NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengutarakan rencana.

"Apa kau punya kekasih, Nak?"

Pertanyaan itu sudah ia duga sebelumnya ketika ia memutuskan untuk datang ke rumah ini.

Pertanyaan orang tuanya tidak pernah jauh dari pernikahan dan juga soal kekasih. Apa hal itu begitu penting untuk dibahas setiap kali mereka bertemu?

Kaiden lalu tersenyum tipis. "Papa dan Mama pasti sudah tahu jawabannya."

Anak ini memang tidak mudah untuk diajak bicara. Batin Zafran menatap putranya dengan wajah masam.

"Kalau begitu, apa kau masih ingat dengan paman Reyhan?" Zafran kembali bertanya pada putranya itu.

Dahi Kaiden seketika mengernyit halus, tampak berpikir tentang nama tersebut. "Maksud Papa... Reyhan Aditya?" tanyanya memastikan.

Satu-satunya orang yang ia kenal bernama Reyhan hanyalah Reyhan Aditya, orang yang pernah berjasa untuk menyelamatkan perusahaan mereka yang hampir bangkrut.

"Ya. Dia lah yang Papa maksud."

"Memangnya kenapa dengan paman Reyhan?" tanya pria berkacamata itu, tampak tertarik dengan hal tersebut.

Zafran lalu menceritakan segalanya pada Kaiden. Di mulai dari pabrik milik Reyhan yang harus ditutup karena mengalami kebangkrutan total, rumah mereka yang terpaksa di sita bank karena tidak sanggup melunasi pinjaman yang menumpuk, serta istrinya yang meminta cerai di saat kondisi mereka sedang terpuruk.

Semua itu menyisakan luka dan kesedihan mendalam di hati Zafran dan Belinda karena tidak bisa dengan segera membantu sahabatnya itu.

"Jadi... Papa dan Mama ingin aku membeli pabrik itu dan membangunnya kembali seperti semula?" tanya Kaiden mencoba memastikan pada kedua orang tuanya.

"Itu salah satunya, Nak. Kita harus membantu mereka mendapatkan pabrik itu kembali, tapi tentu saja dengan kesepakatan kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak." jelas Zafran dengan nada hati-hati.

Ia menatap putranya dalam-dalam, seolah berharap Kaiden bisa memahami maksud yang lebih dalam dari sekedar bisnis.

Ruang makan itu mendadak menjadi hening. Kaiden lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya tampak saling terlipat di depan dadanya. Tatapannya seketika menajam, bukan karena ragu, melainkan sedang menghitung segala kemungkinan.

"Kerjasama seperti apa?" tanyanya singkat.

"Kita akan bantu Reyhan bangkit kembali, tapi bukan sekedar untuk menyelamatkan. Kita masuk sebagai pemilik saham mayoritas. Pabrik itu akan dikelola di bawah naungan perusahaan kita." jelas ayahnya dengan jelas dan tegas.

Kaiden lalu terdiam, sembari berpikir. Itu terdengar masuk akal, sangat masuk akal.

Dengan kondisi Reyhan yang sudah terpuruk dan tua, tawaran itu jelas akan sulit ditolak. Namun, Kaiden tahu bahwa ini bukanlah sekedar urusan bisnis semata.

"Pa... ini bukan hanya soal pabrik, kan?"

Zafran menghela napas panjang yang terdengar berat. "Papa tidak bisa melihat sahabat Papa jatuh sejauh itu. Reyhan pernah membantu kita saat kita hampir kehilangan segalanya dulu."

Kalimat itu membuat sorot mata Kaiden sedikit berubah.

"Papa ingin membalas semua jasanya." lanjut Zafran dengan nada yang lirih.

Kaiden menghela napas sejenak. "Baiklah, aku setuju." ucapnya pelan, namun penuh ketegasan. "Tapi, aku tidak akan menjalankan perusahaan ini dengan menggunakan perasaan, semua harus berjalan sesuai dengan aturan bisnis yang sudah disepakati."

"Tentu saja, Nak." sahut Zafran tegas. "Itu yang Papa harapkan dirimu."

"Aku akan segera membeli pabrik itu."

Zafran dan Belinda tampak tersenyum lega, namun tidak dengan Kaiden. Pria itu tampaknya belum selesai bicara.

"Dengan satu syarat."

Zafran tampak mengernyit. "Syarat apa?"

"Kendali perusahaan sepenuhnya berada padaku." nada suaranya datar, tanpa kompromi. "Dan... semua keputusan akan ada di tanganku. Tidak ada campur tangan dari paman Reyhan maupun keluarganya."

Ucapan itu membuat Belinda sedikit terkejut. "Kaiden, bukankah itu terlalu-"

"Ini bisnis, Ma." potong Kaiden tegas. "Kalau aku gagal, bukan hanya mereka yang jatuh. Nama perusahaan Kita juga akan ikut hancur."

Zafran terdiam, lalu perlahan mengangguk. Apa yang dikatakan putranya memang benar. Dan ia juga menyetujui perkataannya.

"Baiklah. Terserah bagaimana caramu saja. Ayah akan membicarakan dengan Reyhan nanti."

Kaiden lalu menghela napas pendek. "Lalu... katakan padaku apa yang ingin kalian sampaikan sebenarnya padaku. Ini bukan hanya soal bisnis saja, kan?"

Zafran dan Belinda tampak saling berpandangan sejenak. Ada jeda yang terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah kata-kata berikutnya bukanlah hal yang mudah untuk diucapkan.

Kaiden menyipitkan matanya, menatap Papa dan Mamanya yang seketika tampak ragu.

Belinda menarik napas pelan, lalu menatap putranya dengan lembut. "Sebenarnya... ada satu hal lagi yang ingin kamu sampaikan padamu."

"Langsung saja." jawab Kaiden datar.

Zafran akhirnya bicara. "Selain membantu Reyhan mendapatkan kembali pabriknya, kamu juga ingin menyatukan kedua keluarga ini."

Kaiden sepertinya sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir.

"Kami ingin kau menikah dengan putri Reyhan."

Kaiden menatap kedua orang tuanya dengan tatapan mata yang tajam. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya itu.

"Menikah?" ulangnya dengan nada yang rendah, namun jelas penuh penolakan.

"Namanya Zalina." lanjut Belinda pelan." Kau pasti mengingat gadis itu, kan? Kalian sering bertemu ketika kalian masih kecil. Usianya memang terpaut cukup jauh darimu. Tapi, kalian berdua berteman baik saat itu."

Kaiden tampak mengernyit sejenak. Rasa-rasanya ia memang pernah mengenal gadis itu. Tapi, ia tidak terlalu ingat padanya. Tapi, bukan itu intinya...

"Jadi, ini tujuan Papa dan Mama sebenarnya? Menyuruhku untuk membeli pabrik mereka, lalu mengikat mereka dengan sebuah pernikahan?" ucapnya dingin, dengan rahang yang mengeras.

"Bukan seperti itu, Kai!" sanggah Zafran cepat. "Ini bukan transaksi Kaiden, ini... jalan untuk saling menguatkan."

Kaiden terkekeh pelan, tapi tanpa sedikit pun kehangatan dalam tawanya."Kedengarannya tetap seperti kesepakatan."

Belinda menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu hanya ingin memastikan Reyhan tidak kehilangan segalanya, dan kau juga tidak sendiri di masa depan."

"Aku tidak butuh itu, Bu." jawab Kaiden dingin. "Dan aku tidak menikahi seseorang hanya karena kalian memaksaku."

Zafran menghela napas panjang. "Kaiden, dengarkan Papa dulu. Zalina bukan wanita sembarangan. Dia sudah banyak berkorban untuk keluarganya. Bahkan di tengah kondisi seperti ini, dia tetap mendukung ayahnya dan berdiri di sampingnya."

"Itu tidak ada hubungannya denganku." sahut Kaiden cepat.

Suasana mulai memanas.

"Ini ada hubungannya dengan tanggung jawab!" suara Zafran sedikit meninggi. "Kau akan mengambil alih pabrik mereka. Kau akan masuk ke dalam kehidupan mereka. Pernikahan ini akan membuat semuanya lebih kuat, dan stabil."

Kaiden menatap ayahnya tajam. "Atau lebih terkekang?"

Kalimat itu membuat Zafran terdiam.

Kaiden melanjutkan, suaranya lebih tenang, tapi justru terdengar lebih menusuk. "Aku setuju untuk membantu paman Reyhan. Aku akan membeli pabriknya dan membangunnya kembali. Tapi... jangan pernah mencampuri urusan bisnis dengan urusan pribadiku."

Belinda menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. "Mama hanya ingin melihatmu bahagia..."

Kaiden paling tak bisa melihat ibunya menangis.

"Aku akan bahagia dengan caraku sendiri, Ma." jawab Kaiden melembut, namun tetap tegas.

Kaiden berdiri dari kursinya dan melangkah perlahan menuju pintu keluar. Namun, ketika ia akan mencapai pintu, langkahnya terhenti.

"Aku tidak menolak sepenuhnya..." ucapnya tiba-tiba, tanpa berbalik.

Zafran dan Belinda langsung menatapnya.

"Tapi jangan berharap aku akan langsung menerima." lanjut Kaiden. "Jika memang kalian ingin ini terjadi, biarkan aku yang memutuskan setelah aku mengenalnya."

Ada jeda sejenak, sebelum Kaiden melanjutkan perkataannya.

"Dan satu hal lagi," nada suaranya kembali dingin. "Jangan pernah menjanjikan apapun pada mereka, sebelum aku sendiri yang mengatakan ya."

Setelah itu, Kaiden benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.

Sementara di dalam...

Belinda mengusap air matanya perlahan. "Menurut Papa, dia akan berubah pikiran?"

"Kaiden mungkin keras kepala, tapi dia tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan." gumam Zafran pelan.

Ia menghela napas panjang, "Semoga saja pertemuan mereka nanti, akan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan." lanjut pria itu penuh harap.

🥀🥀🥀

Hai... Jangan lupa tinggalkan jejak kamu setelah membaca bab ini ya.

Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya. 🤗

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!