"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.
orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.
"alisya sayang Bunda".
kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.
masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.
seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.
suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.
kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.
karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
setelah ibu dan ayah pulang, aku dan alisya menunggu mas bram datang menjemput kami. benar saja, beberapa saat kemudian mas bram datang.
"papa". ucap alisya ketika melihat mas bram.
"sayang, maafkan papa sudah buat alisya nunggu". mas bram menghampiri alisya.
"semuanya sudah beres mas, kita langsung pulang saja".
"iya pa, ayo kita pulang". alisya menarik tangan mas bram.
"iya iya sayang, ayo kita pulang. sini papa gendong". mas bram mengangkat alisya.
"duluan saja mas, aku akan membawa barang ini".aku menunjukkan tas yang berisi perlengkapan alisya.
"sini, biar aku bantu bawakan". tangan mas bram mengambil satu tas.
"terima kasih mas". jawab ku.
alisya terlihat senang di gendong oleh papanya, aku berjalan mengikuti langkah mas bram di belakangnya.
mas bram begitu bertanggung jawab terhadap apapun yang berhubungan dengan alisya, tidak heran jika mas bram selalu meluangkan waktu sibuknya untuk menjemput alisya.
"kita sudah sampai di mobil, alisya masuk dulu ya. papa mau masukkan barang ke bagasi dulu". mas bram meletakkan alisya di kursi belakang.
aku yang tengah sibuk memasukkan tas ke dalam bagasi mobil, tiba-tiba mas bram datang membantu ku.
"berat ya". ucap mas bram sambil mengangkat tas yang ku pegang.
"ohh gak kok mas". jawab ku
"kamu masuk mobil aja. biar aku yang urus tasnya".
"baik mas". aku mengikuti arahan mas bram.
setelah selesai mengemasi barang ke dalam bagasi mobil, mas bram masuk ke dalam mobil dan melihatku duduk di belakang bersama alisya.
"karin, kenapa kamu duduk di belakang? kamu duduk di depan". ucap mas bram.
"baik mas". aku berpindah duduk samping mas bram.
entah kenapa aku menuruti ucapan mas baram dan langsung berpindah ke depan.
"alisya, gk apa-apa kan duduk sendirian". aku melirik ke arah alisya yang di belakang ku.
"iya bunda". jawab alisya sambil memakan camilan pemberian ibu.
sepanjang jalan, aku dan mas bram tidak banyak mengobrol. kami hanya saling melirik satu sama lainnya.
sesekali aku mengajak alisya ngobrol dan kami tertawa bersama.
"sayang, kelihatannya bahagia sekali ya".tanya mas bram pada alisya.
"alisya senang dapat banyak makanan dan mainan baru". alisya memamerkan boneka pada mas bram.
"wah, Bagus sekali bonekanya. siapa yang membelikannya?". ucap mas bram.
"kakek dan nenek yang membelikannya". jawab alisya.
"aahh... mama dan papa tadi datang ya". mas bram bertanya padaku.
"ohh bukan mas, ayah dan ibu tadi datang menjenguk alisya". jawab ku
"kenapa tidak memberitahu ku". wajah mas bram terlihat terkejut.
"maaf mas, maaf kalau aku tidak bilang pada mas". aku merasa takut mas bram marah.
"bukan, bukan begitu maksud ku. kenapa tidak beri tahu aku jika ayah dan ibu datang,aku kan bisa menemui mereka ". jawab mas bram panik karena melihatku ketakutan.
"ayah dan ibu hanya sebentar saja mas, mereka hanya menjenguk alisya. sekali lagi maaf mas".
"tidak, tidak apa-apa. hal wajar jika ayah dan ibu menjenguk alisya. oh iya, gimana tangan kamu? apa sudah baikkan". mata mas bram melirik ke arah tanganku yang terluka.
"baik mas, sudah baikkan kok". jawab ku, sambil menyembunyikan tangan ku.
tiba kami dirumah, aku melihat alisya sudah tidur pulas. aku ingin berniat menggendong alisya tapi mas bram melarang ku.
"jangan, biar aku saja yang menggendong alisya. dia sudah besar, berat jika kamu yang menggendongnya". mas bram langsung menggendong alisya di pundaknya.
"baik mas, biar aku yang membawa tasnya".
"jangan, kamu masuk saja ke dalam. biar semuanya aku yang beresi". mas bram menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah.
"kenapa sama mas bram? kenapa semuanya aku gak boleh". mata ku terus menatap ke arah mas bram.
saat memasuki rumah, bibi nina menyambut kepulangan kami.
"non karin ". ucap bi nina saat melihat ku.
"iyaa bi". jawab ku dengan senyum.
"bi, ikut aku ke kamar alisya". ucap mas bram.
"baik tuan". dengan segera bibi nina mengikuti mas bram.
aku melihat jam di tanganku, ternyata sudah waktunya makan siang.
"ah, apa aku harus membuat makan siang, selagi mas bram masih di rumah". aku pergi ke arah dapur.
aku melihat meja makan sudah penuh dengan masakkan, ternyata bibi nina sudah menyiapkan semuanya.
"non, silakan di makan". ucap bibi nina yang melihatku memandangi lauk pauk di atas meja.
"wah.. banyak banget bibi masaknya". jawab ku
"iya non, kan sudah 2 hari non di rumah sakit, jadi bibi masakkan khusus buat non".
"terima kasih bi nina".
mas bram terlihat turun dari tangga, dia terlihat sibuk memeriksa ponsel di tangannya.
"mas mau langsung balik ke kantor". tanya ku.
"iya, ada beberapa urusan yang belum selesai". jawab mas bram.
"makan siang dulu mas, bi nina sudah capek-capek masakkan buat kita".
mas bram terlihat berpikir dan memeriksa jam di tangannya.
"baiklah". mas bram berjalan menuju meja makan.
layaknya sebagai seorang istri, aku melayani mas bram saat makan. aku mengambilkan nasi beserta lauknya ke dalam piring makan mas bram.
"nanti malam jangan menunggu ku, aku akan pulang larut malam". ucap mas bram.
"iya mas". jawab ku.
"bukankah selama ini dia selalu pulang larut malam. kenapa dia baru memberitahukan aku? apa dia tau setiap malam aku selalu menunggu dia. entah lah, sikap mas bram selalu berubah-ubah terhadap ku."
"aku sudah selesai, aku berangkat ke kantor dulu". mas bram pergi meninggalkan meja makan.
"iya mas, hati-hati di jalan". ucapku.
hanya tinggal aku sendiri duduk di meja makan sambil menatap makanan yang masih tersisa banyak.
"bahkan mas bram tidak menatap ku saat bicara. seperti ada yang aneh? semalam dia begitu baik dan lembut padaku tapi sekarang sikap dinginnya kembali lagi". gumam ku sambil memainkan makanan yang ada di piring.
"non, apa sudah selesai makannya". ucap bi nina yang mengejutkan ku.
"oh iya bi, maaf bi makanannya masih tersisa banyak".
"tidak apa-apa non, ini juga kali pertama tuan makan siang di rumah non, semenjak non Gracia meninggal". jawab bi nina sambil membereskan meja makan.
"bi, boleh aku bertanya sesuatu? ".
"iya non tanyakkan saja".
"Gracia itu seperti apa sih bi orangnya". tanya ku.
"mungkin saja dengan mengetahui karakter gracia, aku bisa memahami keinginan mas bram".
"non Gracia wanita yang baik non, dia sangat ramah kepada siapa pun, tidak pernah marah, yang pastinya tuan sangat mencintai non Gracia".
"oohh begitu yaa bi". aku menganggukkan kepala ku.
"ma.. maf non, saya tidak bermaksud.. ".
"tidak apa-apa bi, saya mengerti kok. ya sudah bi, saya ke kamar dulu ya, ingin istirahat".
"baik non".
aku dengan segera melangkahkan kaki ku ke kamar, setelah mendengar ucapan bibi nina, aku jadi berpikir bahwa tidak seharusnya aku mejadi orang lain untuk mendapatkan perhatian mas bram.
inilah aku, selamanya akan tetap menjadi karin tidak akan bisa menjadi siapa pun. untuk sekarang, aku hanya bisa menjalani saja kehidupan yang sudah di takdirkan untukku.
"dua hari berada di rumah sakit, tubuh ku lelah sekali". aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang.
aku putar bola mata ku melihat seisi kamar yang sama sekali tidak berubah, masih terpajang dengan jelas foto Gracia dan mas bram di dinding kamar.
"setidaknya aku bahagia menjadi bagian dari keluarga ini". ucapku sambil menunjuk ke foto pernikahan kami yang terletak di meja lampu tidur.
"huufftt... istirahatlah karin, agar hati dan tubuhmu segar kembali". aku mulai memejamkan mataku.
karena merasa lelah, aku terus tertidur dengan sekali aba-aba,agar aku bisa merilekskan tubuh ku.
tanpa aku sadari, aku tertidur cukup lama dan aku tersentak bangun.
"ya ampun, sudah jam berapa ini?".
aku bergegas melihat jam di dinding kamar yang menunjukkan sudah jam 6 sore.
"karin... kenapa kamu tidak ingat waktu".aku beranjak dari ranjang menuju ke kamar alisya.
saat aku masuk ke kamar alisya, alisya tidak ada di kamarnya. aku jadi kebingungan sendiri mendapati kamar alisya kosong.
aku berlari turun menuju ke dapur untuk bertanya kepada bibi nina.
"bi.. bibi...". aku memanggil-manggil bibi nina.
"iyaa non, ada apa?". bi nina segera menghampiri ku.
"alisya kemana bi? aku mencari ke kamarnya tidak ada".
"ohh.. non alisya sedang bermain non di taman belakang". jawab bi nina.
"ahh.. iya bi". aku segera berlari ke arah taman.
aku melihat alisya sedang duduk di ayunan sembari memeluk boneka pandanya.
"alisya sayang". panggil ku.
"bunda". jawab alisya dengan senyum cerianya.
"alisya sudah mandi?".
"sudah bunda, sama bibi nina". jawabnya.
"maafkan bunda ya sayang, bunda terlalu nyenyak tidur sampai lupa untuk bantui alisya mandi". aku mengelus rambut alisya.
"iyaa bunda".
sejenak aku menemani alisya bermain di taman, alisya terlihat jauh lebih bahagia dari saat aku pertama kali bertemu dengannya.
"alisya Happy". tanyaku.
"happy bunda, karena alisya bisa bermain sama bunda". jawab nya.
"benar, anak seusia alisya lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua dan keluarganya. melihat alisya bahagia seperti ini, membuatku semakin bersemangat lagi".
tak lama kemudian, bibi nina menghampiri kami di taman belakang.
"non, makan malamnya sudah selesai". ucap bi nina.
"oh iya bi, terima kasih". .jawab ku.
segera aku memanggil alisya yang sedang asik bermain dengan boneka-bonekanya.
"sayang, udahan yuk mainnya. kita makan malam dulu".
"iyaa bunda". alisya berlari menuju ke arah ku.
"sebelum kita makan, kita cuci tangan alisya dulu ya. tadi kan alisya habis bermain jadi banyak kuman yang menempel di tangan alisya".
"iya bunda".
aku menuntun alisya ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya, alisya anak yang cerdas, dia bisa melakukan cuci tangan dengan baik dan benar.
"alisya pintar, sudah bisa cuci tangan sendiri". aku memuji kemampuan alisya.
"alisya bisa kan bunda". tanya alisya.
"iya sayang, pintar anak bunda".
selesai mencuci tangannya, kami makan malam bersama, hanya kami berdua karena mas bram pulang larut malam.
"papa kemana bunda?".
"papa lagi banyak kerjaan sayang, jadi malam ini tidak ikut makan bareng kita". jawab ku.
"bunda, alisya besok boleh main kerumah nenek?" tanya alisya.
"nenek? nenek siapa sayang".
"nenek yang datang kerumah sakit, yang belikan alisya boneka". jawabnya.
"oohh tentu boleh sayang, tapi kita harus izin dulu ya sama papa".
"iyaa bunda, hore.... besok alisya main kerumah nenek".
"sudah, alisya makan dulu ya". aku tersenyum melihat alisya bahagia.
selesai makan, aku dan alisya duduk di ruang keluarga sembari menonton cartoon kesukaan alisya.
melihat alisya yang selalu bahagia saat aku temani, membuat aku berpikir untuk benar-benar berhenti bekerja.
"alisya senang gak, kalau selalu bunda temani di rumah". tanya ku pada alisya.
"senang bunda". jawab alisya sambil mengemil biscuit.
"kalau bunda kerja lagi gimana?".
alisya langsung menatap mataku
"jangan bunda".
aku tersenyum ke arah alisya dan berkata
"iya sayang, bunda akan selalu temani alisya di rumah".
mungkin orang-orang akan berpikir bahwa ibu pengganti atau ibu tiri adalah orang yang jahat.tapi tidak bagi ku, aku akan mengubah pandangan orang terhadap ibu pengganti seperti ku.
siapa bilang kita tidak bisa sayang terhadap anak yang bukan kita lahirkan, jika kita menerimanya dengan hati maka rasa sayang itu akan muncul dengan sendirinya.
begitulah yang aku alami sekarang, aku begitu menyayangi alisya dan menganggap dia sebagai anak kandung ku sendiri,meskipun papanya belum bisa menerima ku di hatinya.
"bunda, alisya ngantuk". alisya terlihat mengusap kedua matanya.
dengan sigap aku menggandeng tangan alisya untuk masuk ke kamar.
"ayo kita tidur, bunda temani alisya tidur ya".
sesampainya di kamar, aku mengajarkan alisya kebiasaan sebelum tidur yaitu menggosok gigi ,mencuci wajah serta tangan dan kakinya.
aku membaringkan tubuh mungil alisya di ranjangnya dan ku dekap alisya dalam pelukkan ku.
"selamat malam sayang, tidur yang nyenyak". ku kecup keningnya alisya.
"alisya sayang bunda". ucap alisya.
kata-kata itu sudah menjadi rutinitas alisya setiap saat dia memelukku, aku bisa merasakan tulusnya sayang alisya kepadaku.
"hmm bunda juga sayang alisya". jawabku sambil terus memeluknya.
setelah alisya tertidur, perlahan-lahan aku melepaskan pelukkan ku agar tidak membangunkannya.
ku langkahkan kakiku untuk keluar dari kamar alisya dan kembali ke kamar ku.
ku lihat jam di dinding kamar ku yang menunjukkan jam 9 malam tapi mas bram tak kunjung pulang juga.
"padahal mas bram selalu bilang jangan menunggu, tapi setiap malam yang ku lakukan malah menunggunya". aku terus menggumam sendirian.
"aku tidak pernah merasakan yang namanya Cinta sama sekali tapi begitu pertama kali melihat mas bram, aku langsung jatuh hati padanya". lanjutku sambil menatap foto pernikahan kami.
"mas, aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia ya. aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri dan ibu di rumah ini". itulah yang ku harapkan.
mata ku terasa lelah seiring berjalannya waktu menunjukkan tengah malam. aku tertidur sembari menunggu mas bram pulang.
tapi aku merasakan hal aneh saat tertidur, aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku dan membuatku buru-buru membuka mata.
"ahh ya ampun... ". aku terkejut melihat wajah mas bram tepat di hadapanku.
"kapan mas pulang". ucap ku.
"baru saja, kenapa tidur di sofa? menunggu ku". jawab mas bram.
"i.. iya mas". aku bangun membantu mas bram membuka dasinya.
"tidurlah di ranjang saat menungguku, jangan di sofa lagi". ucap mas bram dengan nada dingin.
"iya mas".
walaupun sikapnya dingin kepadaku, tapi sebenarnya mas bram perhatian padaku, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
.
balik mampir dukungan kk