Isabella Dawson butuh uang banyak untuk biaya operasi kanker ibunya.
Jalan satu satunya yang bisa dia pikirkan untuk mendapatkan uang banyak dan cepat, hanyalah dengan menjual dirinya pada pria paling kaya yang dia temui di klub malam tempat dia bekerja.
Dan orang itu adalah Edgardo Van Hook, seorang ketua mafia terkenal yang berusia lebih dari 2 kali usia dirinya, sosok pria yang lebih cocok menjadi ayahnya.
Tapi Isabella tidak punya pilihan, karena hanya pria itu yang punya uang sejumlah yang dia butuhkan.
Penasaran dengan cerita antara Isabella dan Edgardo?Silahkan baca reader🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kegelisahan Isabella.
Dua hari yang dijanjikan Edgardo akan datang , sudah tiba. Dari pagi Isabella sudah merasa gelisah tidak jelas, saat memikirkan akan bertemu pria itu lagi. Tapi kali ini pertemuan mereka berbeda dari sebelumnya karena sekarang begitu mereka bertemu, mereka akan berhubungan se*s.
" Hah!" I
sabella mendengus keras, lalu bangkit dari ranjang di kamarnya menuju kekamar mandi.Dia berniat membersihkan diri dan bersiap keluar. Tujuan pertamanya keluar adalah rumah sakit,dia berniat mengunjungi ibunya hari ini sambil menunggu Edgardo menghubungi, baru dia akan datang menemui pria itu.
" Cepat pergi,cepat dilakukan supaya segera beres." Dia bergumam, sambil membereskan penampilannya sebelum berjalan keluar dari rumah sederhana tempat tinggalnya selama ini bersama ibunya.
Sebenarnya dia bukan dari kecil tinggal disana bersama ibunya, tapi baru sekitar 5 tahun yang lalu.
Karena sejak kecil sampai 5 tahun yang lalu, mereka berdua tinggal di Filipina.
Ibunya mengajak dia kembali ke negara ini karena lelah dikejar preman penagih hutang terus menerus,lalu setelah menjual tempat tinggal mereka di sana.Dengan uang yang mereka miliki waktu itu, mereka pergi dari Filipina kembali ke negara tempat ibunya berasal.
Meski tinggal di negara ini kehidupan mereka tidak banyak berubah, hanya tidak ada lagi para preman yang datang kerumah mereka seperti sebelumnya.
Bisa dibilang hampir 5 tahun ini hidup mereka berdua damai, sampai 6 bulan yang lalu saat ketahuan kalau ibunya ternyata mengidap kanker hati stadium 3.
Dunia damai Isabela hancur, dia yang semula berencana untuk meneruskan pendidikan nya ke perguruan tinggi. Harus melepaskan impian itu dan mulai berusaha bekerja apa saja, agar bisa membayar biaya perawatan ibunya dirumah sakit.
Tapi meski sudah bekerja keras bahkan sampai membuang rasa malunya, dia tetap selalu kesulitan setiap kali harus membayar uang perawatan dan obat untuk ibunya selama ini. Apalagi meski dia sudah berusaha memberikan perawatan terbaik untuk ibunya,penyakit kanker perempuan itu dari hari ke hari tetap bertambah buruk, hingga satu satunya cara untuk membuat ibunya bisa sembuh sebelum benar benar terlambat hanyalah dengan melakukan operasi transplantasi hati.
Tapi lagi lagi dia terkendala biaya,karena biaya yang diperlukan untuk melakukan operasi itu tidaklah sedikit dan dia tidak punya uang untuk itu, serta tidak punya sesuatu yang bisa dia jual selain dirinya agar bisa mendapatkan uang sejumlah yang dibutuhkan ibunya untuk operasi.
Jadi...untuk mengurangi rasa bersalahnya karena akan menjual diri demi bisa mendapatkan biaya operasi ibunya, dia berusaha berpikir kalau dia hanya akan melakukan ini sampai mendapatkan uang sejumlah itu saja, kemudian berhenti.
Meski Edgardo bilang kemungkinan besar akan membayar dia mahal untuk berhubungan seks dengannya nanti, tapi rasanya mustahil pria itu akan memberikan sejumlah yang dia mau, hanya dengan sekali mereka tidur bersama.
Isabella sadar kalau dia sudah mematok harga terlalu tinggi pada Edgardo. Jadi, dari pada dia tidak bisa mengumpulkan uang sejumlah itu secepatnya,lebih baik dia mematok berapa harga untuk sekali berhubungan.
100 juta untuk sekali melakukan, jadi dia hanya perlu 10 kali melakukannya agar jumlah yang dibutuhkan cukup.
Dia terlalu larut dengan pikirannya,sampai tidak sadar kalau sudah tiba dirumah sakit tempat ibunya dirawat.
" Kita sudah sampai nona." pengemudi taksi memberi tau.
" Oh iya,ini ongkosnya." Dia menyerahkan sejumlah uang kepada supir taksi yang dia naiki sebagai ongkos sampai kerumah sakit.
" Terimakasih nona," balas supir itu dengan mengambil uang yang disodorkan Isabella.
Setelah membayar lalu dia turun dan berjalan masuk gedung rumah sakit khusus kanker, langsung menuju ruangan dimana ibunya dirawat.
Ketika dia sampai disana ternyata ibunya sedang tidak bangun, suster Anna yang bertemu Isabella di lorong mengatakan pada Isabella ketika ingin masuk.
" Ibu anda baru saja tidur setelah tadi minum obat nona Isabella." ucap Suster Anna.
" Oh,benarkah?Apa saya tidak boleh masuk untuk melihat beliau sebentar, sus?" Tanyanya meminta.
" Tadi pagi kondisi ibu anda sedikit menurun lagi dan baru kembali stabil dua jam yang lalu. Jadi tadi dokter Anderson berpesan, sebaiknya hari ini ibu anda tidak dikunjungi siapapun dulu, termasuk anda."
wajah Isabella langsung berubah cemas waktu mendengar kondisi ibunya sempat mengalami penurunan.Tanpa sadar dia meremas jemarinya sambil menoleh kearah pintu ruangan dimana ibunya dirawat, sebelum bertanya lagi pada suster Anna.
" Apa sekarang dokter Anderson ada?" dia bertanya pada suster Anna karena ingin tau sendiri dari penjelasan dokter itu bagaimana kondisi ibunya saat ini.
" Beliau ada di ruangannya. Kalau anda ingin bertemu dengan beliau datang saja kesana nona Bella." Isabella mengangguk, lalu menunduk permisi kepada suster Anna untuk pergi menemui dokter Anderson.
" Isabella,lama tidak melihatmu? Bagaimana kabarmu akhir akhir ini?" sapa dokter Anderson, dengan nada sinis ketika melihat Isabella masuk kedalam ruangannya.
" Baik, seperti yang anda lihat dokter." Balasnya dengan duduk dikursi tepat dihadapan pria paruh baya itu.
" Ya,aku bisa melihatnya. Jadi...apa tujuanmu datang kemari, ini?Apa ingin tau mengenai bagaimana kondisi ibumu sekarang?"
Isabella mengangguk, dengan mengabaikan nada bicara pria paruh baya itu padanya dan hanya fokus, untuk menanyakan mengenai keadaan ibunya yang tadi dia dengar sempat turun.
" Iya, benar dok. Bagaimana kondisi ibu saya sekarang?Apakah bertambah buruk? Karena suster Anna tadi bilang, kalau tadi pagi kondisi ibu saya sempat mengalami penurunan?"
" Ya, itu benar. Tapi untungnya sekarang sudah kembali stabil lagi. Tapi aku tidak tau ini sampai kapan Bella, sebab sel kanker ibumu sangat cepat penyebarannya dan kalau kau terus menunda operasinya aku tidak tau berapa lama lagi waktu ibumu untuk hidup."
Dia bukan pertama kali mendengar dokter Anderson mengatakan mengenai itu, tapi tetap saja dadanya terasa sesak setiap kali mendengarnya. Dia tidak siap kalau harus kehilangan ibunya,satu satunya orang yang dia miliki didunia ini sebab sosok ayahnya,menurut yang dikatakan ibunya sudah meninggal ketika dia masih sangat kecil. Jadi....kalau dia juga harus kehilangan perempuan itu sekarang, bagaimana? Isabella benar benar tidak bisa berpikir sama sekali mengenai kemungkinan itu.
" Jadi....apa obat yang diminum ibu saya tidak berpengaruh, dok?" dia bertanya dengan suara parau,hampir menangis yang sekuat tenaga dia tahan.
" Sudah tidak terlalu membawa pengaruh seperti sebelumnya. Jadi...jalan satu satunya memang harus dilakukan operasi transplantasi secepatnya. Jadi...kapan kau ingin aku melakukannya, Bella?"tanya dokter Anderson, masih dengan nada suara yang sama seperti tadi,terdengar Sinis dan merendahkan kepada Isabella. Karena pria itu sendang berharap gadis muda itu akan menghiba, meminta tolong padanya seperti sebelumnya.
Isabella menggeleng lemah" Tidak sekarang dok, tapi saya akan berusaha secepat mungkin menyediakan uang yang diperlukan untuk biaya operasi mama."setelah mengatakan itu lalu Isabela permisi keluar dari ruangan dokter Anderson, tanpa menunggu dokter itu bicara lagi.
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘