NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA

Akupun bergegas naik motor mas Nandito, aku melihat kearah Putri lagi, tidak disangka pandangan ke Putri terhalang sosok yang tinggi, yang dari jauh sepertinya menatap tajam ke arahku.

Kak Aldrian, sepertinya betul betul kak Aldrian.

Dia melihatku dari kejauhan, bukannya aku terlalu percaya diri tapi aku yakin betul kalau dia sedang melihat ke arahku.

Tatapanya masih terlihat dipandanganku,

Walaupun aku diatas motor yang sedang melaju.

Tatapan yang hampir sama tadi siang, waktu aku bertaya "saya" sebelum akhirnya aku mengantar Putri ke UKS. Tapi kali ini lebih tajam.

Sepanjang perjalanan pulang aku masih saja berfikir, tapi ga taulah apa maksudnya.

Disaat aku mulai berfikir sedikit lebih keras tiba tiba motor mas Nandito berhenti.

Ssssstttt....

Akhirnya sampai rumah juga setelah perjalanan yang sangat melelahkan,

Jam 14.30 tepat motor Mas Nandito masuk garasi, aku turun dari motor dengan wajah yang malas lalu duduk dikursi melepas sepatuku.

Saat aku akan berdiri badan ini rasanya berat, rasa malas ini begitu kuat.

Buka pintu langsung disambut teriakan mba Renata :

"Selamatttttt...... Apa kabar anak manja... Bagaimana rasanya hari pertama jadi anak SMA, udah kenalan sama kakak kelas?"

Aku "Tau ah..."

Mba Renata "Sewot amat, kenapa??? Habis dihukum ya... "

Aku "ENGGAK!!!"

Sambil membawa cireng ditangannya mba Renata datang memelukku : "Trus kenapa anak manja???Mandi gih, rambutnya bau, bajunya basah keringat. Habis ngapain sih ni bocah"

Mas Nandito lagi rebahan di sofa sambil nonton TV ikut ikutan nyaut aja :

"Ga tau tuh bocah habis ngapain dari tadi bilangnya capek capek mulu"

Aku "Pada bawel amat sih, ga ngerasain sih tadi, dateng hampir telat, lari lari terburu buru sampai ditabrak orang ditangga, dijemur dilapangan, luar biasakan"

Ibu dari belakang berjalan cepat kearahku sambil meraba raba badanku "Yang sakit sebelah mana, ada lecet atau ada yang memar"

Mas Nandito "Kalo ada yang sakit pasti dia teriak teriak ibu, ibu tenang saja selama dia ga nangis berarti semua aman"

Ibu memelukku erat erat sambil menciumi rambutku " Sekolah ya seperti ini, dulu mas Nandito dan mba Renata juga ngalami sama kayak gini, sholat Dzuhur dulu ya, keburu waktunya habis, baru mandi. Nanti ibu bikinkan brownies kesukaamu"

Mba Renata "Tuh dengerin... dasar anak manja, gitu aja udah ngeluh"

Mas Nandito "Dia pikir cuma dia yang pernah sekolah SMA bu"

Aku melirik sambil mencibir kedua kakak beradik diseberang selalu kompak hanya urusan meledek adeknya.

Aku "Cuma ibu yang bisa ngertiin Aya, Siap ibu ratu... Amanat segera dilaksanakan"

Aku melepaskan pelukan ibu, berjalan ke kamar, sholat trus rebahan sebentar, diotak masih muter suara kak Aldrian

".... takutnya dia kenapa napa soalnya dari pagi diem mulu, makanya aku suruh ke UKS skalian..."

Ah udahlah dari tadi kepikiran mulu, lebih baik aku mandi, sholat Ashar trus kedapur nungguin ibu bikin brownies.

Aku menghampiri ibu didapur yang sedang sibuk memasak dan bikin brownies.

Aku "Ibu... Hari ini Bapak pulang jam berapa?"

Ibu "Bapak tadi bilang hari ini pulang malem, kenapa?"

Aku "Sepertinya Bapak lagi banyak pekerjaan, berarti proyeknya banyak ya bu?"

Ibu "Ya Alhamdulillah"

Aku "Toko Ibu juga akhir akhir ini ramai, sampai sampai Pak Topo sama Pak Wandi lembur merakit sepeda"

Ibu "Ya Alhamdulillah juga, ini pembicaraan Aya arahnya mau kemana ini??? Ibu jadi curiga ada pak Topo dan pak Wandi dibawa bawa segala"

Aku senyum senyum sambil membantu ibu menata meja makan : "Boleh bu Aya dibelikan motor sendiri, Aya kepengen berangkat naik motor sendiri jadi ga nunggu nunggu mas Nandito dan mba Renata kosong"

Mas Nandito yang dari tadi duduk santai didepan TV berjalan cepat ke arahku, sambil matanya melotot seperti mau keluar :

"Apa... mas ga salah denger??? Minta motor??? Anak sekecil ini mau naik motor sendiri di jalan raya!!!! Enggak boleh!!!"

Ibu "Tuh denger mas Nandito bilang apa,,, anak kecil ga boleh naik motor sendiri dijalan raya"

Aku "Mas Nandito dulu bawa motor waktu masih piyik malahan, baru SMP, lagian sekolah Aya deket"

Mas Nandito "Mas tuh anak besar jadi bebas mau naik motor, liat tu kamu,, masih kecil gini naik motor dijalan raya, bahaya tau"

Ibu "Betul itu kata mas Nandito, kamu pikir pikir saja dulu. Udah buruan makan, sholat belajar trus tidur"

Susah memang berdebat sama mas Nandito. Dia selalu lebih unggul, selalu punya jawaban yang logis, jadi Ibu selalu percaya.

PAGI HARI

Pagi ini aku sudah bersiap siap kesekolah.

Sudah memakai baju rapi, dasi terpasang, name tag terpasang, sepatu masih kinclong.

Jadwal berangkat sekolah hari ini masih bersama mas Nandito. Aku menunggu mas Nandito di teras, kali ini sepertinya aku tidak akan terlambat.

Aku "Mas Nandito buruan... Aku udah siap dari tadi..., atau aku sama mba Renata aja yang udah siap"

Mba Renata yang sedang memanaskan motor vespa nya berteriak "Mas Nandito buruan!!! Tuh anak manja udah siap didepan"

Mba Renata melaju bersama motornya sambil meledek kearahku : "Da.. Da anak manja, selamat menunggu..."

Mba Renata ini tomboy, penampilanya kayak cowok, temen temenya juga hampir semua cowok, Kadang aku melihat mba Renata bawa motor asyik banget.

Sebenernya aku juga bisa naik motor sendiri tapi tetep aja setiap berangkat sekolah harus nunggu dua kakak beradik yang kosong.

Gini amat ya jadi anak bungsu, dimata mereka tetep aja jadi anak kecil padahal badan udah sebongsor ini.

Akhirnya mas Nandito keluar menaiki motor tiger kesayanganya dari garasi.

Mas Nandito "Bocah... buruan naik katanya bahaya kalau telat!!!"

Akupun duduk dibelakang mas Nandito "Oke siap berangkat pak sopir"

Kali ini perjalan kesekolah sedikit santai, jalan ramai seperti biasa jam jam anak sekolah.

Mas Nandito "Kita lewat pasar burung saja ya!!"

Aku "Terserahlah, mas Nandito pasti mau liat kios ikan didepan kan???"

Mas Nandito "Iya, tau aja.. Ntar sore mas mau beli ikan Arwana"

Saat kami melewati pasar burung tiba tiba saja kak Nandito mengerem motornya.

BRUKKKKKKKKK

Hampir saja jantungku mau lepas, dari belakang ada hantaman, nggak keras tapi mengagetkan.

Mas Nandito langsung turun dari motornya, aku juga turun. Dengan nada marah mas Nandito : "Siapa sih yang ..........."

Motor dibelakang kami oleng, warna hitam. Yang naik nuruni standart, turun dari motor nyamperin mas Nandito tapi matanya tertuju ke motor mas Nandito.

Mas Nandito sambil ngecek motornya "Kamu hati hati kalau naik motor, untung kita ga kenapa napa"

Orang yang naik motor tadi berdiri didepan mas Nandito, dia membuka helmnya.

Dug... Jantungku copot

DIA

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!