"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan sang Alpha dan Jejak yang Tertinggal
Isak tangis Luna perlahan mereda, menyisakan helapan napas yang masih sesekali tersendat di dada bidang Yudha. Kamar kembali sunyi, hanya menyisakan suara gemertak kayu bakar dari perapian. Yudha tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Tangan kekarnya terus mengusap punggung Luna dengan ritme yang teratur, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang entah bagaimana berhasil menjinakkan ketakutan terbesar gadis itu.
Setelah beberapa saat, Yudha melonggarkan sedikit dekapannya. Jemari tangannya yang besar bergerak lembut, menyelipkan beberapa helai rambut panjang Luna yang berantakan ke belakang telinga.
"Sudah lebih tenang?" tanya Yudha rendah, matanya menatap lekat-lekat manik mata Luna yang masih basah dan kemerahan.
Luna mengangguk pelan. Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma maskulin kayu pinus yang kini mulai terasa familier dan menenangkan baginya. "Terima kasih... karena sudah menyelamatkanku lagi."
"Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu," balas Yudha tanpa ragu.
"Rina tidak akan berani menginjakkan kaki di lantai ini lagi. Begitu juga dengan yang lain."
Luna menunduk, menatap jemarinya sendiri yang tampak begitu kontras saat bersentuhan dengan kulit tangan Yudha yang kecokelatan dan dipenuhi urat-urat tegas.
"Tapi, apa yang dia katakan... ada benarnya, kan? Aku hanya manusia. Aku tidak punya kekuatan apa-apa, dan keberadaanku hanya akan memicu masalah di antara kelompokmu."
Yudha terdiam sesaat. Pria itu menangkup kedua pipi Luna dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa gadis itu untuk kembali menatap langsung ke matanya. "Dengarkan aku, Luna. Kamu bukan masalah. Kamu adalah takdirku, belahan jiwaku. Di dunia bangsa serigala, ikatan ini adalah hukum tertinggi yang melampaui aturan para tetua sekalipun. Kekuatan sejatiku bukan hanya untuk memimpin kawanan, tapi untuk memastikan keselamatanmu."
Mendengar ketegasan dalam suara Yudha, ada sesuatu yang hangat bergejolak di dalam dada Luna. Di dunia manusia yang baru saja mencampakkannya, dia tidak pernah merasa berharga di mata siapa pun.
"Lalu... apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Luna perlahan.
"Besok pagi, aku akan mengumumkan statusmu secara resmi di hadapan seluruh kawanan *Silver Moon*," jawab Yudha, matanya berkilat penuh tekad yang tidak bisa diganggu gugat.
"Mereka harus menerima dan menghormatimu sebagai pendampingku, suka atau tidak."
Luna tersentak. Mengingat tatapan penuh kebencian dari orang-orang di aula bawah, bayangan harus berdiri di hadapan mereka semua besok pagi membuat perutnya kembali mulas karena cemas. Namun, melihat sorot mata Yudha yang begitu protektif, Luna memilih untuk mempercayai pria itu.
Yudha perlahan bangkit dari ranjang, memastikan selimut berbulu kembali membungkus tubuh Luna dengan sempurna. "Sekarang, tidurlah. Kamu butuh istirahat total. Aku akan menjaga pintu dari luar."
"Yudha..." panggil Luna menahan langkah pria itu.
"Kamu... tidak tidur di sini?"
Yudha menatap ranjang, lalu kembali menatap wajah polos Luna. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Aku akan tetap di kamar ini, menjagamu sampai pagi tiba. Tidurlah."
Yudha kemudian berjalan menuju kursi kayu besar di dekat perapian, duduk di sana dengan posisi bersandar yang tetap siaga, sementara matanya tidak pernah lepas mengawasi sosok Luna. Merasa benar-benar terlindungi, Luna perlahan memejamkan matanya, dan dalam hitungan menit, dia akhirnya jatuh tertidur dengan lelap.
---
Sementara itu, jauh di batas kabut hutan perbatasan tempat Luna pertama kali tersesat, tiga sosok bayangan berpakaian serba hitam berdiri di kegelapan malam. Mereka berlutut, memeriksa tanah yang menyisakan jejak robekan gaun rajut putih milik Luna.
Salah satu dari mereka mengangkat wajahnya, memperlihatkan sepasang mata merah menyala yang haus darah ciri khas dari kaum *Rogue*, serigala liar tanpa kawanan yang kejam.
"Aromanya menghilang di batas wilayah *Silver Moon*," ucap salah satu bayangan dengan suara serak.
"Gadis manusia itu membawa rahasia besar yang kita butuhkan," balas sosok di tengah, yang tampak seperti pemimpin mereka.
"Jika Yudha menemukannya, artinya kita punya alasan bagus untuk mengobarkan perang dan merebut takhta Alpha miliknya. Awasi kastil itu. Kita akan bergerak saat mereka lengah."
---