Suyitno merubah namanya menjadi Alex, semua bermula dari ketidak sengajaan yang terjadi disebuah persimpangan jalan.
Seiring berjalannya waktu Suyitno menemukan jati dirinya yang sebenarnya, rahasia yang tidak pernah dia ketahui sepanjang umurnya. Bahkan ibunya yang selalu menutup cerita darinya tentang masa lalu yang terjadi sehingga dirinya hadir di dunia ini.
"Kamu bukan orang lain untuk diriku, tapi ada hubungan darah yang lebih dari itu" kata tuan Ali suatu hari pada Alex.
"Ibu bukannya tidak mau bercerita yang sebenarnya, tapi ada hal yang harus ibu lakukan untuk melindungi dirimu" ucapan ibu Suyitno semakin membuat Suyitno penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Mungkinkah Suyitno adalah takdir dan karma lain dari kehidupan dimasa lalu, mampukah Suyitno menerima segala hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya?
Lalu ke mana cintanya akan berlabuh setelah semua terbuka dan mengetahui siapa dirinya ?
"Cinta tidak memandang dari apa yang ada, tapi lebih dari sebuah rasa untuk selalu ada bagaimana pun keadaanya."
Siapa yang berkata demikian saat Suyitno tidak mempercayai cintanya?
Mirna, Meilan atau mungkin mis Lina?
Waktu memang membuat rahasianya sendiri untuk kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Dulu
POV Alex ( Suyitno )
Pagi ini aku berangkat kerja seperti biasa, bareng tuan Ali Abram atau papa Ali.
Begitu masuk ruangan manager banyak berkas sudah menumpuk dan tentu harus segera diselesaikan. Butuh waktu yang cukup lumayan panjang untuk bisa benar-benar berperan sebagai Alex. Identitas baru yang benar-benar baru dari kehidupanku yang lama disudut kampung pegunungan Muria, Jawa tengah.
Sewaktu dikampung kegiatanku sehari-hari hanya ikut ibuku ke kebun bercocok tanam sayuran atau memetiknya kemudian memebantu ibu menyetorkan ke rumah pak Rt yang memang saudagar sayur dipasar kecamatan.
Kalau sedang tidak ada kegiatan bersama ibu aku akan memancing di sungai yang tidak jauh dari rumah. Jika aku bosan memancing dengan sedikit berjalan ke atas menyusur tepi sungai aku akan sampai di air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi tetap sedap dipandang. Dengan dua air terjun kecil disebelah kiri, seakan-akan mencerminkan tiga bersaudara dengan umur yang berbeda.
Bukan hanya ukurannya yang berbeda tapi juga volume air yang dicurahkan menjadi penegas jarak diantara ketiga air terjun tersebut.
Kampungnya memang indah, tenang dan damai dengan udara yang segar cenderung dingin karena letak geografisnya yang pegunungan.
Aku pun menjalani kehidupan dengan penuh syukur sampai pada waktu dimana dengan tidak sengaja mencuri dengar percakapan haji Roni dan pak RT diwarung kopi pinggir jalan arah kebun.
Waktu itu aku perjalanan pulang dan berniat mampir warung membeli beberapa gorengan untuk ibu dirumah, tapi mendengar ada yang menyebut-nyebut namaku akhinya aku mengurungkan niat untuk masuk dan malah duduk di bangku samping luar warung.
Tentu mereka yang didalam tidak akan menyadari keberadaanku, akhirnya aku pun mendengar semuanya.
Haji Roni adalah tetanggaku, seorang duda yang belum terlalu tua. Juragan yang kaya raya dengan berbagai usaha yang sangat maju. Punya pabrik gula tebu dibeberapa tempat karena selain dikampungku haji Roni juga punya usaha tersebut dikampung atau kecamatan tetangga.
"Mirna aku jadikan istri saja pak RT, pasti terjamin hidupnya." Kata haji Roni pada pak rt. "Atau mau kamu nikahkan dengan Suyitno? meskipun dia lebih muda tapi aku jauh lebih kaya kan?" ujar haji Roni berusaha mempengaruhi pak RT.
Pak RT tersenyum kikuk mendengar ucapan haji Roni yang seperti melamar tanpa hantaran.
"Pak RT pasti tahu kan jika Mirna pacaran sama Suyitno?"
"Aku dengar beberapa warga berkata begitu tapi menurutku mereka hanya berteman , lagi pula Suyitno memang pemuda yang baik dan ramah" pak RT akhinya menjawab dengan hati-hati.
"Halah... nikahkan saja sama aku, pokoknya terjamin hidupnya akan bahagia." Haji Roni berkata pongah.
"Datanglah ke rumah, tanyakan sendiri sama Mirna karena dia yang akan menjalaninya." pak RT berkata bijak.
Mungkin dia berpikir jika anaknya menikah dengan Suyitno sesuai gosip yang mengatakan mereka pacaran, anaknya akan bahagia tapi hidup berkeluarga tidak hanya tentang cinta.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk kehidupan berkeluarga selain hanya sekedar cinta. Tapi pak RT tentu juga menimbang perkataan haji Roni, meskipun duda cerai tapi semua orang juga tahu perceraian yang sudah lama itu terjadi karena istrinya pergi meninggalkannya bersama pria lain. Tentunya Mirna akan berkecukupan jika menjadi istri haji Roni dengan berlimpahnya harta. Entahlah biar Mirna yang memutuskan sendiri. Begitu pikir pak RT.
Mirna anak kedua pak RT, yang pertama kakaknya Mirna, Budi sudah menikah dan hidup didaerah Pati. Mirna gadis yang manis, masih kuliah diuniversitas yang ada dikota kabupaten.
Aku tahu tidak mungkin bersaing dengan haji Roni untuk mendapatkan Mirna, selain status sosial yang beda jauh aku juga memang bukan pacar Mirna. Kami hanya berteman akrab karena Mirna yang bersekolah lumayan tinggi dikabupaten sedikit memberi pengetahuannya tentang bercocok tanam dan pengunaan alat-alat kebun. Sedangkan aku, pemuda tanpa status sosial dan tidak berpendidikan.
Aku pun memutuskan langsung pulang dengan perasaan yang setengah kecewa dan tidak jadi membeli gorengan buat ibu.
Aku kecewa dengan statusku dan pandangan orang yang merendahkan kehidupanku.
Tapi aku juga kecewa dengan perasaanku sendiri yang... entahlah, terasa sesak dada ini dan seperti ada yang mencubit-cubit mengingat lamaran haji Roni meskipun tentu saja itu bukan acara lamaran.
POV Suyitno and
*****
Berhari-hari Suyitno memikirkan banyak hal, sehingga lebih banyak melamun. Seperti siang ini, dia masih saja duduk-duduk dibale bambu teras depan rumahnya. Ibunya sudah mengajaknya ke kebun pagi tadi tapi Suyitno tidak menyahut cuma melihat dan mengangguk saja. Dengan menggeleng pelan dan mengusap rambut kepala Suyitno ibunya pamit.
"Ibu berangkat dulu, kamu kalo tidak mau ikut dirumah saja, jangan kemana-mana."
"Jika lapar sudah ada makanan dimeja dapur." ibunya berkata lagi.
Ibunya bergegas pergi tanpa menoleh, tentu dia maklum karena semalam anaknya sudah cerita tentang percakapan yang didengarnya secara tidak sengaja diwarung kemaren.
"Sabar ya le... tidak semua orang menilai diri kita dari apa yang kita punya."
"Meskipun tidak menampik bahwa lebih banyak orang yang bersikap demikian."
"Kamu harus tetap yakin dan jadi diri sendiri." kata ibunya menasehati.
"Aku mau merantau saja Bu, siapa tahu aku bisa menjadi orang kaya dengan kerja dikota."
Suyitno mengutarakan maksudnya untuk pergi merantau, tapi sepertinya ibunya tidak memberi ijin. Ibunya memang tidak menjawab 'tidak' tapi dari perkataanya menyiratkan keberatan akan niat anaknya.
"Kota tidak selalu menjanjikan masa depan yang cerah le, kadang kota malah lebih kejam memperlakukan dirimu."
Perkataan ibunya terdengar pilu, ada getar kesedihan yang tertahan dari setiap kata yang keluar dari nada bicaranya. Suyitno tidak paham kenapa, dia tidak bisa memprediksi dengan exspresi wajah ibunya karena malam itu mereka bicara tidak saling berhadapan.
Dengan langkah sedikit tergesa sorenya Suyitno berjalan kearah kebun, menyusul ibunya yang belum juga pulang.
Ini bukan waktu tanam ataupun panen, ibunya hanya pergi untuk menyiangi rumput-rumput yang mungkin menganggu tanaman sayurnya. Tapi kenapa sampai sore ibunya tidak kunjung balik?
Belum juga sampai di kebun Suyitno seperti mendengar suara orang yang berdebat dan...
"Harusnya kamu kenalkan Suyitno dengan keluarga bapaknya biar dirawat dan dapat pendidikan, apa kamu tidak ada niat untuk itu Sri?"
"Kasihan dia, harusnya hidupnya lebih baik tidak hanya jadi pemuda kampung macam sekarang." Suara orang yang bicara itu pak RT, Suyitno melotot kaget dan ibunya terlihat diam menunduk.
Tunggu, ibunya tidak diam tapi menangis. Ibunya menangis, terlihat dari guncangan bahu ibunya meskipun tanpa suara. Bertambah bingung dirinya saat pak RT melanjutkan kata-katanya.
"Tidak semua hal terjadi seperti apa yang kamu pikirkan, kamu juga harus memikirkan masa depannya."
"Keegoisan mu mengikatnya Sri." Setelah kalimat terakhir pak RT berlalu dan tampak kaget menyadari sosok yang mereka bicarakan hadir dengan sedikit bingung dengan yang dia dengar.
Dengan berdehem menetralkan dirinya yang terkejut pak RT berlalu tanpa kata, melewati Suyitno yang membuka mulut hampir bertanya tapi tidak juga bersuara.
Masih menunggu ibunya meredakan tangis, Suyitno sibuk dengan pikirannya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan. Mungkin nanti setelah sampai dirumah ibunya bersedia bercerita tanpa dia tanya.
Malam semakin beranjak, tapi ibunya tetap diam seperti menghindar dari Suyitno. Ada saja yang dikerjakan hanya untuk sekedar menghindari pertanyaan anaknya. Membersihkan alat-alat makan dan perlengkapan dapur dengan pelan agar memakan waktu, setelahnya mengambil cucian kering untuk dilipat dikamar dan akhirnya malam benar-benar telah larut.
Sebelum ibunya benar-benar tertidur, Suyitno menghampiri ibunya dan berkata lirih diambang pintu kamar.
"Bu, aku tahu ibu belum siap cerita, aku tidak akan memaksa dan berusaha mencari tahu." "Mungkin menurut ibu aku memang lebih baik tidak tahu apa-apa." Suyitno berlalu dan masuk kamarnya sendiri, merebahkan badan diranjang tua yang berdecit dan menatap langit-langit kamar. Menghitung bambu penyangga genteng atap rumah, menghalau gelisah yang terus merasuki kepalanya. Sesekali terdengar tarikan nafas panjang karena banyaknya tanya yang tidak menemukan jawaban.
Malam itu matanya terus terjaga dalam gelisah, tidak terpejam sama sekali.
30-10-2023 | 14.40