Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Denting garpu dan gelas kristal mewah menggema di dalam aula luas bernuansa klasik modern itu. Di balik meja melingkar yang megah, duduk tiga belas perwakilan anak perusahaan dari seluruh penjuru dunia. Di antara para penguasa korporat yang matang dan berwibawa tersebut, Vano duduk tenang sebagai pewaris termuda. Meski usianya paling belia, posisi duduknya berada di kursi khusus yang sejajar dengan para petinggi lainnya.
Dari total tiga belas pewaris, posisi nomor satu hingga tujuh dikenal sebagai para ELIT—mereka adalah sekumpulan manusia dengan tekanan aura intimidasi yang sanggup menciutkan nyali siapa saja. Vano masih ingat betul pertemuan bulan lalu di Jerman bersama Eren, tangan kanannya. Di sana, perwakilan Elit pertama menunjukkan aura yang begitu pekat dan dominan hingga atmosfer ruangan terasa membeku.
Kini, di pertemuan rutin bulanan yang diadakan di lokasi rahasia yang berbeda-beda, tatapan tajam para Elit itu kembali terarah lurus pada Vano. Sebuah pertanyaan krusial baru saja dilemparkan oleh salah satu dari mereka.
Vano menegakkan punggungnya, menatap tenang perwakilan di hadapannya sebelum membuka suara.
My answer remains the same,
"Jawaban saya tetap sama," ucap Vano tegas
Ruangan mendadak hening. Vano melanjutkan kalimatnya tanpa keraguan sedikit pun, memberikan jawaban yang selalu sama di setiap pertemuan turun-temurun keluarga mereka.
With the seal still perfectly locked.
"Dengan segel yang masih terkunci sempurna."
Without a single scratch.
"Tanpa goresan."
Mendengar hal itu, salah satu perwakilan Elit menghela napas berat, menyandarkan tubuhnya ke kursi mahoni sembari mengetukkan jari di atas meja.
So, still no one has open it yet,
"Masih belum ada yang membukanya ya," komentarnya dengan nada kecewa yang tersamar. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling meja.
Anyone else?
"Silakan yang lain?"
Seorang perwakilan dari barisan non-Elit mengangkat tangan. Rasa penasaran yang tertahan sekian lama membuatnya nekat menyuarakan isi kepalanya.
What kind of person is expected to open it?
"Orang seperti apa yang akan membukanya?" tanyanya antusias, sebelum kemudian melontarkan kalimat yang jauh lebih berani.
Why don't the true Rulers just step down and open it themselves?!
"Kenapa bukan para Penguasa saja yang turun untuk membuka?!"
Deg.
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah drastis. Seluruh perwakilan Elit membelalakkan mata, menatap kaget ke arah pria yang baru saja melontarkan pertanyaan tabu tersebut. Rasa tegang langsung mencekik ruangan.
Brak!!!
Sebuah hantaman keras menghantam meja kayu solid hingga cangkir-cangkir porselen di atasnya berdenting nyaring. Salah satu anggota Elit berdiri dengan napas memburu dan wajah tegang.
You have no right to ask that here!
"Kau tidak berhak menanyakan itu di sini!" bentaknya dengan urat leher yang menegang.
Don't be reckless!
"Jangan sembarangan!" timpal Elit lainnya dengan nada memperingatkan.
Vano hanya memperhatikan keributan itu dari kursinya dengan tatapan datar. Di belakangnya, Eren berdiri tegak, menyaksikan perdebatan membosankan yang sudah menjadi makanan sehari-hari mereka setiap bulan.
‘Pertanyaan yang mewakili...’ batin Vano. Ia melirik perwakilan yang tadi membentak.
'Dan pertanyaan kedua itu sebenarnya sangat ingin aku tanyakan sendiri.’
Namun Vano tahu diri. Mereka memang tidak punya hak. Bagi orang-orang di ruangan ini, bisa bertahan hidup dengan apa yang ada di depan mata saja sudah lebih dari cukup. Mengusik para Penguasa sama saja dengan mengantar nyawa.
Pikiran Vano mulai melantur jauh.
‘Membayangkan kalau aura turunan yang aku miliki dari nenek moyangku sampai diketahui oleh seluruh dunia...’
Saking ngerinya membayangkan konsekuensi tersebut, sebuah umpatan spontan lolos begitu saja dari bibir Vano tanpa ia sadari.
"Mampus!!!"
Suara Vano yang cukup keras itu seketika memotong perdebatan panas di tengah ruangan. Detik itu juga, seluruh pasang mata—termasuk para Elit yang sedang murka—langsung menoleh dan tertuju lurus pada Vano. Suasana mendadak hening mencekam.
Eren yang berdiri di belakang Vano hampir saja melompat dari tempatnya karena terkejut. Jantungnya serasa copot. Dengan panik, ia membungkukkan sedikit tubuhnya dan berbisik dengan nada mendesak di telinga Vano.
Vano! Are you out of your mind?!
"Vano! Kau sudah gila ya?!" bisik Eren setengah mati menahan suaranya agar tidak terdengar yang lain.
What do you mean by that?! Answer them, quickly!
"Apa maksudmu begitu! Cepat jawab!"
Vano mematung, mendadak kaku menyadari kebodohannya sendiri. Salah satu perwakilan Elit kini menyipitkan mata, menuntut penjelasan atas umpatan aneh yang baru saja diucapkan sang pewaris termuda.
"Ah..." Vano berdeham kecil, mencoba menguasai kegugupannya secepat mungkin. Ia mengangkat sebelah tangannya sedikit.
My apologies,
"Maaf," ujar Vano, mencoba terdengar seformal mungkin.
It wasn't meant for you all.
"Bukan pada kalian."
I just have a lot on my mind,
"Saya sedang banyak pikiran," jelas Vano singkat sembari memalingkan wajahnya ke arah Eren untuk menghindari tatapan menghakimi dari seisi ruangan.
Melihat Vano malah menatapnya, Eren melotot tajam. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
‘Kenapa lihat-lihat aku?!’ batin Eren berteriak panik, takut kalau orang-orang akan mengira dirinya yang menghasut Vano.
Vano kembali memutar tubuhnya menghadap meja perjamuan, berpura-pura kembali mendengarkan perdebatan yang perlahan mulai berlanjut meski suasananya masih terasa canggung.
Namun, belum sempat tensi di ruangan itu benar-benar turun, sebuah kejutan lain datang menghantam. Langkah kaki yang konstan dan berwibawa terdengar dari arah pintu masuk aula yang terbuka lebar.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki itu menggema di lantai marmer, membawa sebuah tekanan tak kasat mata yang membuat pasokan oksigen di dalam ruangan seolah menipis secara drastis. Sebuah suara bariton yang tenang namun penuh otoritas memecah keheningan.
May I join?
"Apa aku boleh bergabung?"
Mendengar suara itu, seluruh perwakilan Elit yang tadinya duduk angkuh seketika berdiri serentak. Kursi-kursi mereka bergeser mundur dengan kasar. Wajah para Elit aura kuat itu memucat karena terkejut yang luar biasa.
Lord Rael...!!!
"Tuan Rael...!!!"
^^^Bersambung...^^^
apa jangan2 dia juga golongan dari mereka?
apakah sang MC kita adalah salah seorang keturunan penguasa elite namun hanya menyamar menjadi manusia biasa? tapi, kalo pun menyamar menjadi manusia biasa, apa tujuannya? apa ga kasian sama keluarga kecilnya?🤔🤔🤔
sungguh kontras yang membuat kedua pihak sama-sama saling mencurigai /Shy/