NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Setelah semua urusan di warung milik mereka selesai, Biah mengambil anaknya dan memasukkan mereka kedalam mobil dan pulang kerumah, sampai dirumah pun dirinya belum mengatakan apapun.

"Kalian mandi dan berganti pakaian, bunda akan menidurkan adik kalian di kasur, setelah itu temani dia karena bunda akan masak makan malam". Ucapnya setelah mereka semua masuk kedalam rumah.

Mereka hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun dan segera melakukan apa yang dikatakan oleh sang ibu tanpa bantahan

Mereka makan malam dalam keheningan setelah semua siap dan tersedia di meja makan.

"Makanlah nak, setelah ini bunda akan mengobati luka kalian kembali". Ucapnya dengan lembut.

Dia sudah bisa mengontrol emosinya, sebenarnya dia sudah tidak marah sejak tadi hanya saja dia ingin anak-anaknya tahu jika kita memiliki masalah dan masih emosi sebaiknya diam saja lebih dulu sampai mereda

Keduanya mendongkak kemudian menatap sang bunda dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tidak apa nak, bunda tidak marah padamu, bunda hanya marah pada diri bunda sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan baik saat disekolah seperti itu karena bunda harus bekerja".

Biah menunduk, melihat anaknya diperlakukan dan dihina seperti tadi membuatnya tidak berdaya dan ingin membuat perhitungan pada perempuan itu tapi melihat tatapan ketakutan ketiga anaknya dan tangisan Aminah membuatnya mengurungkan dan lebih memendamnya.

"Tidak bunda, bunda adalah ibu terbaik yang Ukasyah punya selain Ibu, bunda membesarkan aku dan Uwais dengan penuh kasih sayang tanpa perbedaan padahal kami hanya keponakan bunda tapi aku tidak pernah merasakan seperti itu malah aku merasa jika aku ini anak kandung bunda bukan keponakan".

Ukasyah meneteskan airmata nya, dia mengingat jelas bagaimana selama 2 bulan ini bundanya ini merawatnya sama persis merawat semua sepupunya tanpa ada perbedaan, dia tidak pernah merasa dirinya adalah orang lain yang sedang diasuh sang bunda tapi seperti anak kandung sendiri.

"Benar yang dikatakan Ukasyah bunda, Umar sangat bahagia dan bangga menjadi anak bunda, bunda adalah orangtua terbaik yang kami miliki hingga nanti, bunda tidak hanya berjuang seorang diri membesarkan kami tapi bunda juga mengajari kami bagaimana arti kehidupan dan bagaimana menjalaninya, aku beruntung terlahir dari wanita hebat seperti bunda".

Mereka semua langsung berdiri kemudian memeluk sang ibu dengan penuh rasa sayang dan penghormatan.

Biah meneteskan airmata nya dengan haru, dia tidak pernah menyangka jika anak-anak nya begitu menyayanginya.

"Kami akan sekuat tenaga untuk bisa membahagiakan dan melindungi bunda ,jangan pernah mengatakan jika bunda adalah bunda tidak baik, bagi kami bunda adalah malaikat tanpa sayap yang tengah berjuang untuk kami dan cinta tulus itu tidak akan kami bisa balas nantinya.".

Biah menggeleng kemudian memeluk dan mencium mereka satu persatu dengan kasih sayang yang meluap, tubuhnya bergetar menahan tangis yang sebentar lagi tumpah

"Bunda yang beruntung memiliki kalian nak, kalian anak yang baik dan kuat, mari kita sama-sama berjuang untuk kedepannya yah?".

Mereka semua mengangguk kemudian mencium pipi sang bunda dan kembali ketempat duduk masing-masing untuk menghabiskan makanan mereka.

"Makanlah yang banyak dan rapikan setelahnya, kita akan kumpul dirumah keluarga setelah semuanya sudah beres, bunda lihat adikmu dulu".

"Siap bunda".

Mereka bergegas menghabiskan makanan mereka dan membersihkan bekas makan mereka dan membersihkan dapur.

Bunda mereka membantu dan mengajari mereka melakukan pekerjaan rumah agar kelak mereka dewasa dan berpisah dari sang bunda untuk melanjutkan pendidikan, mereka tidak akan keteteran karena sudah tahu bagaimana mengurus dan merapikan pekerjaan rumah.

Setelah makan, Biah bergegas menuju kamar melihat keadaan putri bungsunya itu yang kini tengah bangun dan menangis ingin disusui.

Setelah sang putri bungsu kembali tertidur, dia keluar dari kamar untuk melakukan diskusi keluarga atas masalah yang menimpa ketiga anaknya disekolah, dia memang membiasakan diri untuk berunding jika terjadi sesuatu dan mencari pemecahannya sama-sama, dia tidak hanya ingin menjadi panutan tapi dia ingin membiasakan anak-anak nya itu menyelesaikan segalanya dengan musyawarah.

"Bunda akan melaporkan kasus ini kepolisian". Ucap Biah membuka percakapan setelah mereka semua berkumpul diruang keluarga sekaligus ruang diskusi mereka sekeluarga.

"Benar bunda, kak Romi dan ibunya sudah keterlaluan, mereka selalu menginjak-injak orang hanya karena status sosial mereka padahal jika dibandingkan pada konglomerat mereka bukan apa-apa". Sungut Ammar dengan kesal.

Sedangkan Ukasyah dan Umar menunduk, dia bukan tidak ingin mendapatkan keadilan tapi dia tidak mau jika masalah ini membesar dan membuat sekolahnya dalam masalah begitu juga teman -temannya.

"Yang dikatakan oleh kak Ammar itu benar bunda, kita harus bertindak tegas agar mereka memiliki efek jera agar berhenti membully orang". Asma menatap sang bunda dengan sendu.

Dia merasa sangat bahagia bisa mendapatkan ibu sebaik bundanya saat ini, sebelum dia ada disini kedua orangtuanya tidak pernah memperhatikan dirinya malah selalu memukulnya

"Bagaimana menurut kalian berdua?, sejak tadi kalian berdua diam saja nak, kalian sakit?".

Sang ibu menelisik tatapan sang anak, dia tahu anaknya ini merasa khawatir tapi dia berusaha untuk tidak memaksa mereka mengatakan apapun yang dia rasakan, dia hanya bertanya dan menunggu mereka mengatakan apa yang dirasakan mereka sendiri tanpa paksaan.

"Kami hanya khawatir pada sekolah dan teman-teman kami jika masalah ini membesar dan menjadi konsumsi publik". Umar menunduk tidak ingin menatap sang bunda karena takut.

Biah mengelus kepala sang anak dengan sayang dan mengalihkan pandangannya kepada mereka dengan senyum bangga.

"Nak, hidup itu tidak selalu harus memikirkan orang lain tapi memang kita harus memikirkan dampak apa yang terjadi atas perbuatan kita, perbuatan Romi dan ibunya harus ditindak tegas, kalian berdua dengar apa yang bunda katakan pada sekolah kalian kan?".

Ukasyah dan Umar mengangguk bersamaan, bundanya menyerahkan masalah ini kepada sekolah tapi jika sekolah mereka tidak memproses ini dengan serius maka bunda mereka yang akan bertindak.

"Bunda menghargai sekolah dan para guru kalian nak, itu sebabnya bunda mempersilahkan mereka lebih dulu untuk menindak tegas hal ini tetapi jika mereka tidak melakukan nya hanya karena jabatan dan kekuasaan keluarga Romi maka itu sangat tidak adil".

Keduanya mengangguk kemudian tersenyum, mereka baru sadar jika bunda mereka sangat bijaksana dan tidak serta merta bertindak sesuka hati seperti itu.

"Bunda bangga pada kalian karena memikirkan orang lain hanya saja ingat kita harus menindak tegas segala sesuatu yang merugikan dan berdampak tidak baik, kalian semua mengerti?".

Mereka semua mengangguk kemudian menghamburkan diri memeluk sang bunda dengan sayang.

"Aku yakin wanita itu pasti tidak akan tinggal diam, aku harus berjaga-jaga agar anak-anak aman". Cicitnya dalam hati

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!