Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Katanya Menantu Juga Punya Penghasilan
Aku mengikuti langkah Bu Mirna hingga berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang ternyata adalah rumah jahit milik temannya.
"Bu Rina!" panggil Bu Mirna sambil tersenyum lebar.
Tak lama kemudian seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari dalam rumah.
"Eh, Mirna! Masuk, masuk." Ucap Bu Rina.
Bu Mirna merangkul lenganku dan berkata : "Ini menantu saya, Bu. Namanya Fitri."
"Oh... ini toh menantunya. Cantik juga." Ucapnya memuji.
Aku tersenyum sopan dan berkata : "Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam." Jawabnya.
Kami dipersilakan duduk di ruang tamu.
Belum sempat aku berbicara, Bu Mirna lebih dulu membuka percakapan.
"Fitri dulu kerja kantoran, Bu. Gajinya lumayan." Ucap Mertuaku.
"Alhamdulillah."
"Nah, sekarang dia lagi di rumah saja. Sayang kan ilmunya." Ucap mertuaku lagi.
Aku hanya diam mendengarkan. Bu Rina kemudian menoleh kepadaku.
"Kalau memang ingin kerja lagi, kebetulan anak saya punya perusahaan. Memang sedang cari staf administrasi."
Jantungku berdegup lebih cepat.
"Benarkah, Bu?"
"Iya. Tapi nanti tetap ikut seleksi ya. Semua tetap diatur sama anak saya sih." Ucap Bu Rina.
"Tentu, Bu. Terima kasih." Ucapku.
Bu Mirna langsung tertawa kecil berkata : "Nah, kan. Rezeki enggak ke mana."
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa sedikit bersemangat. Sudah lama aku tidak mengikuti wawancara kerja. Meski belum tentu diterima, setidaknya ada harapan. Namun semangatku perlahan memudar saat Bu Mirna kembali membuka pembicaraan.
"Kalau nanti sudah kerja..."
"Iya, Ma?"
"Ingat ya."
Aku menoleh.
"Gaji pertama jangan dipakai macam-macam." Ucap mertuaku.
"Iya."
"Langsung serahkan ke Mama." Ucap mertuaku dengan cerewet.
Aku tersenyum tipis lalu berkata : "Nanti aku bicarakan dulu sama Mas."
Wajah Bu Mirna langsung berubah.
"Kenapa harus sama Viyan?"
"Karena dia suami aku, Ma." Ucapku.
"Loh, Mama ini orang tuanya." Bela diri sendiri dengan keras kepala mertuaku.
"Iya ma tauu."
"Berarti Mama juga berhak tahu." Ucapnya singkat.
Aku memilih diam. Aku tidak ingin memperdebatkan hal yang bahkan belum terjadi.
_____
Sore harinya Mas Viyan pulang lebih awal. Aku segera membuatkan teh hangat kesukaannya.
"Mas."
"Iya?"
"Tadi aku sama Mama ketemu temannya."
"Oh ya? Kenapa sayang?" Tanya suamiku penasaran.
"Katanya ada lowongan kerja." Jawabku.
"Wah, bagus dong." Responnya.
Aku mengangguk pelan.
"Mas... kalau aku nanti keterima kerja...Gajiku dan mas kita kelola berdua ya."
Mas Viyan tersenyum dan berkata : "Ya jelas."
Hatiku sedikit lega.
"Kan itu hasil kerja kamu." Lanjutnya.
Aku tersenyum bahagia.
"Tapi..."
Senyumku kembali memudar.
"Kalau memang Mama butuh bantuan, kita bantu semampunya." Ucap suamiku lagi.
Aku mengangguk.
"Iya, Mas."
Jawaban itu masih terdengar wajar bagiku. Aku sama sekali belum menyangka... Kalimat "semampunya" ternyata memiliki arti yang berbeda di mata Bu Mirna.
___
Malam harinya kami sedang makan bersama.
Bu Mirna tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Yan."
"Iya, Ma?"
"Nanti kalau Fitri sudah kerja...Gajinya kasih ke Mama saja." Ucap Mertuaku.
Aku langsung menghentikan gerakan sendokku.
Mas Viyan juga tampak sedikit terkejut.
"Kenapa, Ma?"
"Biar Mama yang bagi."
"Engga bisa ma" Ucap suamiku.
"Loh...Kan selama ini Mama yang ngatur keuangan rumah."
Mas Viyan tersenyum kecil dan berkata : "Tapi nanti kan Fitri sudah punya kebutuhan sendiri."
Bu Mirna menggeleng pelan : "Kebutuhan apa? Makan di sini. Tidur di sini." Ucap Beliau.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
"Ma...Fitri enggak keberatan membantu." Aku memberanikan diri berbicara.
"Nah memang harus begitu.."
"Tapi kalau semua gaji diserahkan..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Bu Mirna memotong dan berkata : "Loh, memangnya kamu enggak percaya sama Mama?"
"Bukan begitu, Ma."
"Kalau bukan begitu berarti percaya lah harusnya." Lanjut beliau.
Aku terdiam. Pembicaraan berubah menjadi sunyi.
Mas Viyan memandangku beberapa saat, lalu menoleh kepada ibunya.
"Ma."
"Iya?"
"Nanti biar aku sama Fitri yang atur ya." Ucap Suamiku.
Kalimat itu membuatku sedikit lega. Namun...
Bu Mirna meletakkan sendoknya cukup keras.
"Ya sudah. Terserah." Nada bicaranya terdengar dingin.
Beliau langsung berdiri dan masuk ke kamarnya tanpa menghabiskan makan malam. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Entah kenapa... Perasaanku mengatakan bahwa masalah ini belum selesai. Dan benar saja. Saat aku hendak membereskan meja makan, Dinda keluar dari kamarnya sambil menatapku sinis.
"Hebat ya, Mbak." Ucap Dinda.
"Maksudnya?"
"Baru juga jadi menantu...udah mulai ngatur-ngatur uang keluarga." Lanjutnya sinis.
Aku mengerutkan dahiku. Aku bahkan belum bekerja.Namun, entah kenapa mereka sudah membicarakan gajiku seolah-olah uang itu sudah menjadi milik mereka. Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir.
**
Pagi itu, setelah Mas Viyan berangkat bekerja, aku mulai membersihkan ruang tamu.
Belum selesai menyapu, ponselku berdering.
Nomor tak dikenal.
"Assalamualaikum. Apa benar ini Ibu Fitri?"
"Waalaikumsalam.. Iya, benar."
"Saya Rudi dari PT Mahardika Sejahtera."
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
"Kemarin Ibu Rina memberikan CV Ibu kepada kami. Besok pagi pukul sembilan, apakah Ibu bisa datang untuk mengikuti wawancara?"
Aku spontan tersenyum.
"Bisa, Pak."
"Baik. Jangan lupa membawa berkas aslinya." ucap nya lagi,
"Siap. Terima kasih banyak."
Telepon pun ditutup. Aku memejamkan mata sejenak. Alhamdulillah... Setidaknya ada kesempatan.
"Siapa yang telepon?"
Aku menoleh.
Ternyata Bu Mirna sudah berdiri di belakangku.
"Oh... dari perusahaan, Ma."
"Wawancara?" tanya beliau.
"Iya."
"Kapan?" tanya detail beliau.
"Besok pagi."
Bu Mirna terlihat senang.
"Nah, bagus."
Beliau langsung duduk di sofa.
"Besok pakai baju yang rapi."
"Iya."
"Kalau keterima, jangan lupa sama Mama."
Aku hanya tersenyum dan berkata "Iya, Ma."
Beliau tampak puas mendengar jawabanku.
**
Siang harinya aku membuka lemari. Sudah hampir empat minggu aku tidak mengenakan pakaian kantorku. Aku mengeluarkan blazer berwarna krem dan kemeja putih yang masih tersimpan rapi. Tanganku mengusap perlahan pakaian itu. Entah kenapa... Aku merindukan diriku yang dulu. Diriku yang setiap pagi berangkat bekerja dengan penuh semangat. Diriku yang bisa membeli sesuatu dengan hasil usahaku sendiri. Kini... Aku merasa seperti kehilangan sebagian dari diriku.
"Masyaallah..." Suara Bu Mirna membuatku tersentak.
Beliau berdiri di ambang pintu.
"Masih bagus ya bajunya."
"Iya, Ma." jawabku singkat.
"Kalau nanti sudah kerja lagi, jangan lupa beli baju buat Dinda juga." Ucapnya enteng.
Aku menoleh perlahan.
"Buat Dinda?"
"Iya lah."
"Tapi..."
"Kasihan dia." lanjut beliau.
Aku menarik napas pelan dan berkata "Insyaallah kalau ada rezeki."
Bu Mirna mengangguk.
"Nah, begitu."
Beliau pergi begitu saja. Aku kembali menatap blazer di tanganku. Belum juga mendapatkan pekerjaan... Rasanya gajiku sudah dibagi ke mana-mana.
***
Sore harinya, Mas Viyan pulang membawa sekotak martabak.
"Sayang."
"Iya, Mas." Jawabku.
"Mas beliin martabak."
Aku tersenyum lebar : "Wah... makasih."
Kami duduk di ruang tamu sambil menikmati martabak hangat.
"Mas."
"Hm?"
"Besok aku dipanggil wawancara." Ucapku sedikit ceria.
"Wah, serius?"
"Iya."
Mas Viyan tampak ikut bahagia.
"Semoga diterima ya."
"Aamiin." Ucapku.
"Mas bangga sama kamu." Ucap suamiku dengan menggenggam tanganku.
Aku tersenyum malu.
"Belum tentu diterima mas."
"Yang penting dicoba dulu kan."
Aku mengangguk.
Sudah lama aku tidak mendengar kalimat penyemangat seperti itu.
Setidaknya...
Mas Viyan masih mendukungku.
Malam itu aku menyiapkan semua berkas yang diperlukan.
Ijazah.
Transkrip nilai.
Sertifikat pelatihan.
Surat pengalaman kerja.
Semuanya ku susun rapi ke dalam map.
Saat sedang memeriksa satu per satu, Dinda tiba-tiba masuk tanpa mengetuk.
"Wih..."
Dia mengambil salah satu sertifikatku.
"Mbak dulu ikut pelatihan sebanyak ini?"
"Iya."
"Keren juga." Ucapnya
Aku tersenyum.
"Namanya juga belajar."
"Lagian Mbak ngapain sekolah tinggi-tinggi." Ucap Dinda mengembalikan sertifikat ku.
Aku mengernyitkan dahi dan berkata : "Kenapa memang?"
"Ujung-ujungnya juga ngurus dapur." Ucapnya meremehkan.
Aku hanya tersenyum tipis dan berkata : "Dapur juga penting."
"Iya sih. Tapi lumayan juga ya kalau Mbak kerja." Ucap Dinda tertawa kecil.
"Kenapa gitu?"
"Kalau aku butuh uang enggak usah minta ke Abang lagi deh.." Ucapnya enteng.
Aku memandang wajahnya.
"Dinda."
"Hm?"
"Kalau nanti Mbak sudah kerja...bukan berarti Mbak jadi tempatmu minta uang." Ucapku.
Senyum Dinda perlahan menghilang.
"Lah kok gitu?..."
"Aku senang membantu kalau memang benar-benar perlu. Tapi kamu juga harus belajar bertanggung jawab." Ucapku mengatakan hal benar.
Wajah Dinda langsung berubah masam.
"Baru juga mau kerja....udah ceramah aja.. dihh."
Dia keluar sambil mendecakkan lidah.
Aku hanya menggeleng pelan. Aku berharap suatu hari nanti Dinda bisa memahami maksud perkataanku. Namun aku tidak tahu... Di balik pintu kamar, ternyata Bu Mirna mendengar hampir seluruh percakapan kami. Beliau memandang ke arah pintu kamarku dengan wajah yang sulit ditebak.
Lalu perlahan mengambil ponselnya.
"Bu Rina..." ucap beliau lalu membalikkan badannya.
"Iya, Mirna?"
"Besok setelah wawancara, saya mau ngobrol sebentar sama anak Ibu." Ucap Beliau lagi seperti merencanakan sesuatu.
Aku tentu tidak mengetahui percakapan itu. Aku juga tidak tahu... Bahwa bahkan sebelum aku mendapatkan pekerjaan... Seseorang sudah lebih dulu berusaha mengatur jalan hidupku.
Bersambung..