NovelToon NovelToon
Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lsaywong

"Tante mau jadi istri, Papa aku?"

Permintaan dari seorang anak kecil berusia 5 tahun, datang tiba - tiba menghampiri Bella yang sedang duduk nongkrong sama teman - teman yang ada di Mall terbesar di kota medan

Bella tidak mengenal siapa anak kecil berkelamin perempuan terus berceloteh meminta dirinya menjadi istri untuk Papanya.

Bagaimana nasib Bella kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lsaywong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Hari sabtu, biasanya orang kerja kantoran setengah hari, ya? Untuk kerja di bank libur, iya, enggak sih?

Nah, untuk Bella, bagaimana? Setiap hari kerja fulltime. Kalau kerja setengah hari sepertinya tidak efesien banget untuk usahanya.

Biasanya kalau usaha toko baju, rata-rata banyak yang datang berkunjung di sini. Bella setiap hari buka dari pagi sampai sore, karena hari sabtu itu paling enak menghasilkan uang. Rezeki itu tidak boleh di sia-siakan katanya sih begitu.

"Mau beli apa, Kak! Ayo masuk, Kak!" teriak Leni di depan toko baju terbuka lebar.

Bella, sih, duduk sambil menghitung stock barang keluar masuk dari pengiriman ekspedisi.

"Tante!" teriak suara anak perempuan, Bella langsung mengangkat kepalanya.

Sebuah lambaikan tangan anak itu langsung turun dari gendongan Papanya. Ia berlari kemudian naik dipangkuan Bella.

Bella belum juga membalas sapaan dari anak perempuan ini. Papanya, sih, masuk melihat putrinya begitu antusias sama wanita yang kemarin.

"Tante, buka toko baju di sini, ya?" Pertanyaan dari anak perempuan membuat Bella ingin menjawab iya atau tidaknya.

"Iya," jawab Bella.

"Ini, Ko, duduk dulu." Leni memberikan kursi pada Fendy yang tengah berdiri lumayan lama.

"Iya, Terima kasih."

Bella melirih, lalu kembali memerhatikan anak perempuannya sedang mencorat-coret kertas ada di meja.

"Eh ... Kirana!" Fendy menegur putrinya sembarangan mencorat-coret kertas orang lain.

"Tidak apa-apa," ucap Bella membiarkan anak perempuan ini mencorat-coret kertasnya.

"Tante, aku sudah bisa tulis angka 1 sampai 10, loh," katanya manja.

"Oh ya, mana coba, Tante lihat."

Kirana mulai menggerakkan pulpen di tangannya lalu mencoret-coret pada kertas kosong tersebut. Bella memerhatikan setiap angka ia tulis di sana.

Fendy yang duduk juga memerhatikan mereka berdua, wanita itu benar-benar sabar lihat kelakuan putrinya. Beda dengan Heni saat Fendy berada di tempat usaha mamanya. Kirana tidak pernah duduk di pangkuan Heni.

"Selesai!" sorak Kirana selesai mencorat-coret angka walaupun tidak bagus tetap bisa di baca.

"Wah ... pinter banget!" puji Bella pengelus rambut Kirana yang begitu lembut itu.

"Sekarang Tante kasih Kirana tambah-tambahan, ya. Kirana pasti bisa jawab cepat."

"Ehmm, oke. Satu ditambah satu, berapa?"

"Dua!"

"Dua ditambah tiga!"

"Dua ditambah tiga ... dua ditambah tiga ..." Kirana mulai menghitung jari mungilnya untuk menghitung angka tersebut.

Bella menatapnya kemudian, ia mulai mengajari Kirana perlahan-lahan. Fendy yang duduk di sana senyum begitu bahagia melihat Kirana sangat akrab dengan wanita yang belum Fendy ketahui namanya.

"Lihat jari Tante, angka berapa ada jari, Tante?" Bella mulai mengajari Kirana.

"Dua!" jawab Kirana cepat.

"Terus di jari Kirana, berapa?"

"Tiga!"

"Nah, sekarang Kirana hitung jari Tante dan jari Kirana, jadi semua ada, berapa?"

Kirana mulai menghitung dengan bibirnya begerak begitu lucu. Bella benar-benar gemas melihatnya.

"Ada lima, Tante!" jawab Kirana langsung

"Jadi dua ditambah tiga sama dengan Li ...."

"LIMA!" Kirana langsung menyebutnya.

"Pintar!"

Bella mengacak poni Kirana, dicium pipinya begitu gemas. Kirana senyum menahan geli. Lalu terdengar suara perut Kirana berbunyi.

"Kamu belum makan?" Kirana menggeleng cepat-cepat.

"Kamu mau makan, apa? Biar Tante pesankan atau kamu mau ikut, Tante?" ajak Bella menawarkan Kirana.

"Mau? Tapi bareng Papa, ya!" Langsung di jawab oleh Kirana menunjukkan Fendy.

Fendy dan Bella saling menatap kembali pada Kirana. Kirana senyum terus menarik tangan Bella dan Fendy keluar dari toko itu.

"Len, jaga bentar, ya, terus barang yang sudah masuk aku cek list, coba kamu cek sekali lagi mungkin ada yang terlompat, " ucap Bella pada Leni.

"Oke siap! Semoga resmi ya, pacarannya," usil Leni

"Huss!"

"Tante! Ayo!" Kirana sudah berteriak di luar Bella pun segera keluar dan menyusul mereka berdua.

Kirana berada ditengah memegang kedua tangan Bella dan Fendy. Selayaknya seperti sepasang suami-istri dan anak. Fendy, sih, sudah biasa dengan begini. Hanya beda saat tingkah putrinya memegang tangan wanita ada disebelahnya.

****

Duduk di salah satu makanan Mi Pangsit non-halal adalah tempat khas suku tionghua, yakni pajak Sambas. Kirana duduk bersebelahan dengan Bella, sedangkan Fendy duduk berhadapan dengan Bella.

Mi Pansit mereka datang, Kirana makan sendiri namun berantakan. Tentu Bella membantunya agar tidak kotor pada bajunya. Fendy bisa melihat jelas perbedaan antara Heni dan wanita di depannya. Jauh berbeda sangat berbeda. Sifat wanita ini sangat mirip dengan almarhum istrinya-Sheren.

"Kirana tidak suka makan sayur. Pahit."

"Ya sudah yang batang jangan di makan. Makan daunnya saja, ya. Pakai kuahnya di jamin enak. Sayur itu sehat, loh, kulit kamu makin bersih dan cantik," kata Bella membujuk agar Kirana mau memakannya.

"Benarkah?"

"Iya, lihat itu semua makan sayur sehat. Apalagi vitaminnya banyak. Kalau makan daging terus, terus nanti berlemak semua di dalam tubuh kamu. Mau di potong jadi sate ayam?"

"Enggak mau! Kalau begitu Kirana mau makan sayur, deh, biar cantik kayak, Tante," senyum Kirana deretan giginya putih.

"Nah! Itu baru anak pintar."

Dari tadi Fendy memerhatikan mereka berdua. Berasa nyata mempunyai keluarga yang sempurna.

Hari mulai sore, Bella, Kirana yang telah tertidur dipelukan Fendy dalam gendongan. Mereka jalan kaki kembali ke toko Bella.

"Terima kasih, ya, sudah mengajari putriku dan membujuknya agar mau makan sayur. Dia sulit untuk makan sayur, sampai neneknya capek. Setiap hari harus masak yang enak." Fendy baru bisa membuka suara mengucapkan Terima kasih pada Bella.

"Sama-sama. Semua anak-anak memang harus dibujuk perlahan-lahan agar tidak terlalu obsesi dengan satu makanan," ucap Bella senyum sampai di depan toko baju miliknya.

"Oke, sampai di sini saja," lanjut Bella menunggu Fendy kembali pulang.

"Eh ... aku mau tanya nama kamu siapa? Sepertinya kita sudah ketemu beberapa kali tapi tidak tahu nama satu sama lain." Fendy jadi grogi kalau tanya nama.

"Benar juga, ya. Aku pun lupa. Bella. Panggil saja Bella seperti nama toko ini!" Bella menunjukkan papan di atas depan tokonya Bella&Violet Shop

Fendy melihat lalu senyum. "Oh iya tidak tahu namanya Bella, juga. Panggil saja namaku Fendy. Kalau putriku ..."

"Kirana. Aku sudah tahu namanya pertama kali di mall saat meminta aku jadi istri-papanya. Anak-anak memang suka melantur," potong Bella panjang lebar.

"Bella ada telepon dari mama ka--mu. Oops! Sorry. Bella, mama kamu nih! Dari tadi telepon!" Leni memelankan suaranya.

"Ya sudah kalau begitu aku permisi pulang dulu," pamit Fendy,

Bella mengiakan lalu ia pun masuk ke toko menelepon mamanya kembali.

1
susi 2020
🙄😲😍
susi 2020
😍🥰
susi 2020
🙄😲
susi 2020
🥰🥰🤩
susi 2020
🤩😘😍
susi 2020
😍🥰
susi 2020
🤩😘😘
susi 2020
👍👍👍
Simon Petrus Tumika
Menarik
Lsaywong: ayo baca. sebelum karya ini hilang.
total 1 replies
ratna atiqah
J
ratna atiqah
H
ratna atiqah
B
Luthfi Arsyad
andai aku jdi bella pun sm pmikiran nya hnya demi untuk kirana semata
Luthfi Arsyad
bhasa nya prlu di perbaiki thorr biar ga bkin bingung yg bca
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞
bestttt
Detrieni Gemar Putri
wow sama tgl lahir anak kita bell 😂😂😂😂😂🙏🙏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kirana senengnya punya adik
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
keluarga bahagia
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
senengnya Fendy Bella hamil
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Fendy trus aja mikirin buat anak sama Bella
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!