Apa jadinya jika dua orang yang berbeda kepribadian disatukan oleh ikatan pernikahan???
Vanka gadis cantik dan periang dijodohkan dengan Varo most wanted sekolah yang sifatnya dingin, cuek dan tak tersentuh.
" Gue mau cerai!!"
" Oke,tapi gue minta hak gue sebagai suami. layani gue diatas ranjang!"
akankah mereka berhasil melewati lika liku kehidupan dan bahagia? ataukah mereka akan berpisah karena adanya orang ketiga?
Baca agar tahu kisah mereka!!🤗
(typo bertebaran harap maklum karena cerita ini diketik dengan malas malasan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon evii_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7(Revisi)
Rumah baru mereka sedikit jauh dari sekolah, apalagi rumah kedua orang tua mereka. Sepertinya 4 orang paruh baya itu sengaja membeli rumah yang letaknya jauh dari jangkauan mereka. Agar Varo dan Vanka belajar mandiri.
Rumah minimalis modern berlantai dua dengan hamparan taman yang luas. Gambaran perumahan yang Vanka impikan.
"Buruan masuk, ngapain diem aja. Cosplay jadi patung?” ucap Varo datar, membuat Vanka naik pitam seketika.
"Sabar, barang bawaan gue banyak tahu!" kode Vanka, berharap Varo peka dan membantu membawakannya. "Sini, gue bawain koper lo!" menyahut koper besar yang di bawa Vanka. Kini tinggal satu kardus berisi buku dan peralatan sekolah.
"Ribet banget jadi cewek!" Varo mendesis, haruskah membawa barang sebanyak ini. Pasti banyak barang tidak penting di dalam koper tersebut.
"Iya-iya si paling nyebelin!" sindir Vanka. Varo menoleh, "sama suami nggak boleh ngelawan, Vanka sayang!" seketika Vanka terdiam. Baper.
"Jijik tahu nggak, panggil nama aja nggak usah pakek sayang. Ilfil gue!" serunya. Jaga image. Padahal hatinya tengah meleleh sekarang.
"Tapi, lo sukakan?" goda Varo, menyenggol bahu Vanka secara berulang-ulang.
"Ga!" jawab Vanka singkat, padat, dan jelas.
“Kamar gue dimana?“ tanya Vanka celingukan.
Varo mengernyit bingung, "maksud lo kamar kita?” tanya Varo balik, Vanka gelagapan sendiri.
"Jadi kita tidur sekamar,” tanya Vanka.
“Iya, kecuali kalo lo mau tidur di sofa depan tv.” Varo menuding kan jarinya kearah sofa yang dimaksud.
"Rumah sebesar ini, masa iya cuman punya satu kamar?" menatap Varo penuh curiga.
"Iya, selain kamar utama. Semua ruangan di jadikan perpustakaan, ruang kerja, dan gudang sama mama!" jelas Varo, membuang muka. Berharap Vanka percaya dengan kebohongannya.
"Oke, tapi ingat jangan macam-macam!" peringat Vanka dengan suara dingin. Mengancam. "Iya, gue janji!" Varo dan Vanka pun masuk kedalam kamar utama.
Vanka merapikan semua pakaian kedalam lemari. Sedangkan Varo, duduk santai di balkon kamar seraya bermain game. "Var, gue ke dapur ya!"
"Ngapain?"
"Nyuci baju, ya masak lah. Pakek nanya lagi!" ketus Vanka dongkol. Sudah tahu dapur tempat memasak tapi Varo masih saja bertanya.
"Bersih-bersih dulu!" saran Varo, walaupun terkesan seperti memberi perintah. "Nanti aja!" tolak Vanka.
"Terserah, tapi yakin mau makan di tempat kotor?" Lagi-lagi Vanka mengalah dan memutuskan bersih-bersih dulu sebelum memasak makanan.
...----+++----...
Vanka membersihkan rumah dengan peralatan seadanya. Di rumah ini tidak ada sapu ataupun kain pel, hanya ada penyedot debu saja.
Karena itu, Vanka tak membutuhkan waktu lama saat membersihkan rumah ini. Memang belum sepenuhnya bersih. Tapi, rumah ini terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Dapur menjadi tujuannya kini. Vanka mengutak-atik lemari es. Mencari bahan makanan yang tersedia. Namun, tidak ada apa-apa di sini. Sepertinya bunda dan ibu mertuanya lupa mengisi kulkas.
“Di dapur nggak ada bahan makanan sama sekali, terus gimana nih?“ kebingungan sendiri. Vanka duduk sejenak, mencari solusi untuk masalah ini.
"Nggak jadi masak?" suara Varo membuyarkan lamunan Vanka. "Tidak ada bahan makanan sama sekali di sini!" ucapnya, mencurahkan keluh kesahnya.
“Hari ini delivery aja dulu. Besok setelah pulang sekolah kita ke mall, belanja bulanan. ” ujar Varo, memberi solusi. Vanka sumringah, malam ini dia tidak perlu bersusah payah memasak.
"Oke, lo mau apa?" bertanya seraya membuka aplikasi go food. "Terserah!"
"Jangan kek cewe lo, terserah-terserah. Pilih makanan yang lo mau, atau gue nggak bakal biarin lo tidur!" ancam Vanka.
"Mau makan lo, boleh?" Varo iseng bertanya, siapa tahu iseng-iseng berhadiah. "Lo mau bogeman gue?" balik bertanya dengan raut muka garang.
"Dimsum sama ayam krispi!" ucap Varo, akhirnya menyerah. Tidak bisa melawan Vanka.
"Nah gitu, jangan nyusahin gue!" Vanka mengutak-atik handphonenya. Memesan go food.
"Panggil gue kalo ojolnya nyampek." Vanka mengangguk mengiyakan. Mungkin membutuhkan waktu lama, mengingat kawasan perumahan mereka sedikit jauh dari pusat kota.
...----+++----...
Hari ini Varo dan Vanka pergi ke sekolah Bersama-sama. Vanka kesal dengan bundanya, lantaran sepeda motornya telah dijual tampa memberitahunya. Alhasil, Vanka menebeng Varo kini.
“Var, nanti turunnya di halte deket sekolah aja ya!” mohon Vanka. Varo mengangkat sebelah alisnya apakah berangkat bersamanya itu hal yang memalukan.
“Lo malu berangkat sama gue?” tanya Varo tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.
Vanka gelagapan, “enggaklah, tapi gue ngga mau jadi pusat perhatian karena berangkat bareng lo!” jelas Vanka, meluruskan kesalahpahaman.
"Oke!" Varo menambah kecepatan, bukan karena marah. Namun, jam menunjukkan pukul 06:45 sedangkan gerbang akan di tutup pada pukul tujuh. Dan perjalanan mereka masih jauh.
Begitu mendekati halte, Varo mengurangi kecepatan motornya dan memberhentikan motornya tepat di depan kursi halte. Seperti yang Vanka mau, Varo menurunkan Vanka di halte depan sekolah.
"Tunggu sebentar!” ucap Vanka menghentikan Varo yang akan melajukan motornya. "Apalagi?"
"Salim!" Vanka meraih tangan Varo dan mencium punggung tangan laki-laki itu. Sontak, Varo tersenyum lebar. Salah tingkah.
"Udah ya, gue duluan!" Vanka berlari memasuki gerbang. Meninggal Varo yang masih melongo.
"Vanka, tungguin gue!" Sherly berteriak memanggil, ingin berjalan bersama sahabatnya. "Tumben lo, jam segini baru dateng?" "Kesiangan gue, mana belum pakek lipstik lagi. Pasti bibir gue pucet!"
Vanka melengos, sahabatnya yang satu ini persis cabe. Ya, walaupun tingkahnya tidak sama persis. Tetap saja orang-orang yang tidak tahu akan beranggapan, Sherly gadis nakal yang susah di atur.
"Ngomong-ngomong, lo udah gituan belum sama Varo?“ celetuk Sherly dengan nada menggoda.
Vanka menatap Sherly tajam, “sepertinya otak lo harus dicuci pakai pemutih deh Sher biar bersih.” seru Vanka nyolot.
“Yaelah Van, gue cuma nanya kali!” balas Sherly santai. “Tapi pertanyaan lo unfaedah jamal.” sahut Hana, meraupi wajah Sherly.
"Ya, maaf!" Sherly menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Bel berbunyi, menandakan pelajaran akan segera di mulai.
...-----+++-----...
"Var, entar malem jadi latihan kan?" seru Kevin mengingatkan. "Ya, setelah isya." jawab Varo. Mereka harus rajin berlatih, mengingat turnamennya akan di selenggarakan minggu ini.
"Var, bini lo tuh!" menunjuk sekelompok gadis dari arah masuk. Varo menoleh, manik matanya bertabrakan dengan manik mata Vanka. Namun, Vanka tak menyapa. Memilih diam, Pura-pura tak mengenal.
"Terus?" Varo meminun es teh manisnya.
"Sapa kek, suruh gabung sama kita!" seru Andrean antusias. Asal kalian tahu, teman-teman Vanka cantik-cantik semua. Tentu saja, membuat Andrean bersemangat.
"Ga!" sahutnya datar.
"Kurang asik lo!" ejek Andrean kesal. "Bini-bini gue, ngapain lo yang ribut, ******!" Varo kesal, kala melihat Andrean menatap istrinya dengan sangat lama. Vanka adalah miliknya dan tidak ada yang boleh merebutnya.
"Gue tuh mau gabung sama si cabe, bukan sama istri lo. Jadi jangan salah paham bestie!" Andrean mencolek dagu Varo nakal. Ala bencong-bencong kekinian.
"Jijik anjir!" Kevin melempar sandal yang dipakainya kearah Andrean. "Diem lo!" Andrean Memelototi kevin dengan mata sipitnya.
"Ngomong-ngomong, gimana malam pertama lo sama Vanka?" tanya Andrean setengah berbisik. Berharap tidak ada kuping asing yang mendengar pertanyaannya.
"Sangat mengerikan, gue di teriakin saat kepergok meluk dia. Gadis kolot itu sebelas duabelas sama kucing garong!" Seketika tawa Andrean dan Kevin pecah. Baru kali ini, ada gadis yang menolak pesona seorang Varo. Pasti harga diri temannya terkoyak sekarang.
"Yang sabar ya, Var!" seru kevin, menepuk pundak Varo berulang kali dan tertawa lagi.
makasih udah mau mampir ke sini☺️ dan maaf kalau cerita nya nggak nyambung🙏
jangan lupa like, coment dan vote ya ☺️
dicuekin suami ru nyesal