Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 Debat Dengan Menteri
Da Xie masih memegangi tangan pemuda itu. Tiba-tiba sang Tante gendut berbalik dan tersenyum, "Wah, apakah Maharani Agung tertarik dengan pria ini? Dia memang buta, tapi tampangnya cukup menarik loh."
Da Xie Mengernyitkan dahinya. Tante dihadapannya ini memperkenalkan sang pemuda seperti sedang melakukan jual beli barang dagangan.
Tiba-tiba Da Xie teringat kalau ini bukanlah dunia modern. Di dunia ini ada beberapa orang tidak beruntung yang terpaksa lahir dan harus menjadi budak atau pemuas nafsu dirumah bordil.
'Ya ampun, disini banyak manusia yang diperdagangkan seperti barang. Aku lupa kalau sistem perdagangan manusia masih legal disini.' Batin Da Xie.
Tetapi ada dorongan aneh didalam hati Da Xie yang menyuruhnya untuk membawa pemuda tersebut. Entahlah, Da Xie juga bingung, mungkin karena Da Xie merasa kasihan pada pemuda itu, atau mungkin karena pemuda itu tampan dan selera Da Xie. Hehe...
"Maharani Agung, kalau anda membelinya. Maka dijamin anda akan selalu merasa puas di ranjang. Meski dia buta, tetapi dia masih bisa memuaskan anda lho~" Wanita gendut itu terus berbicara kelebihan sang pemuda. Tentu saja ia melakukan ini, jika Maharani Agung tertarik pada pria dari rumah bordil-nya, maka rumah bordil-nya bisa semakin terkenal. Sangat menguntungkan.
"Ehem... Yah, kurasa aku akan membelinya." Da Xie akhirnya berucap.
Sebenarnya Da Xie tidak tahu kenapa dirinya ingin membeli Pemuda tersebut. Tapi yasudah-lah, dirinya adalah Maharani Agung, seharusnya uangnya lebih dari cukup untuk membeli pemuda tersebut.
"Wah!! Terimakasih Maharani Agung! Anda bisa membawa pemuda ini bersama anda! Saya nanti akan mengirimkan dia dan pembayaran-nya ke istana kekaisaran!" Tante itu segera memegang tangan Da Xie dan mengecupnya berkali-kali seolah Da Xie adalah penyelamat hidupnya.
'Ya ampun, Tante ini pandai menjilat yah...' Batin Da Xie.
Ketika Tante itu selesai berbicara, salah seorang pengawal mendekat. "Maharani Agung, tandu anda sudah siap. Kita bisa melanjutkan perjalanan kita untuk melakukan observasi lapangan."
Da Xie akhirnya berbalik menuju tandu. Ia segera menaiki tandu dan tandu-pun diangkat oleh para pengawal, siap untuk dibawa berkeliling ibukota kekaisaran.
Sebelum tandu benar-benar pergi dari jalanan yang ramai itu. Da Xie bisa melihat sang pemuda yang menatap lekat kearah tandu, pemuda itu kemudian membungkuk hormat ketika mengetahui kalau Da Xie memperhatikan-nya.
"Hm...Dia itu Pria yang cukup tampan." gumam Da Xie.
...****************...
Setelah jalan-jalan yang menyenangkan, Da Xie akhirnya kembali ke istana kekaisaran. Da Xie segera turun dari tandu dan meregangkan badannya.
"Ughh! Tadi itu menyenangkan sekali!" Ucap Da Xie dengan lepas.
Meskipun hanya berjalan keliling kota sembari melihat kegiatan rakyat kekaisaran ini, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan stres dalam diri Da Xie. Buktinya, wajah yang tadi pagi pucat seperti zombie sekarang sudah lebih fresh dan aduhai cantiknya.
Ketika Da Xie hendak masuk melewati gapura depan istana kekaisaran, sesosok perempuan berlari kearahnya dengan tergesa-gesa.
Tap Tap Tap Tap...
"Maharani Agung! Akhirnya anda sampai!!" Itu adalah Dayang Ra. Dia berlari kearah Da Xie dengan sangat cepat sampai terengah-engah sendiri.
"Ada apa dayang?" Tanya Da Xie penasaran.
Kira-kira apa yang membuat Dayang itu terlihat buru-buru mencari dirinya yah?
Setelah sampai dihadapan Da Xie, Dayang Ra berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam. Wajar sih, pasti melelahkan lari jarak jauh dengan kecepatan gak ngotak begitu.
"Huft... M–Maharani..." Dayang Ra yang masih tersengal-sengal mencoba untuk berbicara. Sampai akhirnya Dayang Ra bisa mengutarakan niatnya.
"Maharani Agung cepat ayo kembalike paviliun! Menteri Song mencari anda dan katanya terjadi gawat!!" Teriak Dayang Ra tergesa-gesa.
"Hah? Memangnya ada ap– Ehh!!" Belum sempat Da Xie menyelesaikan ucapannya, dirinya sudah lebih dulu ditarik oleh Dayang Ra menuju paviliun kediaman Maharani.
Dayang Ra menariknya dengan kencang, sementara itu Da Xie hanya bisa pasrah ditarik-tarik oleh Dayang tersebut. Dalam hati, Da Xie bertanya-tanya kira-kira apa alasan dirinya dibawa dengan tidak sopan begini.
Setelah sekian lama ditarik, akhirnya Da Xie hampir sampai ke paviliun-nya. Disana, Da Xie dapat melihat seorang pria setengah baya yang mirip dengan Adipati Yan, bedanya pria ini lebih keriput dan tidak enak dipandang.
"Akhirnya anda datang juga, Maharani Agung." Begitu Da Xie sampai dihadapan pria itu. Ia langsung disapa dengan nada tidak bersahabat olehnya.
"Iya. Ada apa ini?" Tanya Da Xie kepada pria itu.
Jujur saja, Da Xie tidak tahu siapa pria dihadapannya ini. Ia hanya bisa menerka-nerka alasan pria ini berada dihadapannya.
"Maharani Agung, saya ingin menyampaikan keberatan mengenai perintah anda." Tanpa basa-basi, pria itu langsung berbicara ke intinya.
"Perintah yang mana?" Da Xie kebingungan, ia butuh penjelasan mengenai apa yang terjadi disini.
Pria dihadapannya terlihat mengernyitkan dahinya, "Perintah untuk menurunkan harga ekspor batu bara. Maharani Agung." Jelasnya.
Ah, akhirnya Da Xie ingat. Sepertinya pria dihadapannya ini sedang mengajukan komplain mengenai perintah aneh yang ia berikan pada Adipati Yan beberapa hari yang lalu.
Dalam hatinya, Da Xie tersenyum senang. 'Hehe... Baguslah, kalau dia marah maka rencana untuk turun dari takhta akan berhasil.'
Meskipun dalam hati dirinya bersorak senang, namun Da Xie masih mempertahankan wibawanya sebagai seorang Maharani Agung.
"Ehem... Memangnya kenapa dengan perintah itu? Menurutku membuat harga batu bara menjadi murah adalah hal yang menguntungkan." Jelas Da Xie.
"Menguntungkan? Darimana menguntungkan-nya Maharani Agung? Menurut saya tidak ada untungnya kita menurunkan harga batu bara ini." Pria itu menyangkal ucapan Da Xie.
"Tentu saja ini menguntungkan. Dengan harga yang murah, batu bara kita jadi laku dimana-mana bukan?"
"Memang batu bara kita jadi laku terjual, tetapi keuntungannya menjadi sedikit, seharusnya kalau kita menjualnya dengan harga tetap, maka kita bisa meraup keuntungan lima kali lipat dari ini."
Perkataan pria itu benar. Seharusnya tidak perlu menurunkan harga batu baranya. Tetapi sekarang kan, tujuan Da Xie hanya untuk turun takhta.
"Dengar pak, batu bara kita sekarang laku terjual. Penjualan kita naik drastis karena cara ini. Percayalah kalau kita sebenarnya itu untung." Sekali lagi, Da Xie menjelaskan.
"Tetapi Maharani Agung, pendapatan kita menu–" Sebelum Pria itu sempat melanjutkan ucapannya, Da Xie sudah lebih dulu menyela.
"Tenang saja. Tunggu sampai besok, maka kau tahu kalau sebenarnya penurunan harga batu bara itu sangat menguntungkan kekaisaran kita."
"Bagaimana saya bisa mempercayai ucapan anda ini?"
Da Xie terlihat memasang pose berpikir, "Hmm... Begini saja, jika besok kita tidak mendapatkan keuntungan apapun. Maka aku akan turun takhta! Apa ini cukup untuk membuatmu mempercayai keputusanku?"
Dayang Ra yang sedari tadi hanya diam saja dipinggiran sembari mencermati pembicaraan dua orang ini akhirnya bersuara.
"Maharani Agung! Kenapa anda bilang begitu!!" Teriak Dayang Ra tidak percaya dengan ucapan Da Xie.
"Tenang saja Dayang, aku tidak akan pernah melanggar ucapan-ku. Bila besok kekaisaran kita merugi, maka aku akan benar-benar turun dari takhta." Ucap Da Xie seenaknya.
"Bukan begitu maksud saya Maharani Agung!"
Da Xie tidak menghiraukan ucapan Dayang Ra. Ia malah berbalik dan berjalan menuju kedalam paviliun kediaman nya.
"Kurasa percakapan kita sudah selesai sampai disini. Kalau begitu, aku pergi dulu." Da Xie mengakhiri percakapan.