NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Hitungan Mundur

20 hari.

Dunia masih tidur.

Namun kemampuannya sudah mulai bangun lebih dulu.

Hendry tidak panik saat melihat titik cahaya di dalam Ruang Dimensi. Panik adalah kemewahan orang yang tidak punya rencana. Ia menutup laptop, mematikan lampu ruang kerja, lalu duduk bersila di lantai selama hampir satu jam, hanya bernapas pelan dan merasakan getaran di telapak kanannya.

Titik cahaya itu tidak meledak.

Ia hanya berdenyut.

Pelan.

Stabil.

Seperti benih yang menunggu tanah pecah.

Di kehidupan sebelumnya, Ruang Dimensi baru menunjukkan tanda evolusi setelah ia menyerap banyak Kristal dari zombie level rendah. Kali ini, sebelum kiamat dimulai, ruang itu sudah merespons tekanan stockpile, senjata, dan latihan berulang.

Artinya sederhana.

Timeline tidak sepenuhnya sama.

Hendry membuka mata.

"Kalau dunia berubah lebih cepat," gumamnya, "gue juga harus lebih cepat."

Sejak hari itu, hidupnya berubah menjadi jadwal perang.

Pagi: latihan fisik.

Siang: kontrol Ruang Dimensi.

Sore: pengintaian Cluster Pondok Indah dan area sekitarnya.

Malam: peta, daftar target, dan simulasi rute hari pertama.

Tubuh muda Hendry protes sejak hari pertama.

Lari lima kilometer membuat paru-parunya terasa terbakar. Push-up yang dulu bisa ia lakukan sambil tertawa kini membuat lengannya gemetar. Latihan pukulan dengan samsak membuat kulit buku jarinya pecah. Saat berlatih footwork Pencak Silat dasar, lututnya sempat terasa panas karena tubuh ini belum terbiasa bergerak seperti tubuh penyintas dua belas tahun.

Namun pengalaman tidak hilang.

Ia tahu cara jatuh tanpa mematahkan pergelangan.

Ia tahu cara menghemat napas.

Ia tahu lutut zombie level terendah lebih mudah dihancurkan daripada tengkoraknya jika senjata tumpul.

Ia tahu orang biasa biasanya mati bukan karena kurang kuat, tetapi karena salah berdiri tiga langkah.

Maka ia melatih tubuh ini bukan untuk menjadi pahlawan.

Ia melatihnya agar tidak mati bodoh.

Di halaman belakang villa, Hendry menaruh parang, pisau taktis, dan pistol kosong di atas meja lipat. Ia berdiri dua meter dari meja, membuka Ruang Dimensi, lalu mencoba memasukkan dan mengeluarkan benda secepat mungkin.

Parang masuk.

Parang keluar.

Pisau masuk.

Pistol keluar.

Rompi masuk.

Senter keluar.

Pada awalnya, gerakannya masih patah. Kadang parang keluar dengan posisi salah. Kadang pistol muncul terlalu jauh dari genggaman. Kadang ia menarik keluar kotak peluru saat yang ia butuhkan hanya pisau.

Setiap kesalahan ia catat.

Setiap catatan ia ulang seratus kali.

Hari ketiga latihan, ia bisa membuat parang muncul tepat di telapak tangan dalam kurang dari satu detik.

Hari kelima, ia bisa memasukkan kursi taman, berbalik, lalu mengeluarkannya di sisi lain tanpa melihat.

Hari ketujuh, titik cahaya di dalam Ruang Dimensi tiba-tiba membesar.

Tidak ada suara.

Tidak ada ledakan.

Namun Hendry merasakan seluruh ruang gelap itu terbuka seperti pintu kedua.

Active volume yang sebelumnya sekitar 200 meter kubik melebar drastis. Tumpukan beras, daging, obat, senjata, dan perlengkapan yang tadinya terasa padat kini tampak memiliki jarak lebih luas di antara mereka.

Sekitar 500 meter kubik.

Ruang Dimensi Level 2.

Hendry berdiri diam di halaman belakang, parang masih di tangan. Keringat mengalir dari dagunya ke tanah.

Lalu ia tertawa pelan.

Level 2 sebelum kiamat.

Di kehidupan sebelumnya, untuk mencapai kestabilan seperti ini, ia harus melewati hari-hari busuk di antara zombie, darah, dan Kristal.

Kali ini, ia mendapatkannya saat dunia masih menyalakan lampu taman.

"Bagus," katanya. "Satu langkah lagi sebelum mereka sadar garis start sudah lewat."

Namun latihan kemampuan hanya setengah pekerjaan.

Setiap sore, Hendry keluar dengan mobil berbeda. Kadang Fortuner. Kadang motor sewaan. Kadang ia berjalan kaki memakai topi dan masker, terlihat seperti warga biasa yang sedang olahraga.

Ia memetakan Cluster Pondok Indah dari dalam ke luar.

Gerbang utama: kuat, tetapi akan macet jika penghuni panik keluar bersamaan.

Gerbang belakang: lebih kecil, dijaga dua satpam, bisa dipakai untuk keluar diam-diam.

Ruko dekat jalan besar: sumber obat ringan dan air mineral, tetapi pasti menjadi titik kerumunan.

Mini market 24 jam: harus dihindari pada jam pertama karena terlalu banyak orang.

Sekolah internasional di sisi timur: area luas, banyak kendaraan, kemungkinan penuh zombie anak dan orang tua penjemput jika bencana terjadi siang hari.

Klinik kecil dekat cluster: bisa berguna untuk perban dan obat, tetapi juga akan menjadi magnet orang terluka.

Rumah Kevin.

Hendry menandai lokasi itu dengan tinta merah.

Rute tercepat dari villa ke sana membutuhkan tujuh menit jika jalan kosong. Dua belas menit jika gerbang cluster tersendat. Dalam kondisi kiamat hari pertama, ia memperkirakan perlu dua puluh menit dengan rute memutar.

Ia menggambar tiga jalur.

Jalur masuk.

Jalur keluar.

Jalur jika harus menyeret mayat.

Peta itu tidak indah. Banyak garis, panah, angka, dan catatan kecil. Namun bagi Hendry, peta itu lebih berharga daripada sertifikat tanah.

Tanah bisa direbut.

Rute menyelamatkan nyawa.

Pada hari kesepuluh, Om Hartono menelepon lagi.

Hendry sedang berdiri di balkon lantai dua, mengamati posisi pos satpam dari kejauhan. Ponselnya bergetar di tangan.

"Iya, Om."

"Hendry, cukup main-mainnya." Suara Hartono terdengar lebih dingin daripada sebelumnya. "Minggu depan ada pertemuan keluarga. Kamu datang. Semua laporan pembelian, kontrak, dan penggunaan dana dibawa."

Minggu depan.

Hendry menatap hitungan mundur di layar kecil ponsel.

10 hari.

Jika Hartono benar-benar menunggu minggu depan, dunia sudah berada di ambang pecah.

"Baik, Om. Saya datang."

"Jangan coba menghindar. Kevin bilang kamu mulai sulit diajak bicara."

"Saya hanya sibuk."

"Sibuk bukan alasan untuk merusak nama keluarga."

Hendry tersenyum tanpa suara.

Nama keluarga?

Dalam sepuluh hari, nama keluarga hanya berarti apakah orang di balik pagar punya makanan atau tidak.

"Saya mengerti, Om."

Hartono memutus telepon tanpa pamit.

Hendry memasukkan ponsel ke saku, lalu menambahkan catatan pada peta:

Hartono bergerak lewat rapat keluarga. Tidak perlu respons sebelum D-Day.

Hari-hari berikutnya semakin pendek.

15 hari menjadi 12.

12 menjadi 9.

9 menjadi 7.

Hendry menghubungi Yanto dua kali.

Pertama, ia hanya bertanya apakah Yanto masih menerima pekerjaan malam.

"Tergantung barangnya, Pak," jawab Yanto. "Kalau barangnya bisa jalan sendiri, saya mundur."

"Barangnya tidak jalan sendiri."

"Syukurlah. Saya belum siap jadi sopir hantu."

Hendry hampir tertawa. "Saya mungkin perlu pindahan cepat beberapa hari lagi."

"Alamat?"

"Belum pasti. Saya kabari."

"Baik, Pak. Nomor ini aktif terus. Tapi kalau mendadak, kasih saya minimal satu jam."

"Kalau dunia mendadak berubah?"

Di seberang, Yanto diam sebentar.

"Kalau begitu, Pak, saya ikut orang yang bayar duluan dan kasih arah jelas."

Jawaban bagus.

Kedua kalinya, Hendry mengirim uang muka kecil ke rekening Yanto dengan alasan booking jadwal. Yanto mengirim pesan singkat:

Uangnya masuk. Saya kosongkan beberapa malam ke depan.

Tidak bertanya.

Tidak mengeluh.

Semakin berguna.

Pada hari kelima sebelum kiamat, Hendry duduk di ruang kerja dengan peta besar terbentang di meja. Lampu meja menyinari garis-garis merah, biru, dan hitam. Di sampingnya ada daftar hari pertama: Kevin, Ferry, rute cluster, titik suplai, kendaraan cadangan, pintu keluar, lokasi awal zombie paling mungkin.

Ruang Dimensi Level 2 terasa tenang di telapak kanannya.

Parang bisa muncul dalam satu detik.

Pistol bisa muncul dalam setengah detik jika ia sudah mengunci posisinya.

Tubuhnya masih tubuh orang biasa, tetapi napasnya lebih panjang, langkahnya lebih ringan, dan pukulannya tidak lagi kosong.

Belum cukup untuk melawan dunia.

Cukup untuk membunuh orang yang masih mengira dunia normal.

Hendry menarik garis terakhir di peta: dari villa ke rumah Kevin melalui jalur belakang cluster.

Tinta merah belum kering ketika langit di luar jendela tiba-tiba menyala.

Bukan kilat.

Bukan lampu pesawat.

Sebuah cahaya hijau tipis melintas di atas Jakarta, hanya satu detik, mungkin kurang. Begitu cepat hingga orang biasa akan mengira matanya lelah.

Namun Hendry langsung berdiri.

Kursinya terdorong ke belakang.

Di kehidupan sebelumnya, cahaya hijau seperti itu muncul tiga hari sebelum kiamat. Banyak orang mengunggahnya ke media sosial, menertawakannya sebagai aurora palsu di negara tropis. Dua hari kemudian, langit pecah.

Sekarang...

Hitungan mundur di layar menunjukkan 5 hari.

Hendry menatap langit yang sudah kembali gelap.

Pupilnya mengecil.

"Lebih cepat dua hari."

Ruang Dimensi di telapak tangannya berdenyut pelan, seolah menjawab.

Hendry menutup peta dengan satu tangan, lalu mengambil parang dari udara kosong.

Bilah itu muncul tepat di genggamannya.

Tidak ada lagi ruang untuk santai.

Jika tanda pertama datang lebih cepat, tanda kedua bisa datang kapan saja.

Dan jika kiamat benar-benar maju dari jalurnya, semua rencana harus dipadatkan.

Hendry menatap garis merah menuju rumah Kevin.

"Kalau dunia buru-buru berakhir," katanya pelan, "gue juga bisa buru-buru mulai membunuh."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!