Bening, gadis berusia 18thn, harus rela mengandung benih pria yang tak dikenalnya melalui inseminasi buatan. Karena keadaan yang membuatnya menerima perjanjian kontrak sebagai ibu pengganti. Ayahnya yang sedang di penjara juga ibunya yang sakit keras, membutuhkan biaya besar untuk operasi. Ketidakberdayaannya, membuat Bening merelakan rahimnya disewa untuk melahirkan keturunan pria tersebut sebagai ibu pengganti. Apakah penderitaan Bening akan berakhir sampai anak itu lahir, atau justru itu awal dari penderitaan dia yang sesungguhnya. Inilah kisah gadis cantik yang berjuang hidup untuk ibu juga putranya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liliana *px*, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Udara yang dingin di toilet menjadi semakin menusuk persendian karena tatapan elang itu yang seakan menelanjangi tubuh Bening saat ini. Tubuhnya gemetaran, berusaha mengalihkan ketakutannya dengan melihat kearah lain, menghindari tatapan Ravendra yang semakin dalam seakan ingin memakannya hidup hidup. Berpikir cepat untuk menyelesaikan masalah, Bening menutup matanya sesaat, berusaha mengumpulkan keberanian yang sudah hilang kemana saat Ravendra mengingatkan tindakan bodohnya di jalan tadi.
"Tuan,," ucapnya tertahan. Mata sendunya berharap ada belas kasihan dari pria ini. Dan itu tertangkap oleh Ravendra. Namun dia tetap dingin tak bergeming.
"Anda adalah orang besar, berwawasan luas, tolong maafkanlah kesalahan saya yang orang kecil ini, untuk apa menaruh dendam pada orang pinggiran seperti saya, hanya akan merendahkan martabat Tuan." Bening meremas jas yang kini menutupi tubuhnya dengan menggigit bibirnya menundukkan wajahnya.
"Orang kecil? Seringai Ravendra. Ia pun mengangkat dagu Bening, mencengkeramnya hingga kini tatapan mereka saling beradu tatap.
"Apa bisa dikatakan orang kecil yang dengan berani menampar wajahku, mengeluarkan uang untuk membeli ku, hmm,,?"
"Maafkan saya Tuan, andai saya tahu siapa anda sejak awal, mana mungkin saya akan berani menyinggung anda." Kini mata indah itu sudah berkaca kaca, merutuki kebodohannya sendiri yang berlagak seperti wanita kuat tak tersentuh saat melampiaskan kemarahannya tadi.
"Sial! Kenapa hatiku terasa sakit saat melihat matanya yang penuh air mata. Ada apa denganku?" Ravendra mulai bimbang dengan hatinya.
Selama ini ia cuek dengan orang lain, tapi kenapa dengan wanita ini, ia merasakan hal yang berbeda. Wajah cantik di bawah sinar lampu dengan bulir bening yang jatuh dari manik mata yang teduh, serta bibir tipis yang merona terlihat seksi saat Bening menggigitnya meruntuhkan pertahanan Ravendra.
"Aku bisa melepaskan masalah tadi dengan syarat,," sejenak ia memandang dalam dalam mata Bening.
"Syarat apa? Dasar pria brengsek, cepet bilang, kamu pikir leherku tidak sakit, airmataku juga terlalu berharga untuk menangisimu. Sudah berakting seperti wanita lemah tapi mengapa kau tak melepasku juga, pakai syarat lagi, brengsek!" Gumam Bening dalam hatinya yang menyumpahi Ravendra.
Mulanya memang ia tulus meminta maaf, namun sikap Ravendra yang seakan merendahkannya, ia pun jengkel, ia tak menyukai tatapan pria itu.
"Syarat apa Tuan? Jika saya disuruh mengganti rugi dengan nominal, saya tidak punya, selain itu juga akan sangat merendahkan anda, Tuan."
Wanita ini benar benar menguji kesabaran Ravendra. Kata katanya menampar wajah tampan juga harga dirinya. Benar benar tidak tertolong lagi. Lengkungan tipis disudut bibir Ravendra, terlihat sinis juga kejam, namun begitu tipis hingga Bening pun tak dapat melihatnya.
"Jadilah j*lngku!" Ejeknya.
"Plakkk,,,!" Tamparan mendarat di pipi Ravendra.
"Mulanya memang aku tulus mau meminta maaf padamu, tapi sekarang aku cabut kata maaf itu! Kau tak pantas mendapatkannya! Kamu pikir bisa memperlakukan orang sesuka hatimu? Jangan karena kau kaya dan berpengaruh bisa merendahkan martabat juga harga diriku. Kau salah Tuan!!" Geram Bening lalu mendorong tubuh Ravendra kuat kuat, ntah dari mana kekuatan itu datang hingga tubuh Ravendra mundur ke belakang meskipun tidak terlalu jauh. Namun bisa menyisakan jarak hingga Bening bisa terlepas dari tangannya.
Dengan cepat Bening turun dari wastafel, berlari cepat kearah pintu keluar, namun belum sempat ia membuka pintu, kepalanya terasa pusing, tiba tiba pandangannya menjadi gelap, tubuhnya pun terjatuh ke pelukan Ravendra.
"Dasar merepotkan!
Ravendra pun mengangkat tubuh Bening membawanya ke lantai atas hotel H, dimana kamarnya berada.
"Tuan, Nona ini?" Tanya asistennya yang buru buru menekan tombol lift saat ia tahu Ravendra membopong tubuh Bening.
"Siapkan baju ganti untuknya!"
"Baik." Ucap asisten itu lalu menekan tombol lift lagi setelah Ravendra keluar dari lift melangkah ke kamar suite presidencial.
Dengan hati hati Ravendra membaringkan tubuh Bening. Guratan lelah nampak terlihat di wajah cantik itu. Ravendra menyibakkan sebagian rambut yang menutupi wajah cantiknya. Pancaran sinar bulan yang membias menerpa wajah yang terlihat tenang dalam tidurnya, sungguh terlihat cantik di mata Ravendra. Karena lampu kamar yang dibiarkan tidak menyala. Hingga remang remang cahaya dari bulanlah yang menjadi penerang.
"Eemmhh,,," lenguhan Bening terdengar. Dengan gerakan di tubuhnya membuat jas yang menutupi tubuhnya terbuka. Memperlihatkan bentuk tubuh yang indah di mata Ravendra. Membuatnya menelan salivanya dengan kasar.
Tidak bisa di pungkiri, jika ia terpancing hasratnya saat ini melihat tubuh Bening yang begitu menggoda jiwa kelelakiannya.
"Kau memang ceroboh Nona, jadi jangan salahkan aku jika tidak sopan padamu!"
Ravendra menyugar rambutnya, berusaha menghilangkan hasrat yang sudah memenuhi pikirannya. Ia pun menyelimuti tubuh Bening lagi. Lalu melangkah ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Berusaha menghilangkan hasrat itu dengan mandi menggunakan air dingin.
Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar mandi. Matanya terbelalak sempurna melihat pemandangan di depannya.
Tubuh Bening sudah polos tanpa sehelai benang pun dengan selimut yang sudah teronggok ke lantai.
"Panas,,, panas !" Ucapnya sambil mengipasi tubuhnya.
"Sial! Brengsek! Bajingan mana lagi yang memanfaatkan wanita ini, kenapa aku harus bereaksi padanya, apa denganku?" Geram Ravendra frustasi, hilang sudah ketenangan dirinya saat melihat Bening menyakiti tubuhnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Ravendra menepis tangan Bening yang mencakar tubuhnya sendiri, meninggalkan luka terkena kukunya.
"Tolong aku, tolong !" Pintanya memelas.
Ada getaran aneh saat tangan mereka bersentuhan. Bening mencoba menahan hasrat yang membakar tubuhnya, merasakan sensasi ingin lebih saat tangan Ravendra menyentuhnya. Kesadaran akalnya seakan hilang saat ini.
Ia pun mencium bibir Ravendra, membuat pria itu tersenyum licik.
bersambung🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
hati hati dengan Pak Hendra Bening dia sungguh licik
semangat bening 💪💪
tp km masih punya satu anak laki2 lagi
apa pria kaya itu gk tahu ya klo Bening puya anak kembar 🤔