NovelToon NovelToon
Terpikat Mas Preman

Terpikat Mas Preman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Akira Fan

Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.

Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.

Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Begal vs Penyelamat

"I-itu, saya nggak sengaja nabrak orang sepertinya," ucap pak sopir terbata. Dia terlihat gemetar dan gugup.

"Apa? Tunggu pak, jangan turun dulu. Tempat ini sepi sekali. Jangan-jangan ini jebakan," Kamila melihat situasi sekitar yang sangat sepi. Aneh sekali sepertinya kalau nggak sengaja nabrak orang di tempat yang sepi seperti ini.

"Iya mbak, saya yakin sebelumnya sepi dan perjalanan lancar-lancar saja. Entah dari mana tiba-tiba ada motor di depan mobil saya," jelas sopir itu mengingat kembali kejadiannya.

Dug dug dug

"Turun, kamu harus tanggung jawab. Sudah nabrak orang nggak mau keluar juga,"

Segerombolan orang menghampiri mobil mereka. Dilihat dari penampilannya sepertinya mereka bukan warna biasa, dan tempat itu jelas agak jauh dari permukiman.

"Cepat telepon polisi," Kamila meminta Veni untuk menghubungi polisi. Sepertinya mereka adalah begal.

"Oke Mil,"

Veni segera menghubungi nomer posisi. Walau tangannya masih gemetar dia harus bisa dalam situasi genting seperti saat ini.

"Hei, keluar atau aku hancurkan mobilmu," ancam salah satu dari mereka.

Benar saja, orang yang tadi tertabrak itu bangun dan menghampiri mobil. Dia terlihat baik-baik saja. Mereka terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik baju mereka. Senjata tajam.

"Hah, aku takut Mil," Veni memeluk Kamila erat.

"Tenang Ven, kita kan sudah telepon polisi," Kamila mencoba menenangkan sahabatnya walau dia sendiri juga sangat takut.

"Maaf ya semua, saya nggak tahu bakal seperti ini," ucap pak sopir panik. Dia merasa bersalah pada para penumpang.

"Kita berdo'a saja, mudah-mudahan ada yang menolong kita secepatnya," ucap salah satu penumpang.

"Iya, kalau kita nggak selamat itu memang takdir," sambung yang lainnya.

"Aku nyesel banget ikut mobil ini, kamu nggak becus jadi sopir, huhu," ucap penumpang wanita menyalahkan pak sopir.

"Sudah-sudah, ini bukan salah pak sopir. Kita mana tahu musibah yang akan menghampiri kita," lerai Kamila melihat ketegangan itu.

"Kalian cari mati ya? Keluar, dan serahkan barang berharga kalian," teriak mereka menampakkan wajah aslinya.

"Cepat, kita dobrak saja mobil ini," ucap yang lainnya.

Saat mereka mulai beraksi untuk mendobrak pintu mobil dengan alat yang mereka bawa, suara motor mengaum mendekati mereka. Pengemudinya menggeber motornya semakin mendekat membuyarkan segerombolan begal itu.

"Kurang ajar, siapa dia berani mengusik kita?," ucap seseorang yang sepertinya pimpinan kelompok itu.

"Nggak tahu bos, cari mati mereka kayaknya," sahut laki-laki kurus yang sepertinya tangan kanannya.

"Ayo serang," perintah orang yang dipanggil bos tadi.

Pengemudi motor dan orang yang diboncengnya pun turun. Mereka terlihat bersiap menghadapi serangan para begal itu yang maju bersamaan.

"Ya Allah, selamatkan mereka ya Allah," batin Kamila berdo'a meminta perlindungan untuk kedua penyelamatnya itu.

Terjadi pertarungan sengit antara sekelompok begal dengan dua pemotor itu. Jumlah yang tak sebanding, tapi sepertinya dua orang yang menyelamatkan mereka itu tidak bisa dianggap remeh begitu saja.

Gerakan keduanya terlihat gesit dan kuat. Beberapa orang yang menyerang mereka dapat dilumpuhkan dengan mudah. Dan beberapa pukulan dan tendangan terakhir akhirnya sekelompok begal itu mengaku kalah dan berlari terbirit-birit.

Tak ada yang berani bergerak sedikit pun atau berniat keluar dari dalam mobil travel. Sopir mengatakan mereka harus tetap waspada, siapa tahu kedua pemotor itu justru ketua begalnya.

"Tetap didalam mobil, saya takut dia juga bagian mereka,"

"Hmm," Kamila mengangguk faham. Dia juga nggak mau percaya begitu saja.

Pemotor itu terlihat bersiap untuk pergi karena tidak ada satupun dari penumpang mobil yang keluar. Sebelum pemotor itu sempat pergi polisi pun datang. Tapi pemotor itu tetap tenang dan menghampiri polisi itu.

"Alhamdulillah polisi datang, saya akan cek keadaan diluar. Kalian tetap dimobil. Sepertinya pemotor itu benar-benar orang baik," pak sopir keluar dari mobil untuk menemui polisi. Memastikan jalan sudah aman untuk mereka melanjutkan perjalanan kembali.

"Iya pak, hati-hati," ucap Veni dan Kamila.

Setelah berbincang cukup lama akhirnya sopir kembali ke mobil dan pemotor itu terlihat juga meninggalkan lokasi. Wajah mereka tidak jelas karena minimnya penerangan dijalan itu. Hanya terlihat sekilas mereka adalah laki-laki yang masih cukup muda.

"Itu, pemotor tadi ternyata sering membantu polisi dalam mengatasi begal. Penampilan mereka memang hampir sama dengan para begal itu, tapi mereka ternyata orang-orang baik," ungkap sopir itu saat mulai mengemudikan mobilnya kembali.

"Syukurlah, memang benar ya ungkapan yang mengatakan "Jangan menilai seseorang dari penampilannya saja". Aku mengerti sekarang," Kamila tersenyum mengingat kata-kata itu. Ternyata semua itu memang terbukti benar.

"Begitulah Mil, dunia ini sangatlah luas. Bermacam-macam orang dengan sifat yang berbeda-beda bakal kita temui dimanapun kita berada," tanggap Veni mendengar perkataan Kamila tadi.

Karena kejadian yang menegangkan tadi, semua penumpang pun terjaga. Mereka sedikit syok hingga tak mampu melanjutkan tidurnya. Begitupun dengan Kamila dan Veni. Mereka memilih mengobrol untuk menghilangkan ketegangan.

"Apa masih jauh Ven rumahmu?," tanya Kamila.

"Paling sekitar setengah jam lagi Mil, kalau kamu ngantuk tidurlah nanti aku bangunin,"

"Nggak apa-apa, aku udah nggak ngantuk kok. Aku mau menikmati suasana malam ditempat baru ini," Kamila melihat keluar jendela mobil.

Kamila terkesiap dan melebarkan pandangannya. Sepertinya dia tadi melihat kedua pemotor yang menolong mereka tadi. Dengan sedikit menyipitkan matanya akhirnya dia bisa melihat lebih jelas. Memang benar itu tadi orang-orang yang menyelamatkan mereka tadi. Mereka berjalan menjauh tapi sepertinya ke arah yang sama dengan tujuan Kamila dan Veni.

"Itu, bukannya pemotor tadi?," Kamila berhasil mengalihkan pandangan Veni yang sejak tadi mengotak atik ponselnya.

"Mana?," Veni celingukan mencari arah tangan Kamila menunjuk.

"Itu tu, didepan kita," tunjuk Kamila ke arah depan.

"Iya benar, aku masih ingat baju dan motor yang mereka pakai tadi," tanggap Veni dengan wajah berbinar.

"Kemana ya mereka? Apa jangan-jangan searah dengan kita?," gumam Kamila menerka-nerka.

"Sudah jangan difikirkan. Sebentar lagi kita sampai dirumahku," kata Veni membuyarkan fikiran Kamila.

"Benarkah? Aku nggak sabar pengen tahu rumahmu Ven," Kamila terlihat bersemangat melihat tempat baru yang dia kunjungi.

"Jangan kaget ya? Rumahku sangat sederhana, rumah dikampung. Beda jauh dengan rumahmu yang gedongan," Veni sedikit canggung takut mengecewakan sahabatnya.

"Jangan bilang begitu Ven, aku justru bosan tinggal ditempat bagus tapi rasanya kesepian, peraturannya pun sangat ketat," kilah Kamila agar Veni tidak berkecil hati.

"Oh ya? Tenang, kamu akan lihat suasana baru nanti. Semoga saja kamu betah," Veni memandang Kamila dengan binar semangat. Ternyata sahabatnya itu benar-benar baik, walau putri orang kaya tapi tidak manja seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya.

"Tunggu,"

Seseorang menghentikan mobil travel yang Kamila tumpangi saat mereka melewati gerbang tanda masuk kampungnya Veni.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Akira Fan: Siap kak, terima kasih supportnya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!