NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kilas balik tentang ingatan masa lalu Zara mendadak muncul saat mobil Rolls-Royce itu meluncur meninggalkan area mal.

Selama bertahun-tahun setelah Ibunya meninggal, rumah keluarga Adhitama adalah panggung sandiwara yang melelahkan bagi Zara.

Di depan Hendra, Roselin akan bertingkah bagai ibu kandung yang penuh kasih sayang, ia akan menyuapi Zara, membelikan gaun-gaun manis, dan mengusap kepalanya dengan kehangatan yang palsu. Selene pun akan berakting menjadi adik yang mengagumi dan manja pada kakak sulungnya.

Namun, begitu Hendra menjauh dari gerbang rumah, topeng-topeng indah itu jatuh seketika.

Suara lembut Roselin berubah menjadi hardikan tajam yang membuat hati Zara hancur berkeping-keping.

Kamar Zara dipindahkan ke sudut paling belakang, barang-barang peninggalan ibunya juga disingkirkan satu per satu, dan tugas-tugas rumah ditumpukkan ke pundak Zara meskipun ada banyak pelayan di sana.

Selene bahkan tak segan menampar atau merusak barang-barang Zara dan barang miliknya sendiri, lalu menangis histeris berpura-pura menjadi korban saat Hendra pulang.

Zara kecil yang polos pernah berulang kali berlari ke ruang kerja ayahnya. Dengan berlinang air mata, ia mengadukan semua siksaan mental dan fisik yang diterimanya.

Namun, respons Hendra selalu sama, tatapan kecewa dan bentakan keras seolah Zara lah yang salah selama ini.

"Jangan memfitnah Ibumu dan adikmu, Zara! Mereka begitu baik padamu! Mana buktinya? CCTV di rumah ini tidak pernah merekam hal-hal yang kamu tuduhkan! Mereka justru memperlakukanmu dengan lemah lembut."

Tentu saja CCTV tidak pernah merekamnya.

Roselin cukup cerdik untuk mengetahui setiap sudut blind spot kamera di rumah itu, bahkan beberapa kali sengaja menghapus bukti CCTV setelah menyiksa Zara.

Tanpa bukti fisik, aduan Zara hanya dianggap sebagai bentuk rasa iri dan gangguan kecemasan seorang anak bertemperamen buruk oleh ayahnya. Hendra sendiri lebih memilih percaya pada tangisan buaya Roselin daripada putri kandungnya sendiri.

Sejak hari itu, Zara berhenti mengadu pada sosok yang dulunya ia anggap sebagai pahlawannya.

Ia belajar mengunci rapat-rapt mulutnya dan menelan semua kepahitan itu sendirian.

Sedangkan di ruang utama kediaman Adhitama, rasa cemas dan ketakutan mulai mengikis rasa percaya diri yang beberapa jam lalu Roselin dan Selene banggakan.

"Mami! Kenapa Zara jadi seberani itu?!" seru Selene sambil menghentakkan kakinya, wajah yang tadinya dipoles sempurna itu kini memerah menahan kekesalan.

"Dia tadi menatap kita seolah-olah kita ini cuma serangga! Mana ada Zara yang penakut dan cuma bisa diam waktu disiksa? Tatapan matanya tadi benar-benar mirip orang asing!" Selene berteriak kembali, kmia tidak suka melihat Zara jadi berani untuk melawan balik.

Roselin berdiri terpaku di dekat sofa, ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.

Bayangan senyum Zara yang mirip dengan wanita yang paling dibencinya seumur hidup dan kehadiran sopir pribadi keluarga Benedict yang menyebut Zara sebagai Nyonya Benedict dengan begitu lantang di depan umum masih berputar-putar di kepalanya.

"Tenanglah, Selene! Jangan berteriak-teriak seperti orang kesetanan!" tegur Roselin keras.

"Gimana bisa tenang, Mi?!" Selene meracau, sambil berjalan bolak-balik di atas karpet mahal.

"Zara tadi bilang kalau ikatan dia dengan Regantara adalah satu-satunya hal yang menahan perusahaan Papi dari kebangkrutan! Dari mana anak sialan itu tahu soal kondisi keuangan Papi? Dan kenapa sopir Regantara kelihatan begitu tunduk sama dia?!"

Roselin mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Selama bertahun-tahun, mereka berhasil mengendalikan Zara karena gadis itu tidak punya siapa-siapa. Mereka mematikan CCTV, memutarbalikkan fakta di depan Hendra, dan membuat Hendra menganggap Zara sebagai anak pembawa masalah yang tidak tahu berterima kasih.

Zara yang mereka kenal adalah sosok yang akan mengunci diri di kamar dan menerima semua perlakuan buruk tanpa bisa melawan.

Tapi wanita yang mereka temui di kafe tadi, itu bukanlah Zara yang sama.

"Anak itu cuma gertak sambal, dia cuma memanfaatkan gelar Nyonya Benedict untuk gaya-gayaan di depan kita. Dia pikir hanya karena dia tinggal di rumah besar itu, dia punya kekuasaan?" ujar Roselin, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski suaranya sedikit bergetar.

"Tapi kalau Regantara ternyata membantunya gimana, Mi? Kalau Regantara kasih dia akses uang dan pengaruh untuk balas dendam sama kita gimana?!" desak Selene dengan mata melebar panik. Ia tidak mau, ia tidak terima Zara bisa mendapatkan semua itu.

"Tidak mungkin!" potong Roselin cepat.

"Regantara bahkan tidak menganggapnya! Mana mungkin Regantara sudi membantu wanita pengganti yang tidak bernilai seperti Zara?"

Roselin melangkah mendekati Selene, ia memegang kedua bahu putrinya dengan kuat.

"Dengar Mami, Selene. Besok pagi pihak bank dan utusan investor akan datang ke kantor Papi untuk mengonfirmasi bantuan dana. Begitu uang itu cair, perusahaan Papi aman. Dan saat itu tiba, kita tidak butuh Zara lagi. Biarkan dia membusuk di rumah dingin milik Benedict itu sendirian."

Namun, tepat saat Roselin menyelesaikan kalimatnya, telepon miliknya yang ia taruh di atas meja berdering nyaring.

"Ada apa Mas?"

"Roselin! Pihak bank dan perwakilan Benedict Group baru saja mengirim kabar! Surat konfirmasi restrukturisasi utang dan nota kesepahaman awal sudah diterbitkan! Mereka menyetujui semua pengajuan kita!"

Suara Hendra di ujung telepon sana terdengar penuh kegembiraan yang meluap-luap.

Roselin yang tadinya menahan napas panik seketika tertegun. Matanya membelalak, lalu perlahan beralih menatap Selene.

"S-sungguh, Mas?" tanya Roselin memastikan, suaranya kembali dipenuhi nada tinggi yang condong ke arah kesombongan.

"Sungguh, Mi! Bantuan dana ini bahkan lebih besar dari perkiraan awal kita! Semua utang Adhitama Group dijaminkan aman oleh kreditur baru ini," seru Hendra gembira. "Perusahaan kita selamat! Besok Papi akan mengadakan pesta perayaan di rumah!"

Setelah sambungan telepon terputus, Roselin mematikan layar ponselnya. Ia mendongak, menatap Selene yang masih menatapnya dengan raut wajah bingung dan menuntut penjelasan.

"Mami! Kenapa Papi telepon? Kenapa Mami senyum-senyum begitu?!" tanya Selene lagi dengan nada jengkel. "Bagaimana ini, Mi! Aku tidak mau Zara merasa di atas angin, dia kurang ajar! Aku tidak rela kalau dia merasa lebih hebat dari kita!" ujarnya.

Roselin tertawa keras, sebuah tawa renyah yang angkuh, dan penuh kemenangan yang kini menggema di seluruh ruang keluarga Adhitama.

Ia melangkah santai menuju meja, lalu meletakkan ponselnya kembali dan mengibaskan rambutnya yang tertata rapi.

"Tenanglah, Selene! Dengarkan Mami dulu!" panggil Roselin seraya memegang bahu putrinya dengan senyum lebar.

"Papi baru saja menelepon, surat persetujuan bantuan dana dan restrukturisasi utang perusahaan kita sudah keluar! Benedict Group dan bank resmi menjamin posisi Adhitama Group!"

Mata Selene seketika berbinar.

"Maksud Mami... perusahaan Papi selamat?"

"Bukan cuma selamat, Selene! Kita makin kaya!" seru Roselin puas. "Kamu dengar sendiri, kan? Gertakan Zara tadi siang di kafe itu cuma gertak sambal! Dia bilang ikatan pernkahannya yang menahan perusahaan Papi? Ha! Mana ada! Bantuan dana ini cair karena nama besar Papi dan koneksi keluarga kita, bukan karena si anak sialan itu!" jelasnya.

Selene menutup mulutnya, tak percaya.

Senyum culas perlahan terukir kembali di wajah cantiknya.

"Jadi... Regantara tidak bantu Zara apa-apa?"

"Sama sekali tidak!" tegas Roselin dengan senyum sinis. "Zara cuma kebetulan ada di sana saat dokumen ini diurus, dia itu bukan siapa-siapa di mata Regantara. Sekarang, perusahaan kita makin kuat, uang kita makin banyak, dan posisi kita tidak tertandingi!"

Roselin mengelus pipi Selene lembut dengan sorot mata yang penuh dengan intrik beracun.

"Biarkan si Zara itu sombong sebentar di rumah Benedict, besok Papi akan membuat pesta perayaan besar di rumah ini. Mami akan undang seluruh rekan bisnis dan media. Mami juga akan panggil Zara ke sini... biar dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa yang sebenarnya memegang kendali dan siapa yang cuma jadi tumbal!"

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!