"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 7~ Ternyata
Di dalam mobil hanya diam dan fokus menyetir tanpa ada niat ingin berbicara sama sekali. Vina yang melihatnya hanya senyun sambil geleng-geleng kepala melihat sikap adiknya itu.
"Vier, kamu ga bosen apa diam terus kek gini. Ga mau ngobrol gitu sama Mbak. Udah lama loh kita ga ngobrol." ucap Vina seraya tersenyum pada Vier. Orang yang diajak bicara hanya melirik dan tersenyum.
"Vier, kamu dengar ga sih Mbak ngomong tadi?" tanya Vina yang dibuat kesal oleh Davier.
"Iya Mbak, Vier denger kok, lagian tadi kan Vier balas pake senyum." balasnya.
"Ya tapi kan Mbak ngomongnya pake kata-kata, ya masa' kamu jawabnya cuma pake senyum doang." ucap Vina dengan wajah cemberutnya.
"Mbak, jangan ngambek, malu ah sama diri, udah anak 2 juga." ucap Davier.
"Iya, Mbak tau kok. Ya udah cepetan nyetirnya. Mbak udah ga sabaran pengen belanja." ucapnya mendesak Davier. Davier hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Ai, Pandu dan juga Disti sudah sampai di Maal. Disti terus menarik tangan Ai dan Pandu agar mengikuti langkahnya. Alhasil mereka pun mengikuti kemana Disti membawa mereka.
"Mami, ayo kiya ain asket." ajak Disti.
"Iya sayang, pelan-pelan jalannya. Jangan lari nanti kalau jatuh gimana." gumam gue menasihati Disti dengan lembut.
"Iya, pelan-pelan sayang. Kita tetap bakal main kok." ucap Pandu lembut.
"Nah kita sampe di TimeZone, yuk kita main basket sayang." ucap gue lembut.
"Ayoo Mami, buluan." ucapnya.
Ai pun menemani Disti bermain, sedangkan Pandu hanya duduk dan melihat saja. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Membuat Vina berdecak kesal kepada Davier. "Bagaimana nasib calon adik ipar aku nanti setelah nikah sama Davier, yang ada ga bakal happy dia." batin Vina berdecak sebal.
"Mbak, kita udah nyampe nih." ucap Davier menyadarkan lamunan Vina.
"Eh iya." ucapnya pada Davier.
Mereka pun turun dari mobil dan mulai memasuki Mall. Davier hanya mengikuti langkah Vina. Ia tak bersuara sedikitpun. Bahkan Vina semakin kesal dan ja berencana mengerjai adiknya itu.
"Kita ke store yang itu ya Vier." ucap Vina.
"Hm." balasnya hanya dengan berdehem.
Mereka pun memasuki Store tersebut. Satu persatu Store Vina jelajahi. Davier yang mengikutinya sedari tadi hanya bisa menggelengkan kepalanya
Ai dan Disti merasa bosan bermain di TimeZone. Ai sekarang ingin memuaskan hasratnya untuk berbelaja. Ai dan Disti pun mengampiri Pandu untuk mengajaknya keluar dari area TimeZone.
"Kak, udahan yukk, Ai sama Disti mau belanja nih sekarang." gumam Gue.
"Ya udah, kalian mau belanja apa? Pakaian,sepatu, tas atau boneka?" tanya Kak Pandu.
"Belum tau juga, tapi yaa kita lihat nanti deh, kalo ada yang aku suka, ya aku beli." jawab gue santai.
"Ribet amat sih Ai buat belanja aja." ucapnya.
"Udah selesai ngomelnya." jawab gue.
"Ai, ya udah ayo kita jalan." ucapnya.
"Sayang, kamu mau beli boneka lagi?" tanya Kak Pandu pada Disti.
"Disti au Papi." jawab Disti.
"Let's go!" gumam gue semangat.
Mereka pun memasuki satu - persatu Store di Mall tersebut. Ai berbelanja kosmetik, pakaian begitu juga dengan Disti. Pandu yang bersama dengan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Ai dan Disti jika diajak berbelanja memang tidak ingat waktu.
"Kak kalo capek, duduk disini aja yaa. Bjar aku yang nemenin Disti belanja." gumam gue yang melihat Kak Pandu sedikit lelah.
"Iya Ai, makasih ya, kalian belanja aja, ga perlu mikir soal bayarnya." ucapnya, dan gue hanya menunjukkan 2 jempol kepadanya lalu meninggalkannya di kursi lobby.
Davier dan juga Vina ternyata berada di Store yang sama. Davier sedari tadi hanya mengikuti Vina. Namun Vina mengerti dan akhirnya meninta Davier untuk mencari tempat duduk sambil menunggu ia berbelanja.
"Vier mending kamu duduk dimana gitu. Kamu pasti capek ngikutin kakak kesana kemari. Nanti kalo udah kelar kakak samperin." ucap Vina.
"Hm, Iya." jawabnya singkat.
Davier berjalan menuju ke sebuah tempat duduk. Disana ada Pandu dan ssegala macam belanjaan milik Ai dan Disti. Ia duduk bersandar di kursi untuk menghilangkan rasa lelahnya. Hampir seharian ini ia mengikuti sang kakak. Pandu yang melihatnya pun langsung menegur Davier.
"Hai, nungguin pacar ya Mas?" tanya Pandu.
"Ga, saya nemenin Kakak belanja." jawab Davier.
"Oh gitu. Nama saya Pandu,nama Mas siapa?" sambil mengulurkan tangan.
"Saya Davier." jawabnya, sambil membalas mengulurkan tangan.
"Ya ampun Vier, Mbak nyariin kamu loh ternyata disini." ucap Vina. Belum sempat Vier mennjawab Pandu memotong obrolannya.
"Devina? Devina Galuh Pramono kan? Ini gue Pandu Aji Dwi Setya masih ingat kan lo sama gue." ucap Pandu.
"Oh iyaa Pandu, gue ingat kok. Ga mungkin gue lupa, kan lo dulu Idola di sekolah. Uda lama banget ya. Apa kabar sekarang?" ucap Vina.
"Eh, ga usah ngomong gitu, gue ga ada apa-apanya. Kabar gue baik kok." jawab Pandu.
Tiba-tiba Disti datang dan berteriak memanggil Pandu. Pandu yang mendengar Disti memanggilnya, membuat ia menoleh ke arah sumber suara.
"Papi, Disti uda celecai belanjana. Disti cama Mami anyak loh belanjana." ucap Disti sambil menggendong boneka kelinci ukuran sedang. Pandu tersenyum dan mengelus pucuk rambut Disti lembut.
"Lucu banget sih anak kamu Ndu. Gemes deh, pasti Maminya cantik." ucap Vina menatap Disti lembut.
"Iya Maminya cantik banget, penyayang, dan juga penyabar lagi." jawab Pandu, sambil menatap Disti, dan di saat itu ia begitu merindukan sang kakak. Hampir saja air matanya jatuh.
"Sayang kamu belanja aoa aja? Mami mana? Mami tau kan kamu kemari, takutnya Mami nyariin." ucap Pandu sedikit panik. Ia takut jika Ai mencari Disti dan membuatnya khawatir.
"Mami tau kok Papi, Mami yang culuh Disti ke cini." jawabnya santai.
"Good Girl." ucap Pandu dan mengusap pipi Disti lembut. Rasa khawatirnya pun hilang seketika.
"Ndu, kita makan siang bareng yuk." ajak Vina.
"Hm, aku tanya adik aku dulu ya, dia mau atau nggak." balas Pandu.
"Oke, kita tunggu dia. Eh tunggu kamu kesini ga sama istri dan anak kamu aja dong berarti." ucap Vina yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Pandu. Vina hanya menatap Pandu dengan raut wajah kesal. Pandu dan adiknya sama saja.
"Oh ya kenalin, dia adik gue. Davier namanya. Panggil aja Vier." jelas Vina.
"Iya tadi gue juga udah kenalan kok." jawab Pandu.
"Bener gitu Vier?" tanya Vina memastikan.
"Hm Iya Mbak." jawabnya singkat.
"Disti, Mami masih lama ya sayang?" tanya Pandu. Tak lama ketika Disti akan menjawab Ai datang dengan banyak bawaan belanjaannya.
"Aduh Kak, maaf lama nunggu ya, ini Ai susah bawanya." gumam gue sambil menjinjing belanjaan. Gila banyak juga gue belanja ya.
Davier yang mendengar suara seorang wanita yang begitu familiar di telinganya pun langsung menoleh dan benar dugaannya itu adalah Ai, anak teman Papanya.
"Loh, kamu lagi." ucap Davier, dan membuat Ai menoleh ke sumber suara.
"Bapak kok ada di sini. Bapak ngikutin dan mata-matain saya ya." goda gue ke tuh dossn killer bin kutub.
"Ga ada kerjaan banget saya buat ngelakuin itu." balasnya dingin.
"Bisa aja kan Pak, secara saya mahasiswi popular seantera Kampus." jawab gue dengan bangga.
"Ai, kamu kenal Davier?" tanya Vina dan Pandu serentak.
"Iya lah Bapak Davier Galuh Pramono ini adalah dosen yang terkenal killer bin kutub, tapi popular di Kampus." jelas gue. Vina dan Pandu pun hanya ber-oh ria.
"Ya udah deh, Ai kamu mau makan siang, kalo mau kita makan bareng temen lama aku, gimana?" tanya Pandu.
"Terserah aja deh kak, Ai ikutin aja." jawab gue santai.
'"Ya udah, Vin boleh deh tawaran makan siang lo barusan." ucap Pandu.
"Oke, tapi istri lo mana? Gue kan mau ketemu sama Mami nya anak lo." ucap Vina. Dan lagi-lagi hanya dijjawab Pandu dengan senyuman.
"Ndu, napa sih lo senyum mulu, gue mana ngerti." ucap Vina lagi.
"Uda ayo makan, uda lewat jam makan siang juga nih. Yang lain juga pasti udah keroncongan." ucap Pandu.
Mereka pun keluar dan menuju ke sebuah tempat makan di dalam area Mall. Mereka duduk di satu meja yang sama dan memesan makanan ketika pelayan datang menghanpiri meja mereka.
"Mas, Mbak mau pesan apa?" tanya pelayan sambil memberikan daftar menu.
"Saya Chicken Cheese dan Juice Manggo ya Mbak. Kamu mau pesan apa Vier?" tanya Vina.
"Aku pesan, Chicken Cheese Double dan Orange Juice aja Mbak." ucap Vier.
"Ai, kamu mau pesan apa?" tanya Pandu.
"Samain aja deh Kak." jawab gue.
"Mami, Disti engen pipis." ucapnya pada Ai.
Mendengar Disti memanggil Ai dengan sebutan Mami membuat Vina tercengang.Davier pun sedikit terkejut dan tak percaya. Ia juga baru mengingat bahwa Ai dan keluarganya sering menyebut nama Pandu.
Ternyata Pandu yang mereka maksud adalah Pandu yang kini berada dihadapannya dan duduk satu meja dengannya. Sungguh hal itu membuatnya kembali gusar.
"Ya udah, ayo Mami anter ke toilet. Kak Ai tinggal dulu ya. Samain aja pesanannya." gumam gue dan meninggalkan mereka.
"Oke, Ai maaf merepotkan ya Ai." jawab Pandu. Ai hanya tersenyum pada Pandu tanda bahwa ia tak merasa keberatan.
"Ya udah Mbak, saya pesan Seafood 2, Puding Lavanya 3 ya dan Orange Juice nya 3." ucap Pandu.
Setelah kepergian Ai dan Disti, Vina menatap Pandu meminta penjelasan. Pandu paham betul arti dari tatapan Vina itu. Ia menghela nafas lembut dan membuka suara.
"Gue tau apa yang mau lo tanyain. Bukan hanya sekarang, dari tadi juga lo coba minta penjelasan saam gue kan." ucap Pandu santai.
"Iya, nah sekarang jelasin Ndu." pinta Vina.
"Jadi Ai itu adik sahabat gue. Keluarga dia udah anggap gue anaknya, dan gue merasa bersyukur banget. Sampai waktu itu, tepatnya 4 tahun lalu, saat kakak gue dan suaminya mengalami kecelakaan, sejak itu gue berjanji bakal ngerawat Disti seperti anak gue sendiri. Dan Ai yang selama jni bantu gue dan menjadi Mami buat Disti. Ai memang baik, dia bukan hanya jadi Mami buat Disti tapi Mami buat anak Panti dan penderita kanker. Dia wanita hebat yang pernah gue kenal." jelas Pandu, hampir saja air matanya lolos.
Vina dan Davier yang mendengar cerita Pandu hanya bisa tercengang dan bahkan takjub dibuatnya. Mereka tak menyangka masih ada malaikat di dunia ini.
"Ndu, gue ga nyangka Ai baik banget. Hatinya bagai malaikat. Pasti yang dapetin dja beruntung banget deh bisa jadi suaminya." ucap Vina. Pandu hanya bisa tersenyum dan Davier masih saja terdiam memikirkan kata-kata Pandu.
----------------Next Update-----------------
Minggu, 7 Juni 2020
Salam Hangat
Author Halu