Reynand, begitu mereka memanggil nya. perjodohannya dengan Nayla benar-benar berusaha Ia tolak, namun rasa sayangnya terhadap sang kakek membuat Ia terpaksa menerima perjodohan tersebut.
Penasaran?
Saksikan terus kelanjutannya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iwi Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abang
****
Sementara itu didalam kamar. Nayla mencoba mengguncang kepalanya pelan. Pusing, benar-benar pusing itulah yang rasakan. Sepertinya dalam seminggu ini Ia terlalu banyak berpikir keras.
Ia masih memandangi langit-langit kamar dirumah itu. kamar yang luas dan besar. lengkap dengan kamar mandi didalamnya. Sebentar lagi Ia akan menempati kamar tersebut untuk waktu yang lama mungkin. Bukan sebentar lagi sepertinya, bahkan sekarang pun Ia sudah ada didalam kamar itu.
“Lagi ngapain?”
Nayla menoleh dan terkejut, dilihatnya Reynand sudah berdiri didepan pintu kamar. Ia mengernyitkan dahi, mencoba bertanya-tanya dalam hatinya apa gerangan yang membuat laki-laki itu menyusulnya kesini.
“Nggak usah takut. Gue cuma mau ngobrol aja.” Reynand mendekat, kemudian melangkah dan duduk dikursi sofa.
Pandangan mata Nayla mengikuti Reyand, tubuhnya pun masih bergeming duduk diatas kasur.
“Gue tau lo nggak suka dengan pernikahan ini.” Akhirnya setelah beradu pandang dengan Nayla beberapa saat, Reynand mencoba berbicara.
Nayla masih duduk terpaku, menunggu apa selanjutnya yang akan dikatakan oleh laki-laki itu.
“Bagaimana kalau untuk selanjutnya Lo tinggal di apartemen gue.”
Nayla sedikit membelalakkan matanya, terkejut atas ucapan Reynand barusan.
Tinggal diapartemen? berdua?
“Jangan salah paham dulu. Maksud gue disana kita bakal tidur dikamar yang terpisah. Gue yakin kalau masih tinggal dirumah ini Kakek nggak bakal ngasih kebebasan untuk Lo dan gue juga.” Rupanya ekspresi Nayla barusan membuat Reynand harud menjelaskan lebih detail maksud dari ajakannya untuk tinggal bersama diapartemen barusan.
Nayla sedikit menarik bibir tipis paham akan perkataan Reynand, ia rasa itu ide yang tidak buruk. Ia merasa apa yang dikatakan Reynand ada benarnya. Kalau mereka berdua tinggal dirumah ini, pasti mereka akan tidur dalam satu kamar dan tentu saja kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi untuk selanjutnya. Seketika Nayla bergidik sejenak, tidak bisa membayangkan kalau ia akan tidur satu ranjang dengan Reynand. Sekarang saja ia merasa geli dan takut menghadapi laki-laki itu ada didepannya. Maklum saja seumur hidup dia belum pernah berpacaran dan hanya Riko laki-laki yang satu-satu dekat dengannya, dan Riko adalah salah satu sahabat karibnya.
Reynand tersenyum. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Nayla, ia yakin gadis itu setuju dengan ide yang dia utarakan.
Baguslah, ia berpikir setidaknya dirinya tidak akan kesusahan setelah ini. Nayla gadis yang polos dan terlihat sangat mudah dibujuk.
****
“Kenapa? Setidaknya kalian tinggal disini saja dulu untuk beberapa saat.” Tanya kakek saat Reynand barusan mengutarakan maksudnya.
Kakek berusaha meletakkan teh yang baru saja Ia minum, sampai akhirnya Mama menyambar gelas tersebut membantunya untuk meletakkan kembali diatas meja.
“Iya sayang, kenapa harus buru-buru. Kalian belum sehari menikah tapi sudah ingin pindah ke apartemen.” Mama ikut nimbrung.
Reynand mengangkat kedua alisnya paham akan pertanyaan kakek. “Kami butuh waktu untuk berdua saja. Kita belum dekat sampai saat ini. Walaupun Kakek bilang waktu kecil aku pernah main bareng sama dia. Tapi aku lupa, waktu itu kakek bilang umur aku masih tujuh tahun dan Nayla mungkin dia baru bisa jalan saat itu.”
Kakek mangut-mangut mendengar perkataan Reynand. Dari raut wajahnya sepertinya kakek mencoba untuk mengerti.
Baguslah, Reynand merasa ternyata bakat aktingnya berguna juga disaat ini. Setidaknya Kakek tidak akan mengatur jalan hubungan dia dengan Nayla lagi untuk kedepannya. Capek juga kan kalau nantinya akan diatur-atur terus.
“Tapi kamu pelan-pelan ya sayang. Jangan terlalu buru-buru. Kata Maminya, Nayla itu bahkan belum pernah pacaran sekali pun. Jadi mungkin dia masih kaku dan canggung nanti pas berduaan sama kamu.” Mama Adel mengakhiri perkataannya dengan sedikit senyuman.
“Mama apa-apaan sih.” Reynand mengernyitkan dahinya, sedikit memalingkan wajah. Mereka hanya dijodohkan dan dia pun tidak akan berpikir sampai ketahap sana.
"Karena dia masih sekolah mungkin kamu ingin menunda, dan caranya adalah...."
"Ma.... tolonglah gak usah bahas yang begitu."
“Loh kenapa? Kamu itu sudah 24 tahun loh Reynand. Nggak usah malu Mama paham gimana anak muda seusia kamu.”
“Mama bisa nggak, nggak usah bahas hal kayak gini sama aku.” ujar Reynand. Ingatkan saja mana ada rasa diantara dirinya dan juga gadis lugu itu, dan ia yakin tidak akan terjadi apa pun diantara mereka.
“Kenapa? Benar apa yang dikatakan Mama kamu. Lebih baik kamu lakukan pendekatan terlebih dahulu pelan-pelan. Tapi terserah kamu juga, dia sekarang sudah jadi istri kamu. Kamu mau apain dia kapan pun itu hak kamu.” Kakek yang ikut larut dalam perkataan Mama barusan menyahuti dengan sedikit candaan dan tawa.
“Kakek.” Reynand menggeram kemudian berdiri dengan kesal meninggalkan tempat itu, pembahasan sang Kakek tidak ada bedanya dengan Mama. Bagaimana mungkin dia dan Nayla akan, ah sudahlah.
Ia tidak habis pikir sang Kakek yang sudah tua rupanya tidak bisa sedikit menjaga wibawa didepannya. Dia memang sudah mengerti dengan hal-hal semacam itu, tapi apa mereka juga harus memperjelasnya. Benar-benar membuat malu.
Sore harinya setelah Mami mengantarkan barang-barang milik Nayla kerumah Kakek. Sesuai Rencana, Reynand langsung membawa Nayla untuk tinggal di apartemen miliknya. Tentu saja Reynand tidak perlu banyak persiapan, Ia sudah mempunyai semua yang Ia butuhkan di apartemen.
Apartemen Reynand yang berada dilantai atas membuat mereka berdua harus menaiki lift untuk bisa sampai kesana.
Nayla terpana, memandangi dan mengagumi betapa mewahnya apartemen yang ditinggali oleh Reynand. Tidak salah seorang aktor papa atas tinggal ditempat seperti ini.
“Ini kamar lo. lo bebas ngelakuin apa aja disini.” Reynand menunjukkan salah satu kamar apartemennya yang masih kosong dan bersebelahan dengan kamar miliknya.
Nayla tersenyum, Ia masuk kedalam kamar tersebut dan melihat-lihat isi ruangannya. Luas dan sepertinya dia akan betah menghabiskan waktunya disini, membaca buku kesukaannya dan belajar.
Tiba-tiba ia sedikit terkejut saat berbalik memitar tubuhnya, terlihat Reynand tengah bersidekap dan berdiri didepan pintu.
“Oh iya kalau ada sesuatu yang elo butuhin, lo bisa minta tolong sama gue, nggak usah sungkan.”
Nayla kembali menanggapi ucapan Reynand dengan senyuman.
Reynand merasa agak kikuk, sedari tadi gadis itu tidak menjawab perkataannya dan hanya menjawab dengan anggukan senyuman.
Lalu ia kembali mengajak berbicara “Em, elo boleh panggil gue apa pun, senyaman lo aja.”
Nayla yang pemalu itu mendongak.
“Gu-e...." ujar Nayla pelan. "Em, maksudnya Aku boleh panggil, abang aja.” Nayla sedikit menggigit bibirnya malu. Ia masih tidak menyangka laki-laki yang berdiri dihadapannya ini benar-benar menjadi suaminya sekarang.
Reynand terperangah, gadis ini benar-benar polos dan lugu. Lihat saja caranya berbicara, tapi kalau dilihat-lihat Nayla memang sangat cantik.
Nayla lalu berusaha melanjutkan ucapannya. “Soalnya Mami bilang kalau, em Abang lebih tua lima tahun dari gu-e...." Nayla mengernyit, oleh bahasa yang ia pakai terlalu santai untuk laki-laki yang lebih tua darinya. "Abang kan soalnya lebih tua dari aku. Jadinya nggak enak kalau panggil nama.”
Reynand mengangguk-anggukan kepalanya mangut setuju.
Kenapa gak panggil suamiku gitu kan? Haha ngarep lu Reynand.
“Boleh, elo boleh panggil gue begitu. Kalau gitu gue mau kekamar gue dulu. Semoga lo suka dengan kamar ini.” Reynand sedikit menggaruk kepala, kemudian setelah itu segera berlalu meninggalkan Nayla.
Ya ampun, Nayla benar-benar bingung harus bagaimana. Dia benar-benar masih merasa asing dengan laki-laki tinggi dan berkulit putih itu.
•
•
•
•
Happy Reading!
cinta yang berbalas 💘
nama cewek nya kaya nama aku
tapi udah aku ulang baca berkali2