NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kembali ke Sekolah, Sikap yang Berbeda

Keesokan harinya, suasana di kediaman keluarga Ramirez terasa sedikit berbeda. Biasanya, Claudia akan bangun terlambat dengan mata sembab karena menangis semalaman, berjalan tertunduk lesu, dan hanya berbicara seperlunya. Namun pagi ini, saat jam menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh, Zerrin yang kini telah sepenuhnya mengakui identitas baru sebagai Claudia, sudah berdiri tegak di depan cermin, merapikan pakaian seragam sekolahnya dengan rapi.

Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang pas di tubuh, rambutnya disisir rapi dan diikat setengah bagian ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang lembut namun memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan. Luka dan memar di wajahnya masih terlihat samar, namun tidak lagi membuatnya terlihat menyedihkan; sebaliknya, itu terlihat seperti luka yang diterima dengan kepala tegak.

Saat ia melangkah turun ke ruang makan, suara langkah kakinya terdengar teratur dan mantap, bukan lagi langkah gugup dan takut seperti biasanya.

Pak Roberto dan Bu Elena sudah duduk menunggu, sedangkan Adrian dan Brian sedang meminum kopi sambil membicarakan urusan kantor. Saat melihat Claudia turun, keempat pasang mata menoleh ke arahnya.

Adrian mengangkat alisnya dengan tatapan meremehkan. “Kau sudah bangun? Sepertinya tidak ada luka parah, kan? Jangan sampai pura-pura sakit hanya untuk menghindari sekolah.”

Brian tertawa kecil dengan nada mengejek. “Atau mungkin dia takut bertemu Arjuna dan yang lain lagi? Siapa yang tidak takut setelah dipermalukan seperti itu kemarin.”

Zerrin atau Claudia sekarang hanya melirik sekilas ke arah kedua kakaknya itu, tatapannya datar tanpa emosi, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa marah, bahkan tidak ada rasa sakit hati. Ia hanya duduk di kursinya dengan tenang, lalu mulai mengambil sarapan dengan sopan dan teratur.

Reaksi itu membuat Adrian dan Brian tertegun sejenak. Biasanya, jika mereka bicara seperti itu, Claudia akan langsung menunduk, menangis, atau mencoba membela diri dengan suara tergagap yang justru membuat mereka semakin kesal. Tapi kali ini, gadis itu seolah tidak mendengar hinaan mereka.

“Kau tuli?” tanya Adrian dengan nada meninggi, merasa tidak dihargai. “Aku bicara padamu!”

Claudia mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Adrian dengan pandangan yang tenang namun tajam hingga membuat Adrian tanpa sadar merasakan sedikit kedinginan di punggungnya. Pandangan itu bukan pandangan adik yang takut pada kakak, melainkan pandangan seseorang yang sedang menilai lawan yang tidak berarti.

“Aku mendengarnya dengan jelas, Kak Adrian,” jawab Claudia dengan nada bicara yang lembut namun tegas. “Hanya saja, aku merasa tidak perlu membuang tenaga untuk menanggapi ucapan yang tidak berdasar dan hanya bertujuan untuk memancing emosi. Aku akan pergi ke sekolah hari ini, karena aku tahu diriku tidak bersalah. Menghindar hanya akan membuat orang lain semakin yakin bahwa aku memang bersalah.”

Pak Roberto yang sejak tadi diam kini tersenyum tipis, matanya memandang putri bungsunya dengan rasa bangga yang mulai tumbuh. “Bagus, Claudia. Itu sikap yang benar. Jangan pernah lari dari kenyataan, dan buktikan dengan tindakan.”

Bu Elena mengangguk setuju, lalu menyodorkan segelas susu ke hadapan Claudia. “Minumlah ini, Nak. Jangan lupa obat dari dokter sudah dimasukkan ke dalam tasmu.”

Adrian dan Brian hanya saling pandang, bingung dengan perubahan sikap itu, namun mereka tetap menganggapnya hanya akting semata. “Baiklah, kalau kau berani, lihat saja nanti di sekolah. Semua orang sudah membicarakanmu, dan Arjuna pasti akan lebih marah lagi melihatmu,” ujar Brian dengan nada mengancam.

Claudia hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin dan penuh arti. “Biarkan saja mereka bicara. Waktu akan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Setelah sarapan selesai, Claudia melangkah keluar menuju mobil pengantar. Saat ia masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, senyumnya hilang seketika, digantikan oleh ekspresi serius dan dingin. Ia melihat ke luar jendela, memandang jalanan kota yang mulai ramai.

“Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai,” gumamnya pelan. “Sekolah itu akan menjadi medan pertempuran pertamaku, dan aku akan menguasainya sama seperti aku menguasai wilayah-wilayahku sebelumnya.”

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana segera berubah. Begitu Claudia turun dari mobil mewah keluarga Ramirez, semua mata tertuju padanya. Bisik-bisik langsung terdengar dari berbagai arah, penuh dengan cemoohan, kecurigaan, dan rasa jijik.

“Itu dia gadis yang mendorong Sari kemarin… sungguh kejam sekali.”

“Dia selalu saja mencari masalah. Mana mungkin dia gadis baik, lihat saja sikapnya yang sombong itu.”

“Semoga Arjuna dan teman-temannya menghukumnya dengan lebih keras kali ini.”

Claudia berjalan melewati kerumunan siswa itu dengan kepala tetap tegak, tatapan lurus ke depan, tanpa sedikit pun terlihat terganggu oleh kata-kata mereka. Ia tidak membalas tatapan sinis, tidak menunduk malu, dan tidak mempercepat langkahnya. Sikap tenang dan percaya diri itu justru membuat banyak siswa yang sedang membicarakannya merasa aneh dan mulai ragu. Biasanya Claudia akan terlihat sangat gugup dan ingin segera masuk ke dalam kelas.

Namun, ketenangan itu terganggu saat sekelompok orang berjalan mendekat dengan langkah tegas dan menguasai ruang. Di depan berjalan Arjuna Pratama, dengan postur tubuh tinggi, wajah tampan yang terlihat dingin, dan tatapan tajam yang langsung mengarah ke Claudia. Di belakangnya mengikuti Daffa, Raka, dan Leo, tiga pemuda yang juga menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.

Mereka adalah Empat Bintang Kampus, kekuasaan tak tertandingi di lingkungan sekolah ini.

“Berhenti!” suara Arjuna terdengar keras dan dingin, menghentikan langkah Claudia.

Semua siswa di sekitar langsung mundur memberi ruang, suasana menjadi hening seketika. Semua mata terfokus pada kedua pihak, menunggu apa yang akan terjadi.

Claudia berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap Arjuna dan kelompoknya. Ia menatap Arjuna dengan tenang, tanpa rasa takut sedikit pun.

Arjuna melangkah mendekat, jarak mereka hanya tinggal satu meter. Ia menatap wajah Claudia yang masih ada bekas luka, lalu tertawa sinis. “Berani juga kau muncul lagi di sekolah ini. Kau pikir dengan pura-pura tidak tahu apa-apa, semuanya akan hilang begitu saja?”

Claudia menatap balik matanya, nada bicaranya tetap tenang dan jelas didengar semua orang yang ada di dekat situ. “Mengapa aku tidak boleh datang? Ini adalah sekolah umum, dan aku adalah siswa yang terdaftar sah di sini. Mengapa aku harus takut menghadapi orang-orang yang hanya menghakimi tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu?”

Jawaban itu membuat Arjuna tertegun sejenak, begitu pula dengan ketiga temannya. Bahkan siswa yang menyaksikan pun terkejut. Selama ini, jika berhadapan dengan Arjuna, Claudia selalu gemetar dan hanya bisa berkata “bukan aku” dengan suara yang nyaris tidak terdengar, sehingga terkesan seperti alasan semata. Tapi hari ini, suaranya tegas, matanya jernih, dan tidak ada tanda-tanda ketakutan.

“Kau berani menjawab balik?” tanya Arjuna, suaranya semakin dingin. “Bukankah tanganmu sendiri yang mendorong Sari? Semua orang melihatnya, dan dia sendiri yang mengakuinya. Masih berani membela diri?”

“Jika benar semua orang melihatnya, maka tunjukkanlah bukti yang jelas dan tidak dapat dibantah,” jawab Claudia tanpa ragu. “Saksi mata yang bisa dipengaruhi bukanlah bukti yang sah. Dan jika Sari benar-benar yakin aku yang melakukannya, mengapa dia tidak memanggil guru atau kepala sekolah saat itu juga, melainkan menunggu hingga keributan meledak dan membuat semua orang marah?”

Kalimat-kalimat logis itu membuat Arjuna terdiam sesaat. Ia tidak menyangka gadis ini bisa berpikir sejauh itu. Namun rasa benci yang sudah terlanjur tertanam kuat membuatnya tetap tidak mau mendengar.

“Kau hanya pandai berbicara saja!” bentak Arjuna. “Kau tetaplah gadis yang sama, penuh kebohongan dan kejahatan. Jangan harap aku akan percaya padamu, selamanya tidak akan pernah!”

Claudia hanya mengangguk perlahan, lalu tersenyum tipis, senyum yang terasa mengejek bagi Arjuna, namun bagi yang lain terlihat seperti sikap yang tidak mau berdebat.

“Baiklah,” ujar Claudia pelan namun jelas. “Aku tidak memaksamu untuk percaya sekarang. Suatu hari nanti, saat kebenaran terungkap, jangan sampai kau menyesal telah menghakimi orang yang salah. Dan satu hal lagi… mulai hari ini, jangan berani mengganggu atau menghina aku tanpa alasan yang jelas. Jika kau melakukannya, maka aku tidak akan tinggal diam lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat penutup itu, Claudia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kelas, meninggalkan Arjuna dan kelompoknya yang terpaku di tempat, serta kerumunan siswa yang ternganga tak percaya.

Di dalam hati, Claudia berkata dengan dingin: Nikmati masa percayamu pada kebohongan itu selama masih bisa. Karena saat aku mulai membongkar semuanya, dunia yang kau bangun akan runtuh seketika, Arjuna Pratama.

Permainan baru telah dimulai, dan Claudia sudah mengatur langkah pertamanya dengan sempurna, membuat mereka bingung dengan perubahan sikapnya, sekaligus menanamkan benih keraguan di hati mereka.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!