Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABA VII SOSOK BETARA KALA
Jagat dewanata ingkang kagelar dening ampa, gumebyar dunya tumika ing banda, tega lara tega ing pati samiyah abyor, mestaka ing luhur dadiya tumbal badan nira, sukma ing malayang, diri jati kalebur ing raga, mentas jalma ingkang sumringa, gemuyu tantangis, sigra lampa ing pendopo nira, tumindak dening bela pati, geger ing jagat ira samiya guyub ing rerasa.
Setelah sampai di dalam lumbung, Ki Sawerga dan Singgala segera melakukan Tiwikrama, sedakep sinuku tunggal, dengan posisi duduk bersilah, tubuhnya diam tak bergerak. Mata terpejam dan kedua bibirnya komat kamit membaca mantra aji.
Jelang senja itu, keduanya masih duduk terdiam, sementara di depan sana terlihat Wardi yang tubuhnya menjadi obyek dari sosok Betara Kala , dalam kondisi terikat berusaha meronta untuk bebas, dari mulutnya terdengar suara gelak tawa yang menggelegar. Dari pada itu tampak beberapa orang selalu menjaga tali agar tidak lepas.
Sementara tubuh Singgala dan ki Sawerga mengeluarkan kepulan asap tipis pertanda keduanya sedang mengalami serangan kekuatan yang sangat kuat. Dengan kondisi seperti itu, tiba-tiba dari tubuh Singgala mengeluarkan sinar yang menyilaukan, sementara tubuh ki Werga keluar keringat begitu banyak.
Di depan sana tampak Wardi meraung kesakitan dengan tubuhnya meronta kuat, dan beberapa saat kemudian tubuh Wardi seakan terangkat. Lalu tubuh itu terdiam di atas tanah setinggi satu jengkal. Matanya mencilak , bola matanya berwarna putih, dan terdengar suara ," Ampuuuuuuuun"
Bersamaan dengan suara itu, tubuh Wardi terjatuh dan lemas tak berdaya. Orang-orang yang berada di lumbung itu segera membuka tali pengikat lalu mengangkat tubuh Wardi keluar lumbung. Di sana tubuh Wardi lunglai tak bertenaga, wajahnya pucat, matanya tertutup, mulutnya juga tertutup, sementara nafasnya begitu lemah. Apa yang telah terjadi sesungguhnya ?
Pada saat terdiamnya kedua orang yakni ki Werga dan Singgala, sebetulnya kedua sukma dari orang itu keluar, lalu melesat pergi secepat kilat. Sukma tadi ternyata menuju ke sebuah tempat yang berbau amis. Di situ kedua sukma tadi melihat tubuh seseorang sedang duduk di teras rumah yang besar dengan pintu yang tinggi. Lalu kedua sukma itu menghampiri Wardi, tiba-tiba.......
Dari dalam bangunan rumah itu keluar sosok besar seperti layaknya raksasa, dengan tubuh besar dan tinggi, berbulu lebat dan bertaring. Sosok itu dijuluki Buto ijo. Ia melangkah menghampiri kedua sukma itu. Kemudian tangannya meraih tubuh si Wardi. Kedua sukma itu berusaha mengeluarkan tubuh Wardi dari genggaman si buto ijo. Ternyata genggaman itu begitu kuatnya. Sehingga tubuh Wardi susah untuk dibebaskan. Dalam kondisi seperti itu, sukma ki Werga mengeluarkan senjata Trisula , lalu melesat menyerang buto ijo.
Mengetahui akan diserang, buto ijo segera menendangnya dan terpental lah sukma ki Werga. Sementara sukma Singgala, dengan cepat melayangkan satu tendangan pas di rahang si buto ijo. Tendangan telak itu membuat buto ijo terpental beberapa meter dan tersungkurlah di tempat itu. Tempat tersungkurnya buto ijo sekarang menjadi sebuah kedung yang dinamakan Lebak Si Dalem.
Dengan penaklukan buto ijo maka kedua sukma tadi kembali menuju jasadnya. Setelah sadar, ki Sawerga dan Singgala menyempurnakan tubuhnya lalu berdiri sambil membersihkan beberapa debu di pakaiannya.
" Rupanya tadi Ki Werga lengah juga dalam menghunus trisula ya ki ?" tanya Singgala.
" Benar Raden, saya kira trisula itu sudah pas mengenai buto ijo tadi, tapi sayangnya meleset," jawab ki Werga.
" Saya kira dengar tersungkurnya buto ijo tadi, nanti kapan ia akan kembali lagi ?" tanya Singgala.
" Biasanya itu setiap bulan purnama tanggal 15 , Raden ," jawab ki Werga.
" Berarti nanti dalam setiap 7 tahun akan muncul lagi terus akan mengganggu lagi ki ? tanya Singgala.
" Tidak Raden, dia akan kembali pada purnama di bulan yang sama dan tanggal yang sama, bisa jadi hingga 70 tahun kurang lebih, begitu Raden," kata ki Werga.
Setelah kejadian itu, Singgala dan para kerabat dipersilahkan untuk beristirahat di balai pecantilan. Mereka disuguhi beberapa makanan dan juga air bandrek, serta hasil bumi rakyat di tempat itu. Dalam suasana yang masih diselimuti rasa ketakutan warga, untuk menenangkan pikiran yang was-was, ki Werga bercerita.
" Warga pecantilan Kemuning, baru saja teman kita, warga kita juga sahabat kita mengalami hal aneh yang membuat kalian takut dan gemetar, itu hal biasa, dulu juga telah ada kejadian semacam itu. Pengen tahu kisahnya ?" tanya ki Werga.
" Iya Ki, " jawabnya dengan serempak.
" Baik, begini kisahnya, zaman dulu itu ada sebuah dusun terpencil, hiduplah seorang nenek yang bernama mbok Ija , dengan cucunya yaitu Sri Rejeki. Suatu hari si cucu ini bertemu dengan si pencari kayu, lalu dikasihlah makanan si cucu itu. Tapi syaratnya kalau mau makan jangan baca doa atau baca apa saja, itu jangan, kata si pencari kayu. Begitu sampai di rumah cucu itu, langsung membuka makanan tadi. Di situ si nenek kaget melihat isi makanan itu ternyata isinya berbagai bangkai hewan-hewan kecil, ada cacing, ulat, serta jenis serangga lain. Kemudian si nenek membuang makanan itu dari tangan si cucu. Marahlah si cucu dan dikejarlah nenek itu sampai si nenek masuk jurang. Dan jadilah si cucu tadi seorang putri yang ingin mencari si pencari kayu yang ternyata jemaan buto ijo. Makanya kalau mau berbuat atau melakukan sesuatu jangan lupa baca doa," tutur ki Werga.
" Ooooooh.....jadi doa itu kuncinya supaya tidak terkena gangguan buto ijo ya Ki," tanya seorang warga.
" Begitulah kira-kira sedulur," kata ki Werga sambil minum teh manis.
" Tak terasa kita di sini lama juga Den, sudah hampir pagi, sebaiknya kita bersiap diri untuk pulang," kata Soma.
" Baiklah paman, kita akan pulang sekarang," jawab Singgala.
Setelah berpamitan, rombongan Singgala dan ki Werga kembali ke pedukuhan.
Pagi itu rombongan Ki Werga masih tertidur di pendopo, semuanya masih merasakan kantuk akibat semalam tidak tidur. Mereka saking lelapnya tak terasa banyak lalat yang mengerumuninya. Mereka terbangun gara-gara bau kopi yang begitu harum.
" Silahkan kopinya diminum Ki, kalau perlu mandi saja dulu, lalu ngopi," kata si emban.
Yang dibangunkan jadi pada bingung, mereka salah tingkah dan merasa malu tentunya. Lalu mereka bergantian mandi dan menikmati hidangan kopi dan beberapa gorengan hasil bumi. Dalam kondisi yang setengah mengantuk, ada saja kelakuan konyol di antara mereka. Membuat suasana tertawa yang amat lucu.
Siang itu Nyai Bengkalis sedang duduk bersama para kerani dan juga para petinggi pedukuhan yang lain.
" Maaf ki, adakah saran supaya kami dalam menjalankan rumah tangga ini segera diberi amanah keturunan ?" kata Nyai Bengkalis.
" Hmmmmm....rupanya pengen keturunan juga ya Nyai," jawab ki Werga.
" Jelas lah ki, sudah lama kami belum diberi keturunan ," sahut Nyai Bengkalis.
Dengan seksama Nyai Bengkalis dan para kerani di pendopo itu mendengarkan penjelasan dari ki Sawerga yang hasilnya adalah akan mengganti nama Raden Singgala dengan nama lain.
" Jadi harus berganti nama ki," kata Singgala.
" Iya Raden," jawab ki Werga.
Siapa nanti namanya ?