Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut lewat celah tirai jendela, menyinari sudut‑sudut kamar yang masih hening. Alena terbangun lebih dulu, mengerjapkan mata perlahan sambil menyadari posisinya—masih berbaring berdampingan dengan Elio yang tidur nyenyak di sebelahnya. Napas pria itu teratur, raut wajahnya terlihat jauh lebih santai dibandingkan saat terjaga. Alena tersenyum kecil, lalu berusaha bangun tanpa mengganggu tidurnya. Namun, baru saja ia menggeser tubuh, lengan Elio melingkar santai di pinggangnya seolah tidak mau melepaskan.
“Sudah pagi?” gumam Elio dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih setengah terpejam.
“Ya, sebentar lagi. Kita harus bersiap, ingat kan rencana hari ini?” jawab Alena pelan sambil mencoba melepaskan diri pelan‑pelan.
Keduanya segera bersiap, mencuci muka dan berpakaian rapi. Saat keluar kamar, mereka baru menyadari suasana agak berbeda. Di ruang tengah, hanya ada pesan tertulis yang ditinggalkan kedua kakek: “Kami ada urusan lama di kota tua, nikmati hari berdua saja—jangan terlalu sering bertengkar.” Tulisan itu diakhiri gambar wajah tersenyum sederhana.
Alena dan Elio saling pandang lalu tertawa kecil. Ternyata mereka berdua saja yang akan berkeliling hari ini.
“Berarti rencana kita makin leluasa. Tidak perlu menyesuaikan langkah atau jam istirahat,” ujar Elio dengan semangat, membukakan sepatu untuk Alena sebelum mengenakan miliknya sendiri.
“Tapi kita harus tetap hati‑hati, jangan sampai tersesat,” ingat Alena meski hatinya juga merasa gembira.
Pertama kali mereka mengunjungi kawasan sekitar Danau Kawaguchi, tempat yang menawarkan pemandangan paling ikonik: Gunung Fuji yang megah berdiri tegak di seberang air yang tenang. Pagi itu langit sangat cerah, sedikit saja ada awan putih yang melayang pelan, membuat siluet gunung dengan puncak bersalju terlihat sangat tajam dan indah. Banyak wisatawan lain yang juga berfoto, namun Alena merasa momennya lebih istimewa karena ada Elio yang selalu ada di sampingnya, sesekali mengatur posisi berdiri atau mengusap rambutnya yang berantakan kena angin.
“Tunggu sebentar, ada yang menempel di pipimu,” kata Elio tiba‑tiba, lalu mengusap pipi Alena dengan punggung jari. Saat Alena menatap bingung, ia justru tertawa kecil. “Bohong. Tapi wajahmu terlihat sangat cantik di latar belakang Fuji ini.”
Alena langsung memukul pelan lengan Elio sambil merona. “Dasar suka menggoda!”
Setelah puas berjalan di pinggir danau dan mengunjungi taman bunga yang bermekaran indah, perut mereka mulai berbunyi menandakan sudah waktunya makan siang. Berdasarkan informasi yang sudah dicari Elio sebelumnya, mereka menuju sebuah restoran kecil bergaya tradisional Jepang yang tersembunyi sedikit di antara deretan toko. Suasana di dalamnya tenang, beralaskan tikar anyaman, dan berbau harum aroma kaldu yang mendayu.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Elio sambil menatap daftar menu yang sebagian besar tertulis dalam huruf kanji, hanya ada sedikit keterangan bahasa Inggris.
“Mungkin ramen dan sushi? Atau ada yang lebih khas di sini?” Alena mengerutkan kening sedikit bingung.
Pemilik restoran yang ramah menyapa, dan Elio dengan percaya diri memesan set hidangan lengkap: ramen miso khas daerah, sashimi segar, tempura renyah, serta sepiring okonomiyaki yang dimasak langsung di meja.
Saat hidangan datang, uap panas mengepul dari mangkuk ramen. Kuahnya berwarna krem keemasan, bumbunya meresap sempurna ke dalam mi yang kenyal. Alena menyesap sedikit kuahnya dan langsung berbinar. “Wah, rasanya lebih kaya dan gurih daripada yang pernah kucoba di rumah.”
“Karena bahan dan cara masaknya memang berbeda. Coba tempura ini—jangan langsung digigit besar, nanti panas,” Elio mengingatkan sambil menyodorkan sepotong udang berbalut tepung garing.
Momen makan siang itu berjalan santai dan penuh obrolan ringan. Mereka tertawa saat Alena sedikit kesulitan menggunakan sumpit untuk mengambil potongan ikan kecil, hingga Elio akhirnya dengan santai membantu mengangkatkannya ke piring gadis itu.
“Bisa saja sendiri lho…” protes Alena meski bibirnya tersenyum.
“Tentu saja bisa. Tapi kan lebih cepat kalau dibantu,” jawab Elio polos, lalu memakan sisa makanannya dengan lahap.
Setelah perut kenyang, mereka berjalan lagi menuju kawasan perbelanjaan dan jalan pejalan kaki yang lebih ramai. Di sana banyak toko cenderamata, kedai teh, dan gerobak jajanan pinggir jalan yang memikat perhatian. Udara siang itu terasa nyaman, tidak terlalu terik berkat pohon‑pohon rindang yang menaungi sepanjang jalan.
Salah satu hal yang paling menyenangkan adalah mencicipi berbagai jajanan khas. Di sebuah kedai kecil, mereka membeli takoyaki—bola‑bola tepung berisi potongan gurita yang masih panas, disiram saus manis‑gurih dan taburan serpihan ikan yang menari kena uap panas.
“Hati‑hati panas,” seru Elio saat melihat Alena langsung ingin menggigitnya besar‑besar. Ia memotong satu bola menjadi dua, lalu menyuapi setengahnya. Alena menikmatinya dengan mata terpejam, sensasi hangat dan lembut di dalam mulutnya terasa nikmat.
Selanjutnya mereka mampir mencoba taiyaki, kue berbentuk ikan yang diisi pasta kacang merah manis dan lembut. Alena yang menyukai rasa manis langsung jatuh hati, sementara Elio lebih memilih versi isian krim kastar. Mereka berbagi satu kue, duduk sejenak di bangku taman kota sambil memperhatikan orang‑orang yang lewat: warga lokal yang sibuk beraktivitas, anak‑anak sekolah yang berjalan beriringan, hingga wisatawan asing yang sibuk memotret suasana.
“Beda sekali suasananya dengan di Medan ya… lebih teratur, tenang, tapi tetap hidup,” ujar Alena sambil mengusap sisa tepung di sudut bibirnya.
“Setiap tempat punya ciri khasnya sendiri. Tapi bagiku, di mana pun itu, yang paling penting adalah dengan siapa kita menikmatinya,” jawab Elio lembut, lalu dengan santai mengusap sisa tepung itu dari bibir Alena dengan ibu jarinya—gerakan yang begitu wajar hingga baru beberapa detik kemudian Alena menyadari pipinya memerah lagi.
Sore mulai menjelang, langit berubah warna menjadi keemasan lembut. Mereka masih sempat mampir di sebuah kedai matcha legendaris. Alena memesan es krim rasa teh hijau yang sedikit pahit namun segar, sementara Elio memilih latte hangat. Mereka duduk di sudut kedai yang memiliki jendela besar menghadap ke jalanan, menikmati ketenangan sebelum memutuskan untuk kembali ke tempat menginap.
“Kita sudah berjalan dari pagi sampai sore, kaki tidak terasa pegal?” tanya Elio saat mereka berjalan menuju halte bus untuk pulang.
“Sedikit, tapi rasa lelahnya kalah sama rasa senangnya. Banyak hal baru yang kulihat hari ini,” jawab Alena jujur.
Sepanjang perjalanan pulang dengan bus yang tenang, Alena menyandarkan kepalanya di bahu Elio. Matanya mulai terasa berat namun hatinya penuh. Elio melingkarkan lengan ke belakang sandaran kursi, memberikan kenyamanan lebih, sesekali mengusap lengan Alena pelan.
Sesampainya di depan apartemen, matahari baru saja benar‑benar terbenam. Langit berwarna ungu kemerahan dengan siluet Gunung Fuji yang makin samar namun tetap gagah. Kunci pintu diputar, dan suasana hening menyambut mereka—tanda kedua kakek belum pulang atau mungkin sudah kembali lebih awal namun sedang beristirahat di kamar masing‑masing.
“Seharian penuh… rasanya baru kemarin kita baru sampai,” gumam Alena sambil melepas sepatu.
“Dan ini baru awalnya. Masih banyak tempat dan rasa makanan lain yang menunggu,” jawab Elio sambil tersenyum. Hari ini tanpa gangguan, tanpa urusan, tanpa pertengkaran—hanya berdua menikmati keindahan negeri asing.