Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepi adalah bahasa yang kupunya
Perlahan, tangis kakak mereda. Kehangatan peluk ibu dan aroma dapur yang akrab perlahan membasuh perih hatinya. Kakak mulai melupakan kejadian hinaan itu dan memilih fokus pada tugasnya. Bersama ibu, ia mulai menyiangi bayam dan memotong daging ayam yang tadi sempat dibeli sebelum ketegangan terjadi. Disela-sela denting pisau dan desis minyak di wajan, mereka mengobrol dan bercanda, mengubah suasana menjadi penuh kehangatan. Masakan hari itu terasa jauh lebih nikmat karena dibuat dengan ketulusan hati.
Sementara itu, di sudut-sudut ruang kelas yang riuh oleh candaan teman-teman saat jam istirahat, aku hanya diam dan termenung di bangkuku. Pandanganku lurus menatap papan tulis yang penuh coretan, namun pikiranku terbang jauh ke rumah. Aku membayangkan keadaan di rumah kakak dan ibu sedang apa.
"Hei, melamun saja! Kantin, yuk?" tepukan keras di bahu dari Nayla membuyarkan lamunan panjangku.
aku tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Ayo"
Kami pun berjalan beriringan keluar kelas, membelah keramaian koridor sekolah yang dipenuhi siswa-siswi lain yang sedang asyik menikmati jam istirahat. Nayla terus bercerita dengan heboh tentang game yang dia mainkan semalam, sementara aku hanya menanggapi dengan anggukan sesekali atau senyuman singkat.
Sebenarnya, aku sangat menghargai usaha Nayla yang selalu membuatku mengobrol. Dia teman yang cukup baik, dan aku tidak ingin merusak suasana hatinya dengan wajah murung ku.
Sesampainya di kantin, bau mie dan gorengan langsung menyengat. Kantin sangat ramai dan bising, berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang sepi.
Aroma mie dan gorengan yang tadinya begitu lezat, sama sekali tidak bisa membangkitkan selera makanku. aku hanya memesan minuman dingin dan duduk menemani Nayla yang masih bercerita asyik aku masih mendengar obrolan itu, berpura-pura antusias. Nayla benar-benar tipe teman yang tidak akan membiarkan suasana menjadi hening.
Tidak terasa saat kami mengobrol, waktu istirahat berlalu begitu cepat di tengah riuhnya kantin.
Bel berbunyi nyaring tanda masuk kelas, memutus kebisingan kantin secara instan. Semua murid bergegas menghabiskan makanan mereka dan mulai bergerak kembali ke kelas masing-masing.
"Wah, sudah bel ternyata! Ayo cepat kembali ke kelas," ajak Nayla sambil menyedot sisa minumannya.
Aku bangkit dari kursi, merapikan seragamku yang sudah kusut. Langkah kakiku terasa berat mengikuti Nayla yang berjalan mendahuluiku. Istirahat telah usai, namun perasaan masih sepi dan gundah di hatiku masih tertinggal persis seperti saat aku pertama kali menginjakkan kaki ke kantin tadi. Sekarang aku harus bersiap menghadapi pelajaran berikutnya dengan topeng senyuman yang sama.
Sampai di kelas, suasana riuh perlahan mereda saat Bu Fatma, guru bahasa Indonesia kami, melangkah masuk. Beliau dikenal sebagai guru yang hangat namun sangat peka terhadap dinamika murid-muridnya.
"Selamat siang semuanya. Hari ini kita akan melanjutkan materi tentang menulis puisi komparatif dan ungkapan perasaan," ujar Bu Fatma sambil menuliskan judul materi di papan tulis.
Nayla langsung menyenggol lenganku dengan antusias. "Wah, pas banget! Kamu kan jago merangkai kata," bisiknya.
Aku hanya tersenyum tipis. Ironisnya, di saat hatiku sedang benar-benar sepi dan penuh sesak, lembar buku tulis yang terbuka di hadapanku justru terasa sangat asing. Bu Fatma kemudian meminta kami untuk menuliskan sebuah puisi pendek yang menggambarkan suasana hati kalian saat ini menggunakan majas atau perumpamaan.
Saat murid lain mulai sibuk mencoret-coret kertas sambil berdiskusi, aku hanya terpaku menatap baris demi baris kosong di buku teks ku. Jemariku yang memegang pulpen mendadak kaku. Bagaimana bisa aku menuangkan rasa sepi ini ke dalam kata-kata, sementara aku sendiri sedang berusaha keras menyembunyikannya dari semua orang?
Dari depan kelas, Bu Fatma diam-diam memperhatikan ku yang terpaku. beliau perlahan berjalan mendekat, langkah kakinya hampir tidak terdengar di antara riuhnya diskusi teman-teman. ketika bayangannya berhenti tepat di samping mejaku, aku mendongak dengan gugup, berusaha menutupi halaman buku yang masih kosong melompong.
"Ada kesulitan, Riska?" tanya Bu Fatma lembut, suaranya pelan agar tidak menarik perhatian seisi kelas.
"Eh, mmm... Belum ketemu idenya, Bu," jawabku terbata, sambil memutar-mutar pulpen di tanganku yang mendadak berkeringat.
Bu Fatma tersenyum hangat, lalu menarik kursi
Kosong di depanku dan duduk.
"puisi itu bukan hanya tentang merangkai kata yang indah saja, puisi itu jujur. Apa yang sedang di rasakan sekarang?"
Aku menatap baris-baris kosong di buku teksku
"Saya tidak tahu harus mulai dari mana, Bu. rasanya rumit kalau harus dijabarkan dengan majas."
"Coba pakai perumpamaan yang paling dekat dengan mu," Bu Fatma mengetuk pelan pinggiran meja. kemudian beliau berjalan pergi memeriksa ke teman-teman yang berdikusi.
Aku terdiam cukup lama, memandangi kertas putih dihadapan ku. Rasa kaku di jari-jari tanganku perlahan memudar. Aku mulai menggoreskan tinta, membiarkan sepi yang ku pendam mengalir menjadi bait-bait puisi.
Nayla melirik sekilas ke arahku tapi dia diam tidak menganggu ku, lalu bangkit dari kursinya untuk bergabung dengan kelompok berdiskusi di barisan paling depan. Kini, meja itu menyisakan ruang kosong di samping ku.
Aku kembali memandangi kertas putih tersebut. Kata-kata yang tadinya membeku mulai menemukan jalannya. Aku menuliskan sebuah bait sederhana:
Di antara keramaian
Aku memiliki duduk dengan damai.
Bukan tak ingin berbagi cerita,
Namun sepi adalah bahasa yang kupunya.
Buku dan pena menjadi teman
Menyimpan mimpi di balik diam.
Meski ragaku terlalu sepi,
Duniamu riuh di dalam hati.
Ujung pensilku terus menari. Aku tidak lagi memikirkan apa kata buku teks tentang simile atau metafora. Aku hanya menuliskan apa yang kurasakan di kelas yang mulai riuh dengan suara tawa dan perdebatan kecil teman-teman sekelompok Nayla.
Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma kertas dan kayu pensil menenangkan gemuruh halus di dadaku. Di sudut kelas yang lain, tawa Nayla pecah saat ia menyanggah argumen salah satu teman sekelompoknya. Wajahnya bersinar, penuh energi yang selalu berhasil menghidupkan suasana ke mana pun ia pergi.
"Hei, serius banget. Nulis apa sih?"
Sebuah suara membuyarkan lamunanku yang baru saja ku bangun. refleks, tanganku bergerak cepat menutup buku catatan itu, sedikit terlalu kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku mendongak dan menemukan Nayla sudah berdiri di depan mejaku. Ia memiringkan kepalanya, menatapku dengan binar rasa ingin tahu yang khas.
"Bukan apa-apa," jawabku gugup, berusaha menyembunyikan pensil di balik tanganku yang mulai terasa kaku. "cuma... Coretan acak saja."
"Kamu sudah selesai buat puisinya?"
Tanya Nayla
Ia kemudian duduk kembali di sebelahku, lalu duduk dengan gerakan santai yang selalu membuatku iri. Matanya melirik buku catatanku yang tertutup rapat, seolah bisa menembus sampul kulitnya dan membaca apa yang ada di dalam.
"Belum," jawabku jujur, meski sudah ku buat puisinya tapi belum semuanya selesai. Aku melonggarkan cengkeraman pada pensilku, mencoba tampak biasa saja.
Nayla tertawa pelan. Suaranya renyah, kontras dengan isi kepalaku yang sejak tadi terasa seperti benang kusut. Ia mengambil pensilku yang sudah tumpul di bagian ujungnya, lalu memainkannya dengan ujung jarinya.
"Gimana sih puisinya, aku juga belum"
kata Nayla nada mengeluh.
pokoknya harus Sampek ending