Kevin Sanjaya dulunya adalah seorang kurir Ojol pengantar makanan dengan kehidupan keluarga yang penuh dengan kemiskinan. akhirnya dia menemukan sistem pengantaran terhebat.
Sistem tersebut membuat dirinya bisa mendapatkan kekayaan dengan melakukan pengantaran makanan, bahkan wanita cantik pun beramai-ramai mendekatinya.
saat sistem bekerja, ulasan terbaik adalah prioritas atas segalanya. akhirnya kekuatan dan pengaruh telah ia dapatkan, namun tuntutan sistem akan semakin menekan.
bahkan kekuatan penguasa - penguasa akan dia lawan, juga wajah - wajah baru akan dia temui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Pengundian Lotre Dimulai!
Saat waktu pengundian semakin dekat, Amar dan Okta tak bisa menyembunyikan senyum penuh ejekan mereka.
“Kevin, bayangkan nanti kamu harus berlutut dan bersujud di depan semua orang. Malu sekali, ya!”
Namun Kevin tetap santai. Ia hanya tersenyum pada para kerabat yang mendukungnya dan pada Vanesa.
“Ayo kita temani nenek dan yang lain melihat hasil undian dulu. Setelah itu, kita bersiap menerima hadiah lima miliar untuk setiap keluarga.”
Ia lalu duduk dengan tenang, menyeruput teh, seolah semuanya sudah dalam genggaman.
Meskipun semua orang tahu peluang menang jackpot sangat kecil, rasa penasaran tetap membuat mereka menoleh ke televisi besar di ruang VIP.
Nenek, sebagai pemain lotre berpengalaman, dengan serius mengenakan kacamata bacanya. Ia ingin melihat apakah keberuntungan akhirnya berpihak padanya.
“Kevin…”
Jantung Vanesa berdegup kencang. Ia percaya pada Kevin… tapi peluang menang jackpot itu terlalu kecil—
satu banding puluhan juta!
Lalu—
momen itu pun tiba!
Suara dari televisi menggema:
“Untuk undian ke-2026, nomor pertama yang keluar adalah—03!”
Nomor pertama: 03!
“Cocok tidak?!”
Semua orang langsung berkumpul di sekitar nenek dan orang tua Vanesa.
“03…”
Nenek menatap tiket dengan teliti melalui kacamatanya…
Lalu—
“Masuk! Nomor pertama cocok!”
Ia menarik napas dalam-dalam. Meski baru satu angka, rasa bahagia sudah mulai muncul.
Ini adalah sensasi yang hanya dipahami oleh pemain lotre sejati!
“Nomor kena!”
Para kerabat mulai tersenyum dan bersemangat.
Namun Amar dan Okta mencibir.
“Baru satu angka. Kebetulan saja. Ribut amat.”
Tak lama, suara di TV kembali terdengar:
“Nomor kedua yang keluar adalah—07!”
“07?!”
Semua kembali menegang.
“Nek, cocok tidak?!”
“07…”
Nenek melihat lagi tiketnya—
Lalu suaranya bergetar penuh kegembiraan.
“Nomor kedua… 07… cocok juga! Kita kena lagi!”
“Apa?!”
Semua orang langsung terkejut!
“Dua angka berturut-turut?!”
Wajah Okta langsung kaku.
Namun ia tetap memaksa tersenyum.
“Lalu kenapa? Baru dua angka saja!”
Saat itu—
bola ketiga keluar.
“Nomor ketiga adalah—10!”
“10?!”
Kali ini, tanpa menunggu siapa pun bertanya, nenek langsung melihat tiketnya.
“Masuk lagi! Nomor ketiga juga kena!”
“Gila! Tiga berturut-turut!”
Suasana langsung memanas!
Harapan mulai membumbung tinggi!
Semua orang menahan napas, menunggu angka berikutnya!
Wajah Amar dan Bai Huanglian mulai berubah.
“Ini… tidak mungkin…”
Tiga angka beruntun—
ini sudah mulai terasa bukan sekadar keberuntungan!
Kevin tersenyum dingin.
“Tenang saja. Ini baru permulaan.”
“Yang terbaik selalu di akhir, bukan?”
“Kalian baru segini saja sudah panik. Nanti bagaimana saat taruhan benar-benar berjalan?”
Ucapan itu membuat keduanya semakin kesal.
“Baru tiga angka! Itu cuma hadiah kecil!”
Namun—
bola keempat pun keluar!
“Nomor keempat adalah—13!”
“13…”
Nenek menyipitkan mata—
Lalu tiba-tiba matanya membesar!
“Masuk lagi! Nomor keempat juga kena!”
Seketika—
semua orang merasakan sesuatu yang luar biasa!
“Empat angka…!”
Jantung semua orang berdegup kencang!
Televisi terus menampilkan hasil undian.
“Nomor kelima adalah—25!”
BOOM!
Ruangan langsung meledak dalam kegemparan!
Karena—
angka kelima di tiket itu…
memang 25!
Tangan nenek mulai gemetar hebat.
Angka-angka yang ia tulis sendiri…
lima angka berturut-turut semuanya cocok!
Saat itu—
Amar dan Okta benar-benar panik!
Wajah mereka pucat pasi!
“Lima bola merah berturut-turut? Ini… ini tidak mungkin…”
Amar dan Okta benar-benar tidak percaya. Peluangnya terlalu kecil—nyaris mustahil. Namun kenyataan di depan mata tak bisa dibantah!