NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Rasa penasaran.

Jarak di antara mereka kini menyempit nyaris tak berjarak. Wajah tampan Axel semakin mendekat, hingga napas hangat pria itu terasa jelas menyapu kulit leher jenjang Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri seketika.

"Uh.. kamu mau apa sih.." ucap Aruna memecah keheningan yang mencekam, suaranya terdengar bergetar menahan degup jantung yang tak karuan.

"Kamu harus bertanggung jawab Aruna.. sudah bikin saya gagal fokus," bisik Axel pelan dan berat.

Tanpa menunggu jawaban, bibir hangat itu mendarat lembut di pipi mulus Aruna.

Wajah Aruna seketika memerah padam. Ciuman itu tidak berhenti di situ. Perlahan namun pasti, bibir Axel mulai turun dan menyapu bibir gadis itu.

Awalnya ciuman itu terasa lembut dan penuh rasa ingin tahu, namun lambat laun api di dada mereka menyala besar. Ciuman itu berubah menjadi jauh lebih liar, lebih ganas, dan sarat akan rasa memiliki yang sangat kuat.

Aruna sempat terbelalak kaget dengan reaksi pria di depannya ini. Siapa sangka Panglima perkasa yang selama ini ia anggap kaku dan dingin, ternyata bisa memiliki sisi seberapi ini. Namun, Aruna tidak menolak, tidak berontak. Justru ia memejamkan mata dan perlahan hanyut, larut sepenuhnya dalam suasana panas yang diciptakan oleh pria itu.

"Saya tidak kuat.. kalau melihat kamu manja kayak begini," desah Axel di sela-sela ciumannya yang makin intens.

Tanpa memberi jeda, serangan itu kembali datang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Aruna benar-benar dibuat kewalahan, kepalanya terasa pening, napasnya tersengal-sengal meminta oksigen. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba mendorong dada bidang itu.

"Mmhhpphh.. Axel.... stop!!" pinta Aruna dengan suara parau, matanya berkaca-kaca.

Namun Axel seolah tak mendengar. Ia justru menarik pinggang gadis itu makin erat, membuat ciuman mereka makin intim dan dalam.

"Unghhhh... Axel.. what are you doing.." rengek Aruna tak berdaya.

"Ssst.. aku belum puas sayang.." bisik Axel lagi, lalu kembali menyambar bibir manis itu dengan rakus.

"Ah.. gak.. ini udah cukup.."

Karena Axel malah makin menjadi-jadi, tangan Aruna yang bebas mulai bergerak nakal. Ia memasukkan tangannya di balik kemeja pria itu, jari-jarinya mulai menjelajah dan meraba-raba perut sixpack yang keras dan kokoh itu.

Niatnya hanya satu: agar Axel berhenti dan kaget. Tapi siapa sangka, sentuhan itu justru menjadi bensin yang menyulut api hasrat Axel makin besar.

Alih-alih berhenti, Axel malah makin rakus menciuminya. Kali ini bibirnya turun menjelajahi rahang, lalu turun ke leher putih mulus Aruna, meninggalkan bekas-bekas rasa yang membuat gadis itu gemetar hebat.

"Kamu malah bikin aku makin buas sayang.. dan mau kabur kemanapun kamu, aku masih akan terus mengejar kamu Aruna.." gumam Axel serak tepat di samping telinga gadis itu, suaranya terdengar sangat dominan.

"Ah... Jangan di situ.. kamu keterlaluan!! Eughhht.. gak sopan banget kamu..." ucap Aruna memprotes, meski suaranya terdengar lemah dan penuh rasa malu. Tubuhnya mulai merasakan sensasi aneh yang hangat menjalar ke seluruh penjuru, sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kamu yang duluan mulai sayang.." bisik Axel serak di sela-sela aksi liarnya yang terus menerjang batas, membuat Aruna benar-benar tak berdaya di pelukannya.

"Ah.. maaf deh.. aku gak bakal lagi-lagi kayak gitu.. uuuhh... Axel.. stop.. ahhh.." rintih Aruna memelas, napasnya tersengal-sengal, kepalanya terasa pening dan melayang.

Ciuman panas itu baru terhenti sejenak ketika mata tajam Axel menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Pandangannya terfokus pada area dekat telinga dan leher Aruna.

Terlihat jelas sebuah tato kecil berbentuk gambar kucing yang lucu, tercetak indah di sana.

Dengan rasa penasaran yang besar, jari tangan kokoh Axel menyentuh bagian itu dengan sangat lembut, mengusapnya pelan seolah takut merusak.

"Kamu punya tato ya, Aruna.." ucapnya pelan, matanya menatap tato itu lekat-lekat.

"Bukan urusanmu kan.." desis Aruna cepat, sedikit tersentak dan berusaha menutupi area itu meski tubuhnya masih lemas.

"Kamu akan jadi istriku sayang.. tentu saja ini urusanku," jawab Axel santai namun tegas, nada suaranya penuh rasa memiliki.

Melihat tatapan Axel yang tak mau tahu alasan, Aruna akhirnya menghela napas pasrah.

"Baiklah.. aku kasih tahu kamu sesuatu. Aku cuma bikin tato ini iseng doang kok," ungkapnya jujur.

"Kenapa iseng?" tanya Axel penasaran, jarinya masih tak lepas dari kulit mulus itu.

"Gak ada alasannya khusus.. cuma lagi penasaran aja gitu. Kamu jangan bawel deh!" potong Aruna ketus, berusaha terlihat garang padahal pipinya masih merah padam.

Alih-alih marah, Axel justru tersenyum tipis. Ia kembali menarik wajah cantik itu mendekat, hingga hidung mancung mereka hampir bersentuhan.

"Dengarkan aku baik-baik Aruna.. apapun yang terjadi, dengan segala keanehan dan kelakuanmu.. kamu tetap akan jadi istriku. Tidak ada yang bisa mengubahnya," ucapnya tegas dan penuh keyakinan.

Aruna menatap manik mata hitam itu dalam-dalam. Ia tahu, pria ini benar-benar serius. Perlawanannya selama ini seolah menghantam tembok baja yang tak bisa runtuh.

"Iya.. iya deh.." jawab Aruna pasrah sambil mendengus kasar. "Aku gak akan lari kok. Capek juga kalau harus lari terus dari kamu."

 

Namun, dalam hati Aruna, ia bergumam pelan. Tato itu tidak sesederhana yang ia katakan. Ia tidak membuatnya karena iseng atau sekadar penasaran. Ada alasan yang jauh lebih dalam, alasan yang menyayat hati.

Tato kucing kecil itu adalah tanda kenangan. Kenangan akan seseorang, yang pernah hadir mengisi hari-harinya, seseorang yang kini telah pergi selamanya dan tak akan pernah kembali lagi. Seseorang yang kepergiannya meninggalkan luka, yang belum sepenuhnya sembuh, sebuah kehilangan yang ia simpan rapat-rapat di sudut hatinya, tak ingin ia ceritakan pada siapapun, bahkan pada Axel yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Rasa itu masih ada, seperti bayangan yang selalu mengikutinya. Dan tato itu adalah caranya menjaga agar kenangan tentang orang itu tetap hidup, meski hanya dalam diam.

Aruna menghela napas panjang, berusaha menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba muncul. Ia tidak ingin Axel tahu. Tidak sekarang, dan mungkin tidak akan pernah. Rahasia ini harus tetap menjadi miliknya sendiri.

"Kenapa melamun sayang?" tanya Axel lembut, menyadari perubahan ekspresi di wajah Aruna. Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya, tatapannya penuh perhatian.

"Enggak.. cuma mikir aja," jawab Aruna cepat, berusaha memasang senyum tipis meski hatinya terasa berat. "Ayo lanjutin.. jangan ngomongin tato lagi deh."

Axel mengangguk pelan, meski rasa penasarannya belum sepenuhnya hilang. Namun melihat Aruna yang seolah ingin menutup pembicaraan itu, ia memilih untuk tidak memaksa. Ia kembali mendekatkan wajahnya, membiarkan kehangatan momen ini kembali menyelimuti mereka berdua, sementara di hati Aruna, sebuah kenangan pahit tetap tersimpan rapat, terjaga dalam bentuk tinta kecil di kulitnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!