NovelToon NovelToon
Hello Bella

Hello Bella

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Romansa
Popularitas:51k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mrs. Bara

Bella nama panggilan Arabella Dinara, gadis cantik berusia 20 tahunan, selama bertahun-tahun hanya tinggal berdua saja dengan bundanya.

Kedua orang tua Bella telah berpisah sejak Bella masih kecil. Bella tidak pernah tahu alasan perpisahan keduanya namun Bella sangat yakin kalau keduanya masih saling mencintai.

Bella yang terkadang pulang malam dan status bundanya yang single parent membuat mereka sering menjadi bahan gunjingan orang di sekitarnya.

Hal ini membuat mereka memutuskan untuk pindah dengan harapan di tempat baru hidup mereka akan lebih nyaman.

Selain itu Bella juga berharap dengan kepindahan ini, dia bisa melupakan cinta pertamanya.

Namun yang terjadi mereka kembali menjadi bahan gunjingan bahkan kali ini lebih buruk.

Di tempat baru ini pula Bella dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata membuat bahan gunjingan tentang dia semakin memburuk.

Mampukah Bella dan sang bunda bertahan atau kembali menghindar dan mencari tempat baru untuk tinggal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Bara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Catch In The Act (1)

Minggu kedua setiap bulannya di perumahan tempat tinggal Bella ada acara arisan ibu-ibu. Seharusnya Bunda Alya yang datang namun karena sedang batuk dan demam, Bunda Alya memutuskan untuk tidak hadir dan sebagai gantinya Bella yang diminta untuk mewakilinya.

Awalnya Bella tidak mau dan mengusulkan untuk menitipkan uang arisan itu kepada salah satu tetangga mereka namun usul tersebut ditolak Bunda Alya dengan alasan sebagai warga baru, sebaiknya Bella datang agar bisa lebih saling mengenal dengan tetangga lainnya.

Bagaimanapun tetangga adalah orang-orang terdekat dengan tempat tinggal mereka, sehingga penting untuk sesekali bersilaturahim dengan mereka. Siapa tahu suatu saat terjadi sesuatu dengan mereka pastinya tetangga dulu yang akan mereka mintai pertolongan.

Begitulah alasan Bunda Alya dan Bella pun mau tidak mau menurut untuk mewakili bundanya menghadiri acara arisan tersebut.

"Hai Bella, tunggu," seru seseorang menghentikan langkah Bella menuju rumah Bu Mayang yang hari ini kebagian sebagai tuan rumah acara arisan tersebut karena bulan sebelumnya Bu Mayang yang menang arisan.

"Hai Mbak Lidya," ternyata Lidya yang memanggil Bella. Lidya menghampiri Bella, di sebelahnya ada seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Bella. Bella belum mengenal gadis tersebut.

"Mau ke rumah Bu Mayang kan? Ya udah bareng yuk," ajak Lidya.

"Sudah kenal belum sama Rena?" tanya Lidya sambil menoleh ke arah gadis bernama Rena itu.

"Belum Mbak, salam kenal Mbak Rena, aku Bella anaknya Bu Alya," ucap Bella sambil mengajak Rena bersalaman.

Rena pun menyambut tangan Bella. "Jangan panggil mbak dong, kayaknya kita seumuran deh, Rena saja," sambil tersenyum Rena membalas salam perkenalan Bella.

"Kalau tentang Bella sih Aku sudah banyak denger, kalau ketemu langsung baru kali ini," lanjut Rena.

"Semoga berita tentang Aku yang Rena dengar yang baik-baik ya," harap Bella soalnya gosip seputar dirinya telah menyebar di perumahan tempat mereka tinggal.

"Sayangnya bukan Bel, tapi Aku sih enggak percaya kalau kamu seperti yang dibicarain sama orang, yang soal kamu kerja yang enggak bener terus suka diantar sama cowok, yah berita-berita miring seperti itulah," kata Rena lagi.

"Sabar ya Bel, anggap saja angin lalu, yang penting kamu enggak seperti itu dan orang-orang yang suka menyebarkan gosip enggak jelas seperti ini semoga cepat sadar kalau itu fitnah," Lidya turut menanggapi kata-kata Rena.

"Kata bunda juga biarkan saja, tidak usah ditanggapi, tapi kalau terus berlanjut baru kami akan cari biang keroknya," ucap Bella.

"Ayo lanjut jalannya, malah jadi ngobrol di pinggir jalan kita," Lidya mengingatkan Bella dan Rena.

Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil terus mengobrol, sesekali mereka tertawa bareng. Walaupun belum lama saling mengenal tapi mereka bisa cepat akrab. Obrolan pun mengalir begitu saja.

Tak terasa mereka pun sampai di tempat tujuan. Sebelum sampai di depan pintu rumah Bu Mayang, tiba-tiba Rena berhenti dan terdiam.

"Lha kok malah mengheningkan cipta si Ren?" tanya Lidya.

Dia merasa heran dengan tingkah temannya yang tiba-tiba seperti itu. Begitu juga Bella tapi Bella coba diam memperhatikan.

"Aamiin.....," tiba-tiba Rena mengucapkan kata itu, sepertinya dia baru selesai berdoa.

"Tumben ingat berdoa dulu sebelum masuk rumah," ejek Lidya. Tumben-tumbenan nih anak, pikir Lidya.

"Aku habis baca Ayat Kursi," kata Rena setelah mengusap wajahnya.

Serentak Bella dan Lidya melihat ke arah Rena. Mereka bingung kok Ayat Kursi bukannya doa khusus sebelum masuk rumah ada.

"Tuh lihat," tunjuk Rena ke arah tiga pasang wedges yang bersandingan terpisah dari alas kaki lainnya di teras rumah Bu Mayang. Sepertinya Rena mengenali siapa pemilik wedges-wedges itu.

"Terus hubungannya apa sama Ayat Kursi?" tanya Bella. "Emang di sini ada setannya ya," karena masih penasaran Bella bertanya lagi. Setahu Bella salah satu manfaat Ayat Kursi adalah untuk melindungi diri dari gangguan setan.

"Eh apa dekat wedges itu ada setannya ya?" Bella bertanya lagi. Lidya mendelik ke arah Bella, perasaan Bella dan Rena baru ngobrol bareng beberapa menit yang lalu kok sudah seirama dalam hal ngaconya.

Sebelum Rena menjawab, terdengar obrolan dari dari dalam rumah dan itu membuat mereka bertiga langsung terdiam.

"Beneran lho Bu, dia tuh cuma ngaku-ngaku anak kuliahan aslinya cuma karyawan konter pulsa," suara yang familiar di telinga Bella terdengar.

"Masa sih Bu, tahu dari mana?" suara ibu-ibu lainnya terdengar bertanya.

"Hari kapan saya tuh kan mau beli pulsa, mampir deh ke konter di Jalan Arjuna, itu lho konter pulsa paling besar di situ, nah di situ saya ketemu dia, katanya karyawan baru di situ," ibu yang satunya lagi menjelaskan.

Suara ibu ini seperti suara Bu Ratih dan yang satunya lagi suara Bu Damar. Iya Bella yakin ini suara mereka. Terus siapa yang mereka bicarakan.

Tiba-tiba Bella merasa kalau yang mereka bicarakan adalah dirinya karena satu-satunya konter pulsa besar di jalan itu milik Bella.

"Tapi Bu ya, gaji karyawan konter berapa sih, paling sejutaan tapi barang-barang yang dipakai dia tuh bagus-bagus lho pasti mahal, dari mana coba dia bisa beli kalau bukan punya kerja sampingan yang gitu deh atau pacaran sama om-om kaya, bahasa kerenya mah punya sugar daddy," kata Bu Ratih.

"Atau mungkin dibeliin sama ibunya, ya namanya istri simpanan pastilah uangnya banyak," ibu yang Bella duga adalah Bu Damar ikut berspekulasi.

"Barang kW kali Bu, sekarang kan banyak barang-barang kW tapi terlihat bagus kalau dari jauh, kalau dari dekat apalagi kalau kita sentuh baru ketahuan palsu," seorang ibu lagi yang Bella duga adalah Bu Dian dengan gaya sok tahunya turut menyumbang dugaan.

Menyadari Bella yang terlihat marah, Lidya menepuk bahu Bella pelan, seakan meminta Bella untuk bersabar. Firasatnya mengatakan kalau yang sedang mereka bicarakan adalah Bella.

"Tuh setannya lagi ngobrol," bisik Rena.

"Ih Rena enggak boleh gitu, gimana pun mereka lebih tua, enggak boleh sembarangan ngomongnya," tegur Lidya pelan.

"Mereka saja sembarangan ngomongin orang lain, dulu mamah Aku dijelek-jelekin sama mereka gara-gara Bu Ratih mau pinjam uang enggak dikasih sama mamah, Aku, papah semua keluarga Aku dijelek-jelekin," gerutu Rena sambil berbisik.

"Bukannya mereka juga yang nyebarin gosip kalau Mbak nikah gara-gara hamil duluan," lanjut Rena masih dalam mode berbisik.

"Bel, mau kemana, sini...jangan dulu masuk," Lidya berusaha menghentikan langkah Bella menuju pintu masuk. Lidya yakin sekali Bella akan melabrak ketiga ibu itu.

"Lepas Mbak, biar Bella labrak mereka, sembarangan saja bicaranya," kata Bella sambil berusaha melepaskan tangan Lidya yang menahan dirinya.

Segera Lidya menarik Bella ke arah carport di sebelah kiri mereka. Rena mengikuti mereka.

Bella ini walaupun badannya langsing tapi tenaganya lumayan kuat, Lidya agak kesulitan menyeret Bella menjauh dari pintu.

"Mbak...," Bella seakan memohon agar dilepaskan.

"Mbak, Bella mau bicara sama mereka, mereka enggak bisa dibiarkan seenaknya seperti itu, sakit hati Bella dengarnya," Bella terus berusaha melepaskan tangan Lidya.

Lidya mengerti perasaan Bella, dia pun pernah merasakan bagaimana sakit hatinya dia dijadikan bahan gunjingan mereka. Tapi jika dia membiarkan Bella yang sedang dalam mode marah besar menghadapi ketiga ibu itu bukanlah hal yang bijak yang ada malah bakalan ribut dan menjadi tontonan warga.

Bagaimana ini Lidya bingung, benar-benar bingung.

1
Santai Dyah
hadir thor salam kenal
Santai Dyah: ini ade siapa ya
total 4 replies
Yênnia M
Aku mampirr
Inru
1 vote dan 1 mawar untuk Bella. Bella, apa kabar?
Fenti
begitulah manusia Bella, jadi jangan heran😌
Fenti
yang penting tidak ada badai bang😂😂
Fenti
betul tuu,, butuh komunikasi dan jujur satu sama lain 😌
Fenti
asyyiiikkk, gercep juga nih ayah aiman
Fenti
anak-anak siapa hayoo
Fenti
harus lebih tegas dong, jangan kehilangan untuk kedua kalinya, untung masih diberi kesempatan
Fenti
waduh gawat nih,, Ratih tukang gibah
Fenti
buatkan aku juga satu dong🤭
Fenti
jangan khawatir pak, bunda Alya setia orangnya
Fenti
pak galih jangan penasaran, penasaran itu bikin kepala pusing pak😅😅
Fenti
jangan lupa aku diundang ya abiyan
Fenti
kalau sudah biasa gibah mah kayak gitu, sampai nenek pun pasti jadi tukang gibah
Fenti
ya ampun kirain minta maaf ehh malah ngegas
Fenti
ketar ketir jadinya 😅
Fenti
benar tuhh, jadi kita harus belajar malas pusing😅😅
Fenti
panas dingin tuhh jadinya.. emang orang-orang seperti itu tidak boleh dibiarkan
Fenti
kalau mental kerupuk jangan coba-coba jahat deh😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!