Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederhana apapun itu,sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik.
Mau berakhir tragis, bahagia, atau menggantung sekalipun, setiap cerita tentang cinta selalu ada hikmah yang bisa kita ambil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daetsma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 7
Lina dan Gilang
Aku dan Gilang telah sampai di rumah orangtuanya Gilang. Rumahnya jauh dari sekolah kami, Gilang kost sama temannya agar bisa fleksibel ke sekolah. Gilang adalah anak dari keluarga yang mapan, halaman rumahnya pun luas. Ada beberapa mobil dan motor terparkir rapi dirumahnya. Beberapa karyawan dengan celemek rapi terlihat membawa makanan dan buah-buahan. Aroma makanan yang sangat lezat mengambang di udara. Gilang mengajakku melintasi halaman, menuju pintu depan.
Aku tiba-tiba ingat Amel, apa yang pernah ku bilang pada Amel? Siapa yang GR? Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena cahaya matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan.
Urusan GR memang kadang gila. Kita benar-benar tidak bisa lagi berpikir waras dan rasional, tertutupi oleh ilusi dan mimpi. Menerjemahkan semua kejadian berdasarkan yang mau kita dengar atau lihat saja. Padahal nyatanya? Tidak sama sekali.
Saat aku bertatapan dengan orangtuanya Gilang aku sedikit gemetar bersalaman dengan Bunda dan Ayahnya Gilang. Orangtuanya Gilang sudah nunggu diruang tamu. Bunda dan Ayah Gilang, Amat ramah dan menyenangkan. Dan saat apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh mereka, aku hanya terpikir menatap keramik di bawah kakiku. Aku menelan ludah, lantas menarik napas panjang sekali. Ternyata orangtuanya Gilang cuma membicarakan sebuah pekerjaan padaku. Karena mereka tahu kalo aku pintar dan fokus belajar di sekolah.
Aku menghela napas panjang. Akulah yang berpikir aneh-aneh, menduga aneh-aneh. Gilang lurus aja selama ini. Gilang memuji aku yang sangat pintar, cantik dan baik hati. Orangtuanya Gilang juga bilang, aku pintar, cantik dan baik hati jadi mereka ingin menawarnya sebuah pekerjaan dimana tempat itu cocok untukku.
Aku perlahan tersenyum dan menyandarkan badan ke sofa.
"Lina mengingatkanku waktu masih muda persis kaya Lina sekarang yang masih SMK." Bunda Gilang menatapku, tersenyum, "Pintar, cantik dan tentu saja mandiri. Ayah-nya Gilang dulu naksir aku gara-gara sebuah pekerjaan dan aku sangat pintar juga loh." Ayah gilang tertawa disebelah Gilang. Gilang ikut tertawa juga.
Aku hanya tersenyum tanggung.
Tidak kali ini. Jauh-jauhlah sana GR.
Aku tidak menerima tawaran pekerjaan tersebut. Karena aku masih SMK dan ingin melanjutkan kuliah. Setelah itu aku pulang di antar oleh Gilang pakai motor.
Sampai di kos ada Amel didepan rumah yang sedang main hp dan bertanya padaku.
"Eh Lin kok cepat sekali kamu pulang?" Amel bertanya
"Hiks, ternyata kita senasib, Mel. Benar-benar bagai debu disiram air, musnah habis semua imajinasi versiku."
"Emang kamu kenapa Lin? kok ngomongnya seperti itu." Amel bertanya lagi
Aku diajak Gilang buat ketemu sama orangtuanya hanya untuk membicarakan sebuah pekerjaan.
"Aku juga sudah tahu, bahwa aku selama ini cuma ke GR-an." Padahal Gilang orang nya suka ramah dan baik hati ke semua orang. Dan Gilang dekat ke semua orang yang ada di sekolah. Jadi selama ini bukan salah dia juga tapi salah kita yang suka ke GR-an.
Dari sini kita paham jadi orang jangan terlalu ke GR-an karena menyiksa diri sendiri, hanya ada kesedihan bukan kebahagiaan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?
Urusan GR ini memang kadang gila. Kita benar-benar tidak bisa lagi berpikir waras dan rasional, tertutupi oleh ilusi dan mimpi.
Besok nya Lina memulai hidup baru sama seperti Amel, mereka berdua lebih fokus dengan pelajaran agar bisa membahagiakan orang tua kelak nanti. Mereka berdua melupakan Gilang, lagian laki-laki banyak tidak cuma satu. Kita percaya bahwa tuhan memberikan kita yang baik, dan kejadian ini mempunyai hikmah yang bisa kita ambil. Jadi ke depan nya kita harus benar-benar memilih dan mencintai kita dengan tulus dan saling menyayangi dari pada cuma sepihak yang mencintai itu lebih sakit.
Hari demi hari kit jalani, sampai kelulusan sekolah kami mendapat nilai yang memuaskan dan itu sangat berarti buat kami dan bisa membahagiakan orang tua kami. Kami tidak sia-sia dengan fokus belajar dan tidak memikirkan apapun yang membebankan pikiran kami sehingga kami bertiga juara di kelas dengan hasil keringat sendiri.
sukses selalu buat karyamu
mampir juga di karyaku Thor
kisah Aluna
My Kids My Hero