Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Setelah menikmati makan siang bersama, Rayyan mengantarkan ku pulang ke rumah. Tadinya Aku sempat menolak karna tak ingin merepotkan, namun Rayyan bersikeras untuk tetap mengantarkan ku pulang dengan alasan "karena ia yang membawaku, maka ia juga yang harus mengantarkan ku dengan selamat sebagai bentuk tanggung jawabnya".
"Makasih tumpangannya!" ucapku seraya menyerahkan helm milik Rayyan yang tadi ku gunakan.
"Save Nomor HP kamu disini!" pinta Rayyan seraya menyodorkan ponsel miliknya padaku. Namun aku hanya terdiam, tak berniat untuk menuruti permintaannya.
"Nomor kamu Al..!" ulang Rayyan sambil terus menyodorkan ponselnya padaku.
"Buat apa....? Nomorku bukannya udah tercantum di grup Chat kelas." Jawabku yang masih enggan menyentuh ponsel milik Rayyan.
"Aku ga yakin itu beneran nomor ponsel kamu,.... Kamu bahkan tak pernah muncul berkomentar di grup chat kelas" jawab Rayyan.
"Aku butuh nomor kamu untuk jaga-jaga jika ada perubahan dalam laporan tugas tadi." tambah Rayyan.
Jika Rayyan sudah beralasan seperti itu, maka Mau tidak Mau , aku harus menuruti ucapannya. Kuraih ponsel yang sejak tadi Rayyan sodorkan dan mengetikkan nomor ponselku di ponsel mahal miliknya.
"Ini... Aku sudah menulisnya!" ucapku seraya mengembalikan ponsel milik Rayyan setelah selesai mengetikkan 12 angka di ponsel itu.
Baru saja ku kembalikan ponsel milik Rayyan, Ponselku yang berada di saku Rok panjangku bergetar, sepertinya ada seseorang yang tengah menghubungi ponselku. Dengan segera kuraih ponselku di saku Rok panjangku. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal terpampang di layar ponselku, hanya berupa nomor tanpa ada foto profil yang ikut terpampang dilayar.
"Ternyata beneran Nomor kamu" ucap Rayyan yang kemudian tersenyum tipis, namun Aku masih bisa melihat dengan jelas senyumannya itu.
HAHHHH.... Rupanya Rayyan masih belum percaya dengan Nomor yang kuberikan tadi, sehingga ia langsung mengeceknya di depanku.... benar-benar menyebalkan!
Setelah Rayyan pergi, aku segera masuk kedalam rumah, kulihat Ibu tengah sibuk berkutat dengan beberapa potong pakaian bersama mesin jahit tua kesayangannya. Lewat mesin jahit dan keterampilan ibu dalam menjahit, Ibu bisa sedikit membantu Ayah dalam menopang ekonomi keluarga kami. Ibu memang menerima pesanan membuat pakaian atau memperbaiki pakaian.
"Baru pulang Kak," Sapa Ibu ketika melihatku datang.
Aku hanya mengangguk kemudian mendekat kearah Ibu untuk mencium punggung tangannya.
"Ganti baju, lalu makan siang.... Ibu sudah masak Sayur Sop kesukaan Kaka." ucap Ibu yang kemudian kembali berkutat dengan mesin jahit dan Pakaian yang sedang Ibu jahit.
setelah menemui Ibu, aku langsung membersihkan diri kemudian berbaring di kamar. Aku memang sedikit lelah hari ini.
"Kakak, ayo dong bangun!"
Teriakkan memekakkan telinga dan guncangan di tubuhku membuatku terbangun, meski mataku masih enggan terbuka sepenuhnya.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku dengan mata yang masih sedikit terpejam.
"Udah jam 5 lebih Kak, Ya Ampun.... Kakak ini tidur apa pingsan sih, dari tadi Anin teriak-teriak ga bangun-bangun juga!" Cerocos Anin hingga membuat telingaku berdenging mendengarnya. Anin adikku satu-satunya ini memang sangat cerewet meski ia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar.
Dengan malas aku pun bangun dari posisi tengkurap kemudian duduk. Mataku mengarah pada jam dinding yang menempel di dinding kamarku.
"Sudah pukul 5 lebih rupanya, pantas saja Anin begitu ribut membangunkan ku, rupanya aku ketiduran cukup lama." gumamku yang baru sadar jika Aku tertidur sampai lebih dari 3 jam lamanya. Pantas saja Anin sempat mengira aku pingsan.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.