Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Jangan mikirin masa lalu, Shaka. Lebih baik kamu fokus memperbaiki hidup kamu sekarang dan mulai semuanya dari awal lagi." Ujar Shaka kepada dirinya sendiri.
Namun bayangan Hanindya kembali muncul di kepalanya.
“Kak Shaka harus lebih sering tersenyum.”
Sial.
Kenapa suara perempuan itu terus terngiang di kepalanya?
Sementara itu di tempat lain yang sangat berbeda dari damainya pesantren, suasana justru dipenuhi asap rokok dan aroma alkohol menyengat. Sebuah rumah besar tua yang berada di pinggir kota tampak ramai oleh beberapa lelaki bertubuh besar. Alunan musik keras terdengar samar dari dalam ruangan. Di sofa ruang tengah duduk seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan tato memenuhi lengannya. Namanya Bramasta, namun hampir semua orang memanggilnya Bram. Ia adalah bandar narkoba besar yang selama ini menjadi pemasok barang haram untuk banyak pengedar jalanan, termasuk Shaka dan Ozy.
Wajah Bram terlihat kesal pagi itu. Tangannya membanting gelas ke meja hingga suara benturannya terdengar keras.
“Masih belum ada kabar dari mereka?!”
Salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu langsung menunduk.
“Belum, Bos.”
Bram mengumpat kasar.
Sudah dari kemarin malam Shaka dan Ozy menghilang tanpa kabar. Padahal mereka seharusnya datang mengambil stok baru sekaligus menyetorkan uang hasil penjualan sebelumnya. Dan jumlah uang itu tidak sedikit. Bram menatap tajam ke arah anak buahnya.
“Telepon lagi si Ozy.”
“Sudah berkali-kali bang.”
“Terus?!”
“Enggak aktif.”
Bram mengepalkan rahangnya. Ia paling benci dibohongi atau dipermainkan oleh anak buahnya sendiri. Selama ini Shaka memang terkenal brutal, tapi lelaki itu selalu disiplin soal mengambil barang untuk dijual. Karena itulah Bram cukup percaya padanya.
Namun sekarang keduanya malah menghilang bersamaan. Hal itu membuat firasat Bram buruk.
"Jangan-jangan mereka kabur bawa uangku lagi." Batin Bram dengan kesal.
Bram langsung berdiri dari sofa dan mengumpat.
“Kampret.”
Ia berjalan mondar-mandir sambil menghisap rokoknya dengan emosi dan membuat beberapa anak buahnya yang lain hanya diam karena tegang. Mereka tahu kalau Bram sedang marah besar. Dan kalau sudah begitu, siapa pun bisa kena amuknya. Beberapa detik kemudian Bram berhenti berjalan lalu menatap salah satu anak buahnya.
“Deni.”
“Iya bos.”
“Lo tau tempat persembunyian si Ozy kan?”
Deni langsung mengangguk cepat.
“Tahu.”
Bram menyeringai tipis namun penuh ancaman.
“Bagus.” Ia membuang puntung rokoknya ke lantai lalu menginjaknya kasar. “Kita datengin sekarang.”
Deni menelan ludahnya sendiri dengan berat.
Bram lalu melanjutkan dengan suara rendah yang membuat suasana mendadak terasa dingin.
“Gue mau uang gue balik.” Tatapan matanya berubah menjadi gelap. “Dan gue mau tau di mana Shaka sekarang.”
Pagi itu langit mendadak tampak mendung ketika dua mobil hitam berhenti pelan di depan sebuah gudang tua yang berdiri jauh dari pemukiman warga. Bangunan itu terlihat nyaris seperti tempat terbengkalai. Dindingnya kusam dipenuhi noda lembab, beberapa bagian atapnya bahkan tampak hampir roboh. Rumput liar tumbuh tinggi di sekitar bangunan sementara tumpukan besi berkarat berserakan di dekat pintu samping gudang. Tempat itu memang sengaja dipilih Ozy sebagai persembunyian sementaranya.
Tidak ada orang yang lewat ke daerah itu kecuali truk-truk tua pengangkut barang yang sesekali melintas di jalan besar beberapa ratus meter dari sana. Sunyi, kotor dan jauh dari perhatian siapa pun.
Mesin mobil perlahan mati. Pintu mobil depan terbuka keras lalu Bram turun dengan wajah gelap. Lelaki bertubuh besar itu mengenakan jaket hitam lusuh sementara rokok terselip di bibirnya. Tatapan matanya terlihat dingin dan penuh emosi sejak tadi sementara Deni ikut turun dari mobil belakang bersama tiga lelaki lainnya.
“Ini tempatnya bos,” ujar Deni pelan dan membuat Bram menatap gudang itu beberapa detik.
“Aman dia ngumpet di sini ternyata,” gumamnya sinis.
Lalu tanpa menunggu lama ia melangkah mendekati pintu gudang dengan langkah berat.
BRAK!
Salah satu anak buahnya menendang pintu besi tua itu sampai terbuka keras dan menimbulkan suara menggelegar di dalam ruangan kosong. Di saat yang sama— Ozy yang sedang duduk di lantai sambil memainkan ponselnya langsung tersentak kaget. Wajahnya pucat seketika, jantungnya langsung berdetak kacau.
“Sial...!”
Ia spontan berdiri karena panik. Suara pintu dibanting keras tadi membuat pikirannya langsung kacau.
"Polisi?! Mereka nemuin gue?!"
Napas Ozy langsung memburu. Tangannya tampak gemetar saat cepat-cepat melihat sekitar gudang. Kalau benar polisi yang datang, hidupnya akan tamat.
“Heh!”
Suara bentakan keras menggema di dalam gudang dan membuat Ozy membeku. Ia menoleh cepat. Dan detik berikutnya wajahnya langsung berubah jauh lebih pucat.
Bukan polisi tapi Bram. Di belakang lelaki itu berdiri beberapa anak buahnya dengan tatapan menyeramkan. Tubuh Ozy langsung lemas.
“Bos Bram...”
Bram menatapnya dingin sambil melepas rokok dari bibirnya.
“Kirain polisi ya?”
Ozy menelan ludahnya dengan keras.
“Kagak bos... gue cuma—”
“DIEM LO!”
Bentakan Bram menggema keras sampai membuat Ozy refleks mundur selangkah.
Suasana di dalam gudang mendadak terasa mencekam. Bram melangkah masuk perlahan sambil menatap Ozy seperti predator yang sedang melihat mangsanya.
“Bawa sini bocah bangsat ini,” ucapnya dingin dan membuat dua anak buah Bram langsung bergerak cepat.
“Eh bang— bang tunggu—!” Namun sebelum Ozy sempat kabur, lengannya sudah ditarik kasar. “LEPASIN WOI!”
BUK!
Salah satu anak buah Bram menghantam perut Ozy dengan keras sampai lelaki itu mengerang kesakitan.
“DIEM LO!”
Tatapan Bram makin gelap. Ozy langsung diseret mendekat lalu dipaksa berlutut di depan Bram. Napasnya memburu dengan kacau sementara Bram berdiri tepat di depannya sambil menatapnya dengan penuh kemarahan.
“Jadi...” ujar Bram pelan namun penuh tekanan. “Lo sama Shaka ngilang dari kemarin.”
Ozy cepat-cepat menggeleng.
“Enggak bos! Gue bisa jelasin—”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajahnya sampai kepala Ozy terlempar ke samping.
“Jelasin apaan?!” bentak Bram kasar.
Ozy memegangi pipinya yang langsung terasa panas. Matanya mulai panik. Bram jongkok di depannya lalu mencengkeram rahangnya kasar.
“Lo pikir gue goblok?”
Ozy gemetar.
“Bos sumpah gue enggak ada niat—”
“Biasanya tiap pagi kalian datang ngambil barang.” Bram menyipitkan matanya dengan tajam. “Tapi sekarang malah ngilang dua-duanya.” Cengkeramannya makin kuat. “Lo sama Shaka mau kabur dari gue hah?!”
“Enggak bos!”
“BOHONG!”
Bram mendorong wajah Ozy dengan kasar sampai lelaki itu hampir jatuh. Gudang tua itu mendadak dipenuhi ketegangan dan membuat Ozy benar-benar panik sekarang. Ia tahu siapa Bram dan ia tahu apa yang bisa dilakukan lelaki itu kalau marah. Beberapa orang bahkan pernah hilang begitu saja setelah membuat Bram rugi. Tubuh Ozy mulai dingin oleh ketakutan. Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri apa pun caranya. Bram kembali berdiri sambil menatap Ozy dengan penuh amarah.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.