Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Selama perjalanan tidak ada yang mengeluarkan kata apapun, Delina hanya fokus pada punggung tegap dan kekar milik Agam.
" Kayaknya gue kalau di kkep sama nih lakik gak bkalan keliatan deh. " batin Delina menatap punggung pria itu.
" Jangan ditatap terus punggung saya. " sahut Agam tanpa diduga.
DElina tersedak mendengarnya, wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali.
" Siapa yang liatin, Om ustadz kepedean banget. " jawab Delina memalingkan wajahnya kearah lain.
" Saya tahu Delina. " ucap Agam lagi yang tetap fokus menyetir.
" Om berapa lama tinggal didesa sini." tanya Delina penasaran, bibinrnya gatal sejak tadi ingin bicara.
" Sampai ada pengganti saya disini." jawab Agam singkat.
" Umur Om berapa? kayaknya gak jauh beda sama Om Gio. " tanya Delina mulai kepo.
" Kenapa tanya umur saya?" tanya AGam lagi.
" Kan cuman tanya aja Om, emang gak boleh." sungut Delina.
" Umur saya 32 tahun." jawab Agam.
" Serius? umur Om segitu?" pekik Delina pelan.
Dapat Agam lihat dari kaca spion motor wanita itu tampak kaget medengannya. " Iya kenapa? keliatan tua?" tanya Agam .
" Bukan, malahan ku kira umur Om 28 tahun." jawab Delina pelan.
" Saya memang awet muda jadi tidak terlihat umur 30-an lebih." jawab Agam percaya diri.
" Dih, dasar narsis banget nih Om-om satu." batin Delina menatap geli.
Motor yang dikendarai Agam tampak berbelok masuk kedalam gang yang mulai dikanan kirinya terdapat pepohonan tinggi rumah-rumah sudah tidak terlihat lagi hanya beberapa gubuk tua yang perot tidak berpenghuni yang masih ada sebagian.
langit perlahan mulai menggelap menandakan sepertinya akan turun hujan, atau karena hari yang mulai senja. Agam semakin melajukan motornya membuat Delina tersentak hampir terjatuh wnaita itu tanpa sadar berpegangan pada ujung kanan kiri baju Agam.
Awalnya AGam ingin menyentak tapi ia melihat wajah Delina yang tampak ketakutan terlihat ia menututp matanya jadi Agam membiarkan nya saja toh yang dipegang juga ujung baju saja tidak menyentuh kulitnya.
Setelah sampai, Delina langsung menuju gubuk tua yang ada di pinggir sawah. Tak lupa dikunci lagi gubuknya wanita itu langsung menuju ke motor lagi, sejak tadi Agam memperhatikan Delina entah lah seperti ada sesuatu di diri Delina yang membuat Agam tertarik mungkin.
" Mungkin hanya perasaan saya saja. " batin Agam lagi.
" Sudah." tanya Agam memastikan jika Delina benar-benar sudah duduk diatas motor.
" Iya Om sudah. " jawab Delina lagi.
" Mau saya antar pulang atau ikut saya ke balai desa? tapi kamu nunggu disana sampai saya selesai mau? " tanya Agam lagi saat motor mereka akan berbelok di depan gang.
" Ikut ke balai desa aja Om. " jawab Delina lagi.
" Baiklah." jawab Agam.
Kurang lebih 20 menitan mereka sampai di halaman balai desa. Delina segera turun dan Agam memarkirkan motor nya diparkiran.
" Om aku nunggu di pos kamling depan aja ya." ucap Delina yang memang posisi pos kamling nya beberapa meter saja tidak jauh dari sini dan kebetulan disana tadi ia melihat ada Mang Mamat penjual sate keliling.
" Ya sudah, beneran gak mau ikut kedalam datangin bapak kmau?" tanya Agam lagi.
" GAk usah Om, nanti malah Bpak gak fokus kalau ada aku disana. " jawab Delina.
" Ya sudah, aku pergi dulu Om. " sambung Delina yang sudah melangkah beberapa senti.
" Ada uang gak?" tanya Agam lagi membuat langkah Delina terhneti.
" Maksudnya Om? " tanya Delina keheranan.
" Kamus udah makan malam?" tanya AGam.
" Belum, rencana nya habis dari sini mau makan. TApi kayaknya enak makan sate Mang Mamat dhe." ucap Delina membayangkan kuah kacang yang hangat pasti nikmat.
" Ini, ambil buat beli sate." ucap AGam lagi menyodorkan dua lembar merah.
" GAk usah Om, aku bisa bayar sendiri." ucap Delina menolak.
" Ambil, saya titip sekalian sama kamu." ucap Agam lagi.
" O-ohh, boleh Om hehehe." ucap Delina malu.
" Malu banget... Delina..." batin Delina langsung pergi begitu saja ia menepok jidatnya menahan malu.
" Lin, sate nya dimakan ditempat aja." sahut Agam lagi.
" Iy-iya Om." jawab Delina tanpa berbalik sama sekali ia lanjut jalan.
Sedangkan AGam ia terkekeh pelan melihat tingkah Delina.
" Eh kenapa saya ketawa." gumam Agam yang baru sadar.
...➰➰➰➰...
Delina bergegas ke pos Kamling depan, disana sudah antri beberapa ibu-ibu yang membeli Delina memilih melipir saja menunggu giliran, toh iya juga tidak terburu-buru harus menunggu dijemput.
Kini Gilran Delina yang mulai memesan dirasa mulai sepi.
" Mang sate nya 2 porsi ya, yang satunya nanti aja di bumbuin soalnya masih dibalai desa." ucap Delina menyerahkan selembar uang merah yang diberi Agam tadi.
" Siap neng, sama Bapak toh Neng? dibalai desa ya? " tanya Mang Mamat.
" Iya Mang, makanya aku tungguin disini." jawab Delina.
" TApi tadi saya lihat NEng nya sama cowo yang baru datang kedesa sini." jawab Mang Mamat yang tidak sengaja melihat ekduanya.
" OH iya, kebetulan saya ada urusan sama Bapak jadi sekalian numpang sama OM Agam." ucap delina.
" Oalah, tapi tadi saya lihat cocok loh Neng." ucap Mang Mamat senyum senyum kearah Delina.
" Maksudnya Mang? cocok apaan dah?" tanya Delina heran.
" Cocok, kaya pengantin baru gitu. " ucap Mang Mamat mesem-mesem sendiri.
" Ihh! ada -ada aja Mang Mamat ini." ucap Delina lagi iya juga malu dan dan dalam hati cukup seneng si.
" Berharapnya gitu seh Mang Mamat, tapi lakiknya gak mau..." batin Delina menyahut.
TING..
Bunyi notifikasi ponsel terdengar, Delina segera melihatnya. Ternyata pesan dari Aldo yang mengatakan akan menyusulnya kemari.
" Neng ini pesenan nya." ucap Mang Mamat menyodorkan nya.
" Makasih Mang. " ucap Delina.
Tidak lama, datanglah si Aldo terdengar dari suara motornya yang menderu.
" Cepet amat lo sampai sini." celetuk Delina yang baru saja dua suap memakan satenya.
" Kalau urusan makan gue cepetlah. " ucap Aldo menghampiri Delina.
" Awas! disitu jalan nya licin. " peringat Delina melihat Aldo yang akan menginjak jalanan yang terlihat padat sebenarnya sangat licin dirinya saja hampir terpeleset tadi.
" Huh, untung aja lo kasih tahu. "ucap Aldo selamat.
"MANG MAMAT, SATE DUA PORSI JADIKAN SATU PIRING." teriak Aldo.
" SIAP DEN. " jawab Mang Mamat semangat 45.
" Rakus bener, makan dua porsi tapi bada kagak gendut." ucap Delina.
" Gue harus makan banyak, biar bisa beraktivitas full besok pagi. " ucap Aldo merenggangkan otot badan nya.
" Siapa yang kasih tahu lo, kalau gue disini." tanya Delina seingetnya dirinya tidak memberitahu sahabatnya sama sekali.
" Paman Agam, terus Bapak mu juga chat aku." ucap Aldo lagi.
Delina hanya manggut-manggut saja, mereka asik makan dan mengobrol sampailah mtor butut berhenti didepan pos kamling.
" Elin! kamu ikut bapak pulangs ekarang kah?" tanya Bapak Roslan yang masih dimotor meneriaki anaknya.
" BApak duluan aja, aku masih makan. " balas Delina.
" Ya sudah, pulang sama Aldo aja. Nak jaga putriku yaa." teriak BApak Roslan lgi.
" SIAP OM." jawab Aldo ala-ala hormat tentara.
BRRMM...
BRRMM...
Bapak Roslan langsung pergi setelahnya disusul Agam memarkirkan motornya.
" Dari tadi kamu disini Do?" tanya Agam menyapa ponakan nya itu.
" Baru beberapa menit paman. " jawab Aldo.
Agam hanya mengangguk pelan, lelaki itu berjalan pelan menuju penjual sate memesan pesanan nya.
Setelahnya mereka bertiga makan dengan khidmat, baru beberapa suap Agam makan dan Delina? tentu saja wanita itu belum habis sejak tadi sedangkan Aldo sudah bersih tak tersisa.
" Rakus bnget lo Do, kita aja belum habis." ucap Delina.
" WAjarlah, gue kan kuli harus cepet. Gak kayak lo mirip siput. " ledek Aldo.
" Sialan lo! " umpat Delina kesal.
" Delina, mulutnya!" tegur Agam tidak suka jika perempuan berkata kasar dihadapannya.
" Hehehe.... maaf Om Ustadz."
" Tuh dengerin, perempuan kok gak ada anggunnya sama sekali Mir— aduhh...." ringis Aldo memegangi perutnya.
" Heh lo kenapa lagi?" panik Delina juga melihat Aldo memegang perutnya.
" Kayaknya gue semebelit, gue cari cw dulu. Lo tungguin gue disini." ucap Aldo meringis.
" Kebanyakan makan si lo makanya sembelit. "
Ucapan Delina tidak hiraukan nya lagi, lelaki itu berlari terbiri-birit menuju WC umum yang ada di balai desa.
" Kamu sudah selesai makannya?" tanya Agam melihat piring Delina yang masih tersisa sedikit.
" Sudah kenyang Om, bentar aku mau bayar punyaku dulu sekalian kembalikan piring." ucap Delina hendak berdiri.
" Biar saya aja." ucap Agam lagi lelalki itu mengambil alih piring ditangan Delina dan langsung pergi bgtu saja.
"Mang, pesen 4 porsi lagi ya, dibungkus." ucap Agam lagi pada si amang Mamat.
" Siap pak, tapi tunggu 20 menitan mau? soalnya harus dibakar dulu. " ucap Mang Mamat kembali mengipasi satenya.
" Gapapa Mang, ini totalnya berapa semuanya?" tanya Agam.
" Kalau yang 4 porsi ini 50 rebu Pak."
" Yang sebelumnya?" tanya Agam mengambil dompet di kantong celana nya.
" TAdi sudah dibayar sama Neng Elin." ucap Mang Mamat.
" Ini Mang, ambil saja kembaliannya." Ucap Agam menyerahkan selembar merah.
" Wah, makasih Pak. mudahan lanvar terus rejekinya biar bisa beli sate saya terus hehehe."ucap Mang Mamat menerimanya.
" Amiin, terimakasih doanya Mang." ucap Agam tersenyum menghargai ia berbalik menghampiri Delina dan saat kaki nya memijak pada tanah yang licin itu....
" OM JANGAN DI INJAK! " pekik Delina melihat nya.
Terlambat, tubuh Agam sudah oleng dan hampir terjatuh. Spontan Delina berdiri berniat menolong tapi apalah daya ia juga kesandung batu sehingga mereka jatuh bersaman di pos Kamling.
BUGH...
Keduanya sempat mematung beberapa menit, entahlah seperti ada debaran jantung yang tidak setabil diantar keduanya.
" ASTAGAFIRULLAH! KALIAN BERZINA! "