Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis kecil prapta
Pagi itu Mereka tak langsung berangkat ke kantor, Safana memaksa Prapta pergi ke labolatorium.
“Sudah banyak orang muda yang terserang stroke karena tak menjaga pola makan. Mas nggak mau kan jadi salah satu korbannya ?”
“Iya, iya, ini Aku turuti“ Prapta mengusap puncak kepala Safana dengan tangan kirinya yang tak memegang setir. Entah kenapa, perasaan itu selalu timbul dihatinya. Perasaan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya, perasaan nyaman berada di sisi seorang gadis, perasaan ingin menyayangi gadis tersebut dan perasaan bahagia jika melihat wajahnya yang teduh dan penuh kasih.
Ponselnya tiba\-tiba berdering, menghentikan prapta mengusap rambut Safana yang halus.
“Hallo“ Prapta menjawab
“Kau dimana ?, Aku menunggu diruanganmu“ suara Heidy di seberang telephone.
“Aku sedang diluar, sehabis jam makan siang nanti Aku ke kantor. Kau tunggu saja diruangamu, nanti Aku yang menemuimu.“
Mendengar ucapan Prapta, Safana bisa menebak siapa wanita yang barusan menghubungi Prapta.
“Mbak Heidy ya ?”
“Iya, kenapa ?, Kamu cemburu ya ?” Prapta menggoda
Safana mendelik kaget mendengar pertanyaan Prapta, kepalanya langsung menggeleng cepat.
“Ge er. Mbak Heidy itu yang naksir mas Prapta, bukan Saya“ Safana mencibir.
“Kalau itu sih Saya sudah tau“ Prapta menyahut tenang.
“Kalau sudah tahu kenapa nggak dipacarin ?” Safana mengerutkan kening.
“Usianya sebaya dengan Saya, terlalu matang buat Saya. Saya maunya yang muda seperti Kamu.”
“Hmm, nanti Saya pikirkan“ Safana melipat tangannya ke dada sambil pura\-pura mengamati sosok Prapta.
Prapta yang melihat kelakukannya langsung tersenyum lebar, Ia merasa gadis ini benar\-benar tak membosankan.
Setelah serangkaian tes pemeriksaan darah, urine, rontgen dan EKG Prapta akhirnya mendapatkan hasil kesimpulan diagnose kondisi kesehatannya.
“Semuanya normal dan bagus. Tapi makan dan olah raga tetap harus dijaga agar kondisinya tetap prima“ Dokter menjelaskan.
Prapta melirik Safana dengan senyum simpul, teringat janji gadis itu yang akan memasak untuknya.
“Oh ya, Kalian berdua sudah punya anak ?”
Safana melongo kaget ketika mendengar pertanyaan dokter.
“Kami sedang merencanakan“ sebelum Ia sempat menjawab Prapta sudah duluan menukas dan menarik bahunya dengan mesra. Safana yang melihat kelakuannya mendelik gemas.
Keluar dari labolatorium dan masuk ke mobil Safana sudah tak sabar ingin membalas dendam. Ia memukul lengan Prapta.
“Dasar tukang tipu !“
Prapta yang tengah mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman parkir labolatorium tertawa lepas.
“Biarin, biar Dokternya sekali\-kali ngerasain dikerjain“ Prapta menangkap pergelangan tangan Safana dengan tangan kirinya.
“Tapi malu\-maluin tahu“ Safana berusaha melepaskan cengkraman tangan Prapta.
“Masa Kamu malu pura\-pura jadi istri pria tampan dan sukses kaya gini“ Prapta menggoda Safana.
“Bukan itu, malu kalau sampai nantinya Kita ketahuan bohong“ Safana meluruskan.
“Aku sama Mas kan belum tentu nggak kesana lagi. Gimana kalau bulan depan atau tahun depan Mas punya istri terus mengandung dan mau periksa kandungan. Bakal shock tuh dokter lihat tampang istri Mas yang beda,“ kali ini wajah Safana terlihat serius.
Prapta melepaskan cengkaraman tangannya dan terdiam.
“Kita nikah sungguhan gimana ?” entah kenapa mendadak tercetus keinginan memiliki gadis itu.
Safana yang menafsirkan ucapan Prapta sebagai gurauan menekuk wajah masam, merasa nasehatnya seperti tak di dengar.
Prapta yang menyadari Safana salah paham padanya mengusap ujung kepala gadis itu.
“Maaf ya, Mas tadi becandanya kelewatan,”
Safana masih saja diam tak bergeming, Prapta yang tak enak menepikan mobil.
“Safana“ Prapta meraih dagu Safana dan menolehkan ke arahnya.
“Masih marah ?” Prapta bertanya hati\-hati.
Safana diam tak menjawab, Prapta membiarkannya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut agar kebekuannya mencair.
“Lain kali Aku nggak mau becanda kaya gitu“ akhirnya Safana buka suara.
“Iya, nggak lagi. Mas janji“ Prapta merengkuh kepala Safana dan mencium keningnya. Ciuman paling sopan yang pernah Ia berikan pada seorang gadis.
Tapi buat Safana itu ciuman pertamanya dari seorang pria yang bukan Kakaknya. Safana mencoba menutupi keterkejutannya dengan bersikap biasa dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Prapta tak bedanya dengan Ardi kakaknya yang kerap kali menggoda dan menunjukkan rasa sayang pada adiknya.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya