Ramzi mencintai seorang gadis, dia salah satu anak Kiai Amar. Kiai Amar mempunyai 3 putri, putri pertama sudah menikah. Ramzi menyukai salah satu putri Kiai Amar yang belum menikah.
Niat untuk melamar diutarakan kepada sang Abi yaitu Kiai Afnan, mereka langsung menyegerakan niat baik Ramzi tersebut. Tapi sang Abi salah melamar, yang Ramzi cintai Ning Delisha, tapi sang Abi melamar Ning Inayah.
Apakah pernikahan mereka akan bahagia dengan diawali tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Praktik
Setelah Dokter Azril pergi. Ramzi menghampiri Inayah. Inayah langsung menutup mata untuk beristirahat.
"Kenapa kamu menutup mata Ning? ketika ada dokter temanmu itu, kamu berkomunikasi lancar sekali, tersenyum bahkan tertawa-tawa," ucap Ramzi.
"Sudahlah cukup, aku tidak mau bertengkar denganmu Gus," ucap Inayah.
"Siapa yang mau bertengkar? hanya kamu tidak menghargai suamimu yang berada di ruang ini," ucap Ramzi.
"Apa kamu menghargai aku, ketika aku menangis dan ketakutan? Kamu tetap memaksa untuk berciuman," ucap Inayah.
"Memang ada yang salah jika aku menciummu?" tanya Ramzi.
"Yah salah, karena kamu suami yang tidak cinta istrinya sendiri. Memangnya ada perempuan lain yang kamu cintai? aku istrimu Gus," ucap Inayah.
"Kamu benar, aku tidak mencintaimu karena aku mencintai perempuan lain. Wajahnya sangat Ayu," ucap Ramzi jujur.
Deg
Hati istri mana, jika suaminya mengaku bahwa ia mencintai perempuan lain, bahkan memuji perempuan itu di depan istrinya.
"Siapa perempuan yang kamu cintai Gus?" tanya Inayah.
"Aku tidak mau membahasnya," jawab Ramzi.
"Apakah aku kenal dengan perempuan itu?" tanya Inayah kembali.
"Aku tidak mau menjawabnya," ucap Ramzi.
"Mau dibawa kemana pernikahan kita Gus. Kita menikah baru 2 hari dan kamu tega mengatakan bahwa kamu mencintai perempuan lain. Apakah kamu menunggu beberapa bulan lagi dan kamu akan menceraikanku?" tanya Inayah.
Inayah sebenarnya sakit hati mempertanyakan hal ini, sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan oleh pengantin baru. Umur pernikahan mereka masih seumur jagung.
"Aku tidak mau membahas hal itu?" ucap Ramzi.
"Kenapa tidak mau membahas sekarang? kamu mau membahasnya beberapa bulan lagi?" tanya Inayah, hatinya kini sudah hancur dan tidak percaya lagi akan cinta. Cinta pada pandangan pertama itu omong kosong.
"Cukup Ning, sudah cukup!" Ramzi menatap Inayah.
"Ning, hidungmu mimisan," ucap Ramzi.
Ramzi memberikan tisu untuk Ning Inayah.
"Apa pedulinya kamu denganku," ucap sinis Inayah, dia tidak mau mengambil tisu dari Ramzi.
Inayah duduk tegak lalu memencet hidung selama 10 menit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Saat memencet hidung Inayah bernapas lewat mulut. Cara untuk memberhentikan mimisan itu sangatlah cepat bagi Inayah. Setelah mimisannya berhenti, dia merebahkan tubuhnya kembali.
"Cukup bicaramu, aku ingin istirahat," ucap Inayah.
Setelah dirawat 3 hari di rumah sakit, Inayah bisa kembali beristirahat di rumah. Masih ada sisa waktu izin 3 hari lagi.
Sejak Ramzi berkata jujur jika ia mencintai perempuan lain, hubungan mereka sangat dingin, tidak ada tegur sapa lagi. Di kamar hanyalah tidur, Inayah di ranjang dan Ramzi di bawah.
Inayah tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Bagaimanapun juga Inayah adalah seorang Ning, keturunan Kiai yang di didik sedari kecil dengan agama, dia sudah belajar juga mengenai kewajiban seorang istri.
Pukul 4 pagi Inayah sudah bangun dan berkutit di dapur menyiapkan sarapan, membuat teh hangat untuk suaminya. Memilihkan baju ganti untuk suaminya, semua ia siapkan.
"Masya Allah Inayah, kamu baru sehat. Kenapa masak, kamu istirahatlah," ucap Ummi Laila.
"Aku sudah sehat Ummi, hari ini aku juga mau masuk kerja aja. Aku gak betah jika di rumah terus Ummi," ucap Inayah.
"Bukannya masih 3 hari lagi kamu izin, istirahatlah dulu Ina, agar kamu sehat benar," pinta Ummi.
"Ndak apa-apa Ummi, jangan khawatir. Inayah akan sehat-sehat aja," ucap Inayah.
"Kalau sakit jangan dipaksa yah, minum yang banyak. Jaga kesehatan," nasehat Ummi Laila.
"Wah sepertinya Ummi nih yang jadi dokter Inayah sekarang hehe," ucap Inayah.
Ummi memeluk menantunya itu dengan erat penuh kasih sayang.
"Inayah sudah masak menu kesukaan Ummi dan Abi, spesial deh menu hari ini," ucap Inayah.
"Dokter cheaf Ummi memang luar biasa," puji Ummi.
***
Di meja makan keluarga Kiai Afnan berkumpul tanpa terkecuali Ramzi, Inayah dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
"Ini Mas, makan yang banyak," ucap Inayah, dengan senyumannya.
Mereka akan menampilkan biasa saja, sebagai pasangan suami istri normal di depan Ummi Laila dan Abi Afnan.
"Terima kasih," jawab Ramzi.
"Abi, ini semua masakan Inayah loh, katanya menu spesial untuk kita berdua," ucap Ummi.
"Loh, seharusnya kamu istirahat dulu Inayah. Abi takut kamu kecapean nanti pingsan lagi. Nanti kata Abahmu, Abi gak sayang kamu," ucap Abi Afnan.
"Insha Allah Abahku ndak seperti itu Abi, orang Abi sama Ummi sayang aku banget kok. Ina juga ucapkan terima kasih karena Abi menuruti permintaan Ina yang tidak kasih tahu Abah dan umma kalau aku sakit. Terima kasih yah Abi," ucap Inayah.
"Abi jadi gak enak sama Abahmu, baru 2 hari kamu di sini tapi sudah sakit," ucap Abi Afnan.
"Takdir Abi, siapa yang mau sakit? memang catatan aku sama Allah, kemarin aku sakit. Kita 'kan harus menerima apa yang Allah kasih dengan iklas Abi," jawab Inayah.
"Subhanallah, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Dapat mantu kita komplit banget paketnya Ummi. Jika Ramzi sia-siakan kamu, sungguh bodohnya dia," ucap Abi Afnan.
Ramzi yang sedang makan tersedak tiba-tiba. Inayah langsung mengambilkan air minum untuk Ramzi dan menepuk-tepuk pundak Ramzi perlahan-lahan.
"Mas, pelan-pelan yah makannya, jangan buru-buru," ucap Inayah.
Ramzi hanya menganggukan kepalanya kepada Inayah.
"Oh iya Mas, hari ini aku mulai praktik di rumah sakit," ucap Inayah.
"Bukannya kamu masih punya waktu izin 3 hari lagi?" tanya Ramzi.
'Ngapain kamu tanya-tanya Gus, aku gak mau lihat terlalu lama wajahmu, hatiku sakit akibat mulut jujurmu. Mending aku bertemu dengan rekan dan pasienku,' batin Inayah.
"Udah biarkan istrimu kerja, profesinya dia itu membantu orang agar sehat kembali. Suatu profesi yang mulia," ucap Ummi.
"Anterkan Inayah ke rumah sakit Ramzi," titah Ummi.
'Ramzi menatapku, seakan memberi kode. Agar aku jalan sendiri?' batinku.
"Ah gak usah Ummi, biar aku jalan sendiri. Nanti gampang aku akan pesan online taksi," ucap Inayah.
"Kewajiban suami, untuk melindungi istri. Jika seorang suami tidak melindungi istri untuk apa Abahmu iklas menyerahkan kamu kepada Ramzi? itu karena Abahmu percaya, bahwa Ramzi mampu melindungimu dari apapun. Karena tanggung jawab Abahmu sudah diserahkan oleh Ramzi, suamimu," nasihat Ummi.
"Baik Ummi, aku akan mengantar Inayah ke rumah sakit untuk bekerja," ucap Ramzi.
Acara sarapan mereka berjalan dengan khidmat, karena masakan Inayah memang terlalu lezat. Sayang untuk dilewatkan.
Setelah kewajiban Inayah sudah diselesaikan, ia pun bergegas untuk berangkat ke rumah sakit.
"Ummi, Abi, aku berangkat dulu yah," ucap Inayah, sambil mencium punggung tangan Ummi dan Abi.
"Iya, jika kamu pusing jangan dipaksakan yah," ucap Ummi.
"Enjeh Ummi," jawab Inayah.
Ramzi mengantar Inayah ke rumah sakit, dalam hati kecil Inayah berkata, tak enak jika suaminya mengantar dia. Karena perasaan dia akan tidak nyaman selama perjalanan.
Dalam perjalanan mereka tidak membicarakan apapun, tiba-tiba Ramzi memberhentikan mobilnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Inayah, sontak Inayah menjadi ketakutan.
"Ma...mau apa kamu mendekati wajahku?" tanya Inayah.
Ramzi tidak mendengarkan ucapan Inayah. Ternyata dia hanya memasangkan seatbelt pengaman. Hati Inayah sudah bergemuruh sangat cepat.
Bersambung
***
Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.
Cek novelku yang berjudul 5 tahun menikah tanpa cinta. Tidak kalah seru loh...
Love you semua