Sebagai mahasiswa penerima beasiswa Tari harus tinggal di asrama kampus.
Tapi saat itu dia adalah yang paling terkahir datang dan tak bisa memilih kamar.
201 adalah kamar tari, kamar yang paling dihindari oleh semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Arum?
Panggilan pertama Tari terputus tanpa mendapatkan jawaban.
Tapi dia tidak menyerah, Tari coba kembali menghubungi nomor Arum.
Dan tak lama setelah terdengar bunyi Tut ... akhirnya panggilan itu terjawab.
"Arum!" pekik Tari langsung, sebelum dia mendengar suara diujung sana bicara.
"Astaga ya ampun Arum, akhirnya kamu menjawab panggilan ku! kamu dimana sekarang? kemarin itu kita hanya bertemu sebentar dan setelah itu kamu menghilang," cerca Tari, dia terus saja bicara, menceritakan semua kegundahan hatinya yang sedang dialami.
Dan di saat Tari ingin kembali berucap, tiba-tiba semua kata-kata itu tertahan di ujung lidah, saat dia mendengar suara halus yang membuatnya seketika merinding ...
Haaa ... Suara itu berembus, bahkan seolah hawa dingin itu sampai di tengkuk lehernya. Sontak saja Tari menoleh kebelakang dan tak melihat siapapun disana. Karena dibelakang tubuhnya adalah dinding.
Tari menjauhkan ponsel, kembali melihat nomor siapakah yang dia hubungi. Dia ingat dengan jelas jika tadi adalah Arum.
Benar kok, ini nomor Arum. Batin Tari, saat dia lihat dengan jelas panggilannya masih terhubung atas nama Arum.
Sekali lagi Tari coba mendekatkan ponsel itu ke telinga kirinya.
"Arum?" panggil Tari, namun lagi-lagi hanya suara angin berhembus pelan yang dia dengar.
Kali ini dengan cepat Tari memutuskan panggilan itu, tanpa diketahui olehnya jika Ada sesosok makhluk yang sadari tadi menempel di balik punggungnya. Berpegangan pada pundak Tari dengan sangat kuat.
Sesosok wanita buruk rupa dengan rambutnya yang panjang.
Tiap kali tari coba bicara dengan Arum makhluk itu meniup telinganya dengan lembut. Lalu tertawa pelan ketika Tari tak mendapatkan apa yang dia mau.
Tari yang merasa sangat penasaran ingin kembali menghubungi Arum, namun dia urungkan saat melihat mobil pak Basuki memasuki area parkir prodi. Lantas dengan segera dia kembali menuju pintu utama gedung ini.
Namun kali ini saat dia melangkahkan kaki Tari merasakan sesuatu yang aneh, dia merasa bagian pundaknya sangat berat, seolah sedang membawa beban. Padahal saat dia lihat tidak ada apa pun di pundaknya.
"Pagi pak Bas," sapa Tari, saat mereka bertemu di teras gedung.
"Kamu sakit?" tanya Basuki saat dia melihat wajah Tari yang terlihat pucat. Basuki adalah dosen yang cukup ramah terhadap mahasiswa, dengan Tari dia termasuk dekat sebagai dosen pembimbing dan anak didiknya.
"Tidak Pak, ini saya bawa hasil revisinya." jelas tari pula, saat ini mereka berdua sudah masuk ke dalam gedung dan menaiki anak tangga menuju lantai 2, di mana ruangan Basuki berada.
"Ya, ayo saya periksa," jawab Basuki, dia berjalan di depan sementara Tari mengikuti di belakang.
Tapi entah kenapa Tari merasa langkah kakinya berat sekali. satu langkah dia menaiki anak tangga tari bahkan sudah merasa terengah, sampai ada keringat dingin di dahinya.
Tari melihat ke depan dan sudah tidak ada pak Basuki di sana. Sementara dia masih berada di tengah-tengah tangga.
Hah hah hah, nafas Tari terengah, pikirannya buntu. yang dia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya bisa segera sampai di lantai 2.
Dan di antara langkah kaki Tari yang berat, mahluk mengerikan itu semakin menginjak-injak pundak Tari. Kini dia berdiri tepat di pundak itu, tubuhnya berubah jadi sangat besar sampai bisa menyentuh langit-langit gedung.
Hiii hii hii hiiiiiii
tari, pindah kamar aja!
tp klu panik lupa smua👻
Aplgi saat tari bertemu bapak yg menyuruhnya nginap asrama.
Dn hantu bayangan putih itu jngan roh nya arum..diterkurung disana..