NovelToon NovelToon
MISTLETOE

MISTLETOE

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Tamat
Popularitas:199.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xiie Lu

"Aku lihat kamu mirip seseorang."

"Mirip siapa?"

"Mirip menantu idaman Papaku."

---

Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.

Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.

Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.

Status : Tamat.

Lagu rekomendasi :

Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler

Johnny Orlando - Everybody Wants You

Johnny Orlando - Last Summer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shaun & Lele 5

Happy reading!

.

***

Kaki panjanganya berjalan menembus kerumunan. Banyak mata yang melirik sinis, menatapnya dengan pandangan meremehkan.

Menggendong ransel yang talinya hampir putus oleh gadis pujaan tadi, Diego mengacuhkan tatapan sinis padanya. Setiap hari dia datang di sekolah, cibiran sinis dari siswa terdengar di telinganya.

"Cih, All Zero kembali ke sekolah setelah seminggu bolos," ucap seseorang. Diego tidak menghiraukan.

"Ck, dia masih punya muka untuk datang ke sekolah dengan nilainya yang nol besar itu," cibir yang lain. Senyum tipis tercetak di bibir Diego. Bahkan seluruh isi sekolah mencibirnya.

"Ssshhhh, si All Zero datang! Dasar sampah tidak tahu malu," sahut yang lain berusaha meredakan bisikan temannya yang lain padahal suaranya sendiri melengking.

"Jika aku yang menjadi dia, aku pasti sudah bunuh diri dengan nilai yang seperti itu!"

"Kalau sudah keluar dari sekolah nanti, dia pasti akan menjadi sampah masyarakat yang tidak berguna."

"Aku bingung, kenapa sampah tidak berguna itu masuk ke kelas unggulan padahal nilainya selalu nol."

"All Zero ...."

"Si All Zero ...."

"Sampah ...."

"Si Bodoh ...."

Dengan senyuman lebar, Diego merangkul pundak Alita kemudian meluncur pergi dari sana. "Jangan dengarkan mereka," ucap Diego menenangkan saat mengetahui sang gadis sedang mengepalkan tangan menahan amarah. Dia terkekeh tatkala Alita menyikut perutnya.

"Ayolah, kamu akan menangis kalau aku sakit," canda Diego untuk mengembalikan raut kesal Alita.

"Lebih sakit dari cibiran para sampah itu?" tanya Alita ketus. "Aku ingin sekali menyumpal mulut mereka dengan sol sepatu ini," ujar Alita geram. Dia mengangkat kakinya dan menunjukkan sepatu yang hampir jebol bagian solnya.

"Oi, busuk," umpat Diego yang mendapat tendangan di kakinya.

"Enak saja, meski terlihat lusuh tapi aku cuci setiap minggu ya," protes Alita tidak terima.

Diego tergelak. "Setiap minggu? Oh, pantas saja busuk."

Dia menarik Alita dari kerumunan, menuju kelas yang juga menjadi tempat tidur baginya.

Si All Zero, julukan yang diberi para siswa untuk Diego. Bukan tanpa alasan, tapi memang begitu kenyataannya.

Pemuda yang katanya tampan titisan dari Steve Rogers si Captain Amerika, dan juga menamakan dirinya adik dari Shawn Mendes itu mendapat julukan istimewa karena mendapat nilai nol untuk semua mata pelajaran.

Alita tertawa ketika mengingat kembali pertama kalinya dia melihat lembar tugas milik Diego. NOL BESAR!

"Kenapa kamu tertawa, Lele sa-yang?!??" Diego sengaja menekankan kalimatnya agar sang gadis yang masih di sampingnya menyadari, tapi nyatanya Alita terlalu sibuk dengan pikirannya.

"Nona Dario, apa yang kamu tertawakan?"

Alita menghentikan langkahnya dan terdiam, seketika dia merasa tidak asing dengan panggilan itu. "Hm, kamu memanggilku?"

Diego tidak menjawab. "Gadis brengsekkk, apa kamu juga sekarang sedang menertawakanku?"

Sontak Alita menggeleng dan berlari menjauh. "Biarpun kamu jelek dan tidak pintar, aku tetap akan menjadikanmu suami yang sah di dalam Tuhan," ucapnya.

Diego menggeleng lemah, jantungnya hendak melompat keluar namun dia tetap berusaha santai demi keamanan bangsa dan negara. "Oh Tuhan, aku ingin dia," gumamnya dan melangkah pasti ke dalam kelas.

Di sana, Diego mendapati seseorang yang sedang berkutat dengan buku pelajaran. Kacamata bertengger di batang hidungnya yang sedikit mancung, Diego mendekat. "Summerall," sapanya.

Pemuda yang tampak sibuk itu mendongak dan Diego terkekeh karena wajah Summer tampak kusut. "Aku pikir juara pertama untuk ujian akhir ini akan berakhir di tanganmu lagi, Cupu," ucapnya.

Summer tampak mengerut kesal. Pemuda berlesung pipit ini satu-satunya teman Diego di sekolah karena tidak ada satupun yang mau berdekatan dengannya.

Percuma tampan dan kaya kalau isi otaknya hanya permen karet, begitu cibiran para gadis untuknya. Diego sangat bersyukur karena hal itu.

"Sialan," umpat Summer. "Ke mana saja kamu selama seminggu ini?"

"Tidur," jawab Diego sekenanya.

"Apa pekerjaanmu hanya tidur? Tidak belajar?" Summer menatap jengah padanya.

Lagi-lagi Diego tertawa oleh kepolosan otak si bintang kelas. "Belajar itu membosankan. Lebih baik tidur untuk mengembalikan fungsi otak agar bisa berbicara dengan baik seperti ini," ujarnya arogan.

Kerutan di kening Summer membuat Diego menepuk pundak pemida itu. "Tenang saja, aku akan mengalahkanmu di ujian kelulusan nanti," ucap Diego seolah itu adalah janji.

"Apa kamu bercanda, All Zero? Dengan nilai seperti itu ingin mengalahkanku?" tanya Summer sedikit mencibir, mengingat banyaknya angka nol selalu tergambar indah di seluruh lembar ujian milik Diego.

Diego mengangkat bahu acuh. "Aku tidak berpikir itu sulit. Hanya perlu fokus dan bersungguh-sungguh maka semuanya akan lancar. Jangan meremehkan seseorang hanya karena beberapa kesalahan yang dibuatnya, Thomas Alva Edison mengalami ribuan kegagalan sebelum mencapai puncak sukses."

"Aku sekarang berpikir kalau kamu pintar, Diego," gumam Summer kemudian. Manik yang ditutupi kacamatanya menjelajahi seluruh kelas, mencari seseorang yang selalu ingin dia lihat. Seorang gadis cantik yang membuat Summer iri pada pemuda di hadapannya.

***

Siang yang terik, membakar kulit yang selalu dia rawat itu. Diego menipiskan bibirnya melihat Alita yang berjalan dan berusaha menghindari matahari.

"Hitam ya hitam, tidak usah sok putih!" Diego berucap dengan pandangan lurus ke depan. Membuat yang merasa tersindir menghentikan langkahnya.

"Kulit aku dirawat meski tidak putih, tidak seperti kulitmu, putih mungkin hasil cangkokan yang hanya perlu disiram air," cibir Alita kesal. Dia menghentakkan kakinya dan terus berjalan seperti semula.

"Kamu tersindir ya? Padahal aku sedang membicarakan mereka yang berteduh di bawah pohon itu." Diego mengalihkan pandangan dan menunjuk pada sekumpulan siswa yang sedang duduk dan bersandar di dahan pohon.

Alita menahan kesal. "Tetap saja kulitku juga tidak putih," ucapnya mengerucutkan bibir.

Diego terkekeh. Jalan kaki setiap hari merupakan hal biasa baginya, berbeda dengan gadis yang baru saja mengalami hidup miskin oleh ayahnya.

Silver sangat licik menurut Diego, dan yang lebih licik lagi, dia ikut andil dalam hal ini. "Hei, jalan yang benar nanti kamu menabrak ayam tetangga," teriak Diego asal saat Alita berjalan sambil menutupi wajah dan kepalanya.

"Asal dia tidak mati," sahut Alita yang masih kesal karena disindir tadi. "Hanya ayam tetangga, bukan milikku. Kalau mati ya mati saja, tinggal digoreng dan dimakan," sambungnya lagi.

Diego tertawa. Gadis manis itu sangat pelit dan tidak ingin dirugikan. Mungkin jiwa bisnis dari kedua orang tuanya melekat pada Alita.

Alita terus berjalan tanpa menghiraukan Diego. Menyusuri trotoar yang membuat pegal, manik hijaunya tiba-tiba melihat beberapa pria yang sedang berkerumun.

Binar di mata Alita tidak diragukan lagi. Pemuda tampan yang menjadi incaran dan sumber kekayaan sekejab sedang menunggu untuk digoda olehnya. Dia berlari mendekat, berharap para pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah menengah itu terpikat oleh pesona belianya.

Tidak peduli dengan teriakan Diego, Alita menghampiri mereka. "Halo, Pria tampan titisan Dewa Hermes yang turun ke bumi, kenapa kalian berkerumun di sini?"

Para pemuda itu kompak menoleh, dan yang mengejutkan bagi Alita, dia melihat seorang gadis yang berseragam seperti miliknya bersimpuh dengan pakaian kacau.

"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Alita dengan mengerutkan kening.

Keinginan untuk menggoda para pria tampan seketika sirna saat melihat gadis yang acak-acakan di tanah. Rasa iba tetap saja mengalahkan rasa ingin menggoda pria. Juga kulitnya yang bisa saja terbakar oleh sinar uv.

"Apa kamu temannya?" Seorang pemuda yang tinggi melebihinya balik bertanya, membuat Alita mengingat adiknya yang juga tinggi lebih darinya.

"Bukan teman tapi musuh, aku tidak suka gadis cantik, jadi kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian," ucap Alita dengan senyum tipis. Membuat enam pemuda yang tampak marah tadi membalikkan badan mereka.

Merasa tidak bisa mengalahkan keenam pemuda itu, Alita bersiul dan memanggil seseorang yang selalu menjadi penonton gratis untuk mendekat. Dengan langkah gontai, Diego menghampiri.

Tidak memberikan kesempatan bagi Diego untuk menjadi penumpas pertama, Alita lebih dulu memukul kepala dua pemuda yang membelakanginya dan membuat keributan di sana, disaksikan oleh gadis berkacamata dengan pakaian tercabik-cabik di sana.

"Fuckk! Apa yang kau lakukan, Jal--Akhhhhh ...." Salah satu dari mereka berteriak saat mendapatkan pukulan.

"Aku pikir bisa mendapatkan pacar baru, ternyata mereka maniak kekerasan," ucap Alita dengan penuh amarah dan memukul dua pemuda itu dengan membabi buta.

"Aku dan dia sesama perempuan, jadi kekerasan yang baru saja kamu lakukan akan kubalaskan seribu kali lipat! Harga diri dan mertabat perempuan tidak bisa kalian mainkan seenaknya dan asal kau tahu, gadis muda dan cantik tidak terkalahkan!"

Alita berulang kali menampar dua pria itu sementara Diego menangani yang lainnya. Melumpuhkan dan membuat memar seluruh tubuh dan wajah.

Amarah Alita tidak bisa diredakan saat melihat kekerasan, apalagi kekerasan terhadap wanita. Meski pelakunya pria tampan setampan dewa Yunani pun.

"Sialan, aku ingin sekali mencabik-cabik wajah mereka agar tidak ada lagi populasi pria tampan yang gila seperti mereka," umpatnya seraya menarik gadis berkacamata yang meringkuk takut di tempatnya. "Ayo pulang!"

.

---

***

1
Ahmad Dinis
a@ btw tadi malam tidur
Ahmad Dinis
yang penting bisa bahagia
Ahmad Dinis: event
lombok sbr sm sy
total 1 replies
Jelita S
bagus banget,,
Triani
lega....,, akhirnya metong tuh aki2...!!!
Veny Tria Kusumanita
kak...novel will n lea kok.g dilanjutin?
def.: Lanjut say, cuma lg hiatus aja sorry🙏
total 1 replies
{♠️𐔣α𝒇 ιᷜͷͥαᷟༀ♠️}🐍
selalu sukses dengan hasil karyanya ya thor
{♠️𐔣α𝒇 ιᷜͷͥαᷟༀ♠️}🐍
semangat
Sisca Wilujeng
mks kak karyanya... ttp semangat & sukses selalu...👍👍😊😊
Sisca Wilujeng
mampir kak...
fe La'grimas
maaf summer (musim panas 🤭🤣) kamu memang tampan tapi diego lebih menarik (lebih segalanya 😍🤣)
Partiah Yake
crazy coupleee
Dewi Djordan
mks
Dewi Djordan
terlalu bodoh lele..masa anak silver mafia bodohnya kebangetan dan tidak punya keahlian apapun..
sizih_hm
Diego nyamar kayanya
Erny Area
😶
Adin
good novel
Noejan
Mampir kakk❤❤
Niena Saleh
aku telat bacanya 🤭 aku pikir lanjutannya di the devil of athlete...aku nungguin ajah dengan pedenyaa....ga taunya pas sadar udah kelar ajah 🤭👻👻👻👻
Niena Saleh
aku ga penasaran...aku lebih suka cerita yg sesuai dengan isu kepala othornya...daripada cerita yg mengikuti pembacanya...akan mudah ditebak dan tidak menyenangkan lagi untuk dibaca....just let the stories flow...🌷🌷
Niena Saleh
ahaaayyyy....madu terus yg diolesin dimulutnya alita 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!