Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Ruangan itu mendadak sangat sunyi.
Pearl merasakan keringat dingin merayap pelan di sepanjang tulang punggungnya. Di bawah meja, jari-jarinya mencengkeram tepi kursi.
Lorcan tidak bergerak.
Tidak langsung.
Ia meletakkan pulpennya di atas meja dengan gerakan yang sangat terkontrol dan tatapannya beralih ke arah wartawan itu dengan lambat, seperti predator yang tidak terburu-buru karena tahu mangsanya tidak bisa kemana-mana.
"Anda sedang mempertanyakan penglihatan saya," katanya pelan, "atau identitas istri saya?"
Wartawan itu membuka mulutnya.
"Karena jika media Anda berencana menerbitkan sesuatu yang bersifat fitnah tentang perempuan yang duduk di samping saya," lanjut Lorcan tanpa memberi ruang untuk sela, "pastikan tim hukum kalian sudah siap menghadapi tuntutan yang saya ajukan besok pagi. Saya tidak main-main dalam hal itu."
Wartawan itu menutup mulutnya.
Duduk kembali.
Lorcan tersenyum tipis ke arah kamera, senyum yang tampak seperti senyum biasa bagi siapa pun yang melihatnya dari kejauhan.
Satu jam.
Satu jam penuh Pearl duduk di atas kursi itu, tersenyum, menjawab, mengangguk, sementara di balik semua itu ia hanya sedang berjuang untuk tidak kehilangan kendali atas napasnya sendiri. Setiap kali ia mulai goyah, Lorcan memberikan tekanan yang tersembunyi, remasan di tangan, atau bisikan di telinganya yang dari luar tampak seperti rayuan mesra pasangan baru.
Padahal isinya selalu sama.
Jangan goyah. Tersenyum.
Saat konferensi pers akhirnya berakhir dan Lorcan membimbingnya keluar menuju lift pribadi, Pearl merasa tulang-tulangnya terbuat dari kertas basah.
Pintu lift menutup.
Dan dalam sepersekian detik, Lorcan melepaskan rangkulannya, mundur menjauh seperti seseorang yang baru saja terpaksa menyentuh sesuatu yang tidak ia inginkan. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan mengelap tangannya dengan gerakan yang sangat kasual, sangat dingin.
"Kerja bagus," katanya tanpa menoleh, matanya sudah beralih ke layar ponselnya. "Kamu cukup lancar berbohong di depan kamera. Rupanya bakat itu mengalir di darah keluarga Rowan."
Pearl bersandar ke dinding lift.
Kakinya terasa seperti jeli.
"Aku hanya melakukan apa yang diminta."
"Dan kamu harus terus melakukannya." Lorcan menekan tombol lantai paling atas. "Malam ini ada jamuan dengan dewan komisaris. Ganti gaun itu dengan sesuatu yang lebih formal. Kamu harus terlihat berwibawa, bukan seperti seseorang yang baru saja selesai menjalani interogasi."
Hening sebentar.
Pearl menelan ludah.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Lorcan menoleh. Alisnya naik sedikit, ekspresi yang Pearl mulai kenali sebagai tanda ia sedang mempertimbangkan apakah pertanyaan itu layak dijawab atau tidak.
"Kamu mulai berani?"
"Bolehkah aku mengunjungi ibuku sore ini?" suara Pearl turun menjadi hampir bisikan. "Sebentar saja. Aku hanya ingin melihat kondisinya."
Lorcan tidak langsung menjawab.
Ia melangkah mendekat satu langkah, dua langkah, hingga Pearl terpaksa mundur dan punggungnya menyentuh dinding lift. Lorcan menumpukan kedua tangannya di dinding di kiri dan kanan Pearl, mengurungnya di antara lengan dan tubuhnya yang tidak memberi ruang untuk melolos.
Pearl mendongak.
Tatapan mereka bertemu dari jarak yang terlalu dekat.
"Kamu pikir ini liburan?" bisiknya. "Kamu di sini untuk bekerja. Kalau kamu ingin ibumu tetap bernapas, pastikan malam ini tidak ada satu pun kesalahan yang kamu buat. Menemuinya hanya akan membuatmu lemah dan aku tidak butuh istri yang cengeng di depan rekan bisnisku."
"Tapi--"
"Tidak ada tapi."
Pintu lift terbuka.
Lorcan mundur dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. "Masuk. Ada dokumen tentang sejarah keluarga Darragh yang harus kamu pelajari sebelum makan malam. Aku tidak mau terlihat menikahi perempuan yang tidak tahu apa-apa."
Ruang kerja Lorcan didominasi kaca, seluruh dindingnya transparan, memperlihatkan kota dari ketinggian dalam panorama yang di hari lain mungkin terasa menakjubkan.
Hari ini terasa seperti lelucon pahit.
Pearl duduk di sofa pojok dengan map tebal di pangkuannya, membaca tanpa benar-benar membaca. Lorcan sudah tenggelam di balik meja kerjanya, berkas-berkas menyebar di depannya, mengabaikan keberadaan Pearl seperti mengabaikan sepotong furnitur yang tidak ia pesan tapi terlanjur diantar ke ruangannya.
Di luar sana, Pearl tahu, karena tadi sempat melihat layar berita di lobi, orang-orang sedang ramai membicarakan betapa beruntungnya Orla Rowan. Foto-foto mereka dari konferensi pers sudah menyebar. Komentar-komentar bermunculan. Semua orang membayangkan kemewahan, cinta, keamanan.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang akan pernah tahu.
Pearl menatap halaman pertama map itu tanpa melihatnya.
Ia memikirkan ibunya, berbaring tenang di balik kaca ruang ICU, tidak tahu bahwa putrinya sedang duduk di lantai tertinggi gedung ini dengan jantung yang patah dan senyum yang mulai retak di tepiannya.
Sore itu, di tengah kesibukan kantor yang bising di luar pintu kaca, Pearl menangis tanpa suara di balik map tebal itu.
Tidak terdengar siapa pun.
Tidak dilihat siapa pun.
Dan Pearl menyadari satu hal yang menyedihkan dengan cara yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun, ia lebih memilih menjadi Pearl yang tidak punya apa-apa, asal bisa memeluk ibunya tanpa ada yang mengancam untuk mencabutnya, daripada menjadi Nyonya Darragh yang mengenakan gaun seharga mobil mewah namun jiwanya dipasung oleh pria yang bahkan tidak memandangnya sebagai manusia.
Tapi keinginan itu tidak mengubah apa pun.
Dan Pearl tahu, ini baru hari kedua.
Masih ada tiga ratus enam puluh tiga hari lagi yang harus ia lalui sebelum kontrak ini berakhir.
Jika ia berhasil sampai ke sana.
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓