NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Aneh Tapi Nyata

Pagi buta sekali, Arinta mendengar suara-suara dari sekitarnya. Sebagian suara terdengar tidak asing. Mungkinkah si kembar sudah siuman?

Arinta sudah sepenuhnya terbangun. Ia menajamkan telinganya untuk mendengar suara dari balik tirai di sebelahnya.

"Ini di mana? Keluarga saya mana? Arinta mana?"

Arinta mengenali suara itu. Itu suara Tama.

"Mas, tenang dulu. Saya nggak bakal ngapa-ngapain kok. Cuma mau periksa aja," ucap seseorang yang tampaknya seorang dokter.

"Enggak! Saya cuma nanya. Dokter tinggal jawab, apa susahnya jawab? Kita mau hubungi keluarga kita!" Kini suara Tami terdengar.

"Nanti kita coba cari keluarga kalian. Sekarang fokus pulih dulu, ya," ujar suara perempuan yang tampaknya seorang suster.

"Nggak perlu dicari. Saya bisa hubungi nomor orang tua saya," tegas Tama.

Arinta tak bisa hanya mendengarkan. Ia melangkahkan kakinya ke lantai dingin dan menyingkap tirai yang membatasinya. Seketika, semua mata tertuju padanya.

"Arinta?!" pekik si kembar.

"Ta, pliss bantu kita jelasin ke orang-orang ini. Mereka nganggep kita aneh cuma gara-gara mau hubungi orang rumah. Pliss, Ta..." ucap Tama sambil menggoyangkan lengan Arinta.

Namun, jawaban Arinta justru membuat si kembar membisu.

"Kalian nggak punya keluarga."

Tama dan Tami tampak bingung dan terheran-heran.

"Lu kenapa, Ta? Kok ngomong gini sih? Maksudnya apa?" tanya Tami.

Arinta berusaha memainkan perannya sebaik mungkin. Ia menatap dokter yang masih berdiri di sana.

"Mungkin mereka masih syok dan butuh waktu, Dok."

Si kembar menatap Arinta tidak percaya.

"Mereka cuma bisa ngerti kalau saya yang bilangin. Wajar aja, mereka jarang komunikasi sama orang asing," tambah Arinta.

Dokter mengangguk.

"Baik, sepertinya Mbak punya hubungan baik dengan mereka berdua. Mohon bantuannya. Saya kasih waktu untuk kalian," ucap dokter.

Tak lama, dokter dan suster meninggalkan ruangan.

"Ta?! Lu kenapa jadi aneh begini sih? Gara-gara kecelakaan, ya?!" tanya Tami dengan nada tinggi.

Arinta tidak menjawab. Ia menangis di tempatnya berdiri. Tubuhnya gemetar. Sebelum si kembar siuman, Arinta sudah diselimuti ketakutan-takut mereka tidak mengenalnya, takut ia hanya sendirian, dan takut terjebak dalam mimpi buruk tak berujung. Namun, ia merasa lega karena si kembar masih mengingat hal yang sama dengannya.

Tama memelototi saudara kembarnya, ia berpikir Arinta menangis karena bentakan itu. Ia menarik lengan Arinta mendekat dan mengusap punggungnya perlahan.

"Ta, gue nggak sengaja. Maaf," ucap Tami.

Arinta menggeleng.

"Enggak. Gue terharu karena gue nggak sendirian di sini."

"Loh? Mereka juga nggak ngizinin lu buat hubungin keluarga? Bang Ari nggak datang?" tanya Tama.

Arinta menggeleng lagi.

"Hah? Rumah sakit macam apa ini?! Nggak jelas banget!" cerca Tami.

"Kita nggak seharusnya ada di sini," lirih Arinta.

"Maksudnya apa, Ta? Lu lagi ngelindur?" tanya Tami.

"Sebenernya ini kenapa sih, Ta?" tanya Tama.

Arinta menunjuk kalender di dinding.

"Kita ada di tanggal 27 September 2004. Tiga bulan sebelum kejadian 'itu'."

Tami mematung, wajahnya tampak panik.

"Terus?! Gimana ini? Gimana bisa? Kita? Orang tua kita gimana?!" Matanya terus bergerak ke sana kemari.

Tama terlihat lebih tenang, meski wajahnya masih menunjukkan keterkejutan.

"Kita belum lahir di tahun ini! Lu bohong, ya?"

"Ngapain sih gue bohong!" Arinta terdengar frustrasi.

Ia duduk di pinggir ranjang tempat Tama berbaring.

"Pas gue bangun tadi, ada orang yang ngaku sebagai abang gue. Dia dokter kejiwaan, namanya Miza. Dia bilang kalian tunawisma yang nggak punya orang tua. Dan tadi, gue... nggak sengaja nabrak kalian," jelas Arinta.

"Kita?! Gembel?!" Tami tak terima.

Arinta menatap Tami sendu.

"Gue serius, Mi. Itu kata Bang Miza."

"Terus gimana? Nanti lu pulang sama si Miza itu? Gue sama Tami gimana? Dibuang di jalanan?" tanya Tama.

Arinta menggeleng cepat.

"Enggak. Gue udah bilang ke Bang Miza, kita pulangnya bareng, ke rumah gue."

Tami masih tak percaya.

"Tapi... Lu nggak aneh? Muka lu masih muka Arinta yang kita kenal. Kok dia bisa ngenalin lu sebagai adiknya? Terus adiknya yang asli ke mana?"

Arinta menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Pliss, otak gue udah pusing. Jangan tanya kenapa begini kenapa begitu, gue hampir gila mikirin ini!"

Tama berusaha menenangkan.

"Oke, oke. Sekarang mending kita istirahat dulu. Siapa tahu ini cuma mimpi dan kita bisa bangun di rumah sakit yang asli."

Arinta kembali ke ranjangnya dengan ogah-ogahan. Tubuhnya masih gemetar, tangannya dingin. Ia masih kaget dengan apa yang terjadi selama beberapa jam terakhir.

"Lu utang cerita sama kita, Ta," ujar Tami, suaranya sedikit melembut.

Arinta hanya menoleh, lalu mengangguk lemah.

"Kalau ini sebelum kejadian 'itu,' kita bisa bantu lu. Tapi lu harus cerita dulu," tambah Tama.

Arinta mengangguk lagi. Ia harus beristirahat. Jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi. Masih ada beberapa jam sebelum matahari benar-benar menyapa.

***

"Maaf ya, tadi malam abang pulang, nggak nemenin kamu," ucap Miza saat kembali ke ruangan Arinta.

"Nggak apa-apa. Sekarang Arinta udah boleh pulang, kan?" tanya Arinta.

Miza mengangguk.

"Tapi teman-teman kamu belum boleh. Kondisi mereka masih belum stabil."

Arinta memandang Miza dengan mata memohon.

"Abang janji ya, bawa mereka pulang ke rumah pas mereka udah pulih? Mereka nggak punya siapa-siapa."

Miza tersenyum tipis sambil mengangguk.

"Iya, abang janji."

Arinta melirik si kembar sekilas sebelum meninggalkan ruangan. Raut wajah mereka terlihat pasrah, setengah berat hati.

Saat sampai di luar rumah sakit, Arinta menatap bangunan di depannya. Ia tidak pernah melihat bangunan rumahsakit ini di tahun 2024. Namanya pun terasa sangat asing, RS Dr. Salimun.

"Rumah sakit ini..." gumamnya pelan.

"Ngeliatin apa sih? Serius banget," suara Miza memecah lamunannya.

"Rumah sakitnya keren," jawab Arinta tanpa sadar.

Miza tertawa singkat.

"Kayaknya waktu pertama kali kamu ke sini, kamu nggak sepeduli itu sama bangunannya."

Arinta tertawa kecil, canggung. Ia tidak memiliki ingatan apa pun tentang sosok "Arinta" yang dikenal Miza.

"Ayo masuk. Mau sampe kapan berdiri di situ," ajak Miza.

Arinta segera masuk ke mobil, masih menyimpan banyak pertanyaan di dalam benaknya.

"Kamu keliatan beda, Ta." ucap Miza saat dipertengahan jalan.

"Hah? Iya ya?" Arinta bertanya dengan wajah polos, padahal dalam hati ia sudah misuh-misuh merasa tidak nyaman.

"Lebih pendiem."

"Tapi abang paham kok, pasti kamu masih kaget." jelasnya.

'Gua emang bukan adek lu, pantes kalo lu ngerasa beda' batin Arinta.

"Gimana? Masih mau kabur-kaburan pake mobil lagi ga?" tanya Miza memecah keheningan.

Niatnya Arinta tidak merespon, tapi ia harus berusaha berperan sebagai "Arinta" yang Miza kenal.

"Masih! Kalo abang masih suka ngelarang ini itu." entah kerasukan apa, Arinta bisa merespon seperti itu

Miza tertawa mendengar responnya.

"Dasar keras kepala!"

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!