Setelah menyandang gelar sebagai seorang istri. Rima memutuskan berhenti berkarir agar bisa fokus mengurus suami dan anaknya. Dengan sepenuh hati Rima menyayangi mertua seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri. Namun, bukannya kasih sayang dan kebahagiaan yang Rima dapatkan tetapi pengkhianatan dari kedua orang tersebut.
Dengan perasaan hancur, Rima berusaha bangkit dan membalas pengkhianatan suaminya. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan diri lebih baik dari para pengkhianat. Hingga perlahan Rima bangkit dari keterpurukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pekerjaan
7
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Citra dan bang Rama saat ini. Aku tidak perduli kalau mereka menyadari kalau aku mencurigai mereka. Meskipun hati ini sakit, aku tidak mau terlihat lemah dihadapkan Citra. Tunggulah, sampai aku bisa mengembalikan keadaan ini.
"Dulu, bang Rama memang sering makan masakanku. Dan ini untuk yang pertama kali setelah sekian lama. Maaf, ya tadi aku pakai dapurnya," ucap Citra.
Tidak aku hiraukan makanan yang telah dimasak Citra. Sementara ibu tampak lahap sekali. Bang Rama pun mulai menikmati tanpa berniat menimpali ucapanku. Ya, mereka terlihat seperti keluarga sungguhan.
"Aku pergi, Bang," pamitku pada pria yang sudah membuatku meragu.
"Kamu jadi cari kerja?" tanya bang Rama, raut wajahnya tidak keberatan tapi terkesan meragukan aku.
"Iya, Susan aku titipkan di rumah Kak Eli."
"Terserah sih kalau mau tetap cari kerjaan. Semoga kamu beruntung, ya Rima. Biar nggak jadi beban terus di rumah ini."
Ucapan ibu terasa menusuk ke relung hati, aku tidak tahu apa kurangnya aku selama ini hingga ibu semakin tidak menyukai aku. Bahkan, Citra lebih disukai daripada aku. Mungkin, ibu berharap punya menatu yang punya banyak uang seperti Citra.
***
"Suamimu selingkuh?" Kak Eli tidak percaya mendengar ceritaku tentang adanya dugaan perselingkuhan bang Rama dengan Citra. Saat ini aku sudah berada du rumah kak Eli. Satu-satunya saudara kandung yang aku punya.
"Iya, Kak. Aku yakin mereka sudah bermain gila di belakangku. Sayangnya aku nggak punya bukti kuat. Takutnya, alat kontrasepsi itu memang punya Leon. Karena itu aku nekat cari kerja biar bisa mandiri dan punya persiapan kalau suatu saat nanti terjadi hal buruk sama rumah tangga kami."
Rasanya tubuhku lemas sekali. Perceraian tidak pernah ada di dalam kamus hidupku selama ini. Tapi, aku tidak akan pernah bisa terima dikhianati oleh orang yang aku cintai.
"Kakak harap itu nggak bener. Kasihan Susan kalau tahu bapaknya punya wanita lain. Sudahlah, kamu fokus aja cari kerja biar Susan kakak yang jagain."
Aku masih beruntung punya kak Eli yang selalu mau mendengarkan keluh kesahku. Setelah menitipkan Susan di rumah Kak Eli, aku bergegas memacu sepeda motorku untuk mencari kerja. Berbejal ijazah dan pengalaman kerja sewaktu masih gadis yang aku punya aku nekat mencari peruntungan.
Brak!!!!
"Astagfirullah...."
Fikiranku yang kacau membuat aku tidak bisa fokus berkendara. Tanpa aku sadari aku telah berada di lampu merah dan menabrak mobil yang baru saja berhenti di depanku. Aku bahkan jatuh terduduk di aspal panas ini.
"Bisa bawa motor gak Mbak?" tanya seorang pria yang baru turun dari mobil itu. "Aduh, kapnya sampai ringsek begini."
"Maaf-maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
Aku meringis merasakan sakit di kakiku yang tertimpa motorku sendiri. Seorang pria berkemeja hitam yang ntah datang dari mana membantu memindahkan motorku hingga aku bisa berdiri tegak lagi.
"Kamu nggak apa-apa? Lebih baik menepi saja dulu. Kaki kamu berdarah," ucap pria yang tinggi badannya hampir menyerupai bang Rama.
"Nggak apa-apa, Pak. Makasih sudah membantu, " ucapku sembari meringis merasakan sakit.
"Jo, ambilkan kotak P3k di mobil," ucapnya kepada laki-laki yang tadi menegurku. Pria itu langsung bergegas pergi.
"Jadi, ini mobil Bapak? Maaf saya beneran gak sengaja." Habislah aku jika harus mengganti kerusakan mobil mewah ini. Masalahnya, aku tidak punya uang sebanyak itu.
"Sudahlah, bersihkan saja lukamu," ujarnya sembari menyerahkan kotak p3k yang baru diterimanya. Lalu pria itu pergi begitu saja tanpa sempat aku berterima kasih padaya.
***
Aku berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak kuhiraukan rasa sakit di kaki ini. Tidak kuhiraukan panas matahari yang terasa menyengat di atas kepala. Sampai jam 2 siang aku terus berusaha mencari tempat yang mau menerimaku.
"Lowongan kerjanya sudah ditutup. Kamu sangat terlambat," ucap seorang wanita cantik ketika aku mengutarakan maksud kedatanganku ke salah satu perusahaan properti terbesar di kota ini.
"Tolong, Mbak. Satu kali ini aja. Saya punya ijazah dan pengalaman kerja."
"Tetap nggak bisa, Mbak. Kami nggak mungkin melanggar aturan demi kamu. Sebaiknya kamu cari tempat yang lain saja."
Aku mulai lelah dan lemah. Bahkan rasanya aku ingin menangis saja. Namun, sindiran ibu mertua, bang Rama dan wajah Citra itu memaksa aku untuk tetap kuat. Ya, aku tidak boleh lemah. Akan aku buktikan kepada mereka kalau aku bisa berdiri tegak dengan kedua kakiku ini.
"Jadi, beneran nggak ada kesempatan untuk saya, Mbak?" tanyaku satu kali lagi. Berharap wanita ini khilaf dan mau menerimaku.
Wanita itu tidak menjawab, ia tampak diam ketika seseorang berbisik di telinganya. Mau tidak mau akhirnya aku berbalik badan dan siap untuk pergi dengan kecewa.
"Tunggu!" panggilnya padaku. "Bisa lihat berkas yang mbak bawa?"
Aku seperti mendapatkan angin segar. Segera kuserahkan apa yang dia minta.
"Ternyata, bos memperhatikan kita dari CCTV. Dan beliau minta Mbak ke ruangannya."
"Serius, Mbak?" Seketika wajahku yang tadinya mulai murung langsung berbinar lagi.
Wanita itu mengajakku ke ruangan bos mereka. Aku berharap hari ini adalah hari keberuntungan untukku. Lift yang kami tumpangi berhenti di lantai 6.
"Apa kamu udah pernah ketemu sama pak Dimas?"
Aku mengernyit bingung, pikiranku mencoba mengingat nama Dimas.
"Belum."
Wanita itu tampak menggangguk tapi kulihat wajahnya seperti meragukan aku. Sampailah kami di depan pintu berwarna hitam yang masih tertutup rapat.
"Masuklah, pak Dimas sudah menunggu," ajaknya setelah membuka pintu.
Aku mengikutinya dari belakang, ruangan ini sangat luas dan tertata rapi. Seumur hidup baru kali ini aku bisa masuk ke ruangan bos besar. Mimpi apa aku semalam?
"Ini yang bapak minta."
Suara wanita itu menyadarkan aku jika kami telah berada tepat di hadapan pria itu. Mataku terbiak lebar melihat siapa orang yang ada di depan sana. Dia pria yang tadi membantuku, pria yang memberikan kotak p3k padaku. Pria yang mobilnya aku tabrak!