Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Bersalah
Anna mengambil kertas yang terjatuh dan sudah ada cap sepatu di sana, sekilas membaca tulisan yang tertera. Anna tidak mengerti dengan tulisan itu, entah apa maksudnya. Ia ingin menyerahkan kertas itu pada Reno, namun pria itu tampak sedang sibuk menyambut kertas yang diserahkan oleh ketua kelas masing-masing kelas.
Alan sudah hilang dari pandangan Anna. Para cewek alay sibuk melihat hasil foto bareng Alan. Beberapa orang ketua kelas tampak sibuk mengemas meja, proyektor, layar dan barang-barang elektronik lainnya.
“Pak!” panggil Anna mengikuti Reno yang beranjak meninggalkan lapangan.
“Minta foto bareng, ya? Fotonya kapan-kapan lagi aja, saya sibuk,” jawab Reno sambil berlalu cepat.
Anna mengernyit. Kok, dia dikatain minta foto bareng? Ya ampun pe de banget tuh orang. Anna hanya ingin menyerahkan selembar kertas yang ia temukan.
***
Anna duduk menyendiri di sudut kantin. Sesekali mengunyah kerupuk. Sengaja ia duduk menyendiri di meja itu karena sedang merasa terasing. Bukan hanya teman-teman sekelasnya saja yang memojokkannya atas keputusan Alan membubarkan acara, tapi para siswa dari lain kelas juga menyudutkannya.
Ia juga galau setelah tadi sempat dipanggil ke kantor dan mendapat semprotan pedas dari guru karena menjadi penyebab bubarnya acara yang dipandu oleh Alan.
Iya, memang Anna sudah salah. Tapi komitmen yang Alan pegang terlalu keras, akibatnya ya begini, sama sekali tidak ada toleransi.
“Hei, bengong aja sih, An? Mikirin yang tadi, ya?” Joli muncul dari arah belakang sembari merangkul pundak sahabatnya itu. Kini ia duduk di sisi Anna.
“Gimana nggak kepikiran? Mereka semua pada sebel sama gue.”
“Masih ada orang yang nggak sebel sama lo. Gue orangnya. Udah ah nggak usah dipikirin. Bentar mereka juga udah enak lagi kok sama lo. Apa lagi kalo ada kabar heboh yang mampu menggeser persoalan Alan di sekolah, ingatan mereka tentang Alan perlahan pasti berangsur hanyut.”
“Tapi serius, gue ngerasa bersalah banget.”
“Kalo hari ini kita sama-sama nggak bisa dengerin apa yang Alan sampaikan tentang motivasi yang nilainya wow banget, lain kali kita sendiri yang akan menghadap ke dia dan minta supaya dia dateng ke sekolah kita lagi. Gimana?”
“Ya ampun, lo baik banget, sih? Makasih, ya. Emangnya lo tau dimana alamat rumahnya?”
“Dia kan pernah masuk majalah trendy, gampanglah soal itu. Udah dong, jangan manyun, gue sama Arini pasti ngebantuin elo.” Joli mempererat rangkulannya.
“Thanks.”
Tatapan Anna dan Joli tertuju ke kursi di depan yang ditarik oleh Arini, gadis itu duduk sambil meletakkan semangkuk mie rebus.
“Mie instan lagi,” celetuk Anna. “Nggak bosen lo? Lama-lama penyakitan loh kalo sering-sering makan mie instan.”
“Iih.. Anna, jangan nakut-nakutin, deh. Namanya juga gemar mie instan, ya gini jadinya, sarapannya mie instan mulu. Enak, sih,” sahut Arini kemudian memakan mienya dengan lahap. “Kalian pasti lagi ngomongin Alan, si ganteng itu, kan?”
Anna bertukar pandang dengan Joli kemudian tersenyum.
“Alan ganteng, ya? Hidungnya mancung, bibirnya merah, badannya gagah, tajir, pinter lagi. Satu lagi, mobilnya lamborghini. Sumpah, sempurna banget jadi cowok.” Arini membayangkan wajah tampan Alan. “Katanya dia belum punya calon, apa gue ngedaftar aja kali, ya? Heheee... Tapi kayaknya diketawain malaikat deh kalo gue minta sama Tuhan biar dia jadi jodoh gue. Ulu uluuuuuuh...”
“Ngimpi lo kejauhan, Rin,” balas Joli geleng-geleng kepala.
TBC