NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA: Deru Badai (Bagian 1)

“Kamu musuhan sama mas Joan?” Ara menarik tanganku sebelum aku sempat berdiri.

“Nggak. Kenapa?”

“Jangan bohong!” tuduhan itu seakan menyalahkanku sepenuhnya. Sudah bagus aku tidak langsung pergi saat mendengar nama Joan disebut.

“Emangnya ada masalah? Bukan aku yang mulai, dia sendiri yang tiba-tiba menjauh,” baru kali ini aku berbicara ketus dengan Ara. Bukan bermaksud jahat, tapi aku memang tidak suka dengan bahasan ini.

“Maaf, aku nggak bermaksud bikin pertemanan kalian berantakan. Mungkin...”

“Jangan sok tahu, Ra! Jangan bersikap seakan-akan ini salahku atau salahmu! Aku atau kamu sama-sama nggak tahu kenapa Joan jadi kayak gitu. Tolonglah! Jangan memperburuk keadaan dengan membuat ini menjadi bahan pertengkaran!” nada bicaraku melirih. Entah kenapa aku merasa rapuh sekali. Hening. Tak ada sahutan dari Ara. Kulihat dia memainkan jemarinya, persis seperti saat kutembak di taman belakang sekolah satu bulan lalu.

“Aku tahu kita jadian dengan cara yang mungkin bisa dibilang terpaksa. Kita dalam masa percobaan, katamu. Tapi kumohon, berhentilah membandingkanku dengan Joan! Bersikaplah seperti gadis yang memang menginginkanku.”

“Bukan gitu, Mas. Aku...”

“Aku bakal selesein masalah ini sama Joan. Sekarang ayo pulang! Udah sore, aku nggak enak sama tante,” aku beringsut berdiri dan menyalakan motorku. Entah kenapa aku hanya ingin diam saat mengantar Ara sore ini.

...***...

“Si Ara, Zang! Ara!” Indra dengan tergopoh-gopoh berlari ke mejaku. Hampir separuh anak kelasku menoleh ke arah kami.

“Apa? Kenapa? Ara kenapa?”

“Dia disamperin Intan di kelas. Aku tadi...” belum sempat Indra menyelesaikan kalimatnya, aku sudah buru-buru melejit ke kelas Ara. Tanpa perlu mendengar alasan dari Indra, aku tahu kenapa Intan di sana.

“Ada masalah apa, Tan?” aku memasuki kelas Ara tanpa berpikir dua kali. Gadis itu menoleh cepat ke arahku, menatapku dengan tatapan tidak percaya. Ara tertunduk di mejanya.

“Ngg...nggak. Nggak ada apa-apa kok. Cuma mau ngucapin selamat aja ke Ara. Selamat karena jadi pacarmu,” pernyataan Intan itu membuat kelas Ara bergemuruh. Ternyata banyak yang baru tahu kalau kami berpacaran.

“Kayaknya telat deh. Harusnya ngucapinnya dari sebulan yang lalu, Tan. Lagi pula ngapain bawa temen segini banyaknya?” aku menatap sahabat-sahabat Intan satu per satu. Jelas mereka bukan akan memberi selamat.

“Ya...biar seka...”

“Jangan ganggu Ara, Tan!” cetusku sambil menatap mantan sahabatku itu dalam-dalam. Ara yang sedari tadi hanya diam, kugandeng paksa keluar kelas. Kurasakan tangannya dingin dan berkeringat. Ucapan selamat tidak mungkin membuatnya seperti ini.

“Maaf!” ucapku saat kami duduk di kantin. Dia mendongakkan kepalanya perlahan, tersenyum.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Kayaknya udah risiko pacaran sama kamu. Lama-lama juga pasti terbiasa.”

“Kalau ada apa-apa jangan diem aja, cerita! Aku pacaran sama kamu bukan pingin liat kamu kesiksa, aku pingin liat kamu bahagia,” perkataanku barusan sukses mengubah raut muka Ara. Aku tidak tahu aku memiliki bakat menggombal atau tidak, tapi kurasa Ara sudah mulai bisa menyukaiku. Aku menangkap semu yang biasanya hanya untuk Joan. Dan fatalnya, aku mendadak kikuk di depan pacarku sendiri.

“Ngg...kita cari panggilan sayang aja ya, Ra? Biar ada yang beda waktu jadi kakak-adik sama pacaran.”

“Boleh, tapi jangan kata sayang atau cinta ya, Mas? Aku risi dengernya, kayak belum cocok aja sama umur kita,” Ara menyambut usulku masih dengan raut yang tadi.

“Terus apa dong?” ganti aku yang kehabisan akal. Ara berpikir sebentar sebelum mengusulkan kata yang membuat keningku berkerut.

“Chan aja gimana?”

“Chan? Itu bukannya panggilan buat cewek kalau di Jepang?”

“Iya, emang. Kan kamu emang cantik, Mas,”

What? Aku ini tampan, bukan cantik. Anak ini gila! Itu berarti aku lebih gila lagi karena pacaran dengannya.

“Selama ini kamu nggak merasa kalau aku ganteng? Serius?” bukannya membahas nama panggilan, aku malah melenceng membahas yang lain. Ara tertawa.

“Abisnya kamu putih sih, Mas. Aku aja kalah putih sama kamu. Black and white banget. Makanya kadang aku minder kalau jalan sama kamu.”

“Jangan bilang itu juga alasan kamu nggak mau deket-deket aku? Yang waktu jalan selalu punya jarak semeter sama aku?” tanyaku sembari menatapnya. Ara dengan malu-malu mengangguk.

“Ya ampun, Ra, please! Stop listening to people! Aku ini udah jadi pacarmu.”

“Ya tapi kan kamu tahu sendiri kalau aku nggak suka cowok berkulit putih. Kayak anak rumahan aja,” tutur gadis di sampingku ini lugas. Aneh-aneh saja tipe anak ini.

“Ya udah nanti aku itemin kulitku, biar kamu mau jalan sebelahan sama aku. Biar kita kayak orang pacaran, bukan musuhan.”

“Emang bisa?” Ara mengernyit.

“Anggap aja bisa. Terus panggilannya ini tadi? Nggak ada opsi lain?”

“Nggak ada. Udah itu aja, cocok kok. Kayaknya juga jarang ada yang pakai, Mas.” Ara lagi-lagi tertawa. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum pasrah.

“Ya udahlah, Chan. Fine!”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!