Dea dijebak oleh kakaknya yang berakhir dia harus ditiduri oleh suami kakaknya yang membuat dia harus mengandung anak dari suami kakaknya dan terpaksa menjadi Madu dari sang kakak hanya karena kebahagiaan sepihak.
Menceritakan Liku-Liku perjalanan kakak adik angkat, yang terjebak dalam hubungan rumit dimana mereka harus berbagi suami yang sama dengan keadaan saling mengikhlaskan.
Zara Aridda sesosok wanita tegar dengan rasa penuh perhatian harus menikahkan suaminya dengan adiknya dikarenakan adiknya telah hamil anak suaminya, namun dia menyimpan rahasia yang besar yang hanya dia yang tahu.
Dea Aninda sesosok wanita yang tak kala tegar nya terpaksa masuk kedalam hubungan pernikahan kakaknya dan menciptakan sebuah keadaan rumit dimana dia terjebak dalam keadaan terpaksa dan kenyataan bahwa dia mulai mencintai suami kakaknya yang kini menjadi suaminya
Siapakah yang akan dipilih Tirta dikala Kedua istrinya sama-sama ingin menyerah
Siapakah yang akan bertahan dalam pernikahan tersebut dan siapakah yang pada akhirnya menyerah
Dan jangan lupa sosok Danu yang selalu ada untuk Zara dan masih menanti cinta Zara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 07: Bukan Salah Maduku
"Suami kakak sendiri di embat juga, gatau malu banget yah,"
"Iya, kayak gak ada laki-laki lain aja selain suami kakaknya,"
"Padahal kakaknya itu sayang banget sama dia, tapi kelakuan dia malah begini,"
"Bener bu, kelakuan tidak bermoral sih, kayak gak pernah dididik aja sama orang tuanya,"
"Dia kan anak angkat? yang pasti gak dididik bener,"
Dea berjalan dengan menundukkan kepalanya, hari ini dia ingin berkunjung untuk menemui ayah dan ibunya pasca kejadian semalam yang masih berbekas dihatinya, lagipula dia ada suatu hal yang ingin dia sampaikan kepada kakaknya.
Disepanjang jalan menuju rumah orang tuanya, bisik-bisik tetangga yang bernada sinis dengan kandungan kalimat yang pedas membanjiri Indra pendengaran Dea, kalau sudah begini dia harus apa selain menutup mata dan telinga atas tuduhan yang ditujukan kepadanya walaupun orang lain belum tau apa fakta sebenarnya.
"Eh Pelakor!" teriak seorang ibu-ibu melempar seikat sayur kepada Dea yang membuat Dea menghentikan langkahnya.
"Maaf Bu, ada apa yah?" tanya Dea menundukkan kepalanya.
"Ngapain kamu kesini lagi? Belum puas yah bikin malu keluarga kamu?" jawab ibu tersebut menghampiri Dea disusul ibu-ibu yang lain.
"Kamu tuh cuma bawa sial ada disini, nanti suami-suami kita lagi yang kamu rebut, suami kakak kamu aja udah kamu rebut kok, apalagi suami orang lain," ujar ibu yang satunya.
"Dasar perempuan gak tau malu,"
"Gak mampu cari lelaki lain yah? Sampai suami kakak sendiri di embat," ibu yang pertama tadi mendorong Dea sehingga ia terjatuh ketanah.
Dea meringis kesakitan tapi pandangan ibu-ibu tersebut seolah tidak peduli dan merasa bahwa yang mereka lakukan itu sah-sah saja.
Karma sosial? Inilah yang dihadapi Dea tapi kenapa harus Dea terkadang tuhan tidak adil bahkan Dea hanya korban disini bukan pelaku kejahatan tapi kenapa pandangan orang selalu melihatnya sebagai tokoh antagonis.
"Sorakin aja ibu-ibu, perempuan kayak dia mah udah gak punya harga diri lagi," ujar ibu tersebut memprovokasi yang lainnya.
Sehingga yang lainnya melemparkan sayur yang mereka beli kepada Dea yang kini terisak menahan tangisnya.
"Berhenti!" teriak Zara membuat ibu-ibu yang lain menghentikan aksinya.
Zara berlari menuju Dea dan bersimpuh dihadapannya. "Kamu gapapa dek?"
Dea mengangguk tidak apa-apa dengan air mata yang jatuh seketika di pipinya, ia seolah kehilangan rasa percaya dirinya untuk membela dirinya sendiri, seolah sifat Dea yang kuat dan tidak ingin di intimidasi itu telah hilang sekarang.
Zara menghapus air mata adiknya dan membantunya berdiri, ia kini menghadapi kumpulan ibu-ibu yang selalu menindas apa yang menurutnya benar.
"Apa yang kalian lakukan itu bisa mengubah sesuatu? Sadar bu, gak ada yang mau di posisi seperti adik saya dan bahkan saya sendiri tidak mau tapi kalau tuhan yang berkehendak kita harus apa?"
"Tapi dia itu pelakor,"
"Atas dasar apa ibu bilang begitu? Apa ibu tahu cerita detailnya dan bagaimana kejadian ini terjadi? Tidak kan? Ibu itu cuma tahu menceritakan sepenggal cerita yang di lebihh lebih kan dan memprovokasi setiap orang untuk menindas orang lain, sadar bu, ibu lebih memalukan dari sampah sekalipun," jelas Zara yang membungkam ibu-ibu tersebut beserta ibu-ibu yang lain.
"Dengar yah, kutegaskan kepada kalian semua sebagai seorang wanita, kejadian ini Bukan Salah Maduku, tapi aku sendiri yang menarik tangan suamiku ke depan penghulu untuk menikahi adikku, jadi apa dasar kalian menyalahkan adikku? Dan kalian takut suami kalian direbut?" Zara tertawa kecil. "Sejelek-jeleknya adik saya, dia juga punya standar pria nya sendiri dan saya rasa suami ibu-ibu sekalian jauh dibawah standarnya, jelas adik saya lulusan cumlaude yang berpendidikan, bukan ibu-ibu tanpa sekolah yang bisanya menceritakan kehidupan orang lain,"
Ibu-ibu tersebut memerah akibat malu sementara yang lainnya juga ikutan bungkam dengan kalimat Zara.
Setelah itu Zara menarik tangan Dea untuk pergi dari tempat itu.
"PANTAS SUAMI KAMU DIREBUT! KAMUNYA SENDIRI AJA GAK PINTER JAGA SUAMI," teriak ibu-ibu tersebut.
Zara menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangan tangan nya kepada Dea, ia berjalan kehadapan ibu-ibu tadi dan ....
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi ibu tersebut yang membuat temannya yang lain membulatkan mata sempurna.
"Anda tuli atau apa atas penjelasan saya? Anda lebih tua dari saya, tapi kalau anda berani berbicara hal yang konyol seperti ini lagi, saya pastikan dalam waktu dekat anda akan mendekam dijeruji besi," bisik Zara beringas.
Setelahnya Zara kembali menarik tangan Dea untuk pergi ke rumahnya meninggalkan ibu-ibu tadi yang diam tanpa suara dan bungkam boleh kalimat Zara.
Sekarang mereka juga tidak bisa menindas Dea lagi selaku istri kedua karena pembelaan kini datang dari istri pertama yang cukup untuk membungkam mulut sampah tersebut.
Sesampainya dirumah ternyata Gilang dan Ifa sedang tidak ada disana, sehingga Zara dan Dea hanya berdua saja dengan privasi mereka untuk berbicara empat mata.
"Kenapa kamu bisa ada disini sih, dek?" tanya Zara menyerahkan secangkir teh manis kepada Dea.
Dea menerima teh tersebut dan meminumnya, suaranya agak parau akibat menangis tadi yang membuat Zara prihatin dengan apa yang dihadapi adiknya.
"Ini mengenai aku dan Bang Tirta, kak," jawab Dea pada Zara yang sudah duduk disampingnya.
"Kenapa dengan Bang Tirta?" tanya Zara kembali.
"Kakak harus kembali pada Bang Tirta, aku akan meninggalkan Bang Tirta setelah anak ini lahir, aku gak mau ngerusak hubungan pernikahan kakak, aku mohon kak, setidaknya demi aku," ujar Dea pada Zara.
Zara terdiam sejenak, ia menatap kedua Manik mata adiknya yang menyiratkan kegundahan atas fakta yang sedang mereka bertiga jalani.
"Kakak gak pernah nolak permintaan kamu dek," Zara memberi jeda. "Tapi untuk kali ini Kakak tidak ingin melakukan ini, kamu harus sadar Bang Tirta itu mencintai kamu, dan dia lebih membutuhkan kamu,"
"Bang Tirta itu cintanya sama kakak," jawab Dea pada Zara.
"Tapi kamu juga cinta kan sama Bang Tirta? Apa kamu sanggung nanti berpisah dengan dia?"
Giliran Dea untuk terdiam, Zara melihat air muka adiknya yang kebingungan disertai perasaan bimbang dihatinya, apakah dia sanggup nantinya.
"Kamu adalah istri impian yang sempurna buat Bang Tirta, kamu bahkan bisa memberikan apa yang Bang Tirta mau selama enam tahun pernikahan kami," Zara melirik perut Dea dan meraih tangan adiknya.
"Kali ini kakak gak salah, kakak gak akan mau melepas suami kakak jika kamu bukan perempuan yang tepat, biarkan semuanya berjalan dek, kakak akan mencoba mengikhlaskan suami kakak, setidaknya kakak tau suami kakak berada di pelukan perempuan yang dia cintai juga," lanjut Zara.
"Darimana kakak tau kalau Bang Tirta mencintai aku?" tanya Dea.
"Karena kakak bisa melihat sorot mata berbeda saat kejadian dirumah sakit kemarin, seorang istri akan langsung sadar jika suaminya berbohong hanya dengan sorot matanya, dan Bang Tirta hanya belum tegas dalam perasaannya ada saatnya dia akan mengatakan semuanya, asal kamu tetap bertahan dalam pernikahan kalian,"
"Gak bisa kak," Dea berdiri dari duduknya.
Zara meraih tangan Dea dan ikut berdiri. "Asal kamu tahu, kakak itu mandul dan gak bisa punya anak, ada tumor di rahim kakak, jika kamu tidak bisa lakukan ini demi Bang Tirta setidaknya demi kakakmu ini,"
Zara perlahan berurai air mata setelah mengucap kalimatnya perasaan miris yang selama ini dia tahan-tahan tumpah, sedangkan Dea ikut menangis mendengar fakta yang terjadi pada kakaknya namun memilih bungkam tanpa suara.
"Berjanjilah pada kakak kalau kamu akan mempertahankan pernikahan kamu apapun yang terjadi, dan saat waktunya tiba kakak sendiri yang akan keluar dari hubungan ini, dan kamu akan menjadi istri satu-satunya Bang Tirta dimata hukum dan agama," lanjut Zara dengan nada lemah.
Dea tidak menjawab, ia melepaskan genggaman tangan kakaknya dan berjalan meninggalkan Zara yang masih menatap punggungnya.
- TBC
mubeng2 wae..ra uwis2...😃😃😃