guru-guru, dan staf pengurus sekolah, di sini... di lingkungan asrama ini, ada siapa aja lagi yang tinggal atau sering lewat-lewat? Ada penghuni lain nggak selain mereka?" tanya Elara bertubi-tubi, matanya menatap tajam ke mata sahabatnya itu seolah mencari kepastian.
Keisha mengerutkan keningnya bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hah? Apa sih pertanyaan aneh itu? Setahu aku nggak ada sih, El. Di kompleks sekolah sama asrama ini cuma ada murid, guru, terus staf pengurus sama penjaga sekolah aja yang tinggal. Itu pun mereka rumahnya terpisah jauh di dekat gerbang depan. Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu?" jawab Keisha heran.
Elara menelan ludah, jantungnya makin berdebar kencang. Ia kembali menunjuk ke arah luar jendela, tepat ke tempat ia melihat sosok itu tadi.
"Terus... di antara staf asrama atau penjaga itu... ada nggak ya yang berwujud seorang Kakek? Udah tua banget, terus pakai baju jubah atau baju panjang serba putih, rambutnya juga putih semua?" tanya Elara lagi dengan suara sedikit bergetar.
Keisha makin bingung dan menggeleng kuat-kuat.
"Nggak ada sama sekali, El. Aku udah dua tahun di sini, udah hafal luar dalem siapa aja orang yang kerja di sini. Yang ada cuma Ibu-ibu pengurus, Bapak-bapak penjaga yang masih muda, sama petugas kebersihan. Nggak ada satu pun yang udah tua banget apalagi pakai baju putih panjang gitu. Emangnya ada apa sih? Kenapa kamu jadi tanya-tanya beginian? Kamu lihat sesuatu ya?" tanya Keisha mulai merasa aneh dengan tingkah sahabat barunya itu.
Elara menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia kembali menatap ke luar jendela, namun sosok itu masih terlihat jelas berdiri diam di sana, masih menatap ke arahnya dan senyum itu belum hilang dari wajah kerutannya.
"Aku tadi... pas lagi beres-beres baju, nggak sengaja lihat ke luar sana," jawab Elara pelan namun serius. "Ada Kakek, persis kayak yang aku deskripsiin tadi. Dia berdiri di dekat pohon besar itu, di pinggir kolam kecil itu lho. Dia berdiri diam aja, terus... dia natap aku, Keish. Dia natap aku terus senyum ke arah aku... senyumnya manis banget, tapi aneh rasanya."
Keisha ikut memandang keluar jendela, ia mengamati pohon besar dan sekitar kolam itu dengan saksama. Namun baginya, halaman belakang itu tampak kosong, sepi, dan tak ada siapa-siapa selain bayangan pepohonan dan semak-semak yang bergoyang pelan kena angin sore.
"Nggak ada siapapun di situ, El. Kosong banget," kata Keisha sambil menepuk bahu Elara pelan berusaha menenangkan. "Kamu salah lihat kali."
Elara langsung memegang lengan Keisha dengan erat, wajahnya terlihat sangat yakin dan tidak mau dibantah.
"Nggak, Kei! Tadi ada di sana! Serius deh! Aku lihat jelas banget, dia beneran ada. Dia berdiri tegak, bajunya putih bersih, rambutnya putih, dan dia beneran natap sama senyum ke aku. Aku nggak mungkin salah lihat, apalagi sampe sebegitu jelasnya," bantah Elara meyakinkan.
Keisha menghela napas panjang, lalu ia menutup sedikit tirai jendela itu agar pemandangan luar tidak terlalu menarik perhatian lagi.
"Mungkin dia udah pergi kali pas aku lihat tadi. Siapa tahu cuma orang luar yang nyasar atau tamu sekolah terus lewat situ. Udah, nggak usah dipikirin, nanti malah kamu jadi takut sendiri di hari pertama nginep," ucap Keisha santai berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya. "Ayo lanjutin beres-beresnya, nanti malem kita kelaparan lho kalau lama-laman mikirin hal yang belum tentu ada."
Elara diam saja, ia menurut kembali melipat baju-bajunya, tapi matanya sesekali melirik ke celah tirai jendela itu. Di dalam hatinya, ia bergumam penuh keraguan dan rasa penasaran yang besar.
'Aku yakin banget aku lihat Kakek itu tadi... dia beneran ada, senyumnya juga beneran ditujukan ke aku... Tapi pas Keisha lihat, kenapa dia nggak kelihatan? Dan sekarang... kemana dia pergi secepat itu? Padahal tadi dia berdiri diam aja'