NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebatas Tawanan Pelunas Hutang

Ibu Yooka yang memperhatikan perubahan ekspresi wajah Sonya dari pucat menjadi kemerahan dan penuh kebimbangan tersenyum maklum. Sebagai wanita tua yang sarat pengalaman, ia langsung paham apa yang terjadi tanpa perlu Sonya menjawab dengan kata-kata.

​"Tuan Batara memang pria yang dingin dan kaku, Nyonya," ucap Ibu Yooka lembut sembari menyematkan jepit rambut kecil di rambut Sonya. "Sikap diamnya sering kali disalahartikan sebagai kekejaman. Namun Anda harus tahu, beliau memikul tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya. Menjadi pemimpin klan mafia terbesar di Laviata dan Maldav bukanlah hal yang mudah. Beliau harus selalu terlihat kuat dan tanpa ampun di depan musuh-musuhnya agar klan ini tidak hancur."

​Ibu Yooka mengusap bahu Sonya dengan keibuan. "Saya harap Nyonya muda bisa bersabar menghadapi Tuan Tara. Di balik dinding esnya, beliau adalah pria yang tahu bagaimana cara melindungi apa yang sudah menjadi miliknya."

​Sonya hanya bisa menunduk, meremat jemarinya di pangkuan. Melindungi? Atau hanya menganggapku sebagai barang rampasan? batin Sonya perih.

​"Baiklah, persiapan sudah selesai. Mari saya antar Anda ke ruang makan untuk sarapan," kata Ibu Yooka setelah selesai memakaikan gaun kasual berwarna biru muda yang sopan pada tubuh Sonya.

​Mereka berjalan menyusuri koridor mansion yang panjang dan sunyi. Namun, di tengah jalan, seorang pelayan pria berlari mendekati Ibu Yooka dengan wajah panik.

​"Ibu Yooka, maaf mengganggu. Ada masalah di gudang belakang, pasokan bahan makanan yang baru datang dari Distrik Qislan tertahan karena masalah administrasi penjaga depan. Mereka membutuhkan tanda tangan dan konfirmasi dari Anda segera," lapor pelayan itu dengan napas terengah-engah.

​Ibu Yooka menghela napas, lalu menoleh ke arah koridor di sebelah kanan mereka, di mana Jenna kebetulan sedang berjalan membawa nampan kosong.

​"Jenna! Sini!" panggil Ibu Yooka dengan suara tegas.

​Jenna segera melangkah mendekat, membungkuk sedikit. "Ya, Ibu Yooka? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jenna dengan nada manis yang dibuat-buat, meski matanya sempat melirik Sonya dengan pandangan sinis.

​"Aku harus mengurusi masalah di gudang belakang sekarang. Tolong antarkan Nyonya muda ke ruang makan dan siapkan sarapan terbaik untuknya. Pastikan semuanya siap sebelum Tuan Batara selesai dari ruang rapat," perintah Ibu Yooka tanpa curiga.

​"Baik, Ibu Yooka. Serahkan saja pada saya," jawab Jenna dengan senyuman patuh yang sangat meyakinkan.

​Ibu Yooka menoleh pada Sonya. "Saya tinggal sebentar ya, Nyonya muda. Jenna akan melayani Anda." Setelah Sonya mengangguk, Ibu Yooka langsung berjalan cepat mengikuti pelayan pria tadi menuju area belakang mansion.

​Begitu sosok Ibu Yooka menghilang di balik tikungan koridor, atmosfer di sekitar mereka langsung berubah drastis. Senyuman manis di wajah Jenna lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi wajah yang sangat dingin, angkuh, dan penuh kebencian.

​Tanpa peringatan atau rasa hormat sedikit pun, Jenna maju selangkah dan mencengkeram pergelangan tangan Sonya dengan sangat kasar. Kuku-kukunya yang tajam menancap dalam di kulit Sonya yang sensitif.

​"A-Aw! Jenna, lepas! Ini sakit!" ringkih Sonya, mencoba menarik tangannya kembali. Namun, tubuhnya yang masih lemas dan sisa rasa sakit dari semalam membuatnya tidak memiliki tenaga untuk melawan kekuatan Jenna yang jauh lebih besar.

​"Diam kau! Ikut aku!" desis Jenna dengan suara rendah yang penuh ancaman. Bukannya membawa Sonya ke ruang makan mewah yang berada di lantai utama, Jenna justru menarik dan menyeret tubuh Sonya dengan kasar menuju ke arah dapur pelayan yang berada di bagian belakang mansion.

​"Jenna, lepaskan saya... Kita mau ke mana? Ibu Yooka bilang saya harus ke ruang makan," ucap Sonya dengan suara yang mulai bergetar karena takut.

​"Ruang makan?" Jenna terkekeh sinis, suaranya terdengar sangat meremehkan saat mereka memasuki area dapur yang luas namun sepi karena sebagian besar pelayan sedang bertugas di area lain. "Kau pikir kau ini siapa, hah? Kau pikir kau pantas duduk di meja makan mewah Tuan Batara dan dilayani seperti seorang ratu?"

​Jenna menyentak tangan Sonya dengan sangat kuat hingga tubuh gadis itu terhuyung dan menabrak pinggiran meja dapur yang terbuat dari besi stainless steel. Sonya meringis, memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat benturan tersebut.

​Jenna berkacak pinggang di depan Sonya, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh jijik. "Dengar ya, Sonya Munic. Aku tidak sudi melayani wanita miskin dan penyakitan seperti kau! Kau di sini hanya tawanan pelunas utang, tidak lebih dari sampah yang dibawa dari Laviata! Jangan pernah bermimpi untuk hidup enak di sini!"

​Jenna berbalik, mengambil sebutir telur ayam mentah dari dalam keranjang dan sebotol kecil garam dari rak bumbu. Dengan gerakan kasar, ia melempar telur dan botol garam itu ke atas meja di depan Sonya.

​"Kau lapar, kan? Masak sendiri! Jangan manja!" bentak Jenna dengan nada memerintah yang sangat tidak sopan. "Di mansion ini, siapa yang tidak bekerja tidak boleh makan. Tuan Batara tidak menggaji kami untuk melayani wanita tidak berguna seperti kau!"

​Sonya menatap sebutir telur di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terhina, namun di sisi lain, ia juga tidak memiliki kekuatan untuk berdebat. Perutnya memang terasa sangat perih karena lapar dan sakit, sementara kepalanya masih berdenyut pusing.

​Dengan tangan yang gemetar hebat akibat kelelahan fisik dan trauma psikologis semalam, Sonya mengulurkan jarinya untuk mengambil telur mentah tersebut. Kulit tangannya yang putih tampak kontras dengan bintik kemerahan akibat gosokan kasar kemarin. Namun, saat ia baru saja mengangkat telur itu beberapa sentimeter dari atas meja, tangannya yang lemas tidak mampu memegang dengan kuat. Telur itu slip dari jemarinya yang bergetar.

​Pleser... Tik... Prang!

​Telur itu jatuh ke atas lantai marmer dapur yang bersih dan langsung pecah, isi kuning dan putih telurnya berhamburan mengotori lantai.

​Melihat hal itu, kemarahan Jenna langsung meledak. Wajah pelayan senior itu memerah padam karena emosi yang meluap-luap.

​"DASAR WANITA SIALAN! TIDAK BERGUNA!" teriak Jenna dengan suara melengking yang menggema di seluruh ruangan dapur.

​Tanpa belas kasihan sedikit pun, Jenna melangkah maju dan mendorong dada Sonya dengan kedua tangannya menggunakan kekuatan penuh. Tubuh Sonya yang lemas dan tidak siap sama sekali tidak memiliki keseimbangan. Ia terlempar ke belakang dengan sangat keras.

​Bruk!

​Tubuh mungil Sonya terjatuh di atas lantai marmer yang keras. Kemalangan tidak berhenti di situ, saat tubuhnya terjatuh, bagian belakang kepala Sonya menghantam sudut kaki meja besi dengan suara benturan yang cukup keras.

​"Ahhh!" Sonya menjerit kesakitan, refleks memegangi bagian belakang kepalanya. Rasa sakit yang luar biasa tajam langsung menjalar ke seluruh saraf di kepalanya, membuat pandangannya mendadak buram dan berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya seolah berputar dengan cepat. Rasa nyeri di perut bawahnya akibat aktivitas semalam berpadu dengan rasa sakit di kepalanya, menciptakan penderitaan yang tak tertahankan.

​Di ambang pintu dapur, tiga orang pelayan muda lainnya tampak berdiri menyaksikan kejadian tersebut. Mereka memegang nampan dan kain lap di tangan mereka. Namun, alih-alih maju untuk menolong Sonya atau menghentikan tindakan kejam Jenna, mereka hanya diam membisu dengan ekspresi wajah yang dingin dan acuh tak acuh. Mereka semua telah dihasut oleh Jenna sebelumnya bahwa Sonya hanyalah seorang penjahat atau tawanan rendahan yang tidak perlu dihormati. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan Jenna yang merupakan pelayan senior kesayangan di area dapur.

​Jenna melangkah mendekati Sonya yang masih terkapar di lantai sambil meringis kesakitan. Ia menunjuk cairan telur yang berceceran di lantai dengan jarinya yang gemetar karena marah.

​"Lihat apa yang kau lakukan, hah?!" maki Jenna dengan suara yang sarat akan kebencian. "Kau tahu berapa lama aku menghabiskan waktu untuk membersihkan dan mengepel lantai dapur ini pagi ini?! Dan kau dengan seenaknya mengotorinya dengan kecerobohanmu yang menjijikkan itu!"

​Jenna berjalan ke sudut dapur, mengambil sebuah alat pel lantai yang kainnya sudah kusam dan sebuah ember kecil berisi air dingin. Dengan gerakan kasar, ia melempar alat pel itu tepat ke atas tubuh Sonya yang sedang kesakitan. Gagang kayu alat pel itu sempat mengenai bahu Sonya, membuatnya meringis lagi.

​"Bangun kau! Jangan pura-pura mati di sana!" bentak Jenna tanpa belas kasihan. "Ambil pel itu dan bersihkan seluruh lantai dapur ini sampai mengkilap! Jika aku masih melihat ada sisa kotoran telur atau noda sedikit pun saat Ibu Yooka kembali, aku akan memastikan kau tidak akan mendapatkan makanan sedikit pun hari ini, dan aku akan melaporkan pada Tuan Batara bahwa kau sengaja membuat keributan di dapur!"

​Sonya memejamkan matanya erat-erat, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Rasa sakit di kepalanya membuat air matanya terasa panas. Di dalam hatinya, ia merasakan kehancuran yang teramat dalam. Di rumahnya sendiri di Negara Laviata, meskipun ia diabaikan oleh ayah dan ibu tirinya, ia tidak pernah diperlakukan serendah ini oleh para pelayan. Namun di sini, di bawah kekuasaan The Inferno, ia bahkan lebih rendah daripada seorang budak.

​Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Sonya memaksakan dirinya untuk bangun dan duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, tepat di sebelah genangan telur yang pecah. Kepalanya berdenyut begitu hebat hingga ia harus memegangi pelipisnya sejenak untuk mengumpulkan kesadaran. Rasa perih di perut bawahnya terasa semakin menusuk setiap kali ia menggeser posisi duduknya.

​"Kenapa diam saja?! Cepat gerak!" bentak Jenna lagi, sengaja menendang ember air di dekat Sonya hingga air dinginnya sedikit memercik mengenai gaun biru yang dikenakan Sonya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang terus mengaburkan pandangannya, Sonya mengambil kain pel kusam itu. Ia mulai menggosok lantai marmer yang kotor dengan sisa tenaga yang tersisa di tubuhnya yang rapuh. Ia menahan rasa perih di kepala, perut, dan hatinya, meratapi nasibnya yang begitu malang di hari pertamanya sebagai istri dari sang mafia dingin. Sementara di atasnya, Jenna berdiri dengan senyum kemenangan yang kejam, menikmati setiap detik penderitaan sang nyonya muda yang tak berdaya.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!