NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:59k
Nilai: 4.9
Nama Author: bungaspt

Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.

Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.

Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?

Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.

Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!

Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Cinta masih sibuk memperhatikan bunga-bunga di taman. Tanpa diketahui oleh Cinta, Aldi mengambil ponsel di kantong saku celananya kemudian mengabadikan momen Cinta yang sedang tersenyum tulus sambil menghirup aroma bunga melati di tangannya dengan kamera ponselnya itu.

"Cin, lihat deh. Sepertinya aku cocok kalau jadi fotografer,"cakap Aldi sambil memamerkan hasil pengambilan fotonya dengan menggunakan smartphone miliknya.

Cinta berjalan mendekati Aldi masih dengan memegang bunga melati yang telah ia petik tadi.

"Mana lihat sini,"—Cinta mengambil ponsel itu dari tangan Aldi—"ini itu ya jadi bagus karena aku, aku kan kalau di foto seperti model." sambil mengibaskan rambut, bukannya mengiyakan pernyataan Aldi, Cinta malah balik memuji dirinya sendiri.

"Pede banget sih kamu Cinta." Aldi hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Wanita muda dengan memegang alat pel di salah satu tangannya berjalan mendekati Aldi yang saat ini sedang berbincang dengan Cinta.

"Maaf Tuan muda, Ibu Tuan menyuruh saya memanggil Anda untuk bergabung ke ruang makan sekarang," tutur wanita muda itu yang bukan lain adalah salah satu pembantu lainnya di rumah itu.

Aldi hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman dan anggukan. Kembali setelah meminta izin untuk melanjutkan pekerjaannya pembantu muda itu berjalan meninggalkan Aldi dan Cinta.

"Cin ayo, sepertinya Kak Iqbal sudah pulang deh," ujar Aldi mengajak Cinta masuk.

Perkataan Aldi Mendadak membuat Cinta gugup. Cinta sebenarnya sangat penasaran dengan siapa ia akan di jodohkan, seperti apa rupa kakak Aldi, apakah dia orang yang ramah? Terbuka? Ataukah seorang yang introvert? Apa ia seorang lelaki yang baik, perhatian, ataukah dia orang yang begitu cuek? Atau seorang perfeksonis? Ataukah..., seperti perkiraan Henny soal om-om berewokan? Cinta menggeleng keras, dirasanya tidak mungkin jikalau kakaknya Aldi akan setua itu.

"Kamu kenapa Cin?" Aldi menatap bingung Cinta yang menutup matanya dengan rapat sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Mendengar suara Aldi dan merasa diperhatikan olehnya, Cinta dengan cepat membuka matanya,"Tidak ada apa-apa, hanya ingin."

Memilih untuk mengabaikannya, Aldi tak ambil pusing dengan jawaban aneh Cinta, memilih masuk ke dalam rumah, karena perutnya sudah mulai terasa lapar sejak tadi, ia rasa harus cepat-cepat ke ruang makan agar perut kosongnya terpenuhi.

Cinta mengikuti Aldi dari belakang yang sekarang berjalan lebih dulu di depannya masuk ke dalam rumah, di dalam hatinya sambil berdoa, "Semoga bukan om-om berewokan seperti yang dikatakan Henny," itulah kalimat yang diulang-ulangnya sedari tadi, sampai di ruang makan baru ia berhenti. Dapat dilihatnya ada seorang lelaki yang duduk di bangku meja makan dengan posisi yang membelakanginya.

Aldi langsung mendudukkan dirinya ke bangku yang bersebelahan dengan ibunya.

"Cinta, kamu duduknya di sebelah Iqbal saja. Di situ kosong Nak," pinta ayahnya menyuruh Cinta.

Cinta masih belum melihat wajah lelaki yang dijodohkan dengannya, ia baru bisa melihat postur tubuh lelaki itu. Dapat dilihat dari belakang tubuhnya yang sedang duduk begitu tegap seperti atlit olahraga. Cinta mendudukkan dirinya di samping lelaki itu, namun Cinta masih belum berani melihat wajahnya. Ia palingkan sebisa mungkin wajahnya ke arah lain seperti tersenyum kikuk kepada ibu Fitri ataupun ayah dan tantenya.

Jadi posisi mereka duduk di bangku meja makan itu seperti ini, pak Suryadi sebagai kepala keluarga di rumah itu tentu harus duduk di bangku tengah, dan istri beliau di samping kirinya, kemudian putra pertamanya Iqbal duduk di samping kanannya, tante Nadia dan pak Wahyudi ayah Cinta memilih duduk di sebelah Iqbal namun menyisakan satu bangku kosong di sampingnya.

"Cinta sepertinya takut deh Pa, kalau lihat Kak Iqbal," iseng Aldi menggoda Cinta, yang memperhatikan gelagat Cinta yang sedari tadi membuang muka terhadap kakaknya.

"Aldi jangan menggoda Cinta seperti itu terus, kasihan Cinta nanti jadi malu." tegur ibu Fitri pada anaknya, Aldi.

Yang ditegur bukannya merasa bersalah malah menampakkan senyum jahilnya. Cinta membalas dengan menyipitkan matanya sinis menatap Aldi. Cinta hanya bisa tersenyum pasrah jika di depan banyak orang seperti ini, "Dasar Aldi! Tidak tau apa kalau aku jadi malu karena perkataannya itu, awas saja nanti akan ku balas,"  batinnya mengomel.

Sebenarnya memang benar Cinta masih takut-takut untuk melihat siapa calonnya ini.

"Karena semuanya sudah lengkap mari kita mulai makan malamnya," suara pak Suryadi menginterupsi.

"Sini Cinta, mau tante ambilkan nasinya?" tawar ibu Fitri pada Cinta yang melihat Cinta hanya diam saja, berbeda dengan Aldi dan juga ayah tantenya yang sudah menaruh nasi di piring masing-masing.

"Tidak usah Tante, Cinta bisa mengambilnya sendiri kok," sahut Cinta menolak halus tawaran ibu Fitri dengan senyuman.

"Ma, tolong ambilkan rendang daging itu," pinta Iqbal pada ibunya karena letak lauk rendang daging yang dia inginkan sedikit jauh dari jangkauannya sehingga tak dapat ia mengambilnya.

Cinta yang sedang menyendokkan nasi ke piringnya mendadak menghentikan kegiatannya. Cinta merasa seperti tidak asing dengan suara lelaki itu, "Aku seperti mengenali suara lelaki ini, tapi siapa?" batinnya.

Penasaran, Cinta langsung saja memalingkan wajahnya ke samping kiri. Cinta langsung memelototkan mata kecilnya, "Kok bisa sih?" batinnya lagi masih merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, namun Cinta langsung mengalihkan pandangannya ke makanan yang ada di piringnya. Untung saja tidak ada yang menyadari tatapan mata melototnya Cinta tadi, mungkin mereka akan bingung kenapa Cinta mendadak melotot seperti itu.

"Cinta kenapa tidak dimakan makanannya? Apa kamu tidak suka?" tanya ibu Fitri melihat calon menantunya hanya diam tanpa ada niatan menyentuh makanannya.

"Tidak kok Tante, ini enak," jawab Cinta sambil menyuap sesendok rendang daging buatan bibi Aminah.

Mereka semua menikmati makan malam dengan tenang tak ada lagi yang memulai pembicaraan lainnya. Kembali setelah semua selesai menghabiskan makanannya, beberapa pembantu di rumah itu membereskan piring-piring serta alat makan yang telah kotor itu juga gelas minum yang telah kosong, kemudian menggantikannya dengan minuman yang baru.

"Jadi ini Iqbal, Cinta. Tadi Aldi bilang kalian satu kampuskan? Nah berarti kamu juga satu kampus dengan Iqbal." terang ayahnya menjelaskan.

"Sudah tau Pa, orang dia yang tidak sengaja aku tabrak tadi pagi," gumam Cinta kecil dengan sedikit kesal.

Untungnya tak ada yang mendengar gumaman Cinta yang mengomel itu. Lain halnya dengan Cinta yang begitu risih, Iqbal bersikap seolah kejadian pagi tadi saat di kampus tidak pernah terjadi.

"Iqbal," ucap Iqbal memberikan jabatan tangan kepada Cinta sebagai bentuk perkenalan.

Cinta diam sejenak, berpikir bagaimana bisa orang di sampingnya ini bersikap seolah tak terjadi apa-apa?

"Cinta," jawab Cinta menerima jabat tangan dari Iqbal, ia juga ikut bersikap seolah mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

"Iya benar Cinta. Tapi Iqbal baru saja pindah, karena om menyuruh Iqbal untuk melanjutkan semester akhirnya di Indonesia saja, memang sebelumnya Iqbal memilih S1 di Amerika dan tinggal dua semester saja lagi, akan tetapi hanya saja om ingin Iqbal anak om ini melanjutkannya di Indonesia saja, agar ia bisa belajar mengelola perusahaan ayahnya lebih awal sebelum ia lulus nanti," sambung pak Suryadi menjelaskan.

Iqbal memang tidak seumuran dengan Aldi, tapi seumuran dengan Cinta. Sama seperti Cinta, Iqbal memiliki umur 1 tahun lebih tua dari Aldi. Walau hanya selisih sedikit dalam umur, Aldi tetap menghargai Iqbal sebagai kakaknya juga menganggap kakaknya sebagai sahabatnya karena umur mereka yang terpaut tidak begitu jauh.

"Oh, begitu ya Om," sahut Cinta sambil tersenyum, Cinta bingung harus menjawab apalagi selain itu.

"Kak Iqbal sama seperti aku mengambil jurusan Manajemen bisnis, Cin," ujar Aldi ikut menimpali.

"Om dengar dari Ayah kamu, kalau kamu mengambil jurusan kedokteran ya di kampus?" tanya pak Suryadi pada Cinta.

"Iya om, tinggal dua semester akhir sama seperti Aldi. Setelah itu baru aku lanjut koas," jawab Cinta.

"Berarti pas saja Mas, kalau setelah Cinta lulus langsung menikah dengan Iqbal," celetuk ibu Fitri dengan sedikit bercanda.

Semua yang berada di ruang makan sekarang sedang tertawa mendengar celetukan ibu Fitri. Berbeda dengan Cinta yang hanya tersenyum dengan paksa dan Iqbal yang sedang memainkan ponselnya, entah apa yang sedang ia ketik di sana.

"Pa, sekretaris kantor Papa mengirim pesan ke aku. Ada salah satu investor Papa yang minta meetingnya di majukan jadi malam ini, ia besok pagi harus berangkat ke jepang karena ada urusan penting," ujar Iqbal memberitahukan kepada ayahnya.

"Biar aku saja Pa yang pergi ke kantor," ucap Aldi menawarkan diri kepada ayahnya untuk mewakili dirinya meeting hari ini, karena tak mungkin jika ayahnya atau kakaknya yang menggantikan untuk menghadiri meetting itu.

"Ya sudah, maaf ya Nak jadi kamu yang harus ke kantor," jawab pak Suryadi pada anaknya, Aldi. Beliau merasa tak nyaman harus merepotkan putra bungsunya itu.

"Tidak apa-apa kok Pa."

Aldi naik ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian formal khas orang kantoran.

"Memang kadang jikalau saya tidak bisa menghadiri rapat ataupun meeting mendadak seperti ini Aldi anak saya yang akan menggantikan," terang pak Suryadi menjelaskan.

Memang begitu kenyataannya, walaupun Iqbal sebagai anak pertama dalam keluarga pak Suryadi yang sudah pasti pewaris utama perusahaan beliau, namun karena Iqbal beberapa tahun belakangan ini berkuliah di luar negeri dan tak bisa membantu mengelola perusahaan beliau yang bertempat di Indonesia, maka dari itulah Aldi yang akan menggantikan ayahnya jikalau ada meeting mendadak seperti ini atau ayahnya yang sedang berhalangan. 

"Pa, Ma. Aldi berangkat dulu ya. Tante, Om, Cinta, maaf ya aku tinggal ke kantor," pamit Aldi setelah mengganti pakaiannya dengan celana chino hitam, kemeja polos putih dan sebagai tambahan ia memakai jas di luarnya, juga tak lupa Aldi memakai sepatu pantofel coklat.

"Iya Nak Aldi, tidak apa-apa," ini ayahnya Cinta yang menjawab.

"Aldi kamu pakai mobil kakak saja,"

Aldi mengambil kunci mobil yang di lempar oleh kakaknya, Iqbal.

Sepeninggal Aldi, mereka kembali membicarakan tentang masalah perjodohan Cinta dan Iqbal

To Be Continue...

1
ଓεHiatus 🦅💰⋆⃟𝖋ᶻD³⋆ғ⃝ẓѧ☂
hadir
Whiteyellow
semangata
Whiteyellow
hadir ya thor
Niswa mandailing
next
Whiteyellow
asik..lanjut
Whiteyellow
semangat
Whiteyellow
hadir ya..
Asyilah
2 like mendarat di karyamu...
Miss GH
ada aja yg dilakukan tante emang. bikin cinta ga nolak 😁
Whiteyellow
Cinta dan Iqbal oke
Whiteyellow
hadir ya thor 🤗
Anita Jenius
2 like mendarat buatmu
TK
lanjut
alisha
like
^°DandeliOn
like like like mampir kak🤗🤗
^°DandeliOn: sama2 kak.
😃🤗🤗🤗
total 2 replies
^°DandeliOn
aku datang bawalike kak
Ucy (ig. ucynovel)
like karya hebat otor 👍
Ciipiw🔫
si tante masa mudanya kurang haiking wkwkw
Syugarnoona (Syu): Maklum 😁😄sibuk ngurusin Cinta😅
total 1 replies
Whiteyellow
like buat cinta dan iqbal
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut say👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!