NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

File Daniel

Malam pun perlahan-lahan mulai turun, membungkus kota dengan kegelapan yang pekat. Di luar jendela besar ruang rapat, lampu-lampu dari gedung pencakar langit lain mulai menyala satu per satu, menciptakan pemandangan kota metropolitan yang gemerlap namun terasa dingin.

Sebagian besar karyawan di gedung Cabang Timur sudah diperintahkan untuk pulang lebih awal demi menjaga kondusivitas area dari endusan awak media. Namun, lampu di dalam ruang rapat utama lantai atas itu masih dibiarkan menyala terang.

Primus kini duduk sendirian di ujung meja panjang oval berbahan marmer hitam. Di hadapannya, sebuah laptop khusus dengan sistem keamanan berlapis tampak menyala, menampilkan indikator proses pemindaian data dari "flashdisk" milik mendiang Daniel Cross yang baru saja selesai diunduh.

*Klik.*

File folder pertama berhasil terbuka. Primus mengklik tetikusnya secara perlahan. Isinya sebagian besar adalah apa yang sudah ia duga sebelumnya: tumpukan laporan keuangan tahunan, grafik arus kas masuk dan keluar, serta ribuan lembar data transaksi logistik yang terlihat membosankan.

Namun, ketika jemarinya menggulirkan kursor ke bagian paling bawah direktori, mata Primus menangkap keberadaan sebuah folder tersembunyi yang diberi nama dengan format yang sangat personal dan tidak biasa.

"Jika Saya Mati"

Udara di dalam ruangan yang sunyi itu mendadak terasa makin dingin merayap. Primus terdiam selama satu detik, menatap nama folder tersebut, sebelum akhirnya menekan tombol enter untuk membukanya.

Hanya ada satu file video di dalam folder tersebut. Ukurannya cukup besar dengan durasi tayang sekitar tiga menit. Primus meraih sepasang "earphone", memasangnya ke telinga, lalu menekan tombol putar pada pemutar media di layarnya.

Layar laptop itu seketika menampilkan rekaman wajah Daniel Cross. Pria muda itu tampaknya merekam video ini menggunakan kamera internal ponselnya sendiri di dalam sebuah ruangan yang remang-remang kemungkinan besar di dalam rumah pribadinya. Raut wajah Daniel di dalam video tampak sangat berantakan; matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, napasnya terdengar berat, dan ia beberapa kali menoleh ke arah pintu di belakangnya seolah-olah ia sedang diburu oleh waktu.

*"Jika ada seseorang dari pihak direksi atau Tuan Muda Primus sendiri yang menemukan video ini..."* Daniel membuka suara, nadanya terdengar bergetar hebat akibat rasa takut yang luar biasa. *"Itu berarti kekhawatiran terbesar saya sudah menjadi kenyataan. Kemungkinan besar, saat Anda menonton ini, saya sudah tidak lagi berada di dunia ini."*

Primus mempertahankan posisi duduknya, tidak menggeser fokus matanya sedikit pun dari layar digital.

*"Saya tahu ini terdengar seperti cerita delusi yang gila,"* lanjut Daniel di dalam rekaman, ia berhenti sejenak untuk menelan ludah dengan susah payah. *"Tapi selama melakukan penelusuran audit mandiri di sektor logistik luar negeri Cabang Timur, saya tidak sengaja menemukan sebuah pintu belakang dalam sistem akuntansi klan. Seseorang... seseorang dengan otoritas yang sangat tinggi telah menyedot dan mengalirkan dana perusahaan ini secara konstan selama lebih dari tujuh tahun terakhir."*

Daniel mendekatkan wajahnya ke arah kamera, intensitas suaranya mendadak berubah menjadi bisikan yang parau. *"Awalnya, tim kami mengira pelakunya hanyalah salah satu manajer regional atau direktur divisi biasa yang serakah. Tapi setelah saya nekat meretas enkripsi rekening penampung di bank luar negeri... saya salah besar. Angka dua belas juta dolar itu cuma puncak gunung es dari apa yang mereka ambil. Dan nama asli di balik pemilik rekening tersebut... nama itu terlalu besar untuk disentuh oleh orang seperti saya. Nama itu adalah—"*

*Bzzzt!*

Tepat ketika Daniel bersiap mengucapkan nama sang dalang utama, visual video di layar laptop itu mendadak mengalami gangguan distorsi digital yang parah. Gambar wajah Daniel terdistorsi menjadi garis-garis abu-abu horizontal, suaranya berubah menjadi dengungan statis yang bising, dan sedetik kemudian, pemutaran video terhenti secara total. Layar laptop kembali berubah menjadi hitam pekat.

Primus mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Ia mencoba menarik kembali bar durasi video ke beberapa detik sebelum kerusakan terjadi, lalu menekan tombol putar ulang. Hasilnya tetap sama. Video itu terputus secara paksa tepat di bagian paling krusial.

Sebagai seseorang yang sangat paham tentang dunia teknologi informasi, Primus langsung menyadari bahwa ini bukan disebabkan oleh kerusakan teknis pada file asli milik Daniel. Seseorang yang memiliki keahlian tingkat tinggi telah menyusup ke dalam jaringan komputer kantor, melacak keberadaan file cadangan ini, dan menghapus secara permanen beberapa detik durasi akhir video tersebut dengan sangat rapi, nyaris tanpa meninggalkan jejak forensik digital.

*Brak!*

Suara pintu ruang rapat yang didorong terbuka secara kasar seketika membuyarkan analisis Primus. Ia langsung melepas *earphone*-nya dan menoleh tajam ke arah pintu masuk.

Marcus Hayden melangkah masuk dengan napas yang terengah-engah, wajahnya yang semula pucat kini tampak benar-benar kehilangan seluruh warna kulitnya. Di tangan kanannya yang gemetar hebat, ia memegang sebuah amplop putih persegi tebal.

"Tuan Muda... maaf saya tidak mengetuk pintu," ujar Marcus dengan suara yang terbata-bata akibat rasa panik yang kian memuncak. "Tapi benda ini... benda ini baru saja diletakkan di atas meja resepsionis lobi utama oleh seorang kurir misterius berpakaian hitam yang langsung menghilang di kerumunan jalan luar."

"Untuk siapa surat itu?" tanya Primus, suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan kepanikan luar biasa yang ditunjukkan oleh bawahannya.

"Ada... ada nama Anda tertera di bagian depannya, Tuan Muda. Ditulis menggunakan cetakan mesin," jawab Marcus seraya melangkah mendekat dan meletakkan amplop tersebut di atas meja marmer dengan gestur yang sangat hati-hati, seolah benda itu adalah sebuah bom waktu yang siap meledak.

Primus tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia mengulurkan tangan kanannya, meraih amplop putih tebal tersebut, lalu merobek segel penutupnya dengan satu gerakan tenang. Surat ini tidak menggunakan perkamen kuno seperti yang ia temukan di perpustakaan mansion pribadi, juga tidak memiliki cap segel lilin emas berbentuk singa bersayap milik Alaric.

Di dalam amplop itu, hanya ada selembar kertas foto cetak berkualitas tinggi berukuran saku.

Primus membalik foto tersebut untuk melihat visualnya. Itu adalah foto potret Daniel Cross. Berdasarkan latar belakang gambar dan pakaian yang dikenakannya, foto itu jelas diambil secara diam-diam dari dalam sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan, tepat beberapa menit sebelum Daniel memasuki kendaraannya dan mengalami insiden kecelakaan maut di jalan tol tol lingkar luar. Pria muda itu tampak sedang berjalan di trotoar sambil mendekap erat sebuah koper kulit hitam di dadanya.

Namun, yang membuat atmosfer di dalam ruang rapat mewah itu mendadak berubah menjadi sangat mencekam adalah keberadaan baris kalimat yang tertera di bagian belakang lembar foto tersebut. Kalimat itu ditulis menggunakan goresan tinta merah pekat yang tebal—sebuah tulisan tangan yang disengaja dibuat dengan pola yang kaku agar tidak bisa dilacak gaya geometrisnya.

Kalimatnya sangat pendek, lugas, namun memancarkan aura ancaman yang teramat nyata bagi siapa saja yang membacanya.

> **Target berikutnya yang kami jemput bukan lagi pion seperti dia.**

> **Target berikutnya adalah dirimu, Primus.**

---

Keheningan total langsung mengunci seisi ruangan rapat tersebut selama beberapa menit. Marcus Hayden yang berdiri tidak jauh dari posisi Primus sempat tidak sengaja membaca isi tulisan di balik foto itu, dan seketika itu juga lututnya terasa lemas. Pria paruh baya itu terpaksa berpegangan pada sandaran kursi di dekatnya agar tubuhnya tidak ambruk ke lantai.

"Tuan... Tuan Muda Primus," bisik Marcus dengan suara yang nyaris habis karena rasa takut yang teramat sangat. "Ini... ini adalah ancaman eliminasi langsung yang ditujukan pada Anda. Seseorang di luar sana... mereka benar-benar berniat menghabisi Anda jika kita terus melanjutkan proses audit ini. Menurut pendapat saya, sebaiknya kita... kita harus segera menarik mundur semua tim, menghentikan investigasi ini sementara waktu, dan melaporkan ancaman ini pada sistem keamanan utama di kediaman pusat klan Aristokrat—"

"Hentikan omong kosongmu, Marcus," potong Primus dengan nada suara yang teramat datar, namun sanggup membuat Marcus seketika menutup mulutnya rapat-rapat.

Primus perlahan meletakkan foto ancaman tersebut di atas meja marmer, tepat di samping laptopnya yang masih menyala menampilkan layar hitam. Alih-alih menunjukkan ekspresi ketakutan, panik, atau cemas seperti orang normal pada umumnya, sepasang mata abu-abu milik Primus justru memancarkan kilat emosi yang sangat berbeda.

Sebuah senyuman tipis, senyuman dingin yang teramat kejam dan penuh akan kepuasan psikologis, perlahan-lahan terukir di sudut bibirnya. Itu adalah jenis senyuman dari seorang pemain catur ulung yang akhirnya melihat lawan bicaranya di balik kegelapan mulai melakukan pergerakan fatal akibat rasa panik.

"Mereka pikir dengan melenyapkan seorang staf audit dan mengirimkan selembar kertas foto murahan seperti ini, mereka bisa membuat saya gemetar dan merangkak mundur ketakutan?" gumam Primus, suara kekehannya yang rendah terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan sunyi itu.

Ia bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan letak jas hitamnya yang tanpa cela, lalu menatap Marcus dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk.

"Kematian Daniel Cross dan munculnya surat ancaman ini justru membuktikan satu hal fundamental secara mutlak, Marcus. Analisis kita sejak awal tidak pernah salah. Pergerakan audit yang kita lakukan dalam dua puluh empat jam terakhir ini telah berhasil menusuk tepat di ulu hati mereka, membuat orang-orang yang bersembunyi di balik bayangan itu mulai merasa sangat terancam dan panik hingga terpaksa melakukan tindakan se-impulsif ini."

Primus melangkah mendekati jendela kaca besar, menatap hamparan kerlip lampu kota di bawah sana dengan aura dominasi yang pekat. Orang-orang di balik konspirasi ini telah melakukan satu kesalahan taktis terbesar dalam hidup mereka: mereka mengira bahwa ancaman hilangnya nyawa bisa menghentikan langkah seorang Primus Valerian Aristokrat. Mereka tidak tahu bahwa rasa takut di dalam dirinya sudah lama mati, dikubur bersama idealisme masa mudanya.

"Mereka ingin bermain di dalam kegelapan menggunakan cara yang kotor?" ucap Primus dengan suara rendah yang sarat akan janji pembalasan yang kejam. "Sangat bagus. Sampaikan pada seluruh sisa tim audit yang masih ada, Marcus. Jangan ada satu pun dari mereka yang berani menghentikan pekerjaan mereka bahkan untuk satu detik pun. Gandakan intensitas pencarian data, sisir semua rekening tanpa kecuali. Jika mereka ingin perang terbuka, maka saya sendiri yang akan memastikan bahwa mereka memilih lawan yang salah untuk diancam."

Marcus hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung tuannya dengan rasa ngeri sekaligus kagum yang mendalam. Ia sadar, badai besar yang sesungguhnya di dalam tubuh klan Aristokrat baru saja resmi dimulai malam ini.

**Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!