NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salam perkenalan

Telah 3 hari aku mengurung diri di dalam kamar. Kupikir aksi mogokku ini bisa mencairkan hati Mama dan Papa, namun nyatanya usahaku sia-sia. Boro-boro membujukku, menjengukku ke dalam kamar saja tidak pernah. Cuma pembantu rumah saja yang bolak-balik kamarku mengantarkan makanan dan obat.

Sore itu, dari jendela kamar, aku melihat Papa dan Mama keluar menggunakan mobil. Segera aku mengambil ponsel, menghubungi John dan mengajaknya bertemu. Sampai kapan aku akan terkurung di dalam kamar seperti ini? Sudah seminggu lamanya Aku tidak melihat dunia luar.

.

.

.

John datang kira-kira 10 menit setelah aku sampai di caffe. Kami beradu pipi seperti biasa.

"Sudah lama?" tanya John, lalu duduk di kursi hadapanku. Kuulurkan minuman yang telah aku pesan padanya.

"Thanks, babe. Anyway, sorry ya? Gue gak bisa jenguk Lo. Tapi waktu Lo di rumah sakit, gue sempat datang. So, karna gak enak sama keluarga Lo. Gue cabut lagi."

"Gak apa-apa, aku ngerti kok," balasku sambil tersenyum kecil. Sedikitpun aku tidak mengambil hati mengenai hal itu.

"So, sekarang Lo ngajak gue ketemuan mau ngapain? Ngajak make?"

Aku hanya tertawa kecil.

"Lo tau kan Adri dan Rehan--"

"Wait!" potongku sambil mengangkat tangan memintanya berhenti. Kening John berkerut melihat reaksiku.

"John, saat ini gue lagi gak mau bahas tentang Adri dan Rehan, please? Gue ngajak Lo ketemu karna hal lain. Gue gak tau harus minta tolong siapa lagi kalau bukan Lo," sambungku.

John bersandar di kursinya dan memandangku dengan dadi berkerut.

"Oke. Apa masalah Lo?" tanyanya sambil menyeruput minuman.

"Hmm....gue....gue mau nanya soal Adam," jawabku pelan. Kening John masih berkerut. Kemudian minuman di tangannya di letakkan diatas meja.

"Kenapa Lo tiba-tiba nanya dia?"

"Ada hal penting igin kubicarakan dengan dia. Dia masih tinggal di sana kan?" Aku masih ragu menceritakan pada John rencana perjodohan papa. Mungkin ini memang harus kurahasialan dulu.

"Dia udah cabut. Terakhir aku jumpa malam Jum'at itu lah. Sabtu pagi, gue bangun dia udah gak ada di kamar Rehan. Barang-barangnya pun udah gak ada."

"Lo tau dia pergi kemana?"

John menggeleng. "Sorry, gua gak tau."

"Lo ada nomor telepon dia?" Aku berharap John menjawab ada, walau harapan itu hanya sedikit. Tapi dia kembali menggeleng pelan sebagai jawaban atas tanyaku

"Memang ada apa Lo mau ketemu dia?" tanya John, mungkin dia ingin mengorek cerita dariku.

"Sebenarnya gak ada yang penting juga sih," jawabku sambil tersenyum. Tapi John seperti tidak percaya dengan jawabanku itu.

"Kalau gak penting, gak mungkin Lo ngajak gue ketemuan hanya untuk menanyakan dia. Atau Lo butuh seseorang untuk phone seks?" tanya John sambil mengangkat kening. Aku hanya tertawa kecil.

Phone seks?

"Gue lupa. Erin. Dia ada nomor Adam? Malam itu dia minta lansung ke Adam. Boleh tolong gue mintain nomor Adam ke dia?" kataku yang tiba-tiba ingat pada Erin.

"Sayangnya, gue dan Erin udah end. Gak tau tuh, cewek gak jelas. Dia tiba-tiba minta putus. Gue gak yakin bisa dapatkan nomor Adam dari dia."

Aku menekuk wajah. Tak tahu lagi bagaimana cara agar bisa bicara dengan Adam, supaya dia membatalkan niatnya ingin menikahiku.

"Gini aja. Gue gak janji, tapi nanti bakal gue coba usahain dapatkan nomor Adam buat Lo. Kasih gue waktu sehari dua hari ini, nanti kalau udah dapat gue kabarin."

***

Sudah dua hari, tapi John belum juga menghubungiku.

Pagi itu, aku bersiap ke kampus. Aku tidak ikut sarapan barang mama dan papa. Mereka pun masih tidak memperdulikan aku.

Persiapan pernikahan di rumah sudah terlihat. Gorden jendela sudah di ganti dengan warna putih. Ruang tamu juga sudah di kosongkan untuk sesi akad nanti. Perasaanku semakin berkecamuk melihat semua itu. Kaki kuhentakkan cepat menuju kampus.

Hati yang masih panas melihat persiapan yang papa dan mama lakukan bertambah panas dengan rekan-rekan kuliah. Biasanya aku selalu datang telat ke kelas. Haru ini, baru saja duduk susah banyak rekan sevakultas menyerbuku dan bertanya mengenai kejadian malam itu.

Mereka ingin memastikan kebenaran cerita yang di sampaikan Ana, dan aku hanya mengangguk mengiyakan. Ada juga yang paling kepo dengan bertanya lebih lanjut, tapi karna moodku sudah terganggu sejak dari rumah, aku pun melepaskan marahku pada mereka. Mereka terdiam, lalu minta maaf dan kembali ke kursi masing-masing.

"Maaf ya Win, kalau kamu marah karna aku ngasih tau anak-anak apa yang terjadi sebenarnya. Aku hanya gak mau mereka percaya gosip gak jelas itu." Ana bergunam pelan di sampingku. Aku coba senyum padanya dan dia tersenyum kembali.

"Harusnya hari ini dosen baru itu udah ngajar di kelas kita. Tapi udah jam segini kok di belum datang juga ya?" Jelas suara Ana terdengar kecewa. Aku yakin dia sudah menunggu-nunggu datangnya hari ini untuk bertemu dengan dosen pujaan hatinya itu.

"Mungkin sebentar lagi," kataku sambil mengeluarkan iPad minku dari dalam tas. Sebenarnya aku tidak mood untuk masuk kelas hari ini, tapi karna sudah banyak mata kuliah yang tertinggal kupaksakan juga. Meski aku liar, namun aku peduli dengan nilai akademik.

Kubuka Instagram dan melihat foto-foto lama yang kusimpan di sana. Ana di sebelahku masih bergumam sendiri, khawatir dengan pengeran berkuda putihnya yang belum juga muncul. Kuhiraukan dunia sekelilingku, fokusku hanya pada foto-foto lama di Instagram.

Beberapa menit berselang, Ana menyiku tanganku, tapi tak kupedukikan. Namun ketika dia mulai menepuk-nepuk lenganku, aku pun jadi kesal.

"Apa sih?" tanyaku ketus sambil melihat padanya. Dia tidak menoleh padaku, matanya fokus memandang ke depan kelas dan terpaku di sana. Sama halnya dengan Ana, kelas yang tadinya seperti pasar mendadak sunyi.

Belum sempat aku melihat apa yang menjadi perhatian mereka, sebuah suara menggema jelas di telingaku. "Good morning, class. Sorry i'm late."

Tanpa aku melihat, aku sudah tau suara siapa di depan sana. Ya, itu suara lelaki yang aku cari-cari. Apa yang dia lakukan di sini?

"Oh, may God, Win! He is the most perfect specimen of a man!" bisik Ana terdengar jelas di telingaku setelah dia dan rekan kuliahku lepas dari pukauan Adam.

Aku melihat kedapan, di sana Adam sedang mengeluarkan Macbooknya dari tas.

"In real life, he is a milion times batter looking than what i expected." tambah Ana membuatku semakin bad mood.

"Gak usah lebay! Tampang begituan di terminal banyak," sinisku.

Ana terdiam dan menoleh padaku. Tapi dari raut wajahnya tidak sedikitpun tampak tersinggung dengan kata-kataku barusan, malahan dengan gaya alaynya sibuk mengipas-ngipas wajah.

Di depan kelas, Adam mulai bicara dan semua mata tertuju padanya, termasuk aku. Apa dia tahu, aku ada di dalam kelas ini?

"Asassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Riuh suara dalam kelas membalas salam yang di ucapkan Adam.

"Oke, selamat pagi semuanya.  Maaf saya terlambat. Seperti yang kalian ketahui, Ibu Lim sedang cuti hamil, jadi saya akan menggantikannya di kelas ini selama sisa semester."

Satu kelas kembali riuh mendengar pengumuman itu.  Banyak yang bertepuk tangan menandakan kegembiraan mereka.

Adam tersenyum sambil memperhatikan sekeliling kelas dan berhenti tepat di mataku.

"Oh my Ghost! Dia melihat aku. Win, dia melihat aku!" Ana lansung menunduk menutup wajahnya dengan tapak tangan.

Aku tahu, Adam pasti kaget melihat keberadaanku dalam kelas ini, tapi tidak begitu di tunjukkannya. Dia berpaling dan mengambil sehelai kertas.

Lembaran absen.

"Win. Dia masih melihat kesini gak?" bisik Ana. Aku jawab tidak, barulah Ana mengangkat lagi wajahnya dan kembali memperhatikan Ada. Gabv sedang membaca daftar nama mahasiswa yang ada dalam kelas ini.

"Win, lihat tangan dia. Uuuh....gimana ya rasanya di peluk tangan itu?" bisik Ana lagi. Aku diamkan, malas memberi respon. Karna kenyataanya kata-kata Ana itu mengingatkan aku pada malam itu.

Aku gelengkan kepala menepis pikiran itu, lalu fokus kedepan.

Di depan, Adam tersenyum pada mahasiswanya setelah meletakkan kembali daftar nama itu diatas meja.

"Oke. My name is Adam. So you may call me Mr Adam. Tapi rasanya itu tidak pantas. Saya yakin kita semua seumuran, jadi di sini anda dapat memanggil saya Adam. Karna rasanya terlalu lucu kalau kalian panggil saya 'Pak'. Jadi cukup Adam saja. Oke."

Seisi kelas menjawab oke, kecuali aku yang diam saja. Di banding Adam yang aku kenal, Adam yang berdiri di depanku sekatang ini terlihat lebih ramah dan pandai bergaul. Siapa dia sebenarnya? Kanapa saat bertemu kemarin sfatnya begitu menyebalkan?

"Bagus. Tapi, inilah bagian yang sulit. Di luar kelas kalian harus memanggil saya 'Pak' atau kita akan mendapat masalah dengan bagian administrasi. Aoakah kalian paham?"

Sama seperti sebelumnya seluruh kelas menjawab 'paham', kecuali aku.

"Bagus. Nah, berhubungan hari ini adalah sesi pertama kita, mari kita kesampingkan dulu pemrograman. Karna saya ingin mengenal kalian semua terlebih dahulu. Boleh?"

Semua lansung mengiyakan idenya itu. Kemudian Adam bergerak ke leptopnya dan menekan sesuatu. Latar putih di belakangnya menyala dengan tulisan Ice-Breaking Session.

"Mari kita mulai dengan Anda. Bagikan sesuatu tentang diri Anda pada saya."

Adam mempersilahkan Kelly yang duduk di baris paling depan untuk memulai sesi. Dia tampak bersemangat karna hampir setiap 5 detik akan tertawa kecil.

"Kamu tau gak, Win? Selama ini aku gak terima caramu yang mengasingkan dunia dalam kampus. Seperti kata motivator, 'orang-orang dalam suatu lingkaran akan tetap berada dalam lingkaran itu'. Aku benar-benar gak ngerti dengan pemikiranmu, Winda. Sampai sampai si Rizal anak multimedia yang sudah lama naksir kamu, malah kamu tolak, karna mau menjalankan prinsip hidupmu sendiri."  Ana tiba-tiba bersuara. Aku menoleh kearahnya, tidak tahu kenapa tiba-tiba dia membuka topik tentang prinsipku.

"Jangan salah paham dulu. Jujur sekarang aku kaget dan juga gembira, karna kamu berpegang teguh pada prinsibmu." Ana menambahkan Aku hanya tersenyum dan kembali melihat kedepan. Gadis ketiga sedang memperkenalkan diri dan tidak tahu apa yang lucu, seluruh kelas sedang tertawa termasuk juga Adam.

"Win, kalau aku bilang, aku senang melihat Adam ketawa, kamu bakal hakimi aku gak?" Ana kembali berbisik di telingaku.

"Nggak. Aku rasa yang lain juga begitu," jawabku tanpa menoleh kearahnya.

"Kecuali kamu," tuduh Ana membuatku menoleh kearahnya.

"Sepertinya kurang satu saingan. Jadinya aku gak perlu berebut Adam denganmu." Ana kembali berbisik. Aku hanya membalas dengan tersenyum dan kembali memandang kedepan.

Di bandingkan mahasiswa perempuan yang melebih-lebihkan waktu untuk memperkenalkan diri, mahasiswa laki-laki malah lebih ringkas bercerita.

Tak terasa, 23 mahasiswa sudah pun memperkenalkan diri masing-masing. Yang tinggal hanya aku dan Ana yang duduk di baris belakang paling pojok.

"Oke. Sekarang giliran Anda." 

Adam menunjuk ke arahku dan tersenyum. Caranya seperti tidak mengenaliku, mungkin dia ingin terlihat lebih profesional. Oke.

Kuhela nafas dalam-dalam sebelum beridiri. Seluruh kelas memandang ke arahku penuh perhatian seolah merak juguntidak mengenaliku.

"My name is Winda. I'm 22 years old. Born and raised ini Jakarta."

Di banding dengan mahasiswa lain, perkenalanku sangat singkat, lalu aku kembali duduk.

"That's all?" tanya Adam. Aku hanya mengangkat bahu, tanda tidak mau bercerita lebih, dan rekan kuliah mulai berbisik-bisik.

"Well, would you shere with me some of your feaes, or maybe dreams, like some of your coursemates did?" tanya Adam lagi seperti sengaja ingin menarik perhatianku agar berbagi cerita.

Aku tersenyum sinis dengan pertanyaan yang seolah tepat untuk kujawab.

"Sure. I wish NOT to be merried to a mosnter," jawabku enteng, dengan memperjelas kalimat 'not' agar dia paham maksudku.

Seisi kelas semakin semangat berbisik. Pasti mereka menganggap jawabanku itu berdasarkan dari pengalamanku yang pernah mengalami kekerasan fisik oleh Adri.

"Saya yakin kamu cukup cerdas untuk membedakan antara kekasih dan monster," balas Adam di depan sana dan tersenyum, walaupun ada sedikit riak tersinggung dengan jawabanku. Tapi dia sembunyikan itu dengan beralih perhatian pada Juliana.

"Oke, terakhir, bisa ceritakan sedikit tentang dirimu?"

Juliana tersenyum kecil, lalu berdiri dengan ayunya. Senyum manis di ukir pada Adam dan Adam membalasnya.

"Nama saya Juliana, teman-teman memanggil saya Ana. Usia saya Minggu depan masuk 22, dan saya rencana akan merayakannya sekalian mengundang Anda agar datang."

"Benarkah? Kalau begitu saya  akan datang. Saya akan memasukkan ke dalam agenda. Terima kasih atas undangannya," sahut Adam di depan sana.

"Ya, saya berharap sekali Anda datang. Saya sangat suka membuat kue, jadi saya akan membuat kue ulang tahun saya sendiri untuk Anda." Ana bertepuk tangan, wajahnya tampak begitu riang.

"Waw! Itu luar biasa sekali. Saya tidak sabar ingin mencicipinya." Adam semakin melayani Ana yang begitu ganjen di mataku.

Aku tiba-tiba jengkel. Melihat pemandangan ini.

"Kalau begitu, kue apa yang Anda suka? Biar nanti saya buatkan." Ana semakin menjadi-jadi. Adakah pertanyaannya ini penting di umumkan di kelas?

"Apakah kamu bisa membuat cupcake? Saya suka cupcake. Menurut saya cupcake itu lezat." Adam masih melayani Ana dengan mesra. Bahkan senyum di bibirnya masih mengembang.

Aku amati bibirnya dan emosiku semakin menjadi-jadi. Benakku tiba-tiba mengenang kembali ciuman kami dan aku menggigit bibir bawahku tanpa sadar.

"Ya, saya juga suka capcake! Kalau begitu saya akan membuatkan cupcake spesial untuk Anda Minggu ini. Jadi, Anda wajib datang dan mencobanya." Suara Ana yang semakin kecentilan menyentakku dari lamunan.

Aku yang sejak tadi mengamati bibir Adam beralih pada matanya. Dan ternyata dia juga sedang melihat padaku. Cepat-cepat kualihkan pandangan kearah lain dan bibir bawah yang kugigit kulepas.

"Baiklah Juliana, saya menantikan pestamu Minggu ini," ucap Adam mengakhiri sesi perkenalan pada semua mahasiswa di kelas ini yang berjumlah 25 orang.

Adam berbalik dan kembali menghadap leptop, bersamaan dengan itu latar putih yang menyala di belakangnya mati.

"Oke, saya rasa adil jika saya membalas budi kalian semua yang telah berbaik hati dan cukup hangat untuk berbagi informasi pribadi dengan saya. Jadi, sekarang ambillah sepotong kertas kecil, tulis SATU pertanyaan yang ingin kalian tanyakan pada saya. Saya akan berkeliling dan mengumpulkannya dalam 2 menit. Ingat, HANYA SATU pertanyaan. Jangan melihat pertanyaan temanmu, tapi buat pertanyaanmu sendiri." Kemudian Adam menoleh padaku, seolah tau aku masih memperhatikannya. Tapi kali ini dia memandangku tanpa senyum dan hanya beberapa saat, setelah itu di kembali ke memandang layar leptopnya.

"Win. Dia mau datang ke pesta ulang tahunku!" Ana kembali mengulang dengan wajah berbinar.

"Iya, Juliana! Satu kelas juga dengar kamu mengundang dia kepesta ulang tahunmu," sindirku sinis.

"Aku juga mengundangmu, Beb. Tapi ingat, kompetetisi mendapatkan Adam gak berlaku untukmu. Jangan coba-coba main di belakang!"

"Siapa juga yang mau dia?" balasku santai mungkin terkesan lebih angkuh.

"Oke. Aku pegang kata-katamu. Nanti aku juga undang cowok-cowok keren di kampus ini. Biar bisa kamu gaet satu." Ana tersenyum, lalu merobek sehelai kertas dan memberikan juga padaku.

Kami pun mulai menulis pertanyaan masing-masing.

2 menit kemudian,  dan berjalan keliling kelas untuk mengambil kertas pertanyaan semua mahasiswa. Sampai di mejaku dan Ana, dia mengulurkan tangan dan meminta kertas kami. Ana mengambil kertas punyaku, lalu memberikan pada Adam.

Sampai di depan, Adam memilah kertas tersebut mungkin dia memilih yang mana lebih dulu akan dia baca.

"Wow! Ada 17 yang bertanya tentang status saya." Adam tertawa kecil. Ana di sebelahku berbisik memberitahukan kalau dia salah satu dari 17 orang itu.

"Oke, status saya masih jomblo alis masih singgle. Tidak punya hubungan serius, tidak juga punya pacar atau tunangan. Dan jawaban ini membawa saya ke 4 pertanyaan berikutnya tentang kapan saya akan menikah. Jadi, jawabannya adalah..." Adam menjeda dan seluruh kelas diam menentikan jawabannya.

Dan entah kenapa jantungku berdebar. Aku tidak suka dengan topik ini dan aku tidak suka mendengar jawaban Adam. Tapi tanpa di duga Adam malah memandang kearahku, lalu menjawab.

"Saya harap, segera."

Seisi kelas seolah lega mendengar jawaban Adam itu. Banyak yang berbisik, tak terkecuali Ana.

"Oh my God!  Win, dia melihat kesini, Win! Pasti dia sedang melihat aku." Ana yang begitu histeris mengibas-ngibaskan tangan kewajahnya.

Kata-kata Ana barusan menarik perhatian Kisa yang duduk di depannya dan dia menoleh ke belakang.

"Eh, Lo gak usah baper bisa nggak? Gue tau, Lo itu memang seleb di kampus ini, tapi gak semua lelaki yang melihat Lo bisa Lo artiin menyukai Lo!" Lisa mengumpat tanpa segan. Ana yang kaget lansung terdiam.

"Dan 3 pertanyaan yang menanyakan tentang etnis saya adalah pilihan pertanyaan yang menarik untuk di jawab." Suara Adam kembali menarik perhatian semua.

"Hm. Etnis saya setengah-setengah. Ibu berasal dari Cina. Sedang my dad, berasal dari Jerman. Mereka menetap di Indonesia karna bisnis. Dan kewarganegaraan saya Indonesia." Adam menjawab dengan senyum kecil. Mungkin pertanyaan itu agak sensitif baginya.

Aku yang sudah mengetahui identitasnya dari data yang kubaca malam itu bersikap biasa saja, tidak kaget seperti yang lain.

"Dan pertanyaan terakhir yang tersisa." Adam memandang kertas di tangannya dan tersenyum sendiri.

"Itu punyamu, kan?" Ana kembali berbisik. Pasti dia kenal kertas yang di berikannya padaku tadi.

"Pertanyaan yang sangat menarik, dengan menanyakan tentang seksualitas saya. Di sini disebutkan, bukankah kamu gay?" Adam membaca pertanyaan itu dengan lantang dan seluruh kelas tertawa sambil saling berpandangan coba menerka pemilik kertas itu. Ana di sebelahku pun sama, turut tertawa.

"Baiklah, sebelum saya jawab, saya ingin mengatakan kalau saya kecewa dengan orang yang bertanya hal ini pada saya. Tapi pertanyaannya ini akan saya jawab-" Pandangan Adam jatuh padaku sebelum melanjutkan. "Saya bukan gay, tapi saya menyukai wanita."

Merah padam wajahku seketika. Dia seolah tau itu pertanyaan dariku. Menyadari sorot mata Adam, seluruh kelas juga turut memandang kearahku.

Sial!

"Pertanyaan Lo menarik banget, Win. Gue yakin sekarang Lo  berharap kalo Lo bukan seorang lesbian." Kartika di sebelahku sengaja menyindir.

Aku masih ingat, waktu menolak cinta si Rizal, satu kampus gempar menggosipkan aku lesbi.

"Nggak nggak, sebenarnya gue senang sama Lo." Kartika menambahkan, di susul tawa the gengs-nya.

Ana menarik tanganku dan aku menoleh ke arahnya.

"Tadinya aku pikir pertanyaan mu itu gila. Masa nanya gitu ke dia. Tapi sekarang aku mau bilang makasih karna kamu udah menayakan hal itu, jadinya aku gak akan ragu buat deketin dia, karna nyatanya dia bukan gay. Thanks ya, Win." Ana membujukku. Andai dia tahu kalau aku akan di nikahkan dengan Adam pada Kamis ini, pasti dia akan menarik lagi kata-katanya itu.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!