Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Sekretaris
10 meter dari pintu masuk, sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire baru saja masuk dan melewati pintu pagar besi yang menjadi pembatasan dunia luar dengan wilayah rumah. Dengan warnanya yang hitam pekat mengkilap saat terpancar sinar matahari membuat tampilan mobil itu terlihat begitu luar biasa mewah seperti pemiliknya.
Seperti biasa mobil itu berhenti tepat di depan kediaman tuan Vigor, namun sebelum pemilik mobil itu keluar, pemilik rumah itu sudah keluar terlebih dulu dengan menggunakan pakaian rapi seakan akan mereka ingin pergi ke suatu tempat.
"Eoh Leo, kau disini? " Ujarnya ketika melihat calon menantunya yang baru saja tiba di sana.
"Selamat pagi paman Vigor, maaf mengganggu waktunya, aku kemari ingin bertemu dengan Yoona, dia ada di dalam kan." Jelasnya sebab di jam segini wanita seperti Yoona pasti masih terjebak di dunia kapuknya.
"Yoona? Apa dia tidak bersamamu?" Tanyanya dan membuat Leo seketika bingung sembari mengerutkan keningnya.
"Bersamaku, tidak paman?"
"Benarkah, lalu kemana dia, sejak kau mengajaknya keluar, dia sama sekali belum pulang ke rumah, ku kira dia bersama mu." Jelasnya yang lagi lagi membuat Leo semakin bingung sekaligus terkejut sebab dia sendiri juga tidak tahu apa apa tentang hal ini, dia kira wanita itu pulang ke rumah, dia tidak pernah menyangka dia tidak kembali ke rumah sampai sekarang.
"Apa, seharusnya paman menanyakannya padaku, Yoona bahkan waktu itu memutuskan untuk pulang sendirian." Bantah Leo ketika dia merasa dua orang tua di depannya itu sama sekali tidak terlihat panik ataupun gelisah ketika anak gadisnya tidak pulang ke rumah.
"Astaga dasar anak itu, padahal pernikahan nya besok, aku benar benar tidak tahu Leo, aku kira dia memang bersama mu." Ucap Vigor.
"Nanti aku akan mencarinya, sekalian aku juga ingin keluar untuk menyiapkan sesuatu Leo." Lanjutnya dan membuat Leo seketika mengangguk.
"Aku juga akan mencarinya paman, aku akan langsung mengabari paman jika aku sudah menemukannya."
"Tentu saja, kalau begitu aku pergi dulu." Lanjutnya sembari berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah melihat kepergian mobil Vigor dari halaman rumah itu, Leo pun juga ikut masuk kedalam mobil miliknya yang sedari tadi berhenti di sana.
"Ada apa tuan, apa Noona Yoona tidak ada di rumah atau mungkin dia tidak mau bertemu dengan tuan." Tanyanya ketika melihat tuannya itu masuk kedalam mobil sebelum ia bertemu dengan orang yang ingin dia temui.
Leo menghela nafas panjang sembari menatap ke arah luar jendela "dia belum pulang sejak waktu itu, apa dia sempat sekarat dan tidak bisa pulang." Khawatirnya mengingat ketika dia memaksa Yoona meminum racun.
"Kalau itu benar mungkin pihak keluarga pasti langsung tahu, tapi ngomong ngomong racun yang tuan maksud itu apa cukup berbahaya?" Tanya Luca.
"Ya, tapi aku sudah memberikan obat penawarnya setidaknya hal itu tidak membuat kondisinya memburuk, tapi seharusnya dia meminumnya tiga sampai empat kali agar bisa sembuh total."
"Aku sama sekali tidak menyangka, paman Vigor sama sekali tidak mengkhawatirkan putrinya, dia bahkan sepertinya tidak berniat untuk mencarinya."lanjutnya.
"Sebab tuan Wiliam tahu betul bagaimana sifat putrinya itulah kenapa dia sama sekali tidak mengkhawatirkan nya." Opini Luca yang membuat Leo seketika mengangguk.
"Kau sudah mengintrogasi pria semalam, jadi siapa tuannya, pasti tuannya ada sangkut pautnya dengan Yoona, atau mungkin Yoona sendiri ada dalangnya." Tanyanya.
"Pria tadi malam tidak memberikan banyak informasi tuan, dia bahkan tidak menyebut nama tuannya, tapi dia bilang tuannya itu adalah pemilik bar terbesar di daerah sebrang barat" Jawab Luca.
"Daerah sebrang? Maksud mu luar kota atau luar daerah."
"Entahlah tuan, tapi setelah saya mencari tahu daerah sebrang barat itu hanyalah hutan lebat yang menjadi perbatasan negara ini dengan negara lain."
"Hutan? Mungkin saja disana memang ada Club, ayo kesana." Pinta Leo.
"Tapi tuan, pagi ini Nyonya menyuruh tuan untuk ke kantor, beliau bilang beliau ingin mengenalkan tuan dengan pegawai disana sebelum acara pelantikan tuan besok."
"Itu tidak penting Luca, sekarang ayo pergi."
"Tapi tuan, nyonya akan marah besar jika tuan tidak datang, tuan datang kesana, nanti biar saya yang ke hutan itu untuk mencari Club dan informasi disana." Bujuk Asisten pribadinya itu dan membuat pria yang sedari tadi duduk disampingnya itu hanya bisa menghela nafas dan mengangguk setuju dengan ide yang Luca berikan.
Luca kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Wiliam. Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh hingga tidak terasa 20 menit kemudian mereka pun akhirnya sampai di perusahaan besar milik keluarga Alexander, setelah berhasil memarkirkan mobilnya, luca bergegas turun untuk membuka pintu mobil itu untuk tuannya, hingga pada akhirnya seorang pria yang saat ini hanya memakai kemeja abu dengan begitu hitam itupun keluar dan melihat banyaknya pria besar berjas hitam yang tengah menyambut kedatangan nya.
Tanpa banyak bicara Leo langsung berjalan masuk dengan dikuti langkah Luca dari belakang, ketika kaki Leo baru saja menapak di atas lantai lobby kantor yang luas itu, dia sudah membuat keramaian disana, banyak sekali sepasang sorot mata yang tertuju padanya di ikuti denga suara bisik yang sedari tadi menggelikan telinganya.
"Astaga lihatlah siapa pria tampan itu..."
"Wahh dia benar benar sangat menawan, tampan sekali.....apa dia karyawan baru disini?"
"Dilihat dari tampangnya dia tidak mungkin orang biasanya."
"Apa mungkin dia adalah calon CEO baru yang sedang dirumorkan saat ini."
"Berarti dia adalah putra sulung dari keluarga Alexander yang ada di Canada itu, wahhh"kagum nya yang sedari tadi kedua bola matanya tidak bisa lepas dari pandangan nya ke arah Leo yang sama sekali tidak menggubris para karyawan di sana.
Leo terus melangkahkan kakinya melewati lobby kantor yang begitu luas dan ramai, hingga beberapa saat kemudian langkahnya tiba tiba terhenti ketika dia melihat sekarang gadis berambut pendek dengan memakai rok mini span berwarna hitam dengan blouse berwarna biru tua.
Gadis itu membungkukkan tubuhnya dengan senyum yang begitu cantik di bibirnya. "Selamat datang Tuan muda, Nyonya sudah menunggu tuan di ruangannya, mari saya antar." Ucapnya sementara Leo sama sekali tidak meresponnya dan kembali melangkahkan kaki panjang nya meninggalkan lobby kantor dengan di ikuti oleh gadis tadi, sementara Luca setelah melihat hal itu dia pun keluar dari tempat itu untuk melaksanakan tugas nya.
Setelah melewati banyak lorong dan ruangan akhirnya mereka berdua lun sampai di depan sebuah ruangan yang masih tertutup rapat, gadis itu perlahan membuka pintu ruangan itu setelah mengetuknya sebanyak tiga kali.
Dan ketika mereka masuk mereka melihat Luna yang sedang sibuk berbicara dengan orang yang ada di dalam telepon genggamnya.
"Ma" panggil nya yang sontak membuat Luna menatapnya dan langsung mengakhiri percakapan telepon nya.
Luna tersenyum manit ke arah putranya yang masih berdiri di depan pintu. "Kau sudah datang Leo, kemari lah." Ucapnya, Leo perlahan berjalan mendekati mamanya dan duduk di atas sofa yang ada di sana.
"Ohh kalian sudah bertemu?" Tanyanya yang sontak membuat dua mata Leo menatap ke arah wanita yang dimaksud mamanya itu.
"Dia Julia, dia yang akan menjadi sekretaris pribadimu setelah ini, dia juga lulusan dari universitas yang sama dengan mu, jadi mama pikir kalian akan bisa lebih nyaman berkerja sama." Ucapnya.
Leo menatap tajam ke arah Julia yang sedari tadi tidak berkutik di tempatnya sembari menampilkan senyum cantiknya, "Sekretaris? Untuk apa aku membutuhkan nya, apa mama meragukan kemampuan otak putramu ini? Aku bisa melakukan semua pekerjaan sendiri dengan otakku, jadi mama tidak perlu repot-repot mencari sekretaris untukku." Bantahnya.
"Tetap saja Leo, dunia bisnis dan kantor itu sangat berbeda, banyak sekali pekerjaan yang harus kau lakukan, kau tidak akan bisa melakukan semuanya sendiri, apa lagi kau juga punya kesibukan luar." Luna mencoba menasehati dan meyakinkan putranya itu.
"Terserah Mama."
"Lagipula bukankah dia terlihat begitu cantik, bahkan cantikan dia dari pada putri Vigor." Bisiknya pada putranya.
Leo yang mendengar hal itu seketika membuatnya tersenyum smirik sembari melirik tajam ke arah Julia, "Cihh Cantik? Secantik cantiknya dia, dia tidak akan bisa mengalahkan kecantikan dan pesona Yoona." Batinnya.
"Sekarang mumpung kau ada di sini, mama akan mengenalkan mu pada karyawan disini, Julia kumpulkan semua karyawan di lobby." Pintanya.
"Baik nyonya." Jawab Julia singkat dan pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
semua karyawan kantor disana mulai berbondong bondong berkumpul di lobby kantor setelah mendengar pengumuman yang disiarkan Julia, Setelah melihat semua karyawannya berkumpul, Luna pun mengucapkan beberapa kata pembuka untuk menjelaskan Maksudnya.
Luna mulai mengenalkan putranya itu pada semua orang, disana dia menyatakan bahwa putranya itulah yang akan menggantikan nya setelah ini, dia mengucapkan beberapa hal semacam kesan dan pesan darinya sebelum ia turun dari jabatannya, serta mengumumkan acara pelantikan Leo yang akan diadakan secara bersamaan dengan acara pernikahannya.
Setelah puas dengan semuanya, Luna pun mulai membubarkan semua karyawan itu dan mengajak Leo berkeliling tempat, sementara Julia kembali ke ruangannya.
Mereka berdua sampai di lantai sebelumnya mereka turun dan perlahan terdengar bunyi suara sol sepatu di sepanjang lorong kantor yang memang panjangnya hampir berkilo meter hingga beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sebuah ruangan yang memang saat ini begitu terlihat begitu asing bagi leo.
Luna mulai membuka pintu rungan itu dan terlihat ruang kerja yang begitu luas dan elegan dengan suguhan pemandangan kota dari atas yang begitu menyejukkan mata beserta beberapa ruangan pribadi lainya seperti kamar mandi dan ruang tidur.
Begitu berbeda dengan ruangan Luna yang konsepnya sangat tertutup seperti hal nya dengan ruangan pada umumnya, ruangan ini di desain sedikit lebih unik dan spesial, bahkan juga terdapat kaca buram yang menjadi dinding penyekat antara ruang kerja itu dengan lorong luar.
"Ini adalah ruang kerjamu Leo, ini dulu ruang kerja milik papamu, dan sekarang kau yang akan menempatinya." Ucap Luna.
"Kenapa ruangan ini Kosong, kenapa mama tidak berkerja disini?" Tanyanya dengan mata yang sedari tadi terus berkelana menyusuri setiap sudut di sana.
"Yang boleh menepati ruangan ini hanyalah pemilik dan penerus perusahaan ini Leo, sementara mama hanyalah pemilik sementara sampai kau pantas memimpin disini, mama benar benar Bangga dengan mu Sayang." Jawabnya pada putranya yang sekarang sudah tumbuh sangat besar dan bahkan begitu pintar.
Sementara Leo sama sekali tidak meresponnya, dia hanya menampilkan senyuman sekilas miliknya sembari mengusapkan jari telunjuknya ke meja kerja nya, seakan akan dia sedang mengabsen butiran yang sedang menempel disana.
"Kenapa mama berkata seperti itu, seakan akan mama menganggap ku bodoh saat kecil." Tangkas Leo, tanpa menatap ke arah Luna sama sekali sembari membersihkan jarinya dari debu yang menempel disana.
"Bukan bodoh Leo, tapi belum waktunya." Jawabnya singkat sebab memang benar kata Leo hidupnya selama ini hanyalah belajar dan mengeksekusi, dia bahkan jauh dari Luna yang terus berada jauh dan beda dengannya yang memang terus harus menempuh pendidikan di luar negeri sampai tidak terasa umurnya sudah menginjak tiga puluh tahun.
"Ma....mengenai Julia, aku sudah tahu semuanya." Ucap Leo tiba tiba sembari menatap ke arah Luna.
"Mama tahu, orang sepintar dirimu tidak mungkin tidak tahu dia, mama sengaja menyuruhnya untuk menjadi sekretaris mu agar kalian berdua bisa lebih dekat." Jawabnya.
"Apa itu perlu." Potong Leo.
Luna mengistirahatkan tubuh sejenak di atas sofa sembari menatap kearah putra nya. "Leo dengar, gadis itu putri tunggal dari sahabat Mama di New York pemilik tambang emas, dia dari keluarga ternama dan kaya Leo, jika kita bisa berhubungan keluarga bayangkan seberapa besar dan kayanya kita."Jawabnya.
"Astaga mama, misiku kali ini saja belum usai, sekarang mama ingin aku menikahinya." Protesnya.
"Kenapa kau terkesan marah Leo, mama sudah memberitahu mu tentang pernikahan ini dari awal, tapi kau mengelak dengan alasan kau ingin menjalankan misi di keluarga Wiliam."
"Mama tahu, kau bisa menikahi nya setelah misi mu selesai."
"Dia tidak keberatan dengan statusku?"
"Jika dia keberatan dia tidak akan mau mama suruh kerja disini Leo."
"Ingat Leo, misi mu hanyalah mendapatkan tujuh berlian dan kekuasaan yang mereka miliki, kau hanya perlu menaklukkan putri mereka, setelah itu akan mudah bagimu untuk mendapatkan nya."
"Pernikahan mu itu hanyalah sebagai jembatan kesuksesan kita yang pada akhirnya kau juga harus membunuhnya, kau yang bilang sendiri ke mama kalau dia yang memegang ketujuh berlian itu, itulah kenapa mama menyetujui misi mu ini." Ocehnya.
"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa membunuh nya ma." Ucapnya tiba tiba.
"Jika kau tidak bisa membunuhnya itu berarti kau sudah berhasil di taklukkan olehnya Leo, maka dari itu mama sendiri yang akan membunuhnya." Tegasnya.
"Tapi kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu, jangan bilang kau sudah jatuh hati dengan nya Leo."
"Apa, tentu. Tentu saja tidak ma, aku hanya bertanya, sebab gadis itu tidak bisa di bodohi, dia gadis yang cukup sulit, bahkan apa mama tahu selama enam hari ini dia terus berusaha untuk membunuhku." Elaknya sembari memalingkan pandangannya dari tatapan mata Luna.
Luna menghela nafas panjang, "kau benar, dia memang gadis yang sangat sulit, dia sudah bagaikan permata di keluarga itu, karena berkat dialah Keluarga nya bisa menjadi sebesar ini, jadi kau berhati hatilah." Jawabnya sementara Leo hanya diam mendengar ocehannya itu.
'andai kau tahu apa tujuan ku sebenarnya ma.' Batin Leo tanpa menatap Luna sama sekali.