Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Meminta Ijin datang ke istana
"Apa syaratnya Nona?" tanyaku ingin tahu.
"Kau harus ikut aku ke istana," jawab Nona muda Huang.
"Istana?"
"Ya, istana. Aku baru saja mendapat undangan dari istana, isi undangan itu adalah perayaan pesta ulang tahun putri Xu yang ke lima belas dan mau tidak mau aku harus menghadiri perayaan itu. Jadi Qiuye kau harus ikut menemaniku kesana," ucap Nona muda Huang.
"Ikut menemani anda kesana? Apa tugas hamba Nona muda Huang?" tanyaku semangat.
Siapa tahu dengan perginya aku kesana, aku bisa mendapatkan informasi mengenai siapa diriku ini sebenarnya.
"Setelah aku tahu bahwa aku terkena racun makanan yang berasal dari dalam istana, maka aku harus lebih berhati-hati lagi saat berkunjung kesana. Jadi tugasmu Qiuye adalah memastikan keamananku dengan memeriksa setiap makanan sebelum diberikan kepadaku dan juga menjaga kesehatanku selama berada disana," jawab Nona muda Huang.
"Kalau begitu baiklah Nona muda Huang, aku siap menjagamu," balasku menyanggupi.
Nona muda Huang tersenyum, lalu mengeluarkan sebilah pedang miliknya yang masih berada di dalam kotak dan terbungkus oleh kain sutera. "Bagus ... Setelah kau berhasil melakukan tugasmu maka aku akan memberikan ini," ucapnya membuka bungkus kain yang menutupi.
Seketika kedua mataku berbinar melihat pedang asli sungguhan. "I-ini ... Bukankah ini sebuah pedang?"
"Benar, ini adalah pedang. Ini adalah pedang milikku yang ditempa langsung oleh pengrajin pedang terkenal dari keluarga Huang. Yaitu pamanku sendiri," unjuknya padaku. "Dan pedang ini bisa menjadi milikmu," sambungnya.
Aku merasa bersemangat, apalagi pedang tersebut milik pribadi keluarga Huang yang tersohor akan seni beladiri pedangnya dan juga pengrajin pedang paling terkemuka diseluruh ibukota.
"Pedang ini benar-benar sempurna, ditambah dengan buku seni bela diri pedang keluarga Huang yang aku ambil, aku sudah bisa memulai latihanku," ucapku dalam hati.
"Bagaimana Nona Qiuye?" tanya Nona muda Huang membuyarkan lamunanku.
"Hamba setuju Nona muda, hamba setuju! Tapi hamba ada satu permintaan kecil," ucapku.
"Apa itu?"
"Hamba ingin Nona muda Huang yang meminta ijin langsung ke Ayah," jawabku.
Nona muda Huang terkekeh kecil karena merasa lucu dengan tingkahku yang penakut tapi punya sifat keras kepala.
"Baiklah," balasnya menyetujui.
Aku pun tersenyum lebar, segala hormat aku berikan sebagai tanda terima kasihku. Lalu aku pergi dari kamar nona muda Huang dan kembali kepada Ayahku yang sudah menungguku di ruang utama.
...----------------...
Ruang Utama Perdana Menteri.
"Ah itu dia Qiuye," ucap Tuan Huang ketika melihatku datang menghampiri.
Ayahku menghela nafasnya lega saat melihatku telah datang mendekat. "Sedang apa kau bersama nona muda? Kenapa lama sekali?" cecarnya sembari berbisik.
"Ada deh," jawabku meledek.
"Dasar anak ini, lihat saja nanti kalau sudah toba di rumah. Ayah pasti akan menghajarmu," kecam Ayah seperti biasa.
"Apa yang sedang kalian bisikkan?" tanya Tuan Huang memotong debat sengitku dan ayah.
"Tidak ada Tuan Huang, hamba sedang bertanya saja kenapa dia lama sekali keluar dari kamar putri," jawab Ayahku.
"Maaf kalau aku menahan putri anda cukup lama hingga membuat anda menunggu Paman Jiang," potong Nona muda Huang sambil di tuntun oleh Bibi Lan karena kondisinya masih belum sembuh total.
"Hormat kepada putri, kenapa anda keluar dari kamar. Seharusnya anda istirahat saja," nasehat Ayahku.
"Anda tidak perlu khawatir, kondisiku sudah lebih baik dari sebelumnya Paman. Lagipula kalau tidak keluar menyapa anda, bagaimana aku bisa berterima kasih kepada anda secara langsung," balas Nona muda Huang.
"Putri terlalu memaksakan diri, melihat ada telah membaik itu sudah lebih dari cukup."
"Tidak Paman, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu dan juga Ayahanda," ucap Nona.
"Ada apa putriku?" tanya Tuan Huang ingin tahu.
"Begini Ayahanda, istana mengundang keluarga Huang untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun putri Xu," ucap Nona muda Huang sambil memberikan titah kaisar.
"Pesta perayaan ulang tahun putri Xu? Kenapa Ayah baru tahu," tanya Tuan Huang sambil membacanya.
"Ya, Ayah. Waktu ikut perjamuan istana kemarin, sebenarnya putri Xu sudah memberi tahu hal ini kepadaku. Akan tetapi aku terlanjur jatuh sakit dan tidak sempat memberitahukannya kepada Ayah," balas Nona muda Huang.
"Oh begitu," balas Tuan Huang mengerti. "Tapi kenapa titahnya baru tiba hari ini?" tanyanya kemudian.
"Aku dengar ini masalah ijin kaisar, makanya terlambat menyebarkan titah ini secara resmi," balas Nona Muda Huang.
"Hmm ... Tapi Yao Er, kondisimu masih belum sehat sepenuhnya. Bagaimana kalau begini, Ayah akan kirim surat ke istana dan meminta ijin agar kamu tidak usah datang ke acara itu," ucap Tuan Huang.
"Tidak apa Ayah, saat ini kondisiku sudah lebih baik daripada kemarin. Lagipula undangan dari istana tidak boleh ada satu orang pun yang berani menolaknya. Dan apabila kita menolak undangan tersebut, bisa-bisa nama baik keluarga Huang tercoreng dikalangan pejabat istana lainnya. Dan aku tidak ingin Ayahanda yang menanggung semua itu," ucap Nona muda Huang.
"Ah Yao Er putriku yang berbakti, disaat kondisimu masih lemah, kamu masih saja sempat-sempatnya memikirkan nama baik keluarga ini. Tapi Ayah begitu cemas Nak, bagaimana dengan kesehatanmu? Siapa yang akan menjagamu selama kamu berada disana? Ayah tidak bisa menemanimu karena Ayah ada rapat penting dengan kaisar dan harus pergi ke perbatasan utara untuk membahas keamanan negara," cemas Tuan Huang.
"Ayah jangan khawatir, ada Bibi Lan bersamaku."
"Iya, ada Bibi Lan. Tapi saat Ayah tahu kamu terkena racun makanan ketika berkunjung ke istana, Ayah takut sekali kejadian ini akan terulang lagi dan Ayah belum benar-benar bisa tenang kalau belum menangkap orang yang telah berani meracuni putri Ayah," balas Tuan Huang khawatir.
"Ayah jangan cemaskan aku, kebetulan aku sudah memikirkan cara mengenai bagaimana keamananku selama berada di istana nanti."
"Bagaimana Yao Er? Kamu memikirkan cara apa?"
Nona Muda Huang tersenyum dan mendekatiku, lalu ia merangkulku dengan lembut. "Karena Ayah begitu mengkhawatirkanku, maka aku akan mengajak Nona Qiuye bersamaku."
Seketika kedua mata Ayahku terbelalak dan mulai terbata-bata. "M-mengajak Qiuye? Putri ingin mengajak Qiuye ke istana?"
"Ya Paman Jiang, aku membutuhkan seseorang yang bisa menjagaku selama berada diistana. Dan ku rasa Nona Qiuye adalah orang yang aku butuhkan," ucap Nona muda Huang.
"Hmm, Ayah rasa kamu ada benarnya juga. Nona Qiuye adalah putri Tabib Jiang dan dia juga mengerti tentang obat dan racun."
"Ya Ayah, dengan begitu Nona Qiuye bisa mengetahui mana makanan yang aman atau tidak untukku. Dan dia juga akan meramu obat untukku selama aku berada diistana," tambah Nona muda Huang.
"Tapi hamba merasa keberatan Tuan Huang, Qiuye putri hamba sama sekali belum pernah datang ke pusat ibu kota apalagi masuk ke dalam istana. Selain itu Qiuye juga sangatlah ceroboh, hamba khawatir dia akan membuat malu nama keluarga anda," ucap Ayah menjelekkanku.
Ayahku terlihat gelisah sekali ketika mendengar diriku ini akan diajak masuk ke dalam istana, ditambah desakan dari Tuan dan Nona muda Huang membuat Ayahku semakin dilema.
Entah sebab apa, namun keputusanku untuk pergi ke istana sudah bulat. Dan aku akan mencari kebeneran tentang diriku disana. "Ya mungkin saja aku bisa dapat informasi mengenai istana, apa hubunganku dengan istana dan juga jenderal utama."
"Tabib Jiang aku mengerti kekhawatiranmu, kamu tenang saja. Aku akan memerintahkan anak buahku untuk menjaga putrimu," saran Tuan Huang.
"Tapi Tuan Huang, bagaimana kalau dia berulah dan hamba takut Qiuye malah akan merepotkan Nona muda Huang nantinya," protes Ayahku berusaha menahan.
"Benar yang dikatakan Ayahanda Paman Jiang, Paman tidak perlu khawatir. Aku percaya Nona Qiuye tidak akan merepotkanku," sambung Nona muda Huang meyakinkan Ayahku agar aku diberi ijin untuk ikut bersamanya.
"Ya Ayah, aku berjanji tidak akan membuat repot semua orang setelah berada disana," janjiku pada Ayah agar mendapat ijin.
...Bersambung....