Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Hasrat Terlarang Abangku
Nayla dan kedua temannya masuk ke dalam mobil Rita, sesuai kesepakatan Rita akan menurunkan Nayla di ujung jalan, di sana Nayla akan dijemput oleh Rio yang sudah menunggunya di seberang jalan.
"Guys, makasih banget kalian udah bantuin Aku." kata Nayla kepada Rita dan Neli.
"Yo i, santai saja Nay! Tapi, kamu harus hati-hati juga loh, kamu tahu Abang kamu tuh nggak mudah dibohongi, Mas Gerald tuh punya seribu mata," jelas Rita sembari mengendarai mobilnya.
"Iya juga sih, tapi kali ini Aku yakin Abang nggak akan tahu jika Aku pergi bersama Rio, secara kalian udah bikin Abang yakin, jika kita sedang kerja kelompok." seru Nayla yang sangat percaya jika sang Kakak tidak mungkin curiga.
Sementara itu, sebuah mobil dengan seseorang pria dengan wajah marah nya terlihat membuntuti mobil Rita dan kawan-kawan, yang tak lain adalah Gerald, dia terlihat mengepalkan tangannya, ternyata Nayla sudah berani membohonginya.
"Nayla! Kamu sudah berani bohongi Abang, mau kemana kamu Nay! Ini bukan arah rumah Rita, kamu tidak bisa pergi kemana-mana Nayla." ucap Gerald sembari terus mengikuti mobil Rita yang menuju ke suatu tempat.
Setelah beberapa saat mobil Rita berhenti di sebuah jalan, Rita menepikan mobilnya dan tak lama kemudian Nayla turun dari mobil itu.
"Thanks ya guys, besok pasti Aku kirim uang jajan kalian." seru Nayla sembari melambaikan tangan kepada kedua temannya yang beranjak pergi.
"Oke Nay! Have a nice day!" balas Neli membalas lambaian tangan Nayla.
"Daaahhh ... !"
Akhirnya mobil Rita pergi meninggalkan Nayla yang masih berdiri di tepi jalan raya, setelah itu Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Rio yang tentunya sudah siap membawa gadisnya malam ini.
"Halo Rio! Aku sudah sampai!"
"Baiklah sayang! Tunggu Aku di sana." balas Rio dengan senyum smirk nya. Nayla terlihat begitu bahagia akhirnya Ia bisa ngedate bareng pacar untuk pertama kali setelah beberapa hari Ia jadian.
"Kalian berdua cepat bawa gadis itu kemari, sebisa mungkin jangan sampai Nayla yang curiga jika Aku yang menyuruh kalian untuk menculiknya, jika kalian berhasil membawa Nayla ke sini, Aku akan memberikan Nayla kepada kalian secara cuma-cuma setelah Aku yang mendapatkan nya terlebih dahulu." seru Rio kepada dua orang suruhannya.
"Baik Bos! Akan sangat menyenangkan malam ini, kami sudah tidak sabar lagi." balas kedua pria berbadan besar itu.
"Pergilah!" titah Rio.
Akhirnya dua orang itu segera meluncur ke tempat di mana Nayla berada, Nayla terlihat berdiri sembari melihat ke arah jam tangan nya. Sedangkan di ujung jalan lainnya, terlihat mobil Gerald berhenti dan memperhatikan sang Adik penuh waspada, matanya bak elang yang fokus pada arah Nayla, Gerald ingin tahu apa yang dilakukan oleh Nayla di situ, setelah beberapa saat terlihat sebuah mobil minibus berhenti tepat di depan Nayla. Tentu saja Nayla sangat terkejut saat seorang pria turun dari mobil dan menarik paksa tangannya.
"Eh siapa kalian, lepaskan! Tolongggggg!" Nayla langsung dibawa masuk ke dalam mobil dan mobil itu langsung melesat pergi.
Tentu saja Gerald tak tinggal diam melihat adiknya dalam bahaya.
"Shiiit! Siapa mereka? Berani-beraninya ganggu Nayla, dia harus berhadapan dengan ku, tunggu saja kalian tak akan Aku ampuni!"
Gerald segera melajukan mobilnya dan membuntuti mobil minibus itu, dengan kecepatan maksimum akhirnya Gerald bisa memotong jalur mobil di mana Nayla di bawa. Seketika mobil minibus itu berhenti dan tentu saja Gerald segera turun dan membuka pintu mobil di mana Ia langsung menarik sang pengemudi.
"Hei siapa Lo!" seru salah seorang diantaranya.
Gerald tanpa sepatah kata langsung menghajar kedua pria itu dengan membabi buta, Gerald memiliki ilmu beladiri yang baik, sehingga Ia bisa mengalahkan kedua orang itu dengan mudah, tak butuh waktu lama kedua pria itu sudah tak berdaya di atas jalan raya, Gerald menghajar mereka tiada ampun. Sementara itu Nayla turun dari mobil dan melihat sang Kakak yang sedang menghajar kedua orang itu.
Gerald tampak ngos-ngosan, menghadapi dua orang sekaligus cukup menguras tenaganya, meskipun kedua orang itu bisa Ia kalahkan.
"Abang ... !" Nayla berlari menghampiri Gerald dan memeluk nya.
"Abang! Nayla takut ... untung saja Abang segera datang." ucap Nayla sembari menyembunyikan wajahnya pada dada sang Kakak. Namun, bukannya pelukan hangat yang Ia dapatkan, Nayla justru di bawa Gerald masuk ke dalam mobil dengan paksa.
"Ayo pulang!" Gerald terlihat menarik tangan sang Adik dengan sedikit kasar, sungguh pria itu sangat marah karena Nayla telah membohongi nya.
"Sakit Bang! Lepasin tangan Nay!" rengek Nayla sembari mencoba melepaskan tangannya dari genggaman sang Kakak.
Setelah Nayla masuk ke dalam mobil, Gerald segera membawa Nayla pulang, tanpa bicara sedikitpun Gerald terlihat tanpa senyum dan terus melajukan mobilnya untuk pulang.
Nayla tidak berani menatap wajah sang Kakak, Ia tahu betul jika Gerald saat ini sedang marah, Nayla memilih untuk diam dan memalingkan wajahnya. Sementara Gerald terlihat melirik kearah sang Adik yang tengah menengok ke arah jendela mobil.
Gerald mengusap wajahnya kasar, sungguh hampir saja Nayla dibawa orang, apa jadinya jika saat itu Ia tidak ada di sana, Nayla pasti sudah menjadi mangsa Rio.
Setelah mereka sampai di rumah, Nayla segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit terburu-buru, Ia segera mungkin ingin cepat sampai ke kamar nya sebelum dirinya di marahi habis-habisan oleh Gerald.
"Nayla tunggu!" seru Gerald sembari mengejar Nayla sampai ke kamarnya, Bi Jum yang melihat itu tampak terkejut, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.
"Mereka kenapa? Apa mereka bertengkar?" batin Bi Jum penasaran.
Sementara itu Nayla terus menuju ke kamar nya sementara Gerald dengan mudah mengejar sang Adik, dengan cepat Gerald menarik tangan Nayla dan membawa gadis itu ke hadapannya.
"Tunggu Nay! Kamu harus jelas kan dulu sama Abang, apa yang kamu lakukan di sana, Ha?" paksa Gerald agar Nayla mau mengakui.
"Nay ... Nay ... sedang!" Nayla tidak melanjutkan kata-katanya karena Gerald yakin jika Nayla sedang membuat janji dengan Rio, anak Arthur.
"Abang tahu, kamu sedang menunggu laki-laki itu, kan? Benarkan?" bentak Gerald sembari menatap mata Nayla dengan tajam.
"Iya ... Nay memang sedang janjian dengan Rio, tapi Nay nggak tahu bagaimana bisa pria-pria itu datang di sana dan menculik Nay!"
"Astaga Nayla! Sudah berapa kali Abang katakan, jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu, dia bukan laki-laki yang baik, Nay! Dia hanya memanfaatkan mu saja, Kamu tahu Rio itu adalah anak dari musuh besar Abang, jadi sebaiknya kamu jauhi dia." ucap Gerald dengan serius.
"Aku nggak perduli dia anak musuh Abang, Nay terlanjur cinta sama Dia, Bang! Nay sangat mencintai dia, Abang ngerti nggak sih, nggak mungkin lah Abang bisa ngerti, Abang tuh nggak akan pernah tahu apa itu cinta, jadi Abang nggak usah larang-larang Nayla untuk menjalin hubungan dengan Rio, karena sampai kapan pun Nay akan tetap mencintai Rio, Nay nggak peduli jika harus menghadapi Abang terlebih dahulu, Nay akan tetap menjadi pacarnya Rio, karena Rio juga cinta sama Nay, nggak kaya Abang, nggak pernah sayang sama Nay, Nay benci sama Abang!"
Mendengar penuturan dari sang adik seketika Gerald mencium bibir Nayla dengan buasnya, membuat gadis itu terengah-engah dan berontak.
Nayla mendorong tubuh sang Kakak dan spontan menampar Gerald dengan keras.
"Plaaakkk." suara tamparan itu begitu keras sampai membuat Gerald memalingkan wajahnya.
"Aku jijik sama Abang, jijik tahu nggak!"
...BERSAMBUNG ...
Mampir thor,Kayaknya seru nih...