Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Nala mencoba membangunkan pria yang ada di sebelahnya, dia sangat takut sebenarnya, tapi dia ingin tau siapa pria yang telah berbuat hal tidak baik dengannya. Namun, usaha dia untuk membuat pria itu bangun tidak berhasil, sepertinya pria di sampingnya itu benar-benar tidur dengan nyenyak.
"Bisa-bisanya dia tidur dengan nyenyak setelah semua yang dia lakukan sama aku," Dialog Nala dengan sedih.
Nala memilih turun dari ranjang dan dia memunguti bajunnya di bawah. Dia masuk ke dalam kamar mandi yang membuat matanya membelalak lebar, kamar mandi di sana lebih besar dari rumah kontrakannya. "Besar sekali dia kamar mandinya? sebenarnya siapa sih pria ini? dia pasti orang yang kaya raya, tapi kenapa dia berbuat hal tidak benar seperti ini sama aku?" pertanyaan tentang siapa pria itu terus berputar di dalam kepala Nala.
Nala ingat kembali dia harus segera berganti baju dan pergi dari sini. Nala membuka kembali pintu kamar mandi dengan pelan. Dan terlihat pria itu masih tertidur dengan pulasnya, Nala tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas.
"Aku sebaiknya pergi saja dari sini." Nala mencoba turun ke lantai bawah, mata Nala tidak bisa lepas melihat dekorasi ruangan di sana yang memang benar-benar tertata indah.
Dan Nala tidak pernah berada di tempat yang semewah ini. "Itu pintunya!" seru Nala dan mencoba membuka pintunya, tapi ... pintunya sama sekali tidak bisa di buka. "Ini kenapa tidam bisa dibuka?" Nala mencoba membuka knop pintunya tapi sama sekali tidak bisa di buka.
"Lubang kuncinya mana?" Nala tidak melihat ada lubang kunci pada knop pintu seperti biasanya knop pintu di rumah. "Lalu aku keluarnya bagaimana?"
"Memangnya kamu mau kemana?" Suara seorang pria tiba-tiba mengagetkan dibelakang Nala membuat Nala terkejut sampai dia menolehnya dan dengan cepat mundur sampai belakang kepalanya terbentur pintu.
"Aduh! Auw ...! sakit!." Nala memegang belakang kepalanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Pria itu mendekat ke arah Nala mencoba memeriksa belakang kepala Nala.
"Mundur-mundur!" Tangan Nala mendorong ke arah pria itu. Nala masih memegangi kepalanya.
"Aku mau menolong kamu." Tangan Pria itu menarik Nala sampai tubuh mereka berdekatan.
"Lepas--." Nala menatap wajah pria yang ada di dekatnya, Nala tertegun melihat wajah pria di depannya itu. Nala pun bisa mencium aroma napas mint dari pria itu.
"Siapa yang memberi izin kamu pergi dari apartemenku?"
"Kamu siapa? mau apa sama aku? aku cuma gadis miskin yang tidak punya apa-apa, tapi apa yang kamu lakukan sama aku?" Nala berkata dengan nada suaranya bergetar.
"Aku menginginkan kamu, Bayi cantikku."
Blup ...
Dengan cepat pria itu membopong tubuh Nala dan membawanya naik kamar atas lantai kamarnya. "Lepaskan! lepaskan! kamu mau apa?" Nala mencoba berontak dari tubuh pria itu. "Kamu mau apa lagi sama aku? aku mohon lepaskan aku, aku takut." Nala menangis dengan keras.
Pria itu sama sekali tidak memperdulikan suara tangisan Nala, dia tetap membawa tubuh Nala masuk kembali ke dalam kamarnya dan kali ini dia mengunci pintunya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa keluar masuk di tempatku tanpa persetujuan dariku. Kamu dengar?!" tatap mata pria itu tepat di depan wajah Nala yang sudah di letakkan di ranjang milik pria itu.
"Ka-kamu siapa? dan kenapa aku bisa ada di sini? bukannya kemarin aku jatuh dari sepeda motorku karena ditabrak mobil seseorang. Setelah itu aku pingsan, lalu kenapa aku bisa ada di sini?" Nala benar-benar bingung.
"Aku pria yang menabrak motor kamu, dan aku yang sudah membawa kamu kesini," jelas pria itu santai.
"Lalu kenapa kamu tidak membawaku ke rumah sakit? kenapa malah membawa aku ke sini? dan tadi semalam apa yang kamu lakukan sama aku, kenapa aku dan kamu bisa satu ranjang dan bajuku--." Nala menatap dengan buliran air mata pada kelopak matanya.
"Aku minta maaf sudah menabrak kamu, semalam--." Pria itu terdiam dan menunduk di depan Nala.
"Semalam kenapa? apa yang sudah kamu lakukan? katakan?! Nala berharap apa yang ada di pikirannya tidak terjadi.
"Aku sedang terpengaruh minuman, aku baru saja pulang dari club malam dan aku sedang tidam sadar, saat melihat kamu, entah kenapa aku menginginkan kamu malam itu."
"Apa?! ja-jadi kamu sudah merenggut apa yang yang sangat berharga dalam hidupku? Kamu jahat ... dasar, Pria brengsek! apa salah aku sama kamu?! Nala memukuli pria itu dengan marah.
Pria itu hanya terdiam dan membiarakan Nala melampiaskan kekesalannya. Nala lelah sendiri karena sepertinya pria itu tidak terasa dengan pukulan yang Nala lampiaskan.
"Apa salahku sama kamu? kenapa harus aku? Hiks ...!" Nala duduk menepi di atas ranjang sambil menangis dan memeluk kedua lututnya.
"Masa depanku benar-benar berakhir. Kalau seperti ini, bibiku akan kecewa, bahkan akan membuangku jauh-jauh."
Pria itu bergerak mendekati Nala. Tangannya tiba-tiba mengusap lembut pipi Nala. "Jauhkan tangan kamu dariku. Aku membencimu!" ucap Nala ketus.
"Aku bukan pria berengsek seperti apa yang kamu tuduhkan. Aku waktu itu terpengaruh minuman, aku juga tidak bisa mengendalikan diriku waktu itu. Aku akan bertanggung jawab sama kamu," ucapnya lirih dan terdengar tulus di telinga Nala.
"Apa maksud kamu tanggung jawab?"
"Aku akan menikahimu sebagai bukti aku bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan sama kamu."
"Apa?! me-menikah? tapi aku sama kamu baru bertemu bahkan berkenalan, dan kamu bilang mau menikah denganku?"
"Iya, memangnya kenapa? aku pria yang mengambil hal berharga dari hidupmu, dan mulai sekarang kamu adalah milikku, Surinala Maharani."
Seketika mata Nala mendelik mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Pria di depannya.
"Kamu tau namaku?"
"Tentu saja, hal itu sangat mudah bagiku. Aku sudah mengetahui semua tentang gadis yang akan menjadi istriku."
"Istri? tapi aku kan belum mengatakan jika setuju menikah dengan kamu."
"Mau tidak mau, kamu harus menikah denganku karena tubuh kamu sudah menjadi milikku."
Nala terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh pria yang sekarang berdiri di depannya. "Kalau kamu ingin menikahiku, kamu harus menemui bibiku. Aku sudah tidak punya orang tua, aku hanya tinggal dengan bibiku di rumah.
"Kita akan menikah diam-diam. Besok lusa kamu bawa semua surat-surat penting milik kamu dan temui aku di tempat yang nanti aku akan beritahu kamu lewat telepon."
"Hah? kenapa kita harus menikah diam-diam? katanya kamu mau bertanggung jawab?"
"Keluargaku orang ternama, dan aku tidak mau membuat nama keluargaku malu dengan perbuatannku, lagipula ayahku orangnya sangat keras, jika dia tau akan hal ini, akan tidak baik untuk kita. Percayalah denganku." Sekali lagi pria itu mengusap lembut pipi Nala.
'Oh Tuhan! kenapa tiba-tiba aku ingin sekali mengecup bibir gadis ini .'
Jiah ...
Besok visual pria ini akan author up ya. Tungguin. Jangan lupa like ya
lanjuut
lanjuutt