menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pencarian ras baru
Beberapa bulan telah berlalu sejak perjanjian diplomasi ekspor-impor batu magis dan mineral berharga dengan Kerajaan Oscar resmi disepakati. Keputusanku untuk membuka jalur perdagangan rahasia terbukti membawa dampak yang luar biasa masif bagi perkembangan gunung purba ini.
Wilayah dalam dungeonku kini tidak lagi sepi; ada banyak sekali pelancong, pedagang, hingga imigran dari golongan ras manusia yang memutuskan menetap karena kagum dengan sistem hukum damai antar-ras yang kupimpin.
Namun, seiring dengan melonjaknya jumlah populasi masyarakat ras manusia di dalam wilayah Shadow Aethelgard, tugas administrasiku di atas takhta batu hitam pun ikut menumpuk seperti gunung. Aku tidak bisa terus-menerus mengurus berkas dokumen dan riset sendirian sembari memikirkan ekspansi militer.
Aku membutuhkan tangan kanan baru dari golongan ras manusia yang memiliki keahlian spesifik di bidang sains dan diplomasi politik luar negeri.
Setelah menyaring ribuan data penduduk baru melalui bantuan Sistem, aku akhirnya menemukan dua kandidat manusia terbaik yang memiliki bakat luar biasa langka. Hari ini, aku memanggil kedua orang tersebut untuk menghadap langsung ke aula utama istana gothic milikku.
Suasana aula takhta terasa begitu megah dan mengintimidasi saat sepasang manusia tersebut melangkah perlahan di atas lantai marmer hitam. Di sisi singgasanaku, Alpha si Penyihir Agung berdiri dengan anggun sembari memeluk tongkat sihirnya, mengawasi kedua imigran tersebut.
Di hadapan takhtaku, kedua orang itu—seorang gadis muda dan seorang pemuda tangguh—langsung berlutut dengan khidmat sembari menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Aku menopang daguku dengan tangan kiri, menatap mereka dalam wujud manusia tiruanku yang karismatik.
"Hooo... Jadi kalian berdua yang sudah aku panggil berdasarkan rekomendasi data wilayah?" tanyaku dengan suara bariton yang bergema berwibawa di dalam ruangan.
"Iya, Yang Mulia!" Jawab mereka berdua secara serempak tanpa keraguan.
Meskipun tubuh mereka sedikit gemetar akibat merasakan tekanan aura dewa bayangan yang samar-samar keluar dari tubuhku, pandangan mata mereka tetap menyiratkan tekad yang kuat.
Aku menyandarkan punggungku ke sandaran takhta batu hitam.
"Bagus. Sebelum aku memberikan tugas besar kepada kalian, perkenalkan diri kalian terlebih dahulu di hadapanku dan di hadapan Penyihir Agung," ucapku tenang namun tegas.
"Baik, Yang Mulia," sahut mereka patuh.
Aku mengarahkan pandanganku pada sosok gadis muda yang berada di sisi kiri.
"Dimulai dari kamu dulu. Siapa namamu, Gadis Muda?" ucapku mempersilakannya.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu mendongak menatapku.
"Siap, Yang Mulia! Saya izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Alya Gureat, berumur 18 tahun. Saya adalah seorang alkemis dan peneliti material magis," jawabnya dengan nada suara yang lantang dan sopan.
Aku tersenyum tipis Seorang ahli kimia magis berusia muda dengan bakat potensial.
"Hoo... Bagus sekali, Alya. Dengan keahlian riset yang kau miliki, mulai detik ini kau resmi kunobatankan sebagai Alkemis Utama dan Kepala Laboratorium Penelitian Kerajaan Shadow Aethelgard! Dan sebagai bentuk ikatan sumpah setia, aku akan memberimu sebuah nama kode baru, apakah kau bersedia?"
Mendengar tawaran yang begitu agung, mata Alya Gureat langsung berbinar haru penuh keterkejutan.
"Ehh... M-Memberiku nama baru langsung dari tangan Anda? Sebuah kehormatan yang luar biasa besar... Dengan senang hati, Yang Mulia!" Jawabnya sembari kembali membungkuk dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh lantai.
Aku mengangkat tangan kananku, memancarkan sedikit riak energi kegelapan yang lembut ke arah tubuhnya sebagai berkat kerajaan.
"Baiklah, Alya Gureat. Nama kodemu sekarang adalah... Beta!"
"Siap, Tuanku! Mulai hari ini, seluruh pengetahuan dan ramuan sihir yang kuciptakan hanya akan didedikasikan demi kejayaan panji Anda!" Ucap Beta dengan wajah penuh kebanggaan baru.
Aku mengangguk puas, lalu mengalihkan pandangan mataku yang berwarna ungu tajam menuju sosok pemuda di samping Beta.
"Sekarang giliranmu. Silakan perkenalkan dirimu, Anak Muda," ucapku padanya.
Pemuda itu menegakkan bahunya yang tegap, menatapku dengan pandangan mata seorang negosiator ulung yang penuh perhitungan cerdas.
"Siap! Saya izin memperkenalkan diri, Yang Mulia. Nama saya adalah Gilbert Torafalgar, berumur 19 tahun. Saya tidak memiliki bakat bertarung di garis depan, namun saya memiliki keterampilan negosiasi tingkat tinggi, memahami hukum lintas negara, dan mampu memanfaatkan situasi serta kondisi seburuk apa pun demi meraih keuntungan terbaik!" Jawabnya dengan nada bicara yang sangat terstruktur dan penuh karisma.
Aku mengetuk lengan takhtaku, merasa sangat tertarik dengan profil pemuda ini. Gilbert Torafalgar... Otak politik yang cerdas. Persis seperti tipe menteri luar negeri yang kubutuhkan saat ini, pikirku senang.
"Hmmm... Gilbert Torafalgar... Keahlian negosiasi dan analisis politik yang kau miliki bener-bener lumayan dan sangat mengagumkan. Mulai hari ini, kau kutetapkan menjadi seorang Utusan Agung dan Diplomat Tertinggi Kerajaan! Dan sama seperti rekan di sampingmu, aku juga akan memberimu sebuah nama kode khusus!" Ucapku tegas.
"Siap, Yang Mulia! Saya siap menerima nama dan perintah apa pun dari Anda!" Jawab Gilbert dengan nada berapi-api.
"Nama kodemu sekarang adalah... Epsilon! Tugasmu sangat vital bagi masa depan peradaban kita. Kau adalah seorang utusan resmi kerajaan yang bertanggung jawab untuk menyatakan perdamaian, mengurus berkas aliansi, dan menjalin kerja sama diplomatik antar-negara manusia di dunia luar. Kau adalah... Utusan Diplomasi Agung Kerajaan Shadow Aethelgard!" Ucapku dengan suara lantang yang mengunci otoritasnya.
"Siap, melaksanakan tugas, Yang Mulia!" Jawab Epsilon penuh takzim.
Dengan masuknya Beta yang akan mengurus laboratorium pengolahan batu magis impor dari Oscar, serta Epsilon yang akan mengambil alih tumpukan berkas diplomasi luar negeri, beban pikiranku sebagai raja akhirnya menjadi jauh lebih ringan. Struktur internal kerajaanku kini semakin mewah dan kokoh.
Setelah proses penobatan dua jenderal ras manusia baru itu selesai dilaksanakan dengan lancar, aku memutuskan untuk tidak berdiam diri di dalam istana. Rasa penasaran dan naluri eksplorasiku sebagai Raja Iblis kembali bergejolak. Aku berniat untuk kembali keluar dari area gunung purba demi mencari dan merekrut kelompok ras baru untuk menambah keberagaman warga di Shadow Aethelgard.
Aku melangkah ke balkon istana, lalu melepaskan sepasang sayap kegelapan raksasa dari punggungku.
WUSH!
Dengan sekali kepakan kuat, aku melesat tinggi ke angkasa menembus hamparan awan senja, terbang mengelilingi seluruh penjuru hutan purba dan perbatasan benua luar yang belum terpetakan.
Proses pencarian kali ini ternyata memakan waktu yang jauh lebih lama dan melelahkan dari biasanya. Aku terbang berputar-putar di langit luas selama setengah hari penuh, meneliti setiap lekuk lembah dan jurang tersembunyi. Hingga akhirnya, saat matahari mulai bergeser ke arah barat, indra sensor bayanganku menangkap sebuah hawa keberadaan energi naga yang sangat pekat namun terasa sangat melemah di sebuah lembah berbatu merah.
Aku menukik turun melewati celah tebing terjal untuk memeriksa. Di dasar lembah tersembunyi tersebut, aku tertegun melihat pemandangan sebuah pemukiman kuno yang dihuni oleh kelompok Ras Naga Merah (Dragonewt / Semi Naga). Menyedihkan sekali, dari hasil pemindaian indra sihirku, ras naga yang terkenal sangat legendaris dan agung ini ternyata kondisinya sudah berada di ambang kepunahan total akibat terus-menerus diburu oleh aliansi ksatria manusia dari kekaisaran luar. Jumlah mereka yang tersisa di dalam desa tersembunyi ini tidak lebih dari seratus ekor, dengan kondisi fisik yang dipenuhi luka goresan pedang suci.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mendarat dengan mulus di tengah-tengah pemukiman mereka, menciptakan kepulan debu tipis yang instan memicu kepanikan massal. Puluhan ksatria semi naga langsung melompat keluar dengan posisi siaga, memamerkan taring dan sisik merah mereka yang mengeras.
Aku melangkah maju dengan tenang, menuntut untuk berbicara langsung dengan kepala desa mereka. Pertemuan pertama kami awalnya tidak berjalan dengan mulus. Terjadi sedikit ketegangan dan adu argumen yang cukup panas di dalam tenda utama. Maklum saja, ras naga merah memiliki harga diri yang sangat tinggi; mereka menolak keras untuk tunduk atau menerima bantuan dari sosok asing yang berwujud seperti manusia biasa.
Namun, setelah aku melepaskan sedikit fluktuasi aura sejati dari mode Glitch Shadow-ku yang mengerikan, hingga membuat seluruh lembah batu merah bergetar hebat, harga diri mereka langsung runtuh. Aku menjelaskan dengan bijak tentang keberadaan Shadow Aethelgard, sebuah tempat aman di dalam gunung purba di mana ras Elf, Goblin, bahkan manusia bisa hidup berdampingan secara damai tanpa ada rasisme atau perburuan liar.
Melihat pembuktian kekuatan absolutku serta ketulusan visi damai yang kutawarkan untuk menyelamatkan anak-anak mereka dari kepunahan, sang Kepala Desa Naga Merah akhirnya luluh. Mereka berlutut, menaruh kepercayaan penuh kepadaku, dan bersumpah untuk memindahkan seluruh sisa rakyatnya menjadi bagian dari warga kerajaanku (yang kelak pemimpin militer mereka akan kunobatkan dengan nama kode Delta!).
Di saat aku sedang sibuk mengurus proses pemindahan massal seluruh warga ras naga merah menuju rumah baru mereka di dalam dungeon gunung purba... di sudut belahan dunia luar yang lain, situasi geopolitik ternyata sedang berada di ambang kekacauan besar.
Di sebuah padang rumput gersang yang jauh dari perbatasan Kerajaan Oscar, atmosfer langit tampak berputar hitam pekat diselimuti petir kegelapan yang menyiksa ruang.
Di tengah medan pertempuran yang luluh lantak tersebut, sang Pahlawan Reinkarnator dari Oscar bersama dengan tim ksatrianya ternyata sedang bertarung habis-habisan menumpahkan seluruh sisa mana mereka.
Napas sang pahlawan terengah-engah, pedang sucinya mulai retak, dan wajahnya dipenuhi raut keputusasaan yang mendalam. Mereka berempat tidak sedang menghadapi monster biasa, melainkan sedang dikepung secara brutal oleh unit pasukan elit kiriman langsung dari kelompok Raja Iblis yang saat ini masih menjabat secara resmi di Kerajaan Iblis Dunia Luar.
Sang penguasa kegelapan lama telah mencium adanya aroma pembangkangan di perbatasan, dan sebuah rencana eksekusi maut telah berjalan tanpa diketahui oleh Shadow Miko...