Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Sebuah Permulaan (Rev 2)
"Mas, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Angga langsung mencecar Hadi dengan pertanyaan yang sudah Hadi duga
"Trus kalau kamu jadi aku, kamu mau lakukan apa? membiarkan Ayah pergi dari rumah ini?" Hadi balik bertanya pada adiknya karena merasa disudutkan.
"Apa Mas Hadi nggak bisa bicara baik-baik sama Ayah, masa sih Mas gak mampu meluluhkan hati Ayah."
"Kamu seperti nggak tahu saja Ayah bagaimana orangnya," Hadi menghembuskan nafas kesal.
Ya memang Angga menyadari kalau Ayahnya adalah orang yang berwatak keras bila menginginkan sesuatu.
Angga kembali menginterogasi kakaknya.
"Jadi bagaimana dengan Mbak Clarissa, Mas. Saya nggak yakin Mas mau meninggalkan Mbak Rissa. Kalau itu terjadi berarti Mas Hadi akan menyakiti dua hati sekaligus."
Hadi menghembuskan nafas panjang begitu mendengar nama Clarissa disebut oleh Angga.
"Kalau soal itu lihat nanti saja." Hadi tidak ingin menjelaskan apa-apa pada Angga. "Lagian kamu tahu sendiri kan, yang dijodoh-jodohkan sama Aaliyah dulu itu adalah kamu. Cuman karena kamu sudah menikah, maka jadinya ke aku. Kita juga sudah lama kehilangan kontak dengan keluarga Aaliyah, dan kamu lagi yang menemukannya. Jadi anggap saja aku adalah penolongmu." Hadi langsung merebahkan diri ke tempat tidur.
Melihat sikap Hadi, Angga tahu Hadi tidak ingin bicara lagi padanya, jadi tanpa pamit Angga meninggalkan kamar Hadi.
*****
Keseruan nampak terlihat pada satu kelompok remaja. Yolanda, Widya, Aaliyah dan Mitha sesekali bercanda, tertawa sambil berjalan di suatu mal. Mereka baru saja selesai menonton salah satu film yang baru tayang di salah satu teater bioskop yang terdapat di dalam mal.
"Makan yuk! lapar nih," seru Widya.
"Di tempat biasa aja ya?" tanya Yolanda
"Okay," sahut Widya.
Mereka memiliki tempat makan favorit di dalam mal itu. Kebanyakan yang makan di sana memang sebaya dengan mereka dan tentu saja harga makanannya pas untuk kantong mahasiswa.
Mereka naik ke lantai dua menuju tenant kuliner tempat mereka biasa makan. Aaliyah jalan berjejer dengan Mitha di depan Yolanda dan Widya.
Tiba tiba tanpa sengaja mata Aaliyah menangkap satu objek, seorang pria tampan menggandeng perempuan cantik yang menenteng tas belanjaan berjalan ke arah mereka.
Aaliyah kenal dengan pasangan itu.
Mas Hadi dan Mbak Clarissa.
Gumamnya dalam hati.
Serasi banget.
Ketika mereka berpapasan, Aaliyah ragu untuk menegur dan akhirnya tidak menegur sama sekali. Toh mereka tidak memperhatikan Aaliyah. Atau bahkan mereka sudah lupa wajah Aaliyah.
Hadi sempat menoleh ke kelompok Aaliyah, namun tidak sampai sedetik Hadi kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
******
Ibu Rini sedang sibuk memasak karena Pak Hendrawan dan Ibu Laela akan datang berkunjung siang ini. Tadi malam Ibu Laela sudah menelpon Ibu Rini. Ibu Rini berpikir kunjungannya hanya silaturrahmi seperti sebelum-sebelumnya. Sejak mereka dipertemukan kembali, baik Ibu Rini maupun Ibu Laela rutin saling mengunjungi.
Siang itu Aaliyah masih kuliah di kampus sehingga tidak bertemu dengan Pak Hendrawan dan Ibu Laela.
Setelah makan siang, Ibu Rini dan Ibu Laela asyik mengobrol. Pak Hendrawan lebih banyak diam, hanya sekali-kali nimbrung obrolan ibu-ibu itu.
Sampai Ibu Laela memberikan kode kepada Pak Hendrawan untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Rini, sebenarnya maksud kedatangan kami ke sini adalah melamar Aaliyah untuk Hadi." Pak Hendrawan mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
Ibu Rini terkejut mendengar pernyataan Pak Hendrawan. Tidak menyangka maksud kedatangan Pak Hendrawan dan Ibu Laela adalah lamaran.
"Besar harapan kami Hadi dan Aaliyah bisa menjadi suami istri, dan kami sangat berharap Rini bisa menerima Hadi menjadi menantu," lanjut Pak Hendrawan.
Ibu Rini berpikir sejenak. Dari gurat wajahnya, tampaknya ia bahagia atas lamaran itu.
"Terimakasih banyak, Mas. Saya sangat bahagia dan terharu atas lamarannya untuk Hadi kepada anak saya." Air mata Ibu Rini mulai menetes.
"Mas Hendrawan lihat sendiri bagaimana keadaan kami. Apakah layak nak Hadi yang merupakan seorang perwira polisi menikahi Aaliyah sorang mahasiswa anak tukang jahit?" Ibu Rini mulai terisak.
Ibu Laela memeluk Ibu Rini dan berkata, "Jangan berkata begitu Rin!"
"Lalu bagaimana dengan dokter itu? Bukankah Hadi lebih serasi dengannya?" Ibu Rini agak ragu begitu mengingat Clarissa. Anaknya Aaliyah tidak ada apa-apanya dibanding Clarissa.
Pak Hendrawan berupaya untuk menghilangkan keraguan Ibu Rini.
"Memang benar niat ini muncul dari kami. Kemudian kami sampaikan ke Hadi. Lalu Hadi meminta waktu untuk memikirkannya. Dan keputusannya, Hadi ingin menikahi Aaliyah."
"Terimakasih banyak Mas. Sesungguhnya diri saya pribadi sangat senang dan setuju apabila nak Hadi menikah dengan Aaliyah. Tapi beri saya waktu untuk menyampaikan kepada Aaliyah, bagaimanapun mereka yang akan menjalaninya," pinta Ibu Rini.
"Baiklah Rin, kabari kami secepat kalau kamu sudah bicara dengan Aaliyah, telpon kami saja," Ujar Pak Hendrawan.
*******
AALIYAH
Sore itu aku baru pulang ke rumah. Dari kampus lanjut main ke rumah Mitha.
Aku mengucapkan salam sebelum memasuki rumah, dan dijawab oleh bunda. Di dalam rumah, Bunda sedang menyapu lantai.
"Aaliyah, kamu Sholat Ashar dan mandi sana dulu, ada yang ingin bunda bicarakan."
Aku jadi heran tumben Bunda ngomong serius banget.
"Ada apa sih Bund?" Aku penasaran sehingga langsung bertanya kepada Bunda.
"Udah, mandi aja dulu."
Ah bunda bikin penasaran saja. Namun aku tetap menurut perintahnya.
Setelah Sholat, mandi dan berpakaian, Aku keluar kamar untuk menemui bunda. Rupanya bunda sudah menunggu di ruang tamu.
"Ada apa sih Bund? Sepertinya serius banget."
Aku berpikir mungkin aku punya salah yang membuat bunda marah. Tapi raut wajahnya tidak menampakkan bila bunda sedang marah. Wajahnya malah berseri-seri.
"Aaliyah, tadi Ayah Hendrawan dan Ibu Laela datang kemari."
"Iya, sudah tau kok Bund. Kan tadi Bunda sudah bilang. Mereka bawa oleh-oleh untuk Aaliyah ya?" tanyaku penuh harap.
"Bukan itu, mereka kesini mau melamar kamu untuk Mas Hadi," jawab Bunda.
"Apa?"
Apa aku tidak salah dengar? Aku hampir melonjak kegirangan. Mimpi apa aku semalam? Seperti kejatuhan bulan. Tiba-tiba dapat lamaran, dari Mas Hadi pula.
"Bund, apa Aaliyah gak salah dengar?"
Aku ingin memperjelas kembali. Karena aku sangat tidak yakin dengan ucapan bunda yang tertangkap indera pendengarku.
"Iya benar," jawab Bunda kembali.
Oh Tuhan. Aku seperti melayang tinggi di angkasa. Sore ini penuh kehangatan, meskipun malam sudah menjelang. Malam datang membawa mimpi-mimpi indah. Menggandeng sejuta harapan. Anugerah yang datang tiba-tiba dari Yang Kuasa.
Aku melihat kebahagiaan yang terpancar di raut wajah bunda. Duh rasanya tidak sabar mengabarkan kepada para sahabatku.
Aku sedang bahagia.
Aku akan menjadi Istri Hadi Putra Hendrawan, seorang perwira polisi. Sosok yang bisa melindungi aku dan bunda nantinya.
Menjadi Ibu Bhayangkari, seperti bunda dulu.
Tuhan, nikmat yang kau berikan lebih dari yang Aku minta.
Bahagianya aku oh Tuhan.
Terimakasih Tuhan. Mas Hadi kah jawaban doa ku selama ini?
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Seperti mimpi indah yang terusik pagi. Kesadaranku kembali.
Tempatku di bumi bukan di angkasa.
Tiba-tiba aku teringat Dokter Clarissa, ya si cantik itu. Yang menghempasku kembali ke bumi.
Aku mulai menyadari, bahwa lamaran itu niscaya bukan keinginan Mas Hadi. Tapi keinginan orang tuanya. Tidak mungkin Mas Hadi ingin meninggalkan Clarissa. Apalagi baru beberapa hari yang lalu aku melihatnya di mal, mereka masih mesra-mesra saja.
Apalah artinya aku dibandingkan dengan Clarissa? Seperti langit dan bumi. Clarissa jauh tinggi di atas sana. Untung tadi aku belum melompat-lompat kegirangan di depan bunda.
"Bund, kayaknya ini bukan keinginan Mas Hadi deh. Mas Hadi kan udah punya pacar. Seorang dokter, cantik pula." Aku menyangsikan lamaran Pak Hendrawan.
"Iya, memang benar. Awalnya ini keinginan Ayah Hendra. Tapi Mas Hadi yang memutuskan untuk menikah sama kamu." Bunda mencoba meyakinkanku atas lamaran Pak Hendrawan.
"Bund, Aaliyah gak percaya kalau Mas Hadi tulus. Mungkin dia cuman ingin menyenangkan orang tuanya. Bunda lihat sendiri kan siapa pacarnya waktu pesta kemarin? Tidak mungkinlah Mas Hadi ingin meninggalkan dia. Bisa jadi Bund, Aku dan Mas Hadi nikah, tapi hatinya tetap ke dokter Clarissa. Boleh jadi juga nanti aku ditinggalkan lantas menikah lagi dengan dokter Clarissa. Dan yang paling parah kalau aku dipoligami."
"Hus, kamu ngawur. Udah kamu pikirkan baik-baik aja dulu, Bunda tunggu jawabanmu besok malam." ujar Bunda. Ia lalu beranjak masuk ke dapur. Dari suara piring yang saling beradu, Bunda sedang mencuci piring.
2. e
3. d
4. a
5. b
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget